Adab Adz-Dzabh (Penyembelihan)

Oleh : Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as Sayyid Nada

Adakalanya seorang Muslim pada suatu hari menyembelih seekor hewan untuk makanannya, untuk makanan keluarganya, untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin, atau untuk yang lainnya. Islam telah meletakkan adab-adab penyembelihan yang harus di perhatikan. Ini menunjukkan kelengkapan dienul Islam yang mengurus semua urusan kehidupan. Diantaranya adab-adab yang berkaitan dengan penyembelihan adalah:

1. Niat yang Benar

Hendaknya seseorang meniatkan mencari pahala dari Allah azza wa jalla dengan menyembelih hewan, baik itu hewan sembelihan untuk haji, hewan kurban, atau hewan untuk makanan keluarganya. Demikian juga ia mencari pahala dengan memperhatikan adab-adab penyembelihan tersebut.

2. Tidak Menyembelih Hewan Yang Kantongnya Susunya Sedang Besar

Janganlah menyembelih hewan yang diambil air susunya, yang masih  penuh kantong susunya, agar tidak terhalang dari mengambil manfaat dari susunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah engkau menyembelih hewan yang penuh kantong susunya.” [HR.Tirmidzi (2369) dan ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan juga oleh al-Hakim (131/4) dan dishahihkannya serta dan disetujui oleh adz Dzahabi dan yang lainnya dari Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu. Silahkan lihat kitab Shahiihul Jaami’ (7270)]

Adab ini yang menjelaskan sejauh mana islam memperhatikan setiap perkara agar seorang Muslim tidak terhalang dari sesuatu yang mungkin masih dapat ia manfaatkan.

3. Menajamkan Mata Pisau Sebagai Bentuk Kasih Sayang kepada Hewan

Semakin tajam pisau yang digunakan, maka semakin baik bagi hewan tersebut dan lebih meringankan sakitnya. Sebab, ini termasuk bentuk kasih sayang kepada makhluk dan kebaikan yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan kebaikan atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik; jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisau dan membuat nyaman hewan yang disembelih.” [HR.Muslim (1955) dari Syaddad bin ‘Aus]

4. Hendaklah Menajamkan Pisau Sebelum Membaringkan Hewan yang Hendak Disembelih

Janganlah ia membaringkan hewan untuk disembelih kemudian berdiri disampingnya untuk menajamkan pisau. Perbuatan demikian akan menambah rasa takut hewan itu. Selain bukan merupakan bentuk kasih sayang kepada hewan, hal itu merupakan perbuatan yang menyelisihi sunnah. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang yang melakukan perbuatan itu:

Apakah engkau ingin membuatnya mati berulang kali? Alangkah baiknya jika engkau menajamkan pisaumu terlebih dahulu lalu engkau membaringkannya.” [HR.al Hakim (IV/233) dan dishahihkannya serta disetujui oleh adz Dzahabi dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Silahkan lihat kitab Shahiihul Jaami’ (93)]

5. Tidak Menunjukkan Pisau Sembelihan kepada Hewan yang Akan Disembelih

Penjelasan bab ini merupakan cabang dari adab sebelumnya. Hendaklah seseorang menyembunyikan pisau dari hewan sebelum disembelih. Jadi, orang yang akan menyembelih tidak akan menunjukkan pisau kecuali ketika ia hendak menyembelih hewan tersebut. Ini merupakan bentuk kasih sayang terhadap hewan. Sehingga tidak menambah rasa takutnya ketika menghadapi kematian dan penyembelihan.

6. Membaca Basmalah dan Takbir

Itu harus dilakukan ketika penyembelihan. Barang siapa yang tidak membaca basmalah ketika menyembelih, maka ia telah menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih dua ekor kibas dengan tangannya: “Beliau mengucapkan basmalah dan takbir…” [HR.al Bukhari (5558, 5564, 5565) dan Muslim (1966) dari Anas radhiyallahu ‘anhu.

Barangsiapa yang menyembelih dan tidak menyebukan nama Allah atasnya dengan sengaja, maka tidak halal memakan sembelihannya.

Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya):

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” [QS.al An’aam:121]

7. Mengalirkan Darah Hewan Sembelihan

Hendaknya seseorang mengalirkan darah hewan sembelihan dengan menyembelih urat leher atau urat nadinya. Alat apapun dapat digunakan untuk menyembelihnya, yang penting dapat mengalirkan darahnya dan mengucurkannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”

Apa saja yang dapat mengucurkan darah dan disebutkan nama Allah kepadanya maka makanlah, selama tidak menggunakan tulang atau kuku..” [HR.al Bukhari (2488, 2507, 3075,…) dan Muslim (1968) dari Rafi’ bin Khadij.

8. Tidak Menyembelih Hewan di Hadapan Hewan-Hewan Lainnya

Tidak boleh bagi seorang Muslim menyembelih ayam, itik, kambing, unta atau yang lainnya di hadapan hewan lainnya, sementara yang lainnya menunggu giliran untuk disembelih dan melihat apa yang dialami oleh hewan yang disembelih. Sebab, itu akan menambah rasa takut dan rasa sakit menghadapi kematian bagi hewan tersebut. Yang lebih parah lagi apabila menyembelih hewan di hadapan anaknya atau sebaliknya. Hendaklah tidak melakukan perbuatan demikian karena itu pertanda tidak adanya rasa kasih sayang.

9. Membagi-bagikan Hewan Sembelihan kepada Teman

Jika seorang Muslim menyembelih hewan sembelihan, hendaklah ia membagi-bagikannya kepada teman-teman atau saudaranya, yakni mengirim sebagian sembelihannya kepada mereka. Perbuatan ini termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Apabila menyembelih seekor kambing, beliau berkata: “Kirimlah sebagian sembelihan ini kepada teman-teman Khadijah.” [HR.Muslim (2435) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Sunnah ini jelas merupakan adab yang sangat tinggi dalam menunjukkan kesetiaan dan menguatkan rasa kasih sayang di antara sesama Muslim.

10. Menyembelih Unta dalam Keadaan Berdiri dan Menyembelih Selainnya dalam Keadaan Berbaring

Menyembelih unta dalam keadaan berdiri dan menyembelih selainnya dalam keadaan berbaring termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih unta dalam keadaan berdiri, yaitu dengan mengikat kaki kirinya. Ketika Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu melihat seorang laki-laki menyembelih untanya dalam keadaan duduk di atas tanah, maka ia berkata:

Biarkanlah ia berdiri dalam keadaan terikat sebab itulah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR.al Bukhari (1713) dan Muslim (1320) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengenai tafsir firman Allah azza wa jalla (yang artinya):

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat)…” [QS.al Hajj:36]

Beliau berkata tentang kata makna shawaf, maksudnya adalah: “Berdiri di atas tiga kakinya dengan mengikat kaki kiri bagian depan.” [Tafsir Ibnu Katsiir (III/296)]

Adapun sapi, kambing, biri-biri, maka hewan tersebut dibaringkan dahulu sebelum disembelih. Jenis hewan ini disembelih dalam keadaan berbaring di atas tanah dengan posisi miring bersandar pada sisi kiri tubuhnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih dua ekor kibas yang gemuk dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, beliau pun menyebut nama Allah dan bertakbir, kemudian meletakkan kaki beliau di atas leher kibas-kibas itu.” [Lihat HR.al Bukhari (5558) dan Muslim (1966) dari Anas radhiyalahu ‘anhu]

Inilah yang Allah mudahkan bagiku tentang adab-adab penyembelihan, yang jumlahnya ada sepuluh adab. Alhamdulillahi Rabbila ‘Aalamiin.

Referensi tambahan:

Silahkan lihat kitab al-Muntaqa karya Abu Barakat bin Taimiyyah (II/305) dan sesudahnya, Fiqih Sunnah (II/23) dan sesudahnya, dan yang lainnya.

Sumber:

Diketik ulang dari buku “Ensiklopedi Adab Islam Menurut al Qur’an dan as Sunnah – Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as Sayyid Nada”, Pustaka Imam asy Syafi’I Hal.99-101.

Dipublikasikan kembali oleh: http://alqiyamah.wordpress.com

About these ads

Posted on November 9, 2010, in Adab & Akhlak, Haji ; Ied Adha and tagged , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: