Kritik Atas Buku: “Bergabung Bersama Kafilah Syuhada – Dr.Abdullah Azzam”

Kritik Atas Buku: “Bergabung Bersama Kafilah Syuhada”

Oleh: Ustadz Abu Ahmad as-Salafi –hafizhahullah-

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Bergabung Bersama Kafilah Syuhada. Di dalam kata pengantarnya disebutkan bahwa buku ini menerangkan keutamaan jihad, menjelaskan kedudukannya di dalam syari’at, hukum dan ketentuannya di dalam Islam.

Kami sudah menelaah buku ini. Ternyata di dalamnya terdapat hal-hal yang perlu diluruskan dan syubhat-syubhat yang perlu dijelaskan jawaban-jawabannya. Karena itu, insya Alloh di dalam bahasan kali ini akan kami paparkan sebagian jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat buku ini sebagai nasihat kepada para pembaca buku ini dan kaum muslimin.

Penulis dan Penerbit Buku Ini

Buku ini memiliki judul asli Ilhaq Qofilah, di tulis oleh Dr. Abdulloh ‘Azzam, diterjemahkan oleh Wahyudin, dan diterbitkan oleh Media Islamika, Solo, cetakan kedua, Desember 2006 M.

Jihad Adalah Ibadah

Buku ini dari awal hingga akhir merupakan hasungan dari penulis kepada kaum muslimin agar berjihad, dan ini adalah hal yang tidak ada satupun para ulama Sunnah yang mengingkarinya, karena begitu banyak nash-nash yang menunjukkan tentang perintah kepadanya seperti firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Alloh. [QS. At-Taubah (9):41]

Dan Sabda Rasulullah –shalallalahu ‘alaihi wa sallam-:

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta kalian, jiwa kalian dan lidah kalian.” [HR.Abu Dawud dalam Sunan-nya: 3/10 Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shohihul Jami’: 3090]

Hanya, setiap ibadah tidak akan diterima di sisi Alloh kecuali jika terpenuhi di dalamnya dua syarat:

1. Hendaknya amalan tersebut diikhlaskan semata kepada Alloh, karena sesungguhnya Alloh tidak akan menerima amalan kecuali yang dimurnikan semata kepada-Nya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” [QS.al-Bayyinah:5]

2. Hendaknya ittiba’ (mengikuti) Nabi  -shalallalahu ‘alaihi wa sallam-, karena sesungguhnya Alloh tidak akan menerima amalan kecuali yang mencocoki dengan petunjuk Rasulullah shalallalahu ‘alaihi wa sallam-. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” [QS.al-Hasyr:7]

Rasulullah shalallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak berdasarkan urusan dari kami, maka ia adalah tertolak.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori di dalam Shohihnya: 2499 dan Muslim di dalam Shohihnya: 3243]

Maka jihad wajib dilandasi oleh dua hal yang merupakan syarat diterimanya amal ibadah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasul shalallalahu ‘alaihi wa sallam). Alloh tidak akan menerima jihadnya seseorang hingga dia mengikhlaskan niatnya karena Alloh dan mengharapkan dengan jihadnya tersebut keuntungan pribadi atau jabatan atau yang lainnya dari perkara-perkara dunia, maka jihadnya ini tidak diterima oleh Alloh ‘Azza wa Jalla. Demikian pula, Alloh tidak akan menerima jihad seseorang apabila dia tidak mengikuti sunnah Rosululloh shalallalahu ‘alaihi wa sallam dalam berjihad. Seseorang yang ingin berjihad haruslah terlebih dahulu memahami bagaimana dahulu Rasulullah shalallalahu ‘alaihi wa sallam berjihad kemudian dia mencontohnya.

Tidak Berjihad Kecuali Bersama Waliyul Amr

Penulis berkata di dalam hlm.48:

Ada sebagian manusia berapologi mencari pembenaran untuk tidak berangkat berjihad hanya karena beberapa perkara yang hukumnya masih diperselisihkan, mereka beralasan bahwasnya masih banyak orang-orang afghanistan yang keislamannya tidak dapat diterima/menyimpang.

Namun persoalan ini telah dijawab oleh para fuqoha dengan menunjukkan dalil-dalilnya. Bahwa seseorang wajib berjihad meskipun harus bersama dengan tentara yang mayoritas mereka adalah orang-orang tidak baik.

Ini adalah salah satu landasan pokok aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (yaitu berperang bersama orang yang baik dan yang fajir/jahat), karena Alloh ‘Azza wa Jalla akan mengokohkan dien ini dengan laki-laki yang fajir. Ini adalah jejak generasi umat pilihan pada masa dahulu dan sekarang. Hukumnya adalah wajib bagi setiap mukallaf (orang yang terbebani dengan perintah dan larangan).

Tidak berjihad bersama para pemimpin (meskipun mereka orang-orang yang fajir) atau bersama mayoritas tentara yang fajir adalah jalannya kelompok Haruriyah –mereka adalah bagian dari golongan Khawarij- dan kelompok semisal dengan mereka yang mengambil jalan dan sikap hati-hati yang berlebihan karena ilmu yang dangkal dan niscaya mengakibatkan kerusakan.

Kami katakan:

Penulis menyebutkan bahwa wajib berjihad bersama kaum muslimin yang baik dan yang jelek, tetapi dia telah melalaikan pokok yang agung yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang wajibnya berjihad bersama pemimpin (waliyul amr) yang baik dan yang jelek, dan bahwa jihad wajib dengan izin imam yang syar’i. Al Imam Abu Ja’far ath Thohawi –rahimahullah- berkata:

“Jihad dan ibadah haji dilakukan bersama ulil amri dari kaum muslimin, baik yang sholih maupun yang fasik, hingga hari kiamat. Keduanya tak dapat dibatalkan dan dirusak oleh segala sesuatu.” (Aqidah Thohawiyyah hal.49)

Al Imam Abu Hatim ar-Rozi dan al Imam Abu Zur’ah ar-Rozi rahimahumallah berkata:

“Kita melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama imam-imam kaum muslimin, disetiap masa.” (Ashlu Sunnah hal.22)

Al Imam Abu Utsman ash-Shobuni –rahimahullah- berkata:

“Mereka (Ashhabul Hadits) juga berpendapat bahwa berjihad melawan orang-orang kafir itu bersama pemerintah meskipun mereka zhalim dan fasik.” (Aqidah Salaf Ashhabul Hadits hal.106)

Yang dimaksud imam (pemimpin) disini adalah imam yang syar’i sebagaimana dikatakan al-Imam Ahmad -rahimahullah-, “Tahukah kamu, apakah imam itu? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya dan semuanya mengatakan, “inilah imam.” (Masa’il al Imam Ahmad: 2/185, riwayat Ibnu Hani)

Al Imam Hasan bin Ali al-Barbahari –rahimahullah- berkata, “Barangsiapa yang menjadi kholifah dengan kesepakatan kaum muslimin dan keridhoan mereka, maka dia adalah amirul mukminin, tidak dihalalkan atas siapapun untuk menginap satu malam dalam keadaan tidak memandang bahwa dia memiliki imam.” (Syarhus Sunnah hal.69-70)

Yang sunnah adalah satu imam untuk kaum muslimin di seluruh dunia. Akan tetapi,  ketika kaum muslimin terbagi menjadi beberapa negeri dan sulit disatukan, maka masing-masing penguasa negeri adalah imam yang wajib dibai’at dalam ketaatan kepadanya sesuai dengan batasan-batasan syar’i.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata, “”Yang sunnah hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam, yang lain adalah perwakilan-perwakilannya. Jika terjadi keadaan di mana umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan atau ketidakmampuan, atau sebab lain, sehingga terjadilah beberapa imam negeri, maka dalam keadaan seperti ini wajib atas setiap imam agar menegakkan hudud, dan menunaikan hak-hak..” (Majmu’ Fatawa: 34/175-176)

Al Imam asy-Syaukani –rahimahullah- berkata, “Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayahnya, dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa masing-masing wilayah memiliki seorang imam atau penguasa, yang tidak berlaku kekuasaannya di wilayah yang lain. Maka tidak mengapa dengan terjadinya beberapa imam dan penguasa negeri, dan wajib ditaati masing-masing penguasa negeri sesudah dilakukan bai’at atasnya oleh penduduk wilayah masing-masing..” (Sailul Jarror: 4/512)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- berkata, “Para imam dari setiap madzhab telah sepakat bahwa barang siapa yang menguasai suatu negeri, maka dia memiliki hukum imam dalams egala sesuatu. Seandainya tidak seperti ini maka tidaklah tegak dunia, karena kaum muslimin sejak zaman yang lama, sebelum zaman al-Imam Ahmad hingga sekarang, belum pernah bersatu dibawah satu imam.” [Durrar Saniyyah:7/239]

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahullah- berkata, “Dengan ini kita mengetahui kesesatan anak-anak muda yang mengatakan, ‘Sesungguhnya hari ini tidak ada imam bagi kaum muslimin sehingga tidak ada bai’at bagi seorang pun –kita memohon keselamatan kepada Alloh- dan saya tidak tahu apakah mereka menghendaki urusan-urusan menjadi kacau-balau karena tidak ada pemimpin yang mengatur manusia? Ataukah mereka menghendaki dikatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin dirinya? Mereka ini jika mati tanpa bai’at maka mereka mati seperti mati jahiliyah.” [asy-Syahul Mumthi’:8/12-13]

Jihad Yang Fardhu ‘Ain Tidak Perlu Izin?

Penulis berkata di dalam hal.62 dari bukunya ini:

“Tidak ada kewajban izin bagi siapapun saat hukum fardhu ain, sebab berdasarkan kaidah bahwa “Tidak perlu minta izin saat fardhu ain.”

Penulis juga berkata di dalam hal.74:

“Apabila jihad telah menjadi fardhu ain, maka seorang anak tidak perlu meminta izin kepada kedau orang tua sebagaimana mereka tidak perlu meminta izin untuk melaksanakan sholat Shubuh atau shaum Ramadhan.”

Kami katakan:

Syaikh Abul Aziz ar-Royyis –hafizhahullah- membantah syubhat ini dengan mengatakan, “Sekali-kali tidak, karena jihad sama saja apakah ia fardhu ‘ain atau fardhu kifayah maka dia adalah wajib secara syar’i dengan waliyyul amr (pemerintah) bukan kepada yanglainnya. Jika dia (waliyyul amr, Red) sembrono di dalam melaksanakannya makadia berdosa dan kita tidak menanggung apa-apa, dan kita mengikuti waliyyul amr kita. Inilah yang dilakukan oleh apra sahabat yang mulia. Karena itu, mereka tidak meninggalkan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk membela Abu Bashir dan Abu Jandal, atau membela saudara-saudara mereka yang tertindas di Makkah.” [Kasyfu Syubuhatil ‘Ashriyyah hal.44]

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa perkara jihad bergantung kepada waliyyul amr adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh –radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) adalah perisai. Diperangi (musuh) dari belakangnya dan berlindung dengannya. Apabila ia memerintahkan kaumnya untuk bertakwa kepada Alloh Yang Maha Agung lagi Maha Mulia dan berlaku adil, maka dari itu ia akan memperoleh pahala. Akan tetapi, apabila ia mmerintahkan kepada perbuatan yang lainnya, maka ia pasti akan menerima balasan sesuai dengan perintahnya tersebut.” [Shohih Bukhari: 4/60 dan Shohih Muslim: 6/17]

Hadits ini adalah kabar yang bermakna perintah dan merupakan nash pada masalah ini. Al-Imam an Nawawi –rahimahullah- berkata:

“Imam adalah perisai, yaitu seperti penutup, karena dia menghalangi musuh dari mengganggu kaum muslimin, dan menghalangi sebagian manusia dari mengganggu sebahagian mereka, menjaga pertahanan Islam, manusia takut kepadanya dan takut serangannya, dan makna diperangi di belakangnya yaitu bersamanya diperangi orang-orang kafir, para pemberontak, orang-orang Khowarij, dan semua orang-orang yang merusak dan zholim.” [Syarh Muslim: 6/315]

Al Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata:

“Karena dia menghalangi musuh dari mengganggu kaum muslimin, dan menahan gangguan sebagian manusia atas sebagian yang lain.” [Fathul Bari: 6/116]

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad –rahimahullah- berkata:

“Maka imam adalah perisai, dengannya berperang. Kaum Muslimin berperang mengikutinya dan berada dibelakangnya. Jadilah ia sebagai pemimpin mereka di dalam peperangan serta di dalam mengadakan akad-akad dan perjanjian-perjanjian.” [Syarh Sunan Abu Dawud: 15:/73]

Jihad Tidak Perlu Izin Kepada Amirul Mukminin?

Penulis berkata di dalam hal.86:

“Sesungguhnya Amirul Mukminin tidak dimintai izin di dalam tida keadaan: (1) bila ia menihilkan jihad. (2) Bila ia menutup perizinan untuk berjihad. (3) Bila sebelumnya kita telah mengethaui bahwa ia akan menolak permohonan ijin untuk berjihad.

Kami katakan:

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin –rahimahullah- berkata: “Tidak boleh memerangi pasukan kecuali dengan izin imam betapapun perkatanya, karena yang diperintah berperang dan berjihad adalah apra waliyyul amr dan bukan person-person manusia, maka person-person manusia adalah mengikuti ahlul halli wal ‘aqdi, maka tidak boleh seorang pun untuk berperang tanpa izin imam kecuali untuk membela diri.” [asy-Syarhul Mumthi’:8/22]

Adapun tentang imam yang menihilkan jihad maka ini adalah perkataan yang global. Jika yang dmaksud bahwa dia mengingkari disyari’atkannya jihad maka ini adalah kekufuran. Adapun jika yang dimaksud bahwa dia belum melaksanakannya maka ini ada dua keadaan:

Pertama: Jika mereka lebih memilih dunia daripada akhirat maka perbuatan mereka ini adalah haram, bukan kufur, karena yang maksimal dari hukumnya adalah maksiat.

Kedua: Jika mereka ingin berjihad, tetapi mereka lemah tidak mampu melakukan hal itu, karena mereka belum siap dari segi kekuatan iman dan kekuatan militer, barangsiapa yang meninggalkan jihad karena alasan ini maka mereka benar di dalam pandangan mereka, karena jihad yang syar’i haruslah terpenuhi syarat-syarat dan faktor-faktor penunjangnya, diantaranya adalah:

  1. Hendaklah berjihad semata-mata mengharapkan wajah Alloh ‘Azza wa Jalla.
  2. Kaum muslimin mempunyai senjata, kekuatan dan pertahanan.
  3. Berjihad dalam satu komando di bawah bendera kaum muslimin
  4. Seorang imam kaum (pemimpin) muslimin mengumandangkan seruan untuk berjihad
  5. Hendaknya (sebelum mereka diperangi) telah diserukan dakwah agar mereka masuk Islam, jika mereka menolak seruan tersebut atau mereka menghalang-halangi dari tersebarnya Islam maka diperangi
  6. Hendaknya benar-benar yakin dalam berjihad tidak menimbulkan kemudhoratan bagi Islam dan kaum Muslimin.

Jika telah terpenuhi syarat-syarat dan faktor-faktor yang menunjangnya maka marilah kita berjihad, dan kalaulah tidak terpenuhi syarat-syarat tersebut maka janganlah kita berjihad. [Lihat al-Jihad Fil Islam karya Syaikh Abdus Salam as Suhaimi hal.86]

Penutup

Inilah yang bisa kami sampaikan berupa sebagian dari jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat buku ini. Akhirnya, kita memohon kepada Alloh agar  menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dengan jihad yang benar sesuai yang diperintahkan oleh Alloh dan dicontohkan oleh Rosul-Nya dan semoga Alloh selalu memberikan taufiq kepada kita semua agar bisa selalu bisa menmpuh jalan yang lurus di dalam semua segi kehidupan. Aamiin.

Sumber: Disalin dari Majalah al Furqon Edisi 07 Tahun Kesepuluh, Shofar 1432 / Januari 2011, Hal.58-61

About these ads

Posted on Januari 27, 2011, in Kitab and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.

    (Riwayat Bukhori dan Muslim)

    • Ana sepakat bahwa syarat ibadah ada 2 yang telah ust.sebutkan diatas.dan syarat – syarat berjihad sesuai tuntunan rosulullah s. a. w…tp ust..apakah ust..senang melihat saudara-saudara kita di sebagian belahan bumi ini dibantai, ditindas, dianiaya, bahkan diambil kehormatanya..jk hal ini terjadi pada kel..ust..ataw istri ust..ataw anak perempuan ust..apakah ust tunggu samapai syarat2 berjihad itu sudah dapat kita penuhi..?bukanya pada saat peperangan dizaman rosulullah dan para sahabat jg ada sebagian yang ikut perang itu baru mengenal islam…klo kita tg sampai ulil amri memimpin perang sampai kapan kita melihat saudara kita tertindas karna para pemimpin didunia ini mempunyai penyakit wahn…dan takut kpd pemimpin amerika…berhusnudzon lah ust..terhadap saudara -saudara muslim kita yang sedang berjihad semata-mata utk mmencari ridho allah..& demi kehormatan islam..untuk apa mereka mengorbankan nyawa & harta klo bukan karna allah

  2. Maaf.. saya melihat note ini / bantahan ini tdk proposional.. / sumir… hanya remang2 aja.. yg mana hanya bersifat tendensius aja yg bertujuan menjatuhkan / menyudutkan beberapa atau bahkan dua banding sribu kata yg dianggap bertentangan dgn syariat dari fatwa / tulisan Beliau Rohimahullah…yg mana beliau tdk ma’sum juga ada kesan yg ingin di sampaikan penulis yg begitu Samar…. bahwa wajibnya jihad atas ijin IMAM walau telah di tulis dgn maksud dr imam yg syar’i… Tapi pada hakekatnya bertujuan ya’ni wajibnya taat kpd Imam Toghut [ penguasa2 yg menegakkan hukum kafir.. uu+ / demokrasi ] nah.. inilah yg tdk di jelaskan / di tekankan akan maksud dari Imam syar’i tsb… sbb bagi yg faham akan tauhid pasti mengetahui akan wajibnya kufur kpd toghut karna itu bagian dr iman tsb.sdgkan yg terjadi byk orng awam yg menganggap penguasa sekuler yg mengaku islam adalah Imam syar’i / ulil amri..

    anggaplah ini hanya su’udhon.aja… Wallahua’lam….

  3. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwasanya tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad kecuali para ulama’ yang berada di bumi jihad .. tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad kecuali para ulama’ yang memahami kondisi jihad dan berada dalam medan jihad. Ibnu Taimiyah berkata: “Seharusnya yang diterima pendapatnya dalam perkara-perkara jihad adalah pendapat orang yang memiliki agama yang lurus, yang memiliki pemahaman mengenai kondisi ahli dunia, bukan orang yang hanya memahami teori-teori agama.”
    Ibnu Taimiyah mengharuskan kita untuk mengambil fatwa dalam masalah jihad dari orang yang memenuhi dua syarat:
    Pertama: hendaknya ia terjun dalam peperangan dan mengerti apa-apa yang dibutuhkan dalam peperangan, memahami kondisi ahli dunia.
    Kedua: hendaknya dia adalah termasuk ulama’ yang terkenal, artinya dia adalah orang yang memiliki agama yang lurus.”
    (an-nihayah wal Khulashah)

  4. Syaikh Asy-Syanqithi dalam tafsirnya ketika menafsirkan firman Allah, “Dan tidak mengambil seorangpun sebagai sekutu Allah dalam menetapkan keputusan.” [QS. Al Kahfi :26] dan setelah menyebutkan beberapa ayat yang menunjukkan bahwa menetapkan undang-undang bagi selain Allah adalah kekafiran, beliau berkata, “Dengan nash-nash samawi yang kami sebutkan ini sangat jelas bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum positif yang ditetapkan oleh setan melalui lisan wali-wali-Nya, menyelisihi apa yang Allah syari’atkan melalui lisan Rasul-Nya. Tak ada seorangpun yang meragukan kekafiran dan kesyirikannya, kecuali orang-orang yang telah Allah hapuskan bashirahnya dan Allah padamkan cahaya wahyu atas diri mereka.”(Adhwaul Bayan IV/92)

    Syaikh Al Syinqithi juga berkata :

    ” Berbuat syirik kepada Allah dalam masalah hukum dan berbuat syirik dalam masalah beribadah itu maknanya sama, sama sekali tak ada perbedaan antara keduanya. Orang yang mengikuti UU selain UU Allah dan tasyri’ selain tasyri’ Allah adalah seperti orang yang menyembah berhala dan sujud kepada berhala, antara keduanya sama sekali tidak ada perbedaan dari satu sisi sekalipun,. Keduanya satu (sama saja) dan keduanya musyrik kepada Allah.”(Al Hakimiyah fie Tafsiri Adhwail Bayan, karya Abdurahman As Sudais hal. 52-53, dengan ringkas, lihat juga Adhwaul Bayan 7/162)

  5. apakah makna dakwah yg sebenarnya karena orang sangat teguh dlm dakwah .2.adikku jarang sholat bagaimana cara mendakwainya.

  6. kenapa artikel di atas di kasih link ke url Media Islamika ? ahsan dihapus linknya, karena gak ada manfaatnya memberikan linknya, justru malah membuat orang merujuk ke link tersebut (penerbit buku milik haroki) dan melihat2 buku lainnya…

    barokallahu fikum

    • semula ana maksudkan agar para pembaca tahu dan semoga lbh berhati2 thdp buku dr terbitan diatas.
      tapi stlh ana pikir..bener juga akh, ahsan ana hapus linknya.jazakallah khoir sarannya.

  7. lagi-lagi miliknya salafi yang hanya menyerang kepada muslim dan memberikan keuntungan kepada orang-orang kafir….SIAPA DIUNTUNGKAN?
    apakah kita berilmu atau mencari ilmu hanya untuk mencari Pembenaran pendapat kita, bukan mencari Kebenaran?

    ingatlah wahai salafi….tidak ada ulama yang maksum…jika engkau menganggap ulama salafi paling benar, paling…., paling…., sungguh itu adalah suatu kesalahan yang amat besar….

  8. SAYA DUKUNG ABDULLAH AZZAM KARENA YANG TIDAK SETUJU DENGAN ABDULLAH AZZAM DALAM MASALAH JIHAD SAYA KATAKAN TINGGALLAH KAMU BERSAMA ORANG ORANG YANG TINGGAL(attaubah 46) DAN KAMU TIDAK USAH MINTA MAAF(attaubah 66)! YANG TIDAK SETUJU DENGAN ABDULLAH AZZAM DALAM MASALAH JIHAD ADALAH ULAMA BELIAN YG SUDAH DIBELI OLEH PEMERINTAH THAGUT / PRO TERHADAP PEMERINTAH THAGUT(annisa 60)! YANG HANYA DUDUK DUDUK SAJA SAMBIL BERDAKWAH SESUNGGUHNYA MEREKA HANYA SENDA GURAU SAJA(attaubah65),, ISLAM TIDAK AKAN KEMBALI JAYA DAN BERSINAR KALAU LEWAT POLITIK WALAUPUN SAMPAI KE PBB SEKALIPUN, INGAT HANYA DENGAN PEDANG HANYA DENGAN SENJATA ISLAM AKAN KEMBALI JAYA DAN BERSINAR!! MAKA UNTUK ITU HARUS DIPERBANYAK PEMBUNUHAN TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR SAMPAI ORANG KAFIR DATANG KEPADA ISLAM DALAM KEADAAN TUNDUK DAN HINA LALU ORANG KAFIR ITU MEMINTA PERDAMAIAN DAN MEMBAYAR PAJAK KEAMANAN UNTUK DIRINYA(attaubah 29)!! ALLAHUAKBAR

  9. Artikel ini perlu penjelasan, siapa waliyul amr itu? adakah waliyul amr zaman sekarang? siapa waliyul amr Palestina yang dijajah itu? lalu siapa waliyul amr komunitasmuslim yang ditindas fisik seperti Moro Filipina, Rohingnya Myanmar, Kashmir India, Kaukasus Rusia? Sekarang kalau penjajah masuk rumah kita, mau merampas harta dan membunuh kita serta keluarga, apakah kita tidak boleh beraksi melawan? kalau kita mati dalam mempertahankan rumah kita tersebut, apakah kita syahid? kalau kondisi seperti itu biasanya komunikasi akan terputus, dan terbentuk perang gerilya sehingga untuk mengkonfirmasi “waliyul amr” juga sulit. bagaimana hukumnya pejuang aceh setelah 1904 tahun dimana sultannya ditangkap Belanda?apakah mereka menjadi teroris bukan mujahid? TOLONG JELASKAN SIAPA DAN APA SYARAT WALIYUL AMIR ZAMAN INI DAN APAKAH IA ADA/EKSIS? TOLONG JELASKAN SIAPA DAN APA SYARAT WALIYUL AMIR ZAMAN INI DAN APAKAH IA ADA/EKSIS? TOLONG JELASKAN SIAPA DAN APA SYARAT WALIYUL AMIR ZAMAN INI DAN APAKAH IA ADA/EKSIS?

  10. saya sangat sedih melihat kondisi zaman ini umat islam lebih mementingkan kelompok masing-masing, mereka yang mengaku-ngaku tidak membuat kelompok tetap juga menjadi kelompok tak bernama dan kemudian menjelekan menyebut-nyebut dengan perbuatan buruk.. haroki, jihadi dll, bahkan sampai melupakan sikap adil sampai menghapus link dsb..

    sungguh sangat menyedihkan, dimanakah sikap adil dan kasih sayang kepada sesama muslim meluruskan karena kebenaran, bukan meluruskan karena kelompok, mencari pembenaran, dimanakah niat ikhlas karena Allah…

    di masa sekrang meluruskan kesalahan sedikut sekali karena Allah, tapi lebih pada motivasi kelompok walaupun mengaku tidak berkelompok.

    sikap kritis akan berbeda ketika melihat kelompok lain dan ustadznya sendiri atau syaikh nya sendiri.

    kelompok lain sampai ke akar- akarnya, kelompok sendiri tidak tersentuh…

    sikap seperti ini sangat menguntung kan para Kafirin… coba lihat fakta dilapangan, apakah orang-orang seperti ini lebih benci kepada orang-orang kafir atau teman-teman muslim dari kelompok lain?

    apakah sikap “keras ” dalam meluruskan pendapat kelompok lain sama dengan meluruskan tuduhan orang-orang Kafir terhadap Islam?

    coba lihat situs -situs berikut: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/

    Sangat miris melihatnya, tapi saya lebih miris melihat sikap kaum muslimin sekarang, kebencian kepada orang kafir dikalahkan dengan kebencian kepada kaum muslim sendiri yang beda kelompok.

    Tahdzir takfir kepada sesama muslim udah biasa… mau dibuku, dimajalah, mau di internet , ceramah-ceramah udah biasa.

    sampai pada sikap tidak mau membeli buku dari penerbit atau tulisan ustadz dari kelompok lain..
    giliran membeli produk orang kafir masih iya. kebencian kepada kelompok lain lebih dari pada kebencian kepada sesama muslim yang beda kelompok, beda ustadz..

  11. Artikel ini menyesatkan, buatan budak2 Thagut !!! Haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: