Larangan Mencaci Ulil Amri – Ustadz Agus Hasan Bashori

http://alqiyamah.files.wordpress.com/2011/07/generasiterbaik.jpg?w=200Ahlussunnah mengharamkan mencaci dan memhina ulil amri, atau melaknat mereka atau melakukan sesuatu yang buruk kepadanya, karena hal itu mencederai ketaatan kepadanya dan menyalahi wasiat-wasiat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam menghadapinya. Ini dari satu sisi, hal itu membantu dan mendukung pembangkangan dan pemberontakan kepadanya. Keharaman ini berdasarkan nash al-Qur’an dan Sunnah. [1]

Di samping itu mencaci ulil amri adalah salah satu sifat khawarij (meskipun tidak selalu yang melakukannya adalah orang khawarij). Seorang dari mereka telah lancang dan lantang mengatakan kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- “Berbuat adillah wahai Muhammad”. Sementara yang lain pada saat menerobos masuk ke rumah Khalifah Utsaman untuk membunuhnya, dia berkata: “Ya na’tsal!” sambil menarik jenggot Khalifah Utsman. Mereka mengatakan “Ya na’tsal” karena menghina Khalifah Utsman dengan menyerupakan Khalifah dengan orang Mesir yang bernama Na’tsal yang jenggotnya sangat panjang. Atau menyerupakan Khalifah Utsman dengan seorang Yahudi  yang bernama Na’tsal [2]. Atau dimaksudkan maknanya dalam bahasa, karena makna Na’tsal adalah “orang tua yang tolol” atau Hyena jantan.

Inilah tanda mereka, maka barangsiapa menyerupai suatu kaum ia termasuk didalamnya. Ahlussunnah berdalil akan haramnya mencaci dan melaknat ulil amri ini dengan beberapa hadits, antara lain:

“Melaknat orang muslim itu seperti membunuhnya.” [3]

“Bukanlah orang mukmin itu tukang mencela, tukang melaknat, tukang berkata keji dan kotor.” [4]

“Mencaci muslim itu fasiq dan membunuhnya adalah kufur.” [5]

“Kami dilarang oleh para pemimpin kami dari para sahabat Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Janganlah kalian mencaci umara’ kalian, jangan mencurangi mereka dan jangan mendurhakai mereka. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah karena sesungguhnya perkaranya dekat.” [7]

Redaksi Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan 774:

“…Janganlah kalian mencaci umara’ kalian dan jangan mencela mereka. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah karena sesungguhnya perkatanya dekat.”

Ini adalah kesepakatan atau bisa disebut ijma’ para pembesar sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas larangan mencaci dan mencela umara’, karena akan berakibat buruk dan memperburuk keadaan, termasuk menambah motivasi untuk melawan sulthan.

Perhatikan sejarah berikut ini:

Abdullah ibn ‘Ukaim berkata: “Saya tidak akan membantu atas pembunuhan Khalifah selamanya setelah Utsman.” Maka dikatakan: “Wahai Abu Ma’bad apakah engkau membantu atas darahnya?” Dia berkata: “Aku menilai, menyebut keburukan-keburukannya adalah bantuan atas darahnya.” [8]

Oleh karena itu para salaf shalih memberikan peringatan keras atas perbuatan mencaci maki sulthan. Abu Ishaq al-Subai’i berkata: “Tidaklah satu kaum mencaci amir mereka melainkan mereka dihalangi dari kebaikannya.”

Abu Mijlaz berkata: “Mencaci maki imam adalah pencukur, ak tidak akan mengatakan pencukur rambut, akan tetapi pencukur agama.”

Abu Idris al-Khaulani berkata: “Janganlah kalian mencela para imam karena mencela mereka adalah pencukur; yaitu pencukur agama, bukan pencukur rambut. Ingatlah para pencela itru adalah orang-orang yang merugi dan seburuk-buruk orang buruk.”

Di samping itu menjelek-jelekkan ulil amri (ulama dan umara’, begitu pula menjelek-jelekkan yang lain) dengan menyebar luaskan dosa-dosa pribadinya di tengah-tengah masyarakat adalah termasuk ghibah yang haram, bukan termasuk nasehat dan ishlah. Rasulllah shallallahu ‘alaihin wa sallam bersabda:

“Barangsiapa memberi saudaranya mau’izhah di hadapan khalayak ramai maka sesungguhnya ia telah membuka aibnya (mengolok-ngoloknya).”

Sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu telah mengingkari seseorang yang menjelek-jelekkan Abdullah ibn Amir Gubernur Bashrah dari pihak Utsman, pada saat dia berkata dalam khutbahnya:

“Coba lihatlah Gubernur kita ini, dia memakai pakaian orang-orang fasiq.”

Maka sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Diamlah. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menghina sulthan Allah di bumi, maka Allah menghinakannya.”

Foot Note:

[1] Baca Kitabal-Amr Biluzum Jama’ah al-Muslimin wa Imamihim wat-Tahdzir min Mufaraqatihim, karangan Dr. Abdussalam Barjas Abdil Karim. 121-128; Kitab Kasyf al-Syubuhat al-‘Ashriyyah ‘an al-Da’wah al-Ishlahiyyah as-Salafiyyah, Abdul Aziz Rais Alu Rais, 39.

[2] http://www.sd-sunnah.com/vb/showthread.php?5286

[3] HR.Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dll, dari Tsabit ibn Dhahhak.

[4] HR.Ahmad dan Bukhari (dalam al-Adab al-Mufrad) dari ibn Mas’ud, hadits shahih.

[5] HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dari Ibn Mas’ud

[6] Bukan (jangan membenci mereka), lihat hadits Ummu Salamah dikeluarkan oleh Muslim. [afwan, tdk bisa tulis huruf/font arab - admin]

[7] HR. Ibn Abi Ashim dalam al-Sunnah, ibn Abdil Barr dalam al-Tamhidm, Abul Qasim al-Ashbahani yang bergelar Qiwam as-Sunnah dalam al-Targhib wat-Tarhib, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dengan redaksi: “Kami diperintah oleh para pemimpin kami dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kami tidak mencaci umara’ kami.” Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah libnmi abi Ashim (1015) mengatakan: sanadnya jayyid.

[8] Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, ibn Sa’d dalam al-Thabaqat, al-Fasawi dalam al-Ma’rifat wat-Tarikh, al-Khatib dalam al-Muttafaq wal-Muftaraq dengan sanad shahih.

Sumber: Disalin ulang dari Majalah Qiblati, Edisi 10, Tahun VI, Sya’ban 1432H/Juli 2011, Hal 36-38, Oleh: Ustadz Abu Hamzah Agus Hasan Bashori -hafizhahullahu ta’ala- dalam Rubrik Dakwah yang berjudul “Ilmu Manhaj Dakwah Salafiyyah”, Prinsip Keenam: Imamah & Kewajiban Taat Ulil Amri Bag.7.

About these ads

Posted on Juli 22, 2011, in Aqidah & Manhaj and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Abu Muhammad al Indunisy

    inilah salah satu bukti bahwa beliau bukanlah berfaham Khawarij

  2. ass.wr>nuwun sewu tapi manhaj salaf kan harusnya sesuai dgn apa yang dibawa oleh Nabi dan sahabatnya..kalo menurut yang saya baca bahwa segala yang tidak sesuai dgn cara Nabi dan sahabat berarti bid’ah kan pak ustadz. berarti pemerintah sekarang adalah bida’h karena sistem republik tidak ada di jaman nabi..berarti kalo pelaku bid’ah kan mendekati kesesatan ya pak ustadz>>pemerintah kita berarti tidak sesuai dgn Al-Qur’an dan hadits sohih berarti ga wajib dita’ati kan kalo begitu. sebab buktinya makam2 peziarahan saja masih dilestarikan.khan kita khawatir nanti kalo itu disembah2. betapa berat pak ustadz yah tugas kita meluruskan akidah bangsa ini kapankah indonesia ini bisa bersih dari khurafat ya

  3. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabakatuh, nuwun sewu , nuwun penjelasane sing jenengi ulil amri meniko pripun ? opo presiden republik Indonesia meniko ugo termasuk ulil amri ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: