Khadijah binti Khuwailid -radhiyallahu ‘anha- : Sayyidah Quraisy ath-Thahirah [Bag.Pertama]

http://alqiyamah.files.wordpress.com/2011/07/khadijahbinti.jpg?w=188&h=182Beliau adalah sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qursyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih atau suci. Sayyidah Quraisy dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun Fiil (gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abi Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua anak yang bernama Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin A’id bin Abdullah al-Mahzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.

Setelah itu banyak dari pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau akan tetapi beliau prioritaskan perhatiannya untuk mendidik putra-putrinya,juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang wanita kaya raya. Suatu ketika beliau mencari orang agar dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah, dan beliau memberi barang dagangannya kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangan tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tesebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagaimana kebanyakan laki-laki dan perasaan-perasaan yang lain.

Akan tetapi dia merasa pesimis mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya,mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia sudah menutup pintu bagi para pemuka quraisy yang melamarnya?

Maka disaat dia bingung dan gelisah,tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga dengan kecerdikannya Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembunyikan oleh Khadijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.

Selanjutnya tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukkan akan kelihaian dan kecerdikan dia:

Nafisah            :           Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?

Muhammad     :           Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah.

Nafisah            :           (dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya, cantik dan berkecukupan,maka apakah kamu mau menerimanya?

Muhammad     :           Siapa dia?

Nafisah           :            (dengan cepat dia menjawab) dia adalah Khadijah binti Khuwailid.

Muhammad    :            Jika dia setuju maka akupun setuju.

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi Sayyidah Khadijah. Kemudian pergilah Abu Thalib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.

Setelah usai akad nikah disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan ternyata diantara mereka terdapat Halimah Sa’diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak yang pernah disusuinya. Setelah itu dia kembali kekampung halamannya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.

Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebahagiaan dan nikmat yang melimpah, dan mengaruniakan kepada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fatimah.

Kemudian Allah menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shadiq menyukai khalwat (menyendiri), bahkan tiada aktifitas yang lebih ia sukai daripada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal di dalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan yang sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Mekkah yakni menyembah berhala dan lain-lain.

Sayyadah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan di rumah. Apabila beliau pergi ke gua kedua mata beliau senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan beliau juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.

Rasulullah tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira’  pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu. Selanjutnya beliau keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata:”selimutilah aku…….selimutilah aku”

Setelah khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah, beliau menjawab: “wahai khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku.”

Maka istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata: “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku berharap agar anda menjadi nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silahturahmi, jujur dalam berkata, menyantuni anak yatim, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.

Maka menjadi tentramlah hari Nabi berkat dukungan ini dan kembali ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.

Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad. Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: “Qudus….qudus….demi yang jiwa Waraqah ada di tangan-Nya, jika apa yang kau ceritakan kepadaku itu benar, maka sungguh telah datang kepadanya namus al Kubra sebagaimnana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh secara langsung. Tatkala melihat kedatangan nabi sekonyong konyong Waraqah berkata: “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya engkau adalah Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakanmu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangi dirimu, seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah.” Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi bersabda, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Betul, tidak seorangpun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu….kalau saja aku masih hidup…:tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.

Menjadi tenanglah jiwa Nabi tatkala mendengar penuturan Waraqah,dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala disaat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang -orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.

Bersambung insyaallah…

Foot Note:

[1] Lihat as-Sirah oleh Ibnu Hisyam (1/202) dan seterusnya

[2] Lihat as-Sirah oleh Ibnu Hisyam (1/249) dan seterusnya

[3] Lihat as-Sirah oleh Ibnu Hisyam (1/250)

Sumber: Disalin ulang dari buku “Mereka Adalah Para Shahabiyat [Nisaa’ Haular Rasul], Mahmud Mahdi al Istambuli & Musthafa Abu An Nashir Asy Syalabi, Penerbit at-Tibyan, Hal.41-49.

About these ads

Posted on Juli 31, 2011, in Istri-Istri Nabi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: