Pertanyaan Seputar Ajaran Syi’ah Tentang Ahli Bait

http://alqiyamah.files.wordpress.com/2012/01/13-5-2009-p2009tandatanya.gif?w=156&h=118Pertanyaan Pertama:

Syi’ah meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang ma’shum, lalu kami jumpai —menurut pengaku­an mereka—bahwa ia menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, saudara perempuan sekandung al-Hasan dan al-Husain, dengan Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu [1]Ini berkonsekwensi salah satu dari dua hal bagi Syi’ah yang paling manis dari keduanya terasa pahit, yaitu:

Pertama, Ali radhiyallahu ‘anhu tidak ma’shum, karena menikah­kan putrinya dengan orang kafir (menurut keyakinan mereka, yaitu Umar ed.). Ini bertentangan dengan dasar-dasar madzhab, bahkan ini berkonsekwensi bah­wa para imam selainnya tidak ma’shum pula.

Kedua, Umar radhiyallahu ‘anhu adalah Muslim. Ali ridha men­jadikannya sebagai menantu. Ini adalah dua jawaban yang harus dipilih.

Pertanyaan Kedua:

Syi’ah menyangka, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah kafir. Lalu kami dapati bahwa Ali, seorang imam yang ma’shum menurut Syi’ah, telah ridha dengan ke­khalifahan keduanya, membaiat masing-masing dari keduanya, dan tidak memberontak terhadap keduanya. Ini berkonsekwensi bahwa Ali tidak ma’shum, ka­rena ia membaiat orang kafir, zhalim lagi membenci ahli bait, sebagai bentuk persetujuan kepada keduanya. ini merusak kema’shuman dan menolong orang zhalim atas kezhalimannya. Ini tidak mungkin dilakukan orang yang ma’shum sama sekali. Atau apa yang dilakukan­nya adalah kebenaran; karena keduanya adalah khalifah yang beriman, jujur lagi adil. Dengan demikian, kaum Syi’ah telah menyelisihi imam mereka, karena mengkafirkan, mencaci maki, melaknat, dan tidak ridha dengan kekhalifahan keduanya. Akibatnya, kita bi­ngung dengan urusan kita: Apakah menempuh jalan yang ditempuh Abu al-Hasan (Ali), ataukah kita meniti jalan Syi’ah (pengikut)nya yang bermaksiat?!

Pertanyaan Ketiga:

Setelah wafatnya Fathimah radhiyallahu ‘anha, Ali radhiyallahu ‘anhu menikah dengan sejumlah wanita yang melahirkan sejum­lah anak untuknya, di antaranya: Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu me­reka adalah Umm al-Banin binti Hizam bin Darim.[2]

Juga Ubaidullah bin Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah Laila binti Mas’ud ad-Darimiyah.’[3]

Juga Yahya bin Ali bin Abi Thalib, Muhammad al-Ashghar bin Ali bin Abi Thalib, ‘Aun bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Asma’ binti Umais. [4]

Juga Ruqayah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib—yang meninggal dunia pada usia 35 tahun. Ibu keduanya adalah Ummu Habib binti Robi’ah. [5]

Juga Umm al-Hasan binti Ali bin Abi Thalib, Ramlah al-Kubra binti Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah  Ummu Mas’ud binti Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. [6]

Pertanyaan: Apakah mungkin seorang ayah me­namakan buah hatinya dengan musuh bebuyutannya? lalu bagaimana halnya jika sang ayah ini adalah Ali bin Abi Thalib?

Bagaimana mungkin Ali menamakan anak­-anaknya dengan nama orang-orang yang kalian anggap bahwa mereka adalah musuh-musuhnya?! Apa­kah seorang yang berakal menamakan anak-anak yang dicintainya dengan nama musuh-musuhnya?!

Tahukah kalian bahwa Ali adalah orang Quraisy Pertama yang dipanggil dengan (kunyah) Abu Bakar, Abu Umar dan Abu Utsman?

Pertanyaan Ke Empat

Penulis kitab Nahj al-Balaghah—suatu kitab pegangan di kalangan Syi’ah—meriwayatkan, Ali radhiyallahu ’anhu menolak menjadi khalifah dan mengatakan, “Tinggal­kanlah aku, dan carilah orang selainku.”[7] Ini menunjukkan kebatilan madzhab Syi’ah. Sebab bagaimana mungkin ia menolak menjadi khalifah, padahal peng­angkatannya sebagai imam dan khalifah adalah perin­tah fardhu dari Allah-menurut kalian- yang harus dituntut dari Abu Bakar seperti yang kalian duga?!

Pertanyaan Ke Lima

5.    Syi’ah menyangka bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha, da­rah daging Nabi terpilih, telah dihinakan pada za­man Abu Bakar, dipatahkan tulang rusuknya, ru­mahnya hendak dibakar, dan janinnya yang mereka namakan al-Muhsin digugurkan!

Di manakah Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu dari semua ini? Mengapa ia tidak menuntut hak istri­nya, padahal dia seorang pemberani lagi kuat?!

Pertanyaan Ke Enam

Kami jumpai banyak para pemuka sahabat berbesan dengan ahli bait Nabi dan menikah dengan mereka, demikian pula sebaliknya. Tak terkecuali Abu Bakar dan Umar, sebagaimana telah disepakati di ka­langan ahli sejarah, baik Sunnah maupun Syi’ah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri:

  • Menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar.
  • Menikah dengan Hafshah binti Umar.
  • Menikahkan kedua putrinya (Ruqayyah, ke­mudian Ummu Kultsum) dengan khalifah ketiga yang dermawan dan pemalu, Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu. Karena itu, dia diberi gelar dengan Dzun Nur’ain.
  • Putra Utsman, Abban bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsum binti Abdillah bin Ja’far bin Abi Thalib.
  • Marwan bin Abban bin Utsman menikah dengan Ummu al-Qasim binti al-Hawn bin al-Hawn bin Ali bin Abi Thalib.
  • Kemudian Zaid bin Amr bin Utsman menikah dengan Sakinah binti al-Husain.
  • Abdullah bin Amr bin Utsman menikah dengan Fathimah binti al-Husain bin Ali.

Kami cukup menyebut tiga khalifah dari kalangan sahabat, bukan para sahabat mulia lainnya yang juga menjalin ikatan pernikahan dengan ahli bait; untuk menjelaskan bahwa mereka mencintai ahli bait. Karena itu, terjadi hubungan pernikahan ini.[8]

Demikian pula kami mendapati bahwa ahli bait menamakan anak-anak mereka dengan nama para sa­habat Nabi, sebagaimana disepakati di kalangan ahli sejarah dan ahli hadits, baik Sunnah maupun Syi’ah.

Ali radhiyallahu ‘anhu sendiri, seperti disebutkan dalam sumber-sumber Syi’ah, menamakan salah seorang anaknya da­ri istrinya, Laila binti Mas’ud al-Hanzhaliyah, dengan nama Abu Bakar. Ali adalah orang yang pertama me­namai anaknya dengan Abu Bakar di kalangan Bani Hasyim. [9]

Al-Hasan bin Ali juga menamakan anaknya: Abu Bakar, Abdurrahman, Thalhah dan Ubaidillah.”[10]

Demikian pula al-Hasan bin al-Hasan bin Ali. [11]

Musa al-Kazhim menamakan putrinya dengan Aisyah.[12]

Di kalangan ahli bait terdapat orang yang ber­kunyah dengan Abu Bakar, dan bukan dengan nama­nya, seperti Zain al-Abidin bin Ali, [13] dan Ali bin Musa (ar-Ridha).[14]

Adapun orang yang menamakan anaknya dengan Umar, di antaranya adalah Ali. la menamakan anaknya dengan Umar al-Akbar, dan ibunya adalah Ummu Habib binti Rabi’ah. la terbunuh di Thaff ber­sama saudaranya, al-Husain. Anaknya yang lain dibe­ri nama Umar al-Ashghar, dan ibunya adalah ash­ Sahhba’ at-Taghlabiyyah. Umar yang terakhir ini di umur panjang setelah kematian saudara-saudaranya  sehingga is mewarisi mereka. [15]

Al-Hasan bin Ali menamakan kedua anaknya Dengan Abu Bakar dan Umar.”[16]

  • Juga Ali bin al-Husain bin Ali.[17]
  • Juga Ali Zain al-Abidin.
  • Juga Musa al-Kazhim.
  • Juga al-Husain bin Zaid bin Ali.
  • Juga lshaq bin al-Hasan bin Ali bin al-Husain.
  • Demikian pula al-Hasan bin Ali bin al-Hasan bin al-Husain bin al-Hasan

Selain mereka masih banyak. Tapi kami mencukupkan sampai disini dari para pendahulu ahli bait, karena khawatir berpanjang kalam. [18]

Adapun ahli bait yang menamakan putrinya dengan Aisyah, diantaranya adalah Musa al-Kazhim[19] dan Ali al-Hadi. [20]

Kami cukupkan dengan Abu Bakar dan Umar serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha.

Bersambung insyaallah…

Foot Note:

[1] Pernikahan ini disebutkan oleh para ulama Syi’ah, di antaranya: al-Kulaini dalam Furu’ al-Kafi (6/115); ath-Thusi dalam Tandzib al-Ahkam, Bab ‘Adad an-Nisa’(8/148) dan (2/380), dan dalam kitabnya, al-Istibshar (3/356); al-Mazandarani dalam Manaqib Aal Abi Thalib (3/162); al-Amili dalam Masalik al-Afham (1/ kitab an-Nikah) dan Murtadha ‘Alam al-Huda dalam asy-Syafi, hat. 116; Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah (3/ 124); al-Ardabili dalam Hadiqah asy-Syi’ah, hal. 277; asy­-Syusytari dalam Majalis al-Mu’minin, hal. 76, 82; dan al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar hal. 621. sebagai tambahan, lihat risalah Zawaj Umar Ibn al-Khatthab min Umm Kultsum binti Ali Ibn Abi Thalib – Haqiqah la Iftira’, karya Abu Mu’adz al-Ismai’li.

[2] Kasyf al-Ghummahfi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)

[3] Kasyf al-Ghummahfi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Najh al-Balaghah, hal. 136. Lihat pula hal. 366-367, dan hal. 322

[8] Barangsiapa ingin memperluas mengenai jalinan pernikahan para sahabat dengan ahli bait, silakan merujuk kitab ad-Darr al-Mantsur min Turats AN al-Bait, karya al-Faqih al-Imami ‘Ala’uddin al-Mudarris. Baku ini berisi tambahan atas keterang­an yang telah kami sebutkan.

[9] Al-Irsyad, al-Mufid, hal. 354; Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani asy-Syi’i, hal. 91; dan Tarikh al-Ya’qubi asy-Syi’i (2/213)

[10] At-Tanbih wa al-Isyraf, al-Mas’udi asy-Syi’i, hal. 263

[11] Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani asy-Syi’i hal. 188, cet. Dar al-Ma’rifah

[12]  Kasyf al-Ghummah, al-Arbili (3/26)

[13]  Kasyf al-Ghummah, al-Arbili (2/317)

[14] Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani asy-Syi’i hal. 561-562, cet. Dar al-Ma’rifah.

[15] Al-Irsyad, al-Mufid, hal. 354; Mu’jam Rijal al-Hadits, al-Khau’i (13/51); Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani, hal. 84, cet. Beirut; Umdah ath-Thalib, hal. 361, cet. an-Najf; dan Jala’ al-’Uyun, al-Majlisi, hal. 570

[16] AI-Irsyad, al-Mufid, hal. 194; Muntaha al-Amal, (1/hal. 240); Umdah ath-Thalib, hal. 81; Jala’ al-’Uyun, al-Majlisi, hal. 582; Mu’jam Rijal al-Hadits, al-Khau’i (13/29, no. 8716); Kasyf al-Ghummah (2/294)

[17] AI-Irsyad, al-Mufid (2/155); dan Kasyf al-Ghummah (2/294)

[18] Uraian mengenai hal itu terdapat dalam Muqatil ath-Thalibiyyin dan sumber-sumber al-Imamiyah lainnya. Lihat, sebagai contoh, I, ‘Ala’uddin al-Mudarris, hal.65-69

[19] Al-Irsyad, hal.302; al-Fushul al-Muhimmah, hal.242; dan Kasyf al-Ghummah, (3/26)

[20] Al-Irsyad, al-Mufid, (2/312)

Sumber: Disalin ulang dari buku “Menimbang Ajaran Syiah – 188 Pertanyaan Kritis”, Sulaiman bin Shalih al-Kharasyi, Penerbit Tazkia, Hal.6-14

About these ads

Posted on Januari 4, 2012, in Syiah Rafidhah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    • untuk ELFAN

      saya kurang sependapat dengan pernyataan diatas (kesimpulan tentang ahlul bait), menurut saya Hasan dan Husein adalah pewaris tahta AHLUL BAIT dikarenakan mengacu pada beberapa hadits yang menyatakan Rasulullah SAW selalu mengatakan kepada sahabat- sahabat beliau bahwasanya Hasan dan Husein adalah anak- anaknya (bukan mengatakan Hasan dan Husein adalah cucu- cucunya).
      dan juga baca kisah dimana ketika turun ayat tentang Ahlul Bait yang berbunyi: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” QS. 33:33 . setelah turun ayat tersebut Nabi memanggil Ali bin Abi thalib, Fatimah , Hasan, dan Husein, lalu nabi memakaikan sorban hitamnya bersama keempat keluarganya tersebut sambil membacakan ayat diatas.
      MOHON DICARI KISAH TERSEBUT agar tidak salah menafsirkan ayat Al-Qur’an diatas.

  2. Siapakah Ahlul Bait Itu?
    http://www.gensyiah.com/siapakah-ahlul-bait-itu.html

    Mengenal Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam
    http://almanhaj.or.id/content/2937/slash/0

    Keutamaan Ahli Bait Dan Siapakah Ahli Bait?
    http://almanhaj.or.id/content/2292/slash/0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: