Mitos Syirik Gunung Salak – Ustadz Ja’far Shalih

http://atjehpost.com/gallery/article/image/20120513_032327_gunung-salak-inside2.jpg

MITOS SYIRIK GUNUNG SALAK
(Tanggapan terhadap artikel: misteri gunung Salak, burung pun bisa jatuh di atas makam Syekh)

Bukannya mengambil hikmah dari kecelakaan Sukhoi dengan bertobat dari kemaksiatan dan dosa, seorang “pemuka” di kaki gunung salak, desa palasari, Cijeruk malah menganjurkan makam Syekh Hasan dikukuhkan sebagai tempat ziarah. “Perlu semacam ada pengukuhan makam Syekh Hasan menjadi tempat ziarah” kata Habib Mukhsin Barakbah.

Musibah Sukhoi dan Makam Syekh Hasan

Allah yang maha bijak telah menetapkan bahwa segala sesuatu ada sebabnya. Apakah berdasarkan dalil syar’i atau kauni. Al Qur’an misalnya adalah sebab syar’i bagi kesembuhan, bagitu pula madu, habbatsauda’, air zamzam, semuanya adalah sebab kesembuhan berdasarkan dalil Al Qur’an dan hadits yang shahih. Begitu pula api yang merupakan sebab kauni untuk membakar, dan seterusnya.

Tapi hubungan sebab-akibat bisa tidak berfungsi apabila Allah menghendaki. Berapa banyak obat yang diyakini sebagai sebab kesembuhan tapi tidak berfungsi pada sebagian orang, seperti api yang tidak berfungsi ketika digunakan untuk membakar nabi Ibrahim Alaihissalam.

Maka mengimani sebab-akibat tidak merusak tauhid selagi seseorang meyakini bahwa segala sesuatunya tergantung kehendak Allah.

Lalu benarkah pesawat Sukhoi yang jatuh beberapa waktu lalu ada hubungannya dengan makam Syekh Hasan, seperti yang dikatakan oleh KH Marsa Abdullah? “Di gunung Salak ada penunggunya, jadi harus ada syarat. Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.
Apa yang dikatakan Marsa ini nyata bertentangan dengan Islam, jelas tidak ada kaitan sebab-akibat antara kecelakaan pesawat dengan makam Syekh Hasan, tidak ada keterangan berupa dalil syar’i maupun pembuktian ilmiyah (kauni) dalam hal ini. Bahkan pernyataannya menunjukkan kedangkalan Marsa akan syariat Islam dan ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Marsa telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, sehingga dia pun terjatuh kepada kesyirikan.
Marsa mengatakan: “Di gunung Salak ada penunggunya…”. Ajaran yang mirip dengan keyakinan banyak orang terhadap Nyi Roro Kidul ini kembali diungkap Marsa dengan redaksi yang berbeda. Kalau Nyi Roro Kidul “penguasa laut selatan” sedangkan makam Syekh Hasan “penunggu gunung Salak”.

Padahal Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada musyrikin Makkah): Milik siapakah bumi dan apa-apa yang ada padanya, apabila kalian mengetahui? Orang-orang (musyrikin) itu akan mengatakan: milik Allah. Katakan (kepada mereka): tidakkah kalian mengingat? Katakanlah (kepada mereka): siapakah yang penguasa langit yang tujuh dan penguasa ‘ary yang besar? Mereka akan menjawab: milik Allah. Katakan (kepada mereka): Tidakkah kalian bertakwa? (Qs. 23: 84-88)

Maka tidak ada penguasa semesta alam ini kecuali Allah, meski hanya sejengkal apalagi sampai segunung. Dan meyakini apa yang dikatakan Marsa dan keyakinan-keyakinan serupa merupakan kufur akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.

Lebih jauh lagi, apabila kita perhatikan ayat di atas dan ayat-ayat serupa di dalam Al Qur’an, kita dapati bahwa orang-orang jahiliyah dahulu (musyrikin Quraisy) ternyata lebih mendapat petunjuk daripada Marsa yang bergelar Kyai. Orang-orang musyrikin dahulu mengakui hanya Allah Ta’ala penguasa tunggal alam semesta, sedangkan orang-orang seperti Marsa masih meyakini ada selain Allah yang ikut menguasai, ikut menjaga atau menunggui sebagian dari bumi Allah ini?! Apa Marsa tidak membaca firman Allah Ta’ala yang mengatakan; “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik itu): Di tangan siapakah kerajaan segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi dan tidak ada seorang pun bisa berlindung dari (siksa)nya, apabila kalian mengetahui? Mereka (musyrikin Quraisy) itu akan menjawab: Milik Allah. Katakan (kepada mereka): Maka bagaimana kalian bisa dipalingkan? (Qs. 23: 89)

Pak Kyai juga bilang: “Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.

Ada dua kemungkinan disini, Marsa telah berdusta atau Allah ingin menyesatkan orang-orang seperti Marsa. “Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari pada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. 5:41)
Padahal cukup bagi orang yang diberi akal sehat untuk tidak percaya bualan Marsa dan orang yang sepertinya, yaitu peristiwa yang menimpa sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan Raden KH Moh Hasan bin R KH Bahyudin Praja Kusuma (Mbah Gunung Salak), yang berada di dekat lokasi Sukhoi naas, diberitakan telah rusak tertimpa logistik dari Super Puma.

Maka bagaimana bisa makam yang tidak dapat menolak kerusakan yang menimpa dirinya diyakini mampu menimpakan musibah dan bencana kepada orang lain?! Sungguh kecelakaan Sukhoi adalah musibah yang besar bagi keluarga yang ditinggal, tapi musibah yang keluar dari mulut Kyai Marsa dan Habib Barakbah jauh lebih besar.

(Tulisan ini saya buat di atas asumsi apa yang ditulis wartawan Tribun Jakarta edisi Pagi, Selasa 15 Mei 2012 adalah benar) – Jafar Salih.

Sumber: http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?no=352

About these ads

Posted on Mei 15, 2012, in Aqidah & Manhaj and tagged , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. Setuju ustadz…barokAlloh..

  2. betul sekali ustad …. tapi kadang maksud hati tak seiring dengan lisan, semoga beliau segera menyadari kekhilafan tersebut …. ibarat pepatah tak ada gading yang tak retak begitu pula pada diri kita

  3. semua adalah ujian dari Allah SWT, dikatakan musibah apabila keimanan islam hilang dari keyakinan

  4. semoga kita selalu saling mengingatkan, dengan lebih santun lagi, sehingga saudara kita tidak merasa tersakiti. (bila mungkin…..)

  5. ujung-ujungnya jatuh ke dalam bid’ah, syirik serta Khurafat, spt umumnya mayoritas kaum muslimin di Indonesia…………………………..

  6. Alhamdulillah ustadz…. Setuju sekali.

  7. masih ada aja kyai gaya animisme,, bukan kyai itu sih,,

  8. sukron ustd atas ilmunya semoga bermafaat .buat kaum muslimin..ana ijin copy

  9. subhanallah….semoga kita dijauhkan dr perkara2 syirik yg membawa kita kkpd kekafiran…

  10. assalamu’alaikum,,,,,
    tolong jangan terlalu cepat menghukumi……..
    saya mau tanya :
    1. sejauh mana anda mengenal KH Marsa Abdullah ?
    2. apakah sekelumit perkataannya itu bisa menjadikannya terjerumus ke kemusyrikan ?
    3. apa persamaan “penunggunya” & “pemilik” & “penguasa”, berikut ellat persamaannya
    4. apakah anda tidak musyrik dengan perkataann anda. ” Aku Pemilik Rumah Ini”!
    5. coba uraikan as bab nuzul ayat di atas ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: