Monthly Archives: Juni 2008

Dilema Umat Islam Di Italia, Mau Shalat Jum’at Aja Dilarang

Kepolisian kota Treviso, Italia yang merupakan kota industri di bagian utara melarang sekelompok orang Islam melaksanakan shalat Jum’at di garasi mobil dengan alasan sudah ada keputusan mengenai hal itu dari walikota yang dikenal berafiliasi pada Northern League party Racial.

Sejumlah sumber mengatakan, sesungguhnya pihak pemerintah daerah sejak pagi telah mengepung garasi tersebut dengan mengerahkan aparat kepolisian dalam jumlah besar, termasuk elemen pasukan Rpiniri dan kepolisian pamong praja untuk menghalangi kaum Muslimin agar tidak dapat menuju kota itu.

Kebanyakan kaum Muslimin itu berasal dari kaum imigran yang ingin mengadakan shalat jum’at di garasi itu, setelah beberapa minggu lalu mereka juga dilarang melaksanakannya di sekitar satu-satunya mushalla kecil di kota itu.

Ratusan jemaah shalat, yang mayoritas mereka adalah komunitas etnis Maroko yang dilahirkan di Italia datang kembali ke tempat itu setelah sebelumnya berusaha sampai ke tempat itu. Kali ini dengan membawa bendera-bendera Italia ditemani sebagian aktifis politik untuk melaksanakan shalat di garasi San Liberaly.

Kepolisian pamong praja turun tangan beberapa menit dari dimulainya syiar shalat untuk membubarkannya. Mereka langsung mencatat identitas jemaah shalat untuk diinterogasi nantinya secara administratif dengan alasan melanggar keputusan walikota. Sebelumnya, mereka telah menjatuhkan sanksi denda kepada sejumlah jemaah shalat pada hari Jum’at yang lalu, karena mereka menggelar tempat di pinggir jalan di sekitar gudang kecil yang digunakan kaum imigran sebagai tempat shalat. Tidak sebatas itu, kepolisian itu juga menyita hamparan yang digelar jemaah dengan alasan mengganggu tanah umum. Hal itu menyebabkan sebagian mereka terpaksa hsalat di atas tanah.

Kepolisian pamong praja juga menyebutkan, pihaknya telah mengeluarkan empat surat panggilan kepada sejumlah jemaah shalat yang pada minggu lalu telah ditahan agar membayar denda administratif yang jumlahnya lebih dari 1000 euro. (almkhtsr/AS)

Sumber : WWW.ALSOFWAH.OR.ID

Neo-Khawarij (3)

Demonstrasi II

Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “…para penguasa, mereka hanya boleh diingkari jika melakukan kemungkaran secara langsung oleh mereka sendiri dan si pengingkar melihat penguasa tersebut melakukan kemungkaran di hadapannya. Dan atsar-atsar salaf yang menunjukkan pengingkaran salaf terhadap penguasa dibawakan kepada faedah ini. Read the rest of this entry

Neo-Khawarij (2)

MENCELA PEMERINTAH SECARA TERANG-TERANGAN TERMASUK MODEL KHAWARIJ

Termasuk model-model khawarij adalah mencela penguasa (pemerintah) di depan khalayak dan ini merupakan langkah awal yang dilakukan khawarij yaitu dengan menyebarkan kesalahan-kesalahan dan aib-aib pemerintah di atas mimbar-mimbar yang ujung dari hal ini yang tidak bisa dihindarkan lagi adalah memberontak terhadap pemerintah. Read the rest of this entry

Neo-Khawarij (1)

Permasalahan khawarij bukanlah sekedar permasalahan yang ada pada zaman dahulu saja. Namun sekarang permasalahan ini kembali muncul dalam bentuk-bentuk yang baru. Makalah berikut ini dapat anda simak di dalam CD Kajian berjudul Jihad vs Terorisme yang dirilis oleh Divisi Dokumentasi dan Publikasi LBIA.

Bahaya Mudah Mengafirkan

Ibnu Taimiyah berkata: “Ketahuilah bahwasanya permasalahan takfir (mengafirkan) dan tafsiq (memfasikkan orang lain) termasuk permasalahan Asma” ((maksudnya adalah nama-nama, yaitu seperti iman, kekufuran, fasik -pen)) dan Ahkam ((Maksudnya adalah hukum-hukum yang timbul akibat nama-nama tersebut. Seperti pengafiran, pernyataan bahwa seseorang yang beriman adalah mukmin, bahwasanya seorang mukmin masuk surga, dan seorang kafir masuk neraka dan hukum-hukum yang lainnya. Sebagaimana lebih jelas lagi pada perkataan Ibnu Taimiyah selanjutnya -pen)), yang berkaitan dengan janji dan ancaman di akhirat. Juga berkaitan dengan wala” dan permusuhan, pembunuhan, pembunuhan dan terlindunginya darah dan (hukum-hukum) yang lainnya di dunia. Sesungguhnya Allah menjanjikan bahwa orang-orang mukmin masuk surga dan mengharamkan surga bagi orang-orang kafir…” (Majmu” Fatawa 12/468)

Ibnu Rojab berkata: “Permasalahan ini (maksudku permasalahan islam, iman, kekufuran, dan kemunafikan) adalah permasalahan yang besar. Sesungguhnya Allah mengkaitkan nama-nama ini (islam, iman, …) dengan kebahagiaan dan kesengsaraan, dan masuk surga dan neraka. Dan ikhtilaf (perbedaan pendapat) tentang musamma dari nama-nama tersebut (yang berhak mendapatkan nama-nama tersebut) adalah ikhtilaf yang pertama kali pada umat ini yaitu penyelisihan Khawarij terhadap para sahabat, di mana mereka (khawarij) mengeluarkan para pelaku maksiat (kalangan kaum muslimin) dari islam secara keseluruhan dan memasukkan mereka ke dalam lingkup kekufuran dan memperlakukan mereka selayaknya orang-orang kafir, lalu dengan begitu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.

((Dua perkara yang menyebabkan penyelisihan Khawarij terhadap kaum muslim:

Pertama: Tahkim dan Hukum, karena sesungguhnya tatkala kaum muslimin bersepakat untuk mentahkim (menyerahkan pengambilan keputusan) kepada dua orang yaitu Abu Musa dari kelompok Ali dan Amr bin Al-“Ash dari kelompok Mu’awiyah maka Khawarij protes. Dikatakan bahwa orang yang pertama kali menyerukan protes tersebut adalah “Urwah bin Jarir dimana dia berkata: “Apakah kalian menyerahkan hukum tentang permasalahan agama kepada dua orang ini?”. Kemudian kalimat ini pun dimanfaatkan oleh beberapa qori” yang bodoh dan orang-orang Arab Badui dan pembunuh “Utsman seraya mereka berkata; “Tidak ada hukum kecuali milik Allah”. Dan ini adalah syiar (propaganda) mereka yang dengan propaganda ini muncul syiar yang lain yaitu mengafirkan orang yang melakukan dosa besar.

Kedua: Pengafiran, yaitu mengafirkan Ali, Mu’awiyah, dua orang hakim (Abu Musa dan “Amr bin Al-“Ash) dan siapa saja yang ridho dengan keputusan mereka berdua. Mereka berdalil dengan zhahir konteks firman Allah, “Bahwasanya tidak ada hukum kecuali bagi Allah” (QS. Al An”am 40, Yusuf: 67). Lalu mereka mempraktekkan kelaziman-kelaziman kekufuran yang di antaranya bahwa Ali tatkala menyerahkan hukum kepada dua orang tersebut maka otomatis kepemimpinannya telah hilang, maka mereka berkeyakinan bahwa mereka bebas tidak di bawah kepemimpinan dan bai”at Ali lagi. Mereka juga berkeyakinan bahwa wajib bagi mereka untuk segera mengangkat pemimpin baru bagi mereka saja -yaitu kaum Khawarij- dan tidak bagi kaum muslimin yang lainnya yang menurut pendapat Khawarij adalah mereka telah kafir selama tidak bergabung dengan mereka/Khawarij. Dan barang siapa yang menyerahkan hukum kepada manusia atau yang ridho dengan hal itu maka ia telah kafir. lihat Al-Khawarij, hal. 30-31, lihat juga Majmu” Al Fatawa 19/89/92 -pen)),

setelah ini muncul penyelisihan kaum mu”tazilah…” (Jami”ul “Ulum 1/114)

Berkata Ibnu Taimiyah: “Termasuk aib ahlul bid”ah saling mengafirkan di antara mereka, dan di antara pujian Ahlusunnah saling menyalahkan di antara mereka namun tidak saling mengafirkan” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah 5/251)

Rasulullah telah bersabda: “Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya ‘wahai orang kafir’, maka akan kembali (kalimat tersebut) kepada salah satu dari mereka berdua.” (HR. Bukhari no. 6103 dan Muslim no. 60)

Berkata Ibnu Taimiyah: “Sesungguhnya saya adalah orang yang paling keras melarang untuk dicapnya seseorang tertentu degan kekafiran atau kefasikan atau kemaksiatan kecuali jika telah diketahui bahwa telah tegak kepada orang tersebut hujjah risalah (Al-Qur”an dan Hadits -pen) yang barang siapa yang menyelisihinya maka dia bisa jadi kafir atau fasik atau pelaku maksiat. Dan saya tegaskan bahwa Allah memaafkan bagi umat ini kesalahan mereka. Dan pengampunan ini mencakup kesalahan dalam permasalahan khobariah (perkataan) dan permasalahan amaliah (perbuatan).” ( Majmu Fatawa 3/229, 3/282-283)

Berkata Ibnu Wazir: “Telah dihukum khawarij dengan hukuman yang sangat berat dan dicela dengan sejelek-jeleknya karena mereka mengafirkan pelaku maksiat dari kalangan kaum muslimin padahal mereka sangat mengagungkan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan pada Allah, dan padahal mereka juga sangat mengagungkan Allah hingga mengafirkan orang yang bermaksiat pada-Nya ((Dan di antara ciri khawarij mereka sangat banyak beribadah kepada Allah dan sangat takut untuk bermaksiat kepada Allah. Sebagaimana Nabi pernah bersabda: “akan muncul di umat ini kaum yang kalian meremehkan shalat kalian dibanding shalat mereka…” (HR. Al-Bukhari no. 6931), dalam riwayat yang lain: “Salah seorang dari kalian akan meremehkan shalatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka demikian juga puasanya dibanding dengan puasa mereka…” (HR. Al-Bukhari no. 6933). Kedua hadits tersebut dari riwayat Abu Said Al-Khudri. Berkata Ibnu Hajar: “Dalam riwayat Asim bin Syumaikh dari Abu Said: “Kalian meremehkan amalan kalian dibandingkan amalan mereka”. “Ashim menceritakan sifat orang-orang khawarij yang tinggal di Nejdah “Mereka berpuasa di siang hari dan menghabiskan malam mereka dengan shalat malam.” ….dan dalam riwayat Salamah bin Kuhail dari Zaid bin Wahb dari Ali: “Bacaan Quran kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan bacaan mereka demikian shalat kalian dibandingkan shalat mereka..” (Al-Fath 12/2890). padahal ibadah para sahabat, shalat mereka, puasa mereka sungguh luar biasa. Namun jika dibandingkan ibadah Khawarij tidak ada apa-apanya -pen)). Maka hendaknya orang yang mengafirkan saudaranya yang lain tidak merasa aman tidak terjatuh pada seperti dosa mereka. Dan ini sangat berbahaya dalam agama, maka orang yang bijak dan pandai hendaknya sangat berhati-hati.” (Iitsarul haq ‘alal kholq hal 425-426, sebagaimana dinukil dalam kitab Nawaqidhu Iman hal 7-8)

Berkata Imam Syaukani memperingatkan bahaya terburu-buru dalam mengkafirkan: “Ketahuilah bahwasanya menghukumi seorang muslim bahwasanya dia telah keluar dari agama Islam dan telah masuk kekufuran tidaklah layak dilakukan oleh seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir kecuali dengan dalil yang lebih jelas dari matahari…” (As-Sail Al-Jarror 4/578, sebagaimana dinukil dalam Nawaqidhul Iman hal 8)

Fenomena Takfir

Berkata Ibnu Abil “Iz Al-Hanafi: “Ketahuilah -semoga Allah merahmati engkau dan kami, sesungguhnya pembicaraan tentang mengafirkan dan tidak mengafirkan merupakan permasalahan yang fitnah dan ujian sangat besar di dalamnya, timbul banyak perbedaan pendapat, dan beraneka ragam hawa nafsu dan pendapat…” (Syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah hal. 316)

Sungguhlah benar apa yang telah dikatakan olehnya, sesungguhnya sejak zaman dahulu hingga sekarang fitnah kafir mengafirkan merupakan fitnah yang sangat besar sebagaimana yang nampak hingga masa saat kita ini. Timbul kelompok-kelompok dakwah yang banyak di antara mereka mengafirkan kelompok yang di luar mereka. ((Sebagaimana diketahui bersama, bahwa di Indonesia ada kelompok dakwah yang mengafirkan orang-orang yang di luar kelompoknya hanya karena tidak berbai”at dengan amir mereka. Bahkan yang lebih parah mereka mengatakan bahwa shalat, thaharah dan ibadah-ibadah yang lainnya yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya tidak sah karena tidak diterima dengan sistem mankul. Ini merupakan kejahilan yang nyata. Bagaimana masyarakat mau membaiat amir mereka padahal mereka tidak tahu siapa orangnya? Di mana tinggalnya? mana daerah kekuasaannya? Ada amir (penguasa) kok numpang tinggal di wilayah orang lain. Demikian juga isnad yang mereka miliki (mankul), ulama siapakah yang pernah menyatakan isnad mereka sah? Bisa jadi dalam isnad mereka ada pendusta sebagaimana tuduhan terhadap ahlul ilmi. Kemudian mereka mengaku bahwa isnad mereka sampai Imam Bukhari sehingga fikih yang mereka bawa dari Imam Bukhari, yang jadi pertanyaan apakah mereka paham fikih Imam Bukhari? Kitab shahih Bukhari saja tidak mereka pahami apalagi fikihnya?? Dan masih banyak keganjilan-keganjilan yang tidak cukup untuk dijelaskan di sini. Wallahul Musta’an -pen)) Di sisi lain ada kelompok yang tidak mudah mengafirkan kelompok lain di luar kelompok mereka, namun mereka terjatuh dalam jurang yang lain yaitu mudah mengafirkan para penguasa yang zalim dengan hawa nafsu mereka. Dan fenomena ini tidaklah hanya timbul di negeri-negeri Arab, bahkan di negeri-negeri yang lainnya, bahkan di Indonesia.

Sesungguhnya model dakwah yang seperti ini bukanlah model dakwah yang baru, namun ini merupakan model dakwah yang terwariskan secara turun-temurun. Sejak empat belas abad yang silam Rasulullah telah mewanti-wanti kita bahaya pemikiran seperti ini. Dan pemikiran ini mulai nampak di zaman para sahabat, suatu kelompok yang disebut Khawarij yang menghalalkan darah kaum muslimin, bahkan darah para sahabat.

Sebagian orang menyangka bahwa yang namanya Khawarij sudah tidak ada lagi dan hanya ada di masa silam, padahal dalil dan kenyataan yang ada menunjukkan bahwa mereka senatiasa ada hingga akhir zaman. ((Sebagaimana di zaman sekarang ini sekte Al Abadhiah (pengikut Abdullah bin Abaadh) masih terus berkembang di Oman (Al Khawarij hal 87). Dan kita tidak heran akan keberadaan khawarij hingga zaman ini. Sesungguhnya kelompok sesat yang lainnya yang muncul hampir berbarengan dengan khawarij juga masih ada hingga sekarang ini. Kelompok tersebut adalah Syiah yang tersebar di Iran -pen)) Minimal banyak orang yang terpengaruh dengan pola pikir mereka.

Berkata Ibnu Taimiyah: “dan tanda ini ((Tanda ini disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim lihat Majmu Al-Fatawa 28/4950 demikian juga Abu Daud no 4742, lihat Aunul Ma’bud 13/114 di mana Rasulullah menyifati orang-orang Khawarij bahwa di antara mereka ada yang salah satu tangannya buntung, hanya ada lengan atas dan tidak ada lengan bawahnya, dan di ujung lengan atas tersebut ada semacam puting payudara (tahi lalat) yang tumbuh padanya rambut yang putih. Tatkala Ali memerangi dan membunuh mereka, beliau berkata: “Carilah di antara mereka orang yang buntung tangannya”. Lalu pasukan Ali mencari orang buntung tersebut di antara mayat-mayat Khawarij namun mereka tidak menemukan apa-apa, Ali berkata pada pasukannya: “Kembali periksalah, demi Allah saya tidak berdusta dan tidak didustakan” (karena yang menyampaikan tanda ini adalah Rasulullah) hingga dua kali atau tiga kali, kemudian mereka pun mendapatkan orang buntung tersebut berada tumpukan mayat, lalu mereka pun membawanya ke hadapan Ali. Ali pun berkata: Sungguh benar Allah dan Rasul-Nya telah menyampaikan amanat -pen)) yang telah disebutkan oleh Nabi merupakan tanda dari orang-orang yang pertama kali muncul dari kalangan khawarij, dan khawarij tidak hanya khusus (terbatas) pada mereka (yang terdapat tanda ini pada mereka), karena sesungguhnya Rasulullah telah mengabarkan bukan cuma pada satu hadits bahwasanya orang-orang khawarij senantiasa bermunculan hingga munculnya Dajjal. Kaum muslimin sepakat bahwasanya khawarij tidak hanya terbatas pada mereka (bala tentara yang diperangi oleh Ali yang di antaranya terdapat tanda tersebut). (Majmu Fatawa 28/495,496)

Berkata Ali: “Jika aku menyampaikan pada kalian sebuah hadits maka demi Allah seandainya aku dilemparkan jatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku berdusta atas nama Nabi. Dan jika aku sampaikan tentang apa yang ada di antara aku dan kalian maka sesungguhnya perang itu adalah tipu daya. Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: “Akan keluar suatu kaum di akhir zaman yang mereka masih muda-muda, akal mereka pendek, mereka mengucapkan kiamat yang sangat baik (namun maksudnya adalah kebatilan), keimanan mereka tidaklah melebihi kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Maka di mana saja kalian mendapati mereka maka bunuhlah mereka, sesungguhnya bagi yang membunuh mereka mendapat ganjaran pada hari kiamat.” (HR. Al Bukhari no. 6930, Al Fath 12/283)

Hikmah Tidak Disyariatkannya Memberontak Pada Penguasa Muslim

Berkata Ibnul Qoyyim: “Sesungguhnya syariat di atas hikmah dan kemaslahatan para hamba dalam kehidupan mereka di dunia dan di akhirat. Maka syariat itu seluruhnya penuh dengan keadilan, rahmat, dan seluruhnya penuh dengan kemaslahatan dan hikmah. Maka seluruh permasalahan yang berubah dari keadilan menjadi kezaliman, dari kerahmatan menjadi sebaliknya, dan dari maslahat menjadi mafsadah, dari hikmah menjadi sia-sia (tanpa hikmah) maka permasalahannya bukanlah termasuk syariat meskipun dimasukkan ke dalam syariat melalui penakwilan.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/3)

Kemudian Ibnul Qoyyim menyebutkan banyak permisalan dari penerapan kaidah ini. Dan permisalan pertama yang beliau sebutkan adalah:

Berkata Ibnul Qoyyim: “Nabi mensyariatkan umatnya kewajiban bernahi munkar agar dengan bernahi munkar tersebut dihasilkan kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya… (Namun) jika pengingkaran munkar tersebut mengakibatkan kemungkaran yang lebih parah dan lebih dibenci Allah dan Rasul-Nya maka (tidak disyariatkan) pengingkaran kemungkaran tersebut, meskipun Allah benci dan murka pada pelaku kemungkaran tersebut. Dan hal ini seperti pengingkaran terhadap penguasa dan pemerintah melalui pemberontakan, sesungguhnya ini adalah dasar dari segala keburukan dan fitnah akhir zaman.

Para sahabat telah meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh para penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktunya, seraya mereka berkata: “Apakah tidak sebaiknya kami perangi mereka?”, maka Rasulullah menjawab: “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat”, dan beliau juga bersabda: “Barang siapa yang pemimpinnya sesuatu yang dibencinya maka hendaklah ia bersabar dan janganlah ia melepaskan tangannya dari ketaatan kepadanya”. Maka barang siapa yang memperhatikan apa yang telah melanda kaum muslimin berupa fitnah-fitnah dan bencana baik yang besar maupun yang kecil, maka dia akan tahu fitnah-fitnah tersebut ditimbulkan karena tidak memperhatikan pokok permasalahan ini dan tidak adanya kesabaran atas kemungkaran yang terjadi. Yang diinginkan adalah dihilangkannya kemungkaran malah membuahkan kemungkaran yang lebih dahsyat.

Rasulullah telah melihat di Mekkah kemungkaran yang sangat besar namun beliau tidak mampu untuk mengubahnya, bahkan tatkala Allah membuka kota Mekkah (hingga dikuasai kaum muslimin) dan Mekkah telah menjadi negeri Islam beliau ber’azam untuk mengubah Ka’bah dan mengembalikannya sesuai dengan fondasi Nabi Ibrahim namun tidak beliau lakukan -padahal beliau mampu melakukannya- karena khawatir akan timbul hal yang lebih berbahaya yaitu orang-orang Quraisy tidak menerima hal itu karena mereka baru saja masuk Islam dan baru berlepas dari kekufuran. Oleh karena itu Nabi tidak mengizinkan pengingkaran terhadap para pemimpin dengan tangan (pengingkaran secara fisik) karena bias mengakibatkan akibat yang lebih parah…” (I’lamul Muwaqqi’in 3/5)

Peringatan!!!

Syaikh Utsaimin pernah berkata dalam kaset ceramahnya Tatkala ditanya oleh aktivis dakwah dari Aljazair tengah hukum masuk dalam parlemen dan beliau membolehkan masuknya parlemen bagi FIS dengan persyaratan:

Pertama: Tidak diperbolehkan khuruj (memberontak) kepada penguasa dan menantang mereka kecuali mereka telah kafir dengan kekafiran yang nyata dan sangat jelas. Karena Nabi pernah bersabda: “…Kecuali kalian melihat kekafiran yang jelas…” dan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kedua: Ilmu tentang kekafiran mereka. Dan para ulamalah ((Bukan sebagaimana pemikiran yang tengah berkembang saat ini yaitu mengafirkan secara umum pada penguasa hanya karena mereka tidak menegakkan hukum Allah, tanpa memperhatikan rambu-rambu dan kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh para ulama. Sehingga yang timbul adalah kekacauan dan kekacauan dan yang akhirnya berakhir dengan pertumpahan darah di antara kaum muslimin, sebagaimana kenyataan yang telah terjadi di beberapa negeri kaum muslimin… -pen)) yang bisa menentukan kafir tidaknya mereka….dan dalam hadits yang lalu “Kalian memiliki dalil dari Allah tentang kekafiran penguasa tersebut.”

Ketiga: Maslahat benar-benar bisa diraih dan kerusakan-kerusakan benar-benar bisa dicegah!, penetapan kadar maslahat dan mudarat juga merupakan tugas khusus ahli ilmu.

Keempat: Kaum muslimin memiliki kekuatan untuk melengserkan penguasa tersebut.

Kemudian beliau (Syaikh Utsaimin) memberi nasihat yang sangat berharga yang isinya: “Wal hasil, pernyataan ini hanyalah teoritis belaka. Sebab pada umumnya kekuatan didominasi oleh pihak penguasa. Saya berpesan agar berhati-hati dan memulai dakwah secara hikmah serta lebih baik menarik diri dari kegiatan tersebut” (Nasihat ini sama sekali tidak diacuhkan oleh para aktivis FIS. Oleh sebab itu di akhir tahun 1412 H diinformasikan bahwa kaset syaikh tersebut diperjualbelikan dan dikatakan bahwa beliau telah mengeluarkan fatwa yang isinya mendukung keikutsertaan kaum muslimin dalam parlemen… ketika itu saya (Syaikh Abdul Malik) menanyakan tentang kaset tersebut, ternyata FIS menyebarkan ceramah Syaikh hanya seperempat jam saja, berisi pernyataan beliau yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, padahal kaset itu sendiri berdurasi kurang lebih empat puluh lima menit) (Madarikun Nazhor: 412)

Oleh karena itu di antara akidah Ahlusunnah yang sangat mendasar adalah tidak boleh memberontak pada penguasa selama dia masih seorang muslim (belum kafir dengan kekafiran yang jelas). Dan larangan ini berlaku secara mutlak, yaitu tidak boleh sama sekali memberontak tanpa memandang apakah pemberontakan tersebut ada maslahatnya atau tidak. Maka berhati-hatilah dengan syubhat dari sebagian orang-orang yang terfitnah ((Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad pernah ditanya tatkala memberikan pelajaran di Mesjid Nabawi tentang orang-orang yang berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa muslim jika ada maslahatnya maka beliau mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang terfitnah” -pen)) yang menyatakan bolehnya memberontak pada penguasa muslim jika ada maslahatnya (Untuk lebih jelasnya lihat buku Kizdbah harokiyah, karya Syaikh Abdul Malik Al-Jazairi).

Memberontak itu hanya boleh dilakukan terhadap penguasa yang jelas kekafirannya itu pun jika benar-benar maslahatnya sebagaimana persyaratan Syaikh Ibnu Utsaimin di atas.

Cara Menasihati Penguasa

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang hendak menasihati penguasa dengan sesuatu perkara, janganlah ia nyatakan terang-terangan namun hendaknya dia mengambil tangan penguasa tersebut dan berduaan dengannya (empat mata), jika dia menerima maka itulah yang diharapkan, dan jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajiban terhadap penguasa.” (Kisah hadits selengkapnya beserta kedudukannya pada bab selanjutnya)

Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh berkata: “Maka nasihat kepada penguasa diwajibkan dan disyaratkan -sehingga nasihat tersebut syar’i- hendaknya nasihat tersebut tidak terang-terangan, maksudnya yaitu tidak ada yang mengetahui terjadinya nasihat tersebut dari sisi pemberi nasihat kecuali penasihat itu sendiri dan hendaknya dia tidak menceritakannya (kepada orang lain) bahwasanya dia telah memberi nasihat, telah mengamalkan ini, telah ini telah itu…, karena sesungguhnya dengan menceritakan hal itu bisa merusak tujuan yang diharapkan dari nasihat tersebut dan sulit bagi penguasa untuk menerima nasihat setelah tersiar bahwa penguasa telah dinasihati…” (Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyah, hadits yang ke-7)

Berkata Ibnu Rojab: “Salaf jika mereka hendak memberi nasihat kepada seseorang maka mereka pun menasihatinya secara tersembunyi, sehingga sebagian besar mereka berkata: “Barang siapa yang menasihati saudaranya secara empat mata maka itu adalah nasihat, dan barang siapa yang menasihatinya di hadapan khalayak ramai maka sesungguhnya dia hanyalah mencelanya.”

Berkata Al-Fudhoil: “Orang mukmin menutup aib saudaranya dan menasihati adapun orang fajir membuka aib saudaranya dan mencelanya.” (Jami”ul “Ulum wal Hikam, 1/225)

Jika orang awam yang tidak memiliki kekuasaan dan pengaruh akan marah dan menolak nasihat tersebut jika dinasihati di hadapan orang banyak, apalagi seorang penguasa yang berwibawa dan mampu bertindak apa saja di wilayah kekuasaannya???

Syaikh Utsaimin pernah ditanya oleh sebagian orang yang beringasan dan konyol: “Mengapa kalian tidak membantah pemerintah dan menjelaskan mereka kepada rakyat?!!”. Dengan lemah lembut dan santun beliau menjawab: “…Nasihat sudah diberikan …Demi Allah, saya beritahukan kepada anda ya Saudara Fulan, dan juga kepada seluruh hadirin bahwa menjelaskan (kepada rakyat) apa yang telah kami (para ulama) lakukan terhadap pemerintah (berupa nasihat dan yang lainnya -pen) akan menimbulkan dua kerusakan:

Pertama: Seorang manusia tentu khawatir dirinya terjangkit riya sehingga terhapus amalannya.
Kedua: Sekiranya pemerintah tidak mengindahkan (nasihat kami) maka akan menjadi alasan bagi masyarakat untuk menentang pemerintah. Mereka akan bergejolak dan terjadilah kerusakan yang lebih parah. (Dari kaset bertajuk “Asilah haul lajnah Al-huquq As-Syar”iyah, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Malik dalam Madarikun Nazhor, hal 166)

Berkata Syaikh Abdul Malik mengomentari perkataan Syaikh Utsaimin: coba perhatikan jawaban penuh hikmah itu, sungguh merupakan jawaban yang terilhami dari jawaban sebagian salaf tatkala sebagian kaum pemberontak meminta mereka untuk turut serta mengingkari (membantah) Khalifah Utsman bin Affan. Dalam kitab Shahihain dari Usamah bin Zaid bahwa ada seseorang berkata kepadanya: “Mengapa anda tidak menghadap Utsman untuk menasihatinya?” Usamah berkata: “Apakah kalian sangka aku akan memberitahu kalian setiap kali aku berbicara dengan beliau?, demi Allah, aku telah berbicara dengannya empat mata, dan tanpa aku membuka perkara (yaitu membuka fitnah) yang tidak kusuka jika aku adalah orang yang pertama kali membuka (pintu fitnah) tersebut.” Dalam riwayat yang lain “Aku telah berbicara dengannya secara rahasia.”

Dan semisal dengan kisah ini, sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Al Bukhari dari Ibnu Umar ia berkata: Saya datang menemui Hafsoh sedang rambutnya sedang kelihatan basah (baru selesai mandi). Kukatakan padanya: “Engkau tentu tahu keadaan umat ini, mereka sama sekali tidak memberikan peluang kepadaku dalam hal ini.” Hafsoh berkata: “Temuilah, mereka sedang menantimu, aku khawatir akan terjadi perpecahan akibat engkau mengurung diri tidak menemui mereka!” Tatkala orang mulai berselisih Mua’wiyah pun berkhutbah: “Barang siapa yang hendak berbicara tentang perkara ini (khilafah) hendaknya ia menampakkkan batang hidungnya, maka kami lebih berhak atas khilafah ini daripadanya dan daripada ayahnya.”

Berkata Habib bin Maslamah: “Mengapa tidak engkau jawab?”, berkata Ibnu Umar: “Aku lepaskan kegelisahanku dan ingin aku berkata: “Yang lebih berhak dengan perkara ini adalah orang yang memerangi engkau dan ayahmu karena Islam.” Akan tetapi aku khawatir melontarkan pernyataan yang dapat memecah belah persatuan umat, mengakibatkan pertumpahan darah dan dikabarkan dariku yang lain daripada itu. Maka aku pun teringat kenikmatan yang telah dijanjikan di dalam surga.” Habib berkata: “Engkau telah terjaga dan terhindar dari malapetaka.”

Aku (Syaikh Abdul Malik) katakan: “Dalam kisah tersebut nampak jelas kecerdasan Ibnu Umar dan tindakannya yang bijaksana. Ia lebih mengedepankan persatuan umat di atas seorang amir daripada maslahat pribadinya. Padahal sebenarnya Mu’awiyah memang menyindir beliau. Abdurrozaq meriwayatkan dengan jalur yang sama dengan riwayat Al-Bukhari, perawi berkata: “Mu’awiyah menyindir Abdullah bin Umar.” (Al-Mushonnaf 5/465) ((Madarikun Nazhor, hal 166-167. Perhatikan tanbih (keterangan peringatan) yang dijelaskan oleh Syaikh Abdul Malik sebab Mu’awiyah berkata dengan ungkapan yang keras demikian, sehingga kita tidak berprasangka buruk terhadap beliau -semoga Allah meridhainya -pen))

Berkata Syaikh Abdul Malik: “Wahai para pemuda Islam, umat tidaklah membutuhkan juru dakwah yang bermodal semangat yang menggebu-gebu. Sesungguhnya umat hanya membutuhkan seorang “alim mujtahid yang berfirasat tajam. Apakah sekarang kalian bisa membedakan keduanya?” (Madarikun Nazhor hal 168)

-bersambung insya Allah-

***

Oleh: Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda
(Makalah Dauroh Diniyah II 2004, Masjid Kampus UIN Yogyakarta)

Dikutip dari : WWW.MANHAJ.OR.ID

Khawarij, Bahaya Laten Bagi Kaum Muslimin

Definisi Khawarij

Khawarij adalah salah satu kelompok dari kaum muslimin yang mengkafirkan pelaku maksiat (dosa besar), membangkang dan memberontak terhadap pemerintah Islam, dan keluar dari jama’ah kaum muslimin.

Termasuk dalam kategori Khawarij, adalah Khawarij generasi awal (Muhakkimah Haruriyah) dan sempalan-sempalannya, seperti al-Azariqah, ash-Shafariyyah, dan an-Najdat –ketiganya sudah lenyap– dan al-Ibadhiyah –masih ada hingga sekarang–. Termasuk pula dalam kategori Khawarij, adalah siapa saja yang dasar-dasar jalan hidupnya seperti mereka, seperti Jama’ah Takfir dan Hijrah. Atas dasar ini, maka bisa saja Khawarij muncul di sepanjang masa, bahkan betul-betul akan muncul pada akhir zaman, seperti telah diberitakan oleh Rasulullah. Read the rest of this entry

Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (5)

Tulisan berikut ini adalah lanjutan sekaligus bagian terakhir dari fatwa para ulama tentang masalah Takfir dan Ciri-ciri khawarij yang disusun oleh Ustadz Muhammad Arifin Badri hafizhohulloh. Insya Alloh pada kesempatan ini, akan kami ketengahkan fatwa dari Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan serta sebuah artikel tentang tanda-tanda khawarij. Semoga Alloh ta’ala memberika epada kita semua pemahaman Islam yang benar sehingga kita bisa selamat dari fitnah syubhat.

***

Jawaban Syaikh Sholeh Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhohulloh

Pertanyaan: Syaikh yang terhormat, nampak dengan jelas sekarang ini munculnya sikap ekstrem, dan banyak masyarakat umum mulai hanyut terbawa oleh arus pemikiran ekstrem ini, bagaimana cara menanggulanginya, dan siapakah yang bertanggung jawab?

Jawaban: Sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya dari sikap ekstrem, dalam salah satu sabdanya beliau berkata:

إياكم والغلو فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو

“Hindari oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ekstrem), sebab sesungguhnya yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan.”

هلك المتنطعون هلك المتنطعون هلك المتنطعون

“Celakalah orang yang berlebih-lebihan (dalam agama) 3x.”

Alloh berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar.” (QS. An Nisa’: 171)

Maka kewajiban kita selaku orang yang beriman adalah selalu istiqomah di jalan Alloh tidak berlebih-lebihan ataupun sebaliknya, Alloh berfirman kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS. Huud: 112)

Maksudnya: jangan engkau menambahkan dan jangan berlebih-lebihan, yang dituntut dari kaum muslimin adalah sikap istiqomah, yaitu tengah-tengah antara sikap meremahkan dan sikap ekstrem. Dan inilah metode agama islam, yaitu metode seluruh para nabi, yaitu beristiqomah di atas agama Alloh, tanpa bersikap ekstrem lagi melampaui batas dan juga tanpa meremehkan atau bahkan meninggalkan agama (Muraja’at fi Fiqh Waqi’ as Siyasi wal Fikri ‘ala Dhaui Al Kitab was Sunnah hal. 48).

Pertanyaan: Ilmu pengetahuan islam yang ada pada masa kini, telah ternodai oleh sebagian pemikiran beberapa aliran sesat, seperti khawarij dan mu’tazilah, sehingga kita dapatkan ada pemikiran yang mengarah kepada pengafiran terhadap masyarakat dan individu-individu, membolehkan sikap anarkis terhadap pelaku maksiat dan orang fasik, maka apa nasihat anda?

Jawaban: Ini adalah metode yang salah, karena agama islam melarang sikap anarkis dan keras dalam berdakwah, Alloh ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia ke jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Surat An Nahl: 125), dan Alloh berfirman kepada Nabi Musa dan Harun alaihimas salaam tentang raja Fir’aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Katakanlah kepadanya perkataan yang lembut semoga dia ingat dan merasa takut.” (QS Thoha: 44)

Kekerasan akan dihadapi dengan kekerasan, dan tidak akan menghasilkan kecuali kegagalan, dan akan berakibat buruk bagi kaum muslimin. Yang diharapkan adalah berdakwah dengan bijak dan dengan cara yang baik, dengan lemah lembut terhadap orang yang didakwahi. Adapun menggunakan kekerasan, dan meremehkan orang yang didakwahi, bukanlah dari ajaran islam. Kaum muslimin dalam berdakwah harus meniru metode Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam dan selaras dengan petunjuk Al Quran.

Pengafiran harus memperhatikan ketentuan-ketentuannya dalam syariat. Barang siapa yang melakukan salah satu pembatal keislaman yang telah disebutkan oleh para ulama’ Ahli Sunnah Wal Jama’ah, maka dia telah kafir, tentunya setelah ditegakkan hujjah kepadanya. Dan barang siapa yang tidak melakukan salah suatu pembatal tersebut, maka dia bukan orang kafir, walaupun ia telah melakukan sebagian dosa besar yang masih di bawah derajat kesyirikan.

Pertanyaan: Ada orang yang menyifati masyarakat muslim sebagai masyarakat jahiliah, karena di dalamnya ada berbagai pelanggaran, dan kemudian ia dengan dasar ini mengambil sikap tertentu, yang telah anda ketahui, apakah ucapan ini benar?

Jawaban: Jahiliah yang menyeluruh telah musnah dengan diutusnya Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan alhamdulillah telah datang agama islam, ilmu dan cahaya, hal ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Setelah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus, tidak ada lagi jahiliah yang menyeluruh, yang ada hanya sisa-sisa jahiliah, akan tetapi jahiliah pada hal-hal tertentu, jahiliah yang ada pada sebagian pelakunya. Adapun jahiliah menyeluruh telah sirna dengan diutusnya Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat.

Adapun keberadaan sebagian sifat jahiliah pada sebagian orang atau kelompok, atau masyarakat, maka hal ini terjadi, akan tetapi jahiliah khusus pada pelakunya saja, bukan jahiliah menyeluruh. Oleh karena itu, tidak boleh untuk mengatakan jahiliah secara menyeluruh (mutlak), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab “Iqtidho’ Shirothol Mustaqim”.

Pertanyaan: Nampak dengan jelas pada orang-orang yang menyifati masyarakat muslim sebagai masyarakat jahiliah, mereka hendak mengafirkan masyarakat tersebut, dan setelah itu pemberontakan?

Jawaban: Pengafiran bukanlah hak setiap orang, atau mengafirkan kelompok tertentu atau individu tertentu. Pengafiran harus melalui ketentuan-ketentuannya, barang siapa yang melakukan salah satu pembatal islam, maka ia dihukumi telah kafir. Dan hal-hal yang membatalkan keislaman sudah diketahui bersama, dan yang paling besar adalah perbuatan syirik kepada Alloh ‘azza wa jalla, pengakuan bahwa ia mengetahui hal-hal gaib, menerapkan hukum selain hukum Alloh. Alloh berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maaidah: 44)

Pengafiran itu sangat berbahaya, tidak boleh bagi setiap orang untuk mengklaim orang lain dengannya, akan tetapi pengafiran merupakan wewenang hakim syariat, ulama yang ilmunya mendalam, yang menguasai agama islam, pembatal-pembatal keislaman, mengetahui situasi dan kondisi, dan mempelajari realita yang ada pada masyarakat. Merekalah yang berhak untuk mengafirkan dan lainnya. Adapun orang bodoh atau orang awam atau pelajar ingusan, maka tidak berhak untuk mengafirkan orang lain, atau kelompok tertentu atau suatu negara, karena mereka tidak memiliki keahlian untuk mengemban tugas ini.

Pertanyaan: Ada sebagian penuntut ilmu yang gegabah dalam mengatakan kata-kata murtad kepada orang muslim, bahkan jika pemerintah tidak menegakkan hukuman kepada orang yang telah mereka anggap murtad, mereka menuntut kaum muslimin agar menunjuk seseorang yang dianggap dapat menegakkan hukuman atas orang tersebut?

Jawaban: Menegakkan hukuman pidana itu adalah wewenang pemerintah kaum muslimin, bukan hak setiap orang untuk menegakkan hukuman pidana, karena hal itu dapat menimbulkan kekacauan, kerusakan, perpecahan, mengobarkan api balas dendam, fitnah dan malapetaka. Penegakan hukum pidana adalah wewenang pemerintah muslim, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تعافوا الحدود فيما بينكم فإذا أبلغت الحدود السلطان فلعن الله الشافع والمشفع

“Saling memaafkanlah di antara kalian dalam hal hukuman pidana, karena jika (masalah yang mengakibatkan) hukuman pidana telah sampai (diangkat) ke pemerintah, maka laknat Alloh bagi orang yang meminta keringanan dan yang diberi keringanan.” (HR. An Nasa’i, pada kitab: Memotong Tangan Pencuri, Bab: “Batasan Tempat Menyimpan” no: 4885)

Di antara tugas dan wewenang pemerintah dalam ajaran islam adalah menegakkan hukum pidana. Setelah betul-betul terbukti secara syar’i di pengadilan syariat pelaku kejahatan tersebut, syariat islam menetapkan hukuman pidananya, seperti hukuman orang murtad, pencuri dan seterusnya.

Ringkas kata, bahwa penegakan hukum pidana adalah tugas dan wewenang pemerintah, jika kaum muslimin tidak mempunyai pemerintah (yang menerapkan hukum syariat), maka cukup dengan beramar ma’ruf dan nahi mungkar serta berdakwah kepada jalan Alloh ‘azza wa jalla, dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta dengan dialog yang kondusif. Tidak boleh bagi perorangan untuk menegakkan hukuman pidana, karena hal ini akan menimbulkan kekacauan, dan menyulut api balas dendam dan fitnah, serta akan mendatangkan bencana yang lebih besar dari pada maslahatnya. Padahal di antara kaidah syariat yang sudah disepakati adalah: “Mencegah kerusakan lebih didahulukan dari pada mendatangkan kemaslahatan.”

Pertanyaan: Siapakah orang yang dikatakan telah murtad? kami mohon definisinya dengan jelas, kadang kala ada orang yang masih memiliki syubhat, telah diklaim sebagai orang murtad?

Jawaban: Mengklaim orang telah murtad dan keluar dari agama, adalah wewenang ulama yang keilmuannya telah kokoh, yaitu para hakim di pengadilan syariat, dan para pemberi fatwa yang telah diakui. Perkara ini sebagaimana halnya perkara lain, bukan wewenang setiap orang atau pelajar yang masih ingusan, atau yang mengaku-ngaku sebagai orang yang berilmu, yang pemahamannya terhadap agama masih dangkal. Bukan wewenang mereka untuk menghukumi (seseorang) telah murtad, karena hal ini akan mengakibatkan kerusakan. Mungkin saja mereka mengklaim seorang muslim, bahwa ia telah murtad, padahal kenyataannya tidak demikian. Pengafiran seorang muslim yang tidak melanggar salah satu pembatal keislaman, sangat berbahaya, barang siapa yang mengatakan kepada saudaranya: wahai orang kafir atau wahai orang fasik dan kenyataannya dia tidak demikian, maka tuduhan tersebut akan kembali kepada yang mengucapkannya. Yang berhak untuk mengklaim orang, bahwa ia telah murtad adalah para hakim syar’i dan para mufti yang telah diakui, dan yang melaksanakan hukuman adalah pemerintah, dan bila dilakukan oleh selain mereka, maka akan terjadi kekacauan. (Muraja’at fi Fiqh al Waqi’ 49).

Pertanyaan: Point terakhir yang ingin saya tanyakan seputar masalah ini, adalah tentang orang yang melanggar terhadap wewenang pemerintah, yaitu tentang hukum orang yang menerapkan hukum pidana terhadap seseorang, sebab ada yang mengatakan bahwa pemerintah tidak melakukan apa-apa, kecuali memenjarakan?

Jawaban: Tidak boleh menentang pemerintah dan melanggar wewenang pemerintah islam. Bila orang tersebut membunuh orang lain tanpa didasari dengan hukum syariat, akan tetapi ia membunuhnya hanya didasari oleh kebijakannya sendiri, maka bila keluarga orang yang dibunuh menuntut, orang ini harus ditegakan atasnya hukum qisos. Kecuali bila telah terbukti secara syariat bahwa yang dibunuh itu telah murtad, keluar dari agama islam, maka ia tidak diqishos. Akan tetapi pemerintah tetap berhak untuk menjatuhkan hukuman peringatan sesuai dengan yang ia anggap pantas, kepada orang tersebut, karena ia telah melanggar wewenangnya. (Muraja’at fi Fiqh al Waqi’).

Tanda-Tanda Orang Khawarij

Syekh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan berkata: “Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata dalam Risalah Beliau “Qoidah Ahli Sunnah wal Jamaah” setelah ia menukilkan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imron: 103), sampai ayat:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka putih bersih, dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali Imron: 106)

Dan juga perkataan Ibnu Abbas radhiallohu ‘anhu: “Putih berseri muka Ahlusunnah wal Jamaah, dan hitam muram muka Ahlu Bid’ah wal Furqah”, beliau berkata: “Dalam Sunan Tirmidzy dari Abi Umamah al-Bahily dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda tentang orang Khawarij:

أنهم كلاب أهل النار

“Bahwasanya mereka adalah anjing-anjing penghuni Neraka.” (HR. Tirmidzi 3000 beliau menghasankannya, Ibnu Majah 176. Ahmad 5/352 dan dishohehkan Hakim 2/163)

Ia membaca Ayat:

ي يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka putih bersih, dan ada pula muka yang hitam muram…”

Imam Ahmad berkata: Hadits tentang khawarij Shohih dari sepuluh jalan, dikeluarkan Muslim dalam Shahihnya, dan Bukhori mengeluarkan sebagiannya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم وقراءته مع قراءتهم يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية

“Salah seorang kalian meremehkan sholatnya di hadapan sholat mereka, puasanya di hadapan puasa mereka, dan bacaannya di hadapan bacaan mereka, mereka membaca Al Quran (akan tetapi) tidak melampaui tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah keluar (saat menembus) sasarannya.” (HR. Bukhari (3610), (3344), Muslim (1064) dari hadits Abi Sa’id)

Dalam riwayat lain:

يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان

“Mereka membunuhi pemeluk agama Islam, dan membiarkan penyembah-penyembah berhala.” (HR. Bukhari (3610), (3344), Muslim (1064) dari hadits Abi Sa’id)

Kemudian Ibnu Taimiyah rohimahulloh menjelaskan Siapa itu Khawarij? beliau berkata: “Khawarij itu adalah orang pertama yang mengafirkan kaum muslimin, mereka mengafirkan lantaran dosa-dosa (yaitu dosa-dosa selain syirik) dan juga mengafirkan siapa yang bertentangan dengan mereka dalam bid’ah mereka itu, menghalalkan darah dan hartanya, begitulah halnya Ahlul bid’ah; mereka mengadakan suatu bid’ah dan mengafirkan siapa yang bertentangan dengan mereka dalam bid’ah itu.”

Ini perkataan Ibnu Taimiyah dalam menjelaskan hakikat Khawarij, pada kesempatan ini saya menimpali: Karena hakikat khawarij adalah orang-orang yang mengafirkan pelaku dosa besar selain syirik dari kaum muslimin, maka sesungguhnya pada zaman sekarang ini ada orang yang melontarkan julukan ini (khawarij) kepada ulama’ yang mengklaim kafir orang yang telah berhak (menerimanya), dari ahlu riddah (orang murtad) dan pelaku pembatal keislaman, seperti penyembah-penyembah kuburan, dan pengikut kelompok-kelompok sesat, contohnya: Partai Ba’ts, kapitalis dan lain-lain. Mereka mengatakan: Kalian mengafirkan kaum muslimin, maka kalian adalah khawarij. Hal ini terjadi, karena mereka tidak mengetahui hakikat Islam, dan tidak mengetahui hal-hal yang membatalkannya, dan juga tidak mengetahui hakikat mazhab khawarij, yaitu menghukum kafir orang yang tidak berhak (menerimanya) dari kaum muslimin, (sedangkan) menghukum kafir orang yang berhak karena melakukan hal yang membatalkan keislaman adalah mazhab Ahlusunnah wal Jamaah.

Dari sifat-sifat khawarij banyak beribadah misalnya, banyak membaca Al Quran, zuhud, disertai tidak adanya pemahaman dalam agama, disimpulkan bahwasanya banyak amalan tanpa mengikuti Al Quran dan Sunnah, tanpa pemahaman terhadap makna-maknanya tidaklah memberi faedah yang berarti terhadap manusia, dan (juga) tidak boleh tertipu oleh orang yang sifatnya begitu, dan tidak boleh mengklaim kafir setiap orang yang melakukan dosa-dosa besar, kecuali bila dosa besar itu termasuk pembatal keislaman yang telah diketahui, seperti berdoa kepada selain Alloh, menyembelih, bernazar kepada kuburan, dan semacam itu.

Kemudian Ibnu Taimiyah rohimahulloh melanjutkan: “Ahlusunnah wal Jamaah (senantiasa) mengikuti Al Quran dan Sunnah, menaati Alloh dan Rasul-Nya, mereka mengikuti Al Haq, dan menyayangi makhluk. Adapun Bid’ah yang pertama sekali muncul dalam Islam adalah bid’ah Khawarij dan Syi’ah, muncul di masa khilafah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib rodhiallohu ‘anhu. beliau lalu menghukum kedua kelompok ini. Adapun khawarij mereka telah memberontak kepada beliau, sehingga beliau akhirnya membasmi mereka. Sedangkan orang Syi’ah, maka beliau membakar orang-orang yang ekstrem dari mereka. Beliau (juga) berusaha menangkap Abdulloh bin Saba’ untuk dibunuh, tapi ia melarikan diri, beliau (juga) memerintahkan untuk mencambuk orang yang lebih mengutamakannya dibanding sahabat Abu Bakar dan Umar, (ini semua) diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shohehnya.” (HSR Bukhari no. 3671).

Ibnu Taimiyah juga berkata: “Di antara dasar-dasar aqidah Ahlusunnah wal Jamaah adalah mereka menunaikan sholat Jumat, ‘Ied dan sholat berjamaah, mereka tidak meninggalkan sholat Jumat dan jamaah, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul bid’ah seperti Rafidhah dan selain mereka. Jika penguasa mastur (tertutup keadaannya) tidak tampak darinya perbuatan bid’ah dan maksiat, maka menurut kesepakatan imam yang empat dan selain mereka dari para ulama dikerjakan sholat Jumat dan jamaah di belakang mereka (sebagai makmum), tidak seorang pun dari para ulama yang mengatakan tidak boleh sholat (bermakmum) kecuali di belakang penguasa yang diketahui keadaan pribadinya, bahkan kaum muslimin setelah wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berjamaah di belakang orang muslim yang belum jelas keadaannya, akan tetapi apabila tampak bid’ah atau perbuatan maksiat (dan telah terlaksanakan sholat di belakang orang yang diketahui kebid’ahan dan kefasikannya itu) bersamaan dengan mungkinnya sholat bermakmum dengan yang lain, sebagian besar ulama mensahkan sholat (tersebut).”

Ini adalah mazhab Syafi’i dan Abu Hanifah dan juga salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Imam Malik dan Ahmad. Dan adapun apabila tidak mungkin untuk sholat kecuali berimam dengan seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) atau fajir (pelaku dosa) seperti sholat Jumat yang diimami oleh mubtadi’ atau fajir, dan tidak ada sholat Jumat di tempat lain, dalam hal ini dilaksanakan sholat di belakang mubtadi’ dan fajir menurut pendapat umumnya Ahlusunnah wal Jamaah. Ini adalah mazhab Syafi’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dan lain-lain dari imam Ahlusunnah tanpa ada perselisihan di antara mereka.

Ada (pula) sebahagian orang yang pada saat hawa nafsu merajalela, ia lebih suka untuk tidak sholat kecuali di belakang orang yang ia ketahui keadaannya, ini merupakan (hal yang) mustahab (sunat), sebagaimana dinukilkan dari Imam Ahmad saat menjawab pertanyaan tentang itu, beliau tidak mengatakan: bahwasanya tidak sah sholat kecuali di belakang orang yang saya ketahui keadaannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melanjutkan: “Maka (hukum) sholat di belakang orang yang tidak diketahui keadaannya menurut kesepakatan ulama Islam boleh, Barang siapa yang mengatakan haram atau batal sholat di belakang orang yang tidak diketahui keadaannya, maka ia telah menyelisihi ijma’ Ahlusunnah wal Jamaah, karena sesungguhnya para sahabat rodhiallohu ‘anhum melakukan sholat di belakang orang yang mereka ketahui kefasikannya, Ibnu Mas’ud dan sahabat lainnya sholat di belakang Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Ibnu Umar dan sahabat lainnya sholat di belakang Hajjaj bin Yusuf, dan para tabi’in sholat di belakang Ibnu Abi ‘Ubaid. (di sini berakhir perkataan Syekhul Islam).”

Maksud beliau adalah bahwa sholat sah hukumnya di belakang setiap muslim, meskipun ia fasik, terlebih lagi jika ia termasuk Waliyyul Amri (penguasa), agar terbuhul persatuan, atau (jika) tidak ada imam-imam mesjid yang saleh selain mereka, (kemudian) kalau tidak sholat berimam dengan mereka akan luput pelaksanaan sholat Jumat dan jamaah. Adapun orang yang melakukan pembatal dari pembatal-pembatal keislaman seperti istighotsah kepada orang yang sudah meninggal, menyembelih, dan thowaf di kuburan, dalam rangka mendekatkan diri kepada mereka, meminta hajat dari mereka, maka dalam hal ini tidak sah sholat berimam dengan mereka, karena imam tersebut adalah kafir murtad dari agama islam, sedangkan sholat hanya sah (jika) berimam dengan muslim.

Perincian seperti ini penting sekali, khususnya pada zaman sekarang ini yang banyak terjadi peribadatan kepada kuburan, dan terkadang ada imam-imam mesjid yang termasuk penyembah kuburan, dalam hal ini tidak sah sholat di belakang mereka, tidak ada daya dan tidak pula kekuatan kecuali dengan Alloh yang maha tinggi dan maha agung. (Adhwaa min Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah karya Syaikh Sholeh Fauzan Al Fauzan 1/269).

Syekh Sholeh Fauzan hafizhahulloh berkata: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh dalam fatwa beliau panjang lebar menjelaskan manhaj Ahlusunnah, dan beliau menyinggung suatu permasalahan penting, di mana sering kaki tergelincir, pemahaman melenceng, dan sering terjadi kekeliruan padanya, yaitu permasalahan pengafiran muslim, dan menjelaskan sikap Ahlusunnah wal Jamaah dalam masalah ini, beliau berkata:

“Dan tidak boleh mengafirkan muslim lantaran dosa yang ia lakukan, juga tidak karena kesalahan yang ia kerjakan, seperti halnya masalah-masalah yang diperselisihkan oleh Ahlul Qiblah (kaum muslimin), sesungguhnya Alloh ta’ala berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, (mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya,’ dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat,’ (mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkau lah tempat kembali’.” (QS. Al Baqoroh : 285)

Disebutkan dalam sebuah hadits shohih bahwa Alloh telah mengabulkan doa ini, dan mengampunkan kesalahan kaum mukminin (HR. Muslim 125 dari hadits Abu Hurairoh).

Khawarij para pemberontak yang diperintahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperangi (HR. Bukhari 3344, Muslim 1064 dari hadits Abu Sa’id) telah diperangi oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib salah seorang Khulafaur Rosyidin, dan para ulama dari kalangan para sahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka telah bersepakat agar mereka diperangi. Namun Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash dan sahabat yang lain tidak mengafirkan mereka, (sebaliknya) masih tetap menganggap mereka sebagai orang-orang muslim, meskipun diperangi. Ali bin Abi Thalib belum enggan untuk memerangi mereka, hingga mereka berani menumpahkan darah seseorang yang di lindungi, merampas harta kaum muslimin. Lalu beliau memerangi mereka guna menghentikan kezaliman dan kesewenang-wenangan mereka, bukan karena mereka telah kafir, oleh sebab itu ia tidak menawan wanita-wanita mereka, dan juga tidak merampas harta-harta mereka.

Jika mereka yang telah jelas kesesatannya berdasarkan dalil dan ijma’ tidak diklaim kafir, meskipun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar diperangi, bagaimana halnya dengan berbagai kelompok yang beraneka ragam, yang belum jelas bagi mereka kebenaran dalam masalah-masalah rumit, yang orang lebih berilmu dari mereka (saja) jatuh kepada kesalahan? maka haram atas setiap kelompok tersebut untuk saling mengafirkan, dan tidak halal darah dan hartanya, meskipun jelas-jelas terdapat bid’ah, apalagi kelompok yang mengafirkannya juga kelompok bid’ah?! dan terkadang bid’ah mereka lebih berbahaya. Pada umumnya mereka semua jahil terhadap hakikat apa yang mereka perselisihkan.

Pada asalnya darah, harta dan kehormatan kaum muslimin adalah haram satu sama lain, tidak halal kecuali apabila diizinkan oleh Alloh dan Rasul-Nya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada haji wada’ bersabda:

إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في بلدكم هذا في شهركم هذا

“Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian haram atas kalian seperti haramnya hari ini, di negeri ini, dan pada bulan ini.” (HR. Bukhari 105, Muslim 1679 dari hadits Abu Bakrah)

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Setiap muslim atas muslim lainnya haram; darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim 2564)

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فهو المسلم له ذمة الله ورسوله

“Siapa yang sholat seperti sholat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan binatang sembelihan kita, maka ia adalah orang muslim, ia memilik jaminan keamanan dari Alloh dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari 391 dari hadits Anas bin Malik)

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار. قيل: يا رسول الله! هذا القاتل، فما بال المقتول؟ قال: إنه أراد قتل صاحبه

“Apabila dua orang muslim saling menyerang dengan pedangnya, maka pembunuh dan yang terbunuh masuk neraka” Rasulullah ditanya: “(kalau) pembunuh (jelas), bagaimana dengan yang terbunuh?” beliau menjawab: “Sesungguh ia berniat untuk membunuh lawannya.” (HR. Bukhari/31, Muslim/2888 dari hadits Abu Bakrah)

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لا ترجعوا بعدي كفارا يضرب بعضكم رقاب بعض

“Jangan sampai kalian setelah aku (wafat) menjadi orang-orang kafir yang saling memenggal leher satu sama lain.” (HR. Bukhari 440, Muslim 1679 dari hadits Abu Bakrah)

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إذا قال المسلم لأخيه: يا كافر، فقد باء بها أحدهما

“Apabila seorang muslim mengatakan kepada saudara (seislam): ‘Wahai orang kafir,’ maka perkataan itu pasti kembali kepada salah seorang dari keduanya.” (HR. Bukhari 6104 dari hadits Ibnu Umar). Semua hadits di atas terdapat dalam kitab-kitab shohih.

Jika seorang muslim dalam membunuh atau mengafirkan berdasarkan ta’wil maka ia tidak dihukumi kafir, sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khatthab kepada Hathib bin Abi Balta’ah: “Ya Rosululloh! izinkan saya memenggal leher orang munafik ini,” Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya ia telah mengikuti perang Badar, tidakkah engkau tahu sesungguhnya Alloh menyaksikan Ahlu Badr (yang mengikuti perang badr), lalu berfirman: ‘Berbuatlah semau kalian, sungguh Aku telah memberi ampunan kepada kalian ?!'” (hadits) ini terdapat dalam kitab shohih (HR. Bukhari 3007, Muslim 2494 dari hadits Ali)

Juga terdapat dalam kitab shohih hadits Al-Ifki (Kedustaan): “Bahwa Usaid bin Khudair berkata kepada Sa’ad bin Ubadah: ‘Sesungguhnya engkau adalah orang munafik membela orang munafik!’ kedua belah pihak saling bertengkar, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendamaikan antara keduanya.” (HR. Bukhari 2661 Muslim 2770 dari hadits Aisyah)

Mereka yang ikut perang Badar ada yang mengatakan kepada sesama mereka: “Sesungguhnya engkau orang munafik,” dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengafirkan yang ini dan tidak pula yang itu, bahkan beliau menjamin surga untuk mereka semua. Dan juga terdapat dalam shohih Bukhori dan Muslim dari Usamah bin Zaid bahwa ia telah membunuh seorang (musuh) setelah mengucapkan: “Laa ilaha illalloh”, setelah berita itu sampai kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau sangat murka, dan berkata: “Hai Usamah! Engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan: ‘Laa Ilaha illalloh’?” Beliau terus mengulangi pertanyaan itu, sampai-sampai Usamah menceritakan: “Saya berangan-angan seandainya saya belum masuk islam kecuali hari itu.” (HR. Bukhari 4269, Muslim 96 dari hadits Usamah bin Zaid). Meskipun begitu beliau tidak menghukuminya, tidak dengan qishash, membayar diyat dan tidak pula kaffarat, (hal itu) karena ia melakukan berdasarkan ta’wil, ia mengira boleh membunuh orang itu karena ia mengucapkan “Laa ilaha illalloh” hanya untuk melindungi diri.

Maka begitu pula halnya salafus sholeh yang saling berperang dalam peperangan Jamal dan Shiffin dan semacamnya, semua mereka adalah muslim dan mukmin sebagaimana yang difirmankan Alloh:

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِن فَاءتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan Jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya, jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Alloh, jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Alloh), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah, sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al Hujuraat: 9)

Alloh ta’ala menjelaskan bahwasanya mereka bersaudara dalam keimanan meskipun mereka saling berperang dan saling menganiaya satu sama lain, dan Ia memerintahkan untuk mendamaikan antara mereka dengan cara yang adil. Oleh karena itu para salafus sholeh meskipun terjadi peperangan sesama mereka, satu sama lain saling berloyalitas karena agama, dan tidak saling bermusuhan seperti memusuhi orang kafir, sebagian mereka menerima persaksian sebagian yang lain, saling menimba ilmu, saling mewarisi, menikah, dan saling berinteraksi satu sama lain di atas dasar islam, walaupun mereka saling berperang.

Disebutkan dalam sebuah hadits shohih:

أن النبي  سأل ربه أن لا يهلك أمته بسنة عامة، فأعطاه ذلك، وسأله أن لا يسلط عليهم عدوا من غيرهم فأعطاهم ذلك، وسأله أن لا يجعل بأسهم بينهم فلم يعط ذلك.

“Bahwasanya Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Alloh agar umatnya tidak dibinasakan dengan bencana yang merata, lalu Alloh mengabulkannya, dan beliau memohon agar umatnya tidak dikalahkan oleh musuh dari pihak selain diri mereka, lalu Alloh mengabulkannya, dan beliau memohon agar tidak dijadikan kebinasaan mereka karena peperangan di antara saudara di antara mereka, maka Alloh tidak mengabulkannya.” (HR. Muslim 2889 dari hadits Tsauban)

Beliau mengabarkan bahwa Alloh tidak menimpakan kepada mereka (umatnya) musuh yang meluluh lantakkan mereka, sehingga sebagian mereka membunuh sebagian yang lain, dan sebagian mereka menjadikan sebagian lainnya sebagai tawanan.

Dan terdapat dalam shohih Bukhari dan Muslim bahwa tatkala turun ayat:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ

“Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu dari atas kamu” Beliau berdoa: “Aku berlindung dengan wajahMu, “atau dari bawah kakimu.” Beliau berdoa: Aku berlindung dengan wajahMu, “atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain.” Beliau berkata: “Yang dua lebih ringan.” (HR. Bukhari 7313 dari hadits Jabir bin Abdillah).

Bersamaan dengan ini Alloh memerintahkan untuk berkumpul dan bersatu, dan melarang dari bid’ah dan perpecahan, Alloh berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعاً لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawab terhadap mereka.” (QS. Al-An’am: 159)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عليكم بالجماعة فإن يد الله مع الجماعة

“Hendaklah kalian bersatu, maka sesungguhnya Tangan Alloh berada di atas persatuan.” (HR. Tirmidzi 2165, ia berkata: Hasan Shohih Gharib, dan Nasai 2165 dari hadits Ibnu Umar)

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد

“Syaithan bersama orang yang sendirian, dan ia dari dua orang lebih jauh.” (HR. Tirmidzi 2165, ia berkata: Hasan Shoheh Gharib, dan Nasai 2165 dari hadits Ibnu Umar)

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الشيطان ذئب الإنسان كذئب الغنم والذئب إنما يأخذ من القاصية والنائية من الغنم

“Syaithan adalah srigala bagi manusia, seperti halnya srigala kambing, dan srigala itu hanya memangsa kambing yang menyendiri dan memisah.” (HR. Ahmad (5/232), Thabrani (20/344 – 355), didhoifkan oleh ‘Iraqy sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Faidh karya Munawy (2/350), hanya saja ia mempunyai penguat terdapat dalam kitab Syu’ab karya Baihaqy 2860 kemungkinan ia menjadi kuat dengannya)
(Adhwaa min Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah oleh Syekh Sholeh Fauzan al-Fauzan 1/273).

–selesai–

***

Disusun oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (4)

Tulisan berikut ini adalah lanjutan fatwa para ulama tentang masalah Takfir dan Ciri-ciri khawarij yang disusun oleh Ustadz Muhammad Arifin Badri hafizhohulloh. Insya Alloh pada kesempatan ini, akan kami ketengahkan komentar Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin terhadap keterangan yang telah disampaikan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani (lihat bagian III). Selain itu juga dilengkapi dengan makalah yang sangat bagus yang telah ditulis oleh Syaikh Shalih Fauzan hafizhohulloh.

***

Tanggapan Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz rohimahulloh

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga terlimpahkan atas Rosululloh, keluarga, dan semua sahabatnya serta orang yang mengikuti ajaran beliau. Amma ba’du:

Saya telah mendengar jawaban berguna lagi bagus sekali, yang disampaikan oleh yang terhormat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, (semoga Alloh melimpahkan taufik-Nya kepada beliau) yang dimuat oleh harian Al Muslimun. Beliau menjawab orang yang bertanya kepada beliau seputar: “Pengafiran orang yang menerapkan undang-undang selain hukum yang Alloh turunkan, tanpa ada perincian.” Saya dapatkan jawaban beliau merupakan penjelasan berharga dan sesuai dengan kebenaran, beliau telah menempuh jalannya kaum mukminin. Beliau menjelaskan bahwa tidak boleh bagi siapa pun untuk mengafirkan orang yang menerapkan undang-undang selain hukum Alloh, hanya berdasarkan kepada perbuatan semata, tanpa mengetahui bahwa dia menghalalkannya. Beliau berdalil dengan pernyataan Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhu dan ulama salaf lainnya.

Tidak diragukan lagi bahwa apa yang beliau sampaikan -pada jawabannya- tentang tafsir firman Alloh ta’ala:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Surat Al Maaidah: 44)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang zalim.” (QS. Surat Al Maaidah: 45)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (QS. Surat Al Maaidah: 46) adalah benar. Beliau telah menjelaskan bahwa kufur itu ada dua macam: kufur besar dan kufur kecil, sebagaimana kezaliman itu ada dua macam, demikian pula kefasikan ada dua macam, besar dan kecil.

Barang siapa yang menghalalkan berhukum dengan selain hukum Alloh atau zina, atau riba atau lainnya dari perbuatan haram yang telah disepakati akan keharamannya, maka dia telah kafir dengan kekufuran besar (murtad), zalim dengan kezaliman besar dan fasik dengan kefasikan besar. Dan barang siapa yang mengerjakannya tanpa penghalalan, maka kekufurannya adalah kufur kecil, kezalimannya adalah zalim kecil, dan demikian pula dengan kefasikannya, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر
“Mencela orang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (Telah lalu takhrij hadits ini)

Yang Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan dari hadits ini adalah kefasikan kecil dan kekufuran kecil, beliau sengaja mengatakan kata-kata ini tanpa disertai penjelasan, dalam rangka menakut-nakuti dari perbuatan mungkar tersebut, demikian juga halnya dengan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam:

اثنان في الناس هما بهم كفر: الطعن في النسب والنياحة للميت

“Dua perkara yang ada pada manusia, keduanya merupakan kekufuran, yaitu : mencela nasab dan meratapi orang mati.” (HR. Muslim pada kitab: Al Iman, bab: “Menyebut perbuatan mencela nasab sebagai kekufuran” no: 67)

Dan juga sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam:

لا ترجعوا بعدي كفاراً يضرب بعضكم رقاب بعض

“Janganlah kalian setelahku kembali menjadi kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.” (HR. Bukhori, kitab: Al Ilmu, bab: “Diam mendengarkan ulama” no: 121), dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali.

Langkah yang harus ditempuh oleh setiap orang muslim, terlebih-lebih para ulama adalah senantiasa selektif dalam setiap urusan dan bijaksana, selaras dengan Al Quran dan As Sunnah serta metode salafus sholeh, dan senantiasa berhati-hati dari jalan kebinasaan yang ditempuh oleh banyak orang, yaitu gegabah dalam mengklaim tanpa merinci. Dan hendaknya para ulama’ bersungguh-sungguh dalam berdakwah kepada jalan Alloh subhanahu wa ta’ala dengan teliti, menjelaskan Islam kepada masyarakat disertai dengan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah, menganjurkan mereka untuk senantiasa istiqomah di atasnya. Saling menasihati dalam menjalankan tugas tersebut, dan memperingatkan mereka dari setiap yang menyelisihi hukum islam.

Dengan cara ini, berarti mereka menempuh jalannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan jalan khulafa’ rasyidin, serta para sahabatnya dalam menjelaskan jalan kebenaran serta membimbing menuju kepadanya, dan memperingatkan dari setiap yang menyelisihinya; dalam rangka mengamalkan firman Alloh:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang yang menyeru kepada Alloh dan beramal saleh dan dia berkata sesungguhnya aku adalah orang yang berserah diri.” (QS. fushshilat: 33), dan firman Alloh ‘azza wa jalla:

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah inilah jalanku aku menyeru kepada Alloh di atas ilmu dan orang-orang yang mengikutiku (begitu juga), dan Maha Suci Alloh dan aku bukanlah dari orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108), dan firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125), serta sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala pelakunya.” (HR. Muslim pada kitab: Al Imarah, bab: “Keutamaan membantu pejuang di jalan Allah” no: 1893), dan sabda beliau:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الاثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

“Barang siapa yang menyeru kepada hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikit pun, dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa pengikutnya sedikit pun.” Dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali rodhiallohu ‘anhu ketika beliau mengutusnya menuju kepada orang-orang yahudi di Khoibar:

أدعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم، فو الله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من أن يكون لك حمر النعم

“Serulah mereka kepada agama islam, dan kabarkan kepada mereka tentang kewajiban mereka, demi Alloh seandainya Alloh memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaramu, maka itu lebih baik daripada engkau memiliki unta merah.” (HR. Muslim pada kitab: Al Ilmu, bab: “Barang siapa yang membuat contoh baik” no: 2574)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di kota Mekkah selama 13 tahun, beliau menyeru manusia untuk mengesakan Alloh dan masuk ke dalam islam dengan nasihat, hikmah, sabar, dan dengan cara yang baik, hingga Alloh memberi hidayah melalui para sahabatnya orang yang telah dituliskan akan mendapatkan kebahagiaan, kemudian beliau hijrah ke kota Madinah. Beliau bersama sahabatnya terus menerus berdakwah kepada jalan Alloh subhanahu wa ta’ala dengan hikmah, pelajaran yang baik, sabar, dan diskusi yang kondusif, hingga akhirnya Alloh mensyariatkan jihad dengan pedang, menghadapi orang-orang kafir. Maka beliau dan para sahabatnya melaksanakan tugas ini dengan baik, sehingga Alloh menolong mereka dan menjadikan kemenangan bagi mereka, demikianlah pertolongan dan kemenangan akan diberikan kepada para pengikut mereka, dan yang menempuh jalan mereka, hingga hari kiamat.

Semoga Alloh menjadikan kita dan semua saudara kita termasuk pengikut mereka, dan menganugerahkan kepada kita serta saudara-saudara kita para da’i ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan kesabaran di atas kebenaran, hingga kita berjumpa dengan-Nya subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya Dialah yang Kuasa atas hal ini. Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat dan orang yang mengikuti mereka hingga hari kemudian. (Majmu Fatawa wa Maqolat Mutanawi’ah oleh Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz bin Baz 9/124).

Komentar Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin Tentang Penjelasan Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al Albani

Yang terpahami dari keterangan dua syaikh di atas, bahwa kekufuran hanya jatuh pada orang yang menghalalkannya, sedangkan orang yang tetap menganggapnya sebagai perbuatan maksiat dan pelanggaran, maka dia tidak kafir, pasalnya dia tidak menghalalkannya. Tapi bisa jadi lantaran rasa ketakutan atau ketidakberdayaan dan lainnya. Berdasarkan pernyataan ini, maka ketiga ayat (dalam Surat Al Maaidah) berlaku pada tiga kondisi:

Pertama: Orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Alloh, dalam rangka mengganti agama-Nya. Ini adalah kufur akbar, mengeluarkan pelakunya dari agama islam. Karena ia telah mendaulat dirinya sebagai pembuat undang-undang (syari’at) bersama Alloh ‘azza wa jalla.

Kedua: Orang yang berhukum dengan selain syariat yang diturunkan oleh Alloh ‘azza wa jalla, karena terdorong oleh hawa nafsu dan alasan serupa lainnya. Ini tidak kafir, tapi mengalihkannya kepada kefasikan.

Ketiga: Orang yang berhukum dengan selain syariat Alloh karena terdorong rasa permusuhan dan kezalimannya. Hal ini tidak mungkin terjadi pada orang yang berhukum dengan undang-undang buatan manusia, tapi pada peradilan tertentu, seperti memvonis seseorang dengan selain hukum Alloh, untuk balas dendam kepadanya, ini disebut sebagai orang zalim.. Jadi tiap-tiap karakter (klaim kafir, atau fasik, atau zalim) diletakkan sesuai dengan kondisinya masing-masing.

Sebagian ulama menilai bahwa ayat-ayat tersebut merupakan kumpulan karakter untuk satu jenis orang, artinya setiap orang kafir adalah zalim, dan setiap orang kafir adalah fasik, dengan berpedoman pada firman Alloh:

وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqoroh: 254)

وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ

“Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah neraka.” (QS. As Sajadah: 20)

Inilah kefasikan akbar. Dan pendapat manapun yang lebih benar, sebagaimana yang telah disinggung oleh Syaikh Al Bani, seseorang manusia harus selalu memperhatikan hasil akhirnya? Permasalahan ini tidak berhenti hanya sebatas teori, tapi yang lebih penting adalah aplikasinya, apa dampaknya?

Syaikh juga menjawab satu pertanyaan dengan berkata:
Termasuk kesalahpahaman, adalah: orang yang menisbatkan pernyataan berikut kepada Ibnu Taimiyah: “Kalau kata kufur disebut tanpa ada keterangan lebih lanjut, maka yang dimaksud adalah kufur akbar, berdalih dengan ayat:

فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Mereka adalah orang-orang kafir.” Padahal pada ayat tersebut tidak hal yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah kufur (yang mengeluarkan pelakunya dari keislaman).

Adapun perkataan yang benar dari Syaikhul Islam adalah: membedakan antara kufur yang mu’arraf (diawali dengan alif dan lam) dengan kata kufur yang munakkar (tidak diawali dengan Alif dan lam). Adapun bila kata-kata (kufur) dijadikan sebagai kata sifat, maka kita boleh mengatakan (هؤلاء كافرون) “Mereka orang-orang kafir” atau (هؤلاء الكافرون), berdasarkan pada sifat kekufuran yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari agama, yang ada pada mereka. Beliau membedakan antara perbuatan yang disifati kufur dengan pelaku kekufuran.

Berdasarkan penjelasan di atas, dengan penafsiran kita terhadap ayat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa berhukum dengan selain syariat yang diturunkan Alloh tidak tergolong ke dalam kekufuran yang mengeluarkan dari agama, tapi merupakan kufur amali (kufur perbuatan). Sebab pelakunya dengan kebijakannya tersebut, telah melenceng dari jalan yang benar. Dan tidak dibedakan antara orang yang mengadopsi hukum perundangan dari pihak lain dan kemudian memberlakukannya di negerinya dari orang yang memproduksi hukum sendiri dan memberlakukannya. Yang penting apakah perundangan ini melanggar aturan Alloh apa tidak? (Fitnatut Takfir hal: 25, penyusun: Ali bin Husain Abu Luz).

Makalah Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan

Segala puji hanya milik Alloh, sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma b’adu:

Tidak diragukan lagi bahwa terpenuhinya rasa aman, merupakan kebutuhan yang sangat penting dan mendesak, melebihi kebutuhan kita kepada makanan dan minuman. Oleh karenanya, Nabi Ibrahim mendahulukan doa memohon keamanan dari doa memohon rizki:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo’a: ‘Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan.'” (QS. Al Baqoroh: 126)

Sebab manusia tidak akan mungkin bisa menikmati kelezatan makanan bila dihantui perasaan takut. Akibat lainnya, lumpuhnya alur lalu lintas, yang menjadi jalur distribusi rezeki dari satu daerah ke daerah lainnya. Karena itulah, Alloh subhanahu wa ta’ala menyediakan siksa yang pedih bagi para perampok di tengah jalan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا جَزَاء الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَن يُقَتَّلُواْ أَوْ يُصَلَّبُواْ أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلافٍ أَوْ يُنفَوْاْ مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Alloh dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar.” (QS. Al Maaidah: 33)

Islam datang dengan mensyariatkan pemeliharaan lima hal primer, yaitu: agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta benda. Islam juga telah menetapkan hukuman yang keras bagi mereka-mereka yang melanggar kelima hal primer ini, baik itu terjadi pada kaum muslimin, maupun pada mereka yang tinggal di negara islam, yang terikat perjanjian aman (mu’ahad). Para mu’ahad memiliki hak yang sama dengan orang muslimin dan mereka juga harus melaksanakan kewajiban-kewajiban seperti halnya kaum muslimin. Rosululoh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة

“Barang siapa yang membunuh orang kafir yang mu’ahad (terikat perjanjian aman dengan kaum muslimin) maka ia tidak akan mencium wanginya surga.”

Dan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْلَمُونَ

“Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Alloh, kemudian antarkanlah ia yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah: 6)

Jika kaum muslimin khawatir terhadap pengkhianatan orang-orang mu’ahad terhadap perjanjian itu, mereka tidak boleh langsung memerangi mereka, hingga memberitahu mereka tentang pemutusan perjanjian tersebut, juga tidak boleh langsung menyerbu mereka tanpa adanya informasi sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang di firmankan Alloh subhanahu wa ta’ala:

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِن قَوْمٍ خِيَانَةً فَانبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاء إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al Anfaal: 58)

Orang kafir yang masuk dalam kategori mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin, ada tiga macam:

  1. Pemohon suaka (musta’min) yaitu: orang kafir yang masuk kawasan negara islam dengan jaminan keamanan dari kaum muslimin, untuk menjalankan suatu tugas pekerjaan dan segera kembali ke negaranya, seusai menjalankan tugasnya.
  2. Mu’ahad yaitu: orang kafir yang menjalin perjanjian damai dengan kaum muslimin. Orang ini dilindungi hingga habis masa perjanjian antara kedua belah pihak, dan tidak boleh bagi siapa pun untuk mengganggu mereka, sebagaimana mereka tidak boleh untuk mengganggu orang muslim.
  3. Orang kafir yang membayar jizyah/upeti (Ahlu Dzimmah) kepada kaum muslimin dan tunduk di bawah hukum Islam.

Islam telah memberikan jaminan keamanan atas darah, harta dan kehormatan ketiga golongan ini. Barang siapa yang melanggar hak mereka, berarti ia telah berkhianat kepada agama Islam dan pantas untuk mendapat hukuman berat.

Sikap adil harus ditegakkan kepada siapa pun, baik orang muslim ataupun orang kafir, biarpun bukan mu’ahad, musta’min ataupun ahli dzimmah (yang membayar jizyah). Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُواْ

“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorong kamu berbuat aniaya (kepada mereka).” (QS Al Maaidah: 2)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al Maaidah: 8)

Orang-orang yang selalu mengganggu stabilitas keamanan, bisa saja dari golongan: orang-orang khawarij atau perampok jalanan atau para pemberontak. Dan setiap gerakan ini, harus dijatuhi hukuman yang sangat keras, agar jera dan kejahatannya tidak menimpa kaum muslimin, musta’min, mu’ahad dan ahli dzimmah.

Dan oknum-oknum yang mengadakan pengeboman, di mana saja, yang menelan korban jiwa dan harta benda yang dilindungi, baik milik kaum muslimin atau mu’ahad, menyebabkan wanita-wanita menjadi janda, banyak anak-anak menjadi yatim, mereka termasuk orang-orang yang Alloh sebutkan dalam sebuah firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيِهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Alloh tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Alloh’, bangkitlah kesombongannya, yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (sebagai balasannya) neraka jahanam, Dan sungguh neraka jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al Baqoroh: 204-206)

Dan yang sangat diherankan dari itu semua, bahwa mereka, para penjahat dan orang-orang yang sangat jauh dari ajaran islam, mereka menamakannya sebagai jihad fi sabilillah, dan ini termasuk kedustaan terbesar terhadap Alloh, sebab Alloh telah menamakannya kerusakan bukan Jihad. Tetapi heran lagi, bila kita tahu bahwa nenek moyang mereka, adalah kaum Khawarij yang mengafirkan para sahabat, mereka membunuh sahabat Usman dan Ali (semoga Alloh meridhoi keduannya) padahal keduanya adalah termasuk Al Khulafa’ Ar Rasyidin, dan sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, akan tetapi mereka tetap membunuhnya juga. Mereka namakan perbuatan ini Jihad di jalan Alloh, yang benar adalah jihad di jalan setan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut.” (QS. An Nisa’: 76)

Agama Islam tidak menanggung dosa mereka, sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh islam (dari orang-orang kafir dan munafik) bahwa islam adalah agama teroris, berdalih dari perilaku penjahat-penjahat tersebut. Perbuatan mereka bukan dari ajaran Islam, dan tidak dibenarkan oleh islam atau agama apapun. Akan tetapi ini adalah ideologi orang khawarij, sedangkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan untuk membunuh orang yang berpaham semacam ini, beliau bersabda:

أينما لقيتموهم فاقتلوهم

“Di mana pun kalian dapati mereka, bunuhlah mereka.”

Dan beliau menjanjikan pahala besar bagi yang berhasil membunuhnya, tentunya yang membunuh mereka adalah waliyyul amr (pemerintah) kaum muslimin, seperti yang dilakukan oleh para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang dipimpin oleh sahabat Ali bin Abi Thalib rodhiallohu ‘anhu. Orang-orang munafik atau dungu, menyangka bahwa sekolah-sekolah islamlah yang mengajarkan pola pikir terorisme ini, dan kurikulumnya memuat ideologi ini, dan akhirnya mereka menuntut agar diubah.

Kita katakan bahwa yang memikul pemikiran ini bukan alumni sekolah-sekolah islam, dan tidak menimba ilmu dari ulama-ulama kaum muslimin; sebab mereka sendiri mengharamkan belajar di sekolah-sekolah, sekolah kejuruan, juga universitas-universitas. Mereka meremehkan ulama kaum muslimin, menganggap mereka bodoh, dan sebagai kaki tangan pemerintah. Mereka belajar kepada orang-orang yang menyimpang, orang-orang yang masih muda belia dan picik pikiran, seperti halnya mereka, sebagaimana nenek moyang mereka telah menganggap bodoh para sahabat, dan bahkan mengafirkannya.

Yang kami harapkan, semenjak hari ini adalah: hendaknya masing-masing orang tua memperhatikan anak-anaknya, tidak membiarkan mereka dipengaruhi oleh para penjaja pemikiran-pemikiran kelam, kemudian membawanya kepada jurang kesesatan, dan metode-metode menyeleweng. Hendaknya mereka tidak membiarkan anak-anaknya menghadiri perkumpulan yang mencurigakan, training-training yang tidak jelas arah tujuannya. Tidak membiarkan mereka menghadiri tempat-tempat pesta yang menjadi lahan subur bagi penjaja kesesatan, dan serigala buas. Tidak membiarkan anak-anaknya bepergian keluar negeri Saudi, sedangkan umur mereka masih kecil. Dan atas para ulama agar selalu memberikan pengarahan-pengarahan yang baik, mengajarkan mereka aqidah yang benar, di sekolah-sekolah, masjid-masjid, atau pun di media-media informasi, sehingga tidak meninggalkan kesempatan bagi para penjaja kesesatan yang beraksi pada saat orang-orang baik sedang lalai.

Semoga Alloh membimbing kita semua kepada ilmu yang bermanfaat dan amalan yang soleh. Dan semoga shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. (Harian Ar Riyadh, edisi: Kamis 21/3/1424).

–bersambung–

***

Disusun Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (3)

Tulisan berikut ini adalah lanjutan fatwa para ulama tentang masalah Takfir dan Ciri-ciri khawarij. Insya Alloh pada kesempatan ini, akan kami ketengahkan keterangan dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani serta beberapa komentar dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin terhadap perkataan Syaikh Al Albani rohimahumalloh.

***

Jawaban dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani

Tanya: Syaikh yang terhormat, tidak asing bagi anda, tentang banyaknya kelompok dan jamaah-jamaah sesat di Afghanistan pada waktu itu, yang sangat disayangkan berhasil menebarkan ideologinya yang menyimpang dari manhaj salafushsholeh kepada para pemuda salafy yang berjihad di Afghanistan, di antara pemikiran-pemikiran itu adalah pengafiran pemerintah, dan menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang telah ditinggalkan seperti penculikan, sebagaimana yang mereka dakwakan dan sekarang ini setelah para pemuda salafy, kembali ke negara mereka masing-masing setelah berjihad, sebagian mereka menyebarkan pemikiran dan syubhat tersebut di masyarakat mereka, dan kami telah mengetahui bahwa telah terjadi diskusi panjang antara anda dan salah seorang ikhwan seputar masalah pengafiran, dan karena jeleknya rekaman diskusi tersebut, kami mengharap penjelasan dari anda seputar masalah ini, wa jazakumullahu khoiron.

Jawab: Segala puji hanya milik Alloh, kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan-Nya, kami berlindung kepada Alloh dari kejelekan diri dan perbuatan kami, barang siapa yang Alloh beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Alloh sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk, saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah dengan benar kecuali Alloh, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Sebenarnya masalah takfir bukan hanya tertuju pada pemerintah saja, akan tetapi ditujukan kepada seluruh rakyat juga, pengafiran adalah fitnah lama yang dipelopori oleh salah satu kelompok lama yang menisbatkan dirinya kepada islam, yang dikenal dengan khowarij. Khowarij memiliki beberapa aliran, semuanya disebutkan dalam buku-buku yang membahas tentang aliran-aliran islam, sebagian mereka masih ada hingga hari ini, dengan menggunakan nama lain, yaitu “Ibadhiyah”. Orang-orang Ibadhiyah, hingga beberapa kurun waktu yang lalu, sangat eksklusif, mereka tidak memiliki kegiatan dakwah seperti yang terjadi sekarang ini. Beberapa tahun yang lalu, mereka mulai bergerak dalam dakwah dan menyebarkan beberapa risalah (tulisan singkat), dan sejumlah ideologi yang merupakan ideologi orang-orang khowarij terdahulu. Akan tetapi mereka itu bertopeng dengan perangai syi’ah yaitu taqiyyah (menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang ada pada hati mereka -pent). Mereka mengatakan: kami bukanlah orang khowarij, tapi anda sekalian telah mengetahui bahwa nama itu sama sekali tidak dapat mengubah hakikat sesuatu, mereka itu memiliki kesamaan dengan orang-orang khowarij dalam pengafiran pelaku dosa besar. Dan sekarang ini ideologi khowarij ada pada sebagian kelompok yang memiliki kesamaan dengan dakwah yang benar (Ahlus Sunnah), yaitu dalam mengikuti Al-Qur’an dan As Sunnah, dan menurut pemahaman para sahabat, sebabnya kembali kepada dua hal:

Pertama, dangkalnya ilmu dan pemahaman mereka tentang agama.
Kedua, – dan ini penting sekali-: Mereka itu tidak mempelajari kaidah-kaidah syariat, yang merupakan fondasi bagi dakwah islamiah yang benar. Kaidah-kaidah bila diselisihi oleh seseorang, ia dianggap sebagai salah satu kelompok yang menyimpang dari Al Jama’ah yang dipuji oleh Rosulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits, dan bahkan disebutkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dan dijelaskan bahwa orang yang keluar darinya adalah pembangkang Alloh dan Rosul-Nya, yang saya maksud adalah firman Alloh ta’ala:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa yang menentang Rosul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalannya kaum mukminin maka Kami palingkan dia ke mana dia berpaling dan akan Kami masukkan ke dalam neraka jahanam, dan jahanam itu sejelek-jeleknya tempat kembali.” (QS. An-Nisaa: 115)

Dalam ayat ini Alloh tidak cukup (disebabkan hal yang sangat jelas menurut para ulama’) hanya dengan berfirman: “Barang siapa yang menentang rosul setelah jelas baginya petunjuk” tapi menambahnya dengan “dan dia mengikuti selain jalannya kaum mukminin.”

Dengan demikian, mengikuti jalan kaum mukminin atau tidak mengikutinya, adalah suatu perkara penting sekali, barang siapa mengikuti jalan kaum mukminin maka dialah yang akan selamat di sisi Alloh, dan barang siapa yang menyelisihi jalan mereka, maka balasannya adalah neraka dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali. Dari sinilah banyak komplotan-komplotan yang sesat, baik pada zaman dahulu atau sekarang, dikarenakan mereka tidak komitmen dengan jalan kaum mukminin, mereka mengandalkan akal pikirannya sendiri, menuruti hawa nafsu dalam menafsirkan Al Quran dan As Sunnah, kemudian mereka membuat kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, dan karenanya mereka keluar dari metode salafushsholeh. Penggalan ayat berikut ini:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan mereka mengikuti selain jalannya kaum mukminin”, sangat ditekankan oleh Rosululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Hadits-hadits yang saya isyaratkan sekarang ini (dan akan saya sebutkan sebagian yang saya ingat), bukanlah hal yang asing bagi kaum muslimin secara umum, terlebih-lebih bagi para ulama. Akan tetapi yang mungkin masih asing bagi mereka adalah bahwa hadits-hadits ini menunjukkan akan kewajiban untuk komitmen dengan jalan kaum mukminin dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. Perkara ini banyak dilalaikan oleh kebanyakan ulama, terlebih-lebih mereka yang dikenal dengan komplotan “Jama’ah Takfir”, atau sebagian komplotan yang menisbatkan dirinya kepada “jihad”, padahal pada hakikatnya mereka adalah sempalan “Jama’ah Takfir”. Mungkin saja niat yang ada dalam hati mereka adalah baik dan ikhlas, akan tetapi sekedar niat baik, tidak cukup untuk menjadikan pelakunya termasuk dari orang-orang yang selamat dan berbahagia di sisi Alloh, karena setiap orang mukmin harus memiliki dua hal: Keikhlasan dan mengikuti sunnah Nabi shalallohu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian tidak cukup bagi seorang mukmin hanya ikhlas dalam niat dan bersungguh-sungguh ketika beramal dengan Al Quran dan As Sunnah serta berdakwah kepada keduanya, akan tetapi ia harus selalu komitmen di atas metode yang benar, lurus dan selamat.
Di antara hadits-hadits yang sudah diketahui bersama, yang saya isyaratkan tadi, adalah hadits perpecahan umat menjadi 73 golongan, yaitu sabda beliau shalallohu ‘alaihi wa sallam:

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة فواحدة في الجنة وسبعون في النار وافترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة فإحدى وسبعون في النار وواحدة في الجنة، والذي نفس محمد بيده لتفترقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة واحدة في الجنة وثنتان وسبعون في النار. قيل: يا رسول الله من هم؟ قال: الجماعة، وفي رواية : ما أنا عليه وأصحاببي.

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan masuk surga dan tujuh puluh golongan lainnya masuk neraka, dan Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, tujuh puluh satu golongan masuk neraka, dan satu golongan masuk surga, dan Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, umatku sungguh akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk surga dan tujuh puluh dua golongan lainnya masuk neraka. Dikatakan kepada beliau: ‘Siapakah mereka (golongan yang masuk surga) itu ya Rosulullah?’ Beliau menjawab: ‘Al-Jama’ah’.” (HR. Ibnu Majah, no: 3992, dan disahihkan oleh Al Albani dalam kitab Silsilah As Shohihah no: 203) dan dalam riwayat lain: “Agama yang aku dan sahabatku jalani.” (HR. Ahmad, no: 11798, dan Ibnu Majah, no: 3993, dan At Tirmizi no: 2641)

Kita dapatkan jawaban Nabi shalallohu ‘alaihi wa sallam tersebut sangat sesuai dengan ayat di atas:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan mengikuti selain jalan kaum mukminin”, orang pertama yang tergolong ke dalam keumuman ayat ini adalah sahabat Rosululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam. Rosululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tidak hanya bersabda: “Agama yang aku dan sahabatku jalani”, seandainya beliau hanya berhenti hingga di sini, mungkin sudah cukup bagi seorang muslim yang benar-benar memahami Al Quran dan As Sunnah, akan tetapi beliau benar-benar merealisasikan firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dengan orang-orang mukmin (beliau) sangat pengasih lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 128), di antara tanda kesempurnaan kasih sayang beliau terhadap sahabat dan pengikut beliau: Beliau menjelaskan untuk mereka tanda-tanda golongan yang selamat, yaitu apabila mereka komitmen (berpegang teguh) dengan ajaran agama yang disampaikan oleh Rosululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam dan dijalani oleh para sahabatnya setelah beliau. Dengan demikian, maka tidak boleh bagi kaum muslimin secara umum, dan para da’i, dalam memahami Al Quran dan Sunnah hanya berdasarkan kepada ilmu-ilmu alat belaka, seperti: bahasa Arab, nasikh wal mansukh (yang menghapus dan yang dihapus) dan selainnya, bahkan harus mengacu kepada pemahaman para sahabat Nabi shalallohu ‘alaihi wa sallam, karena mereka (sebagaimana telah terbukti melalui perjalanan hidup dan sejarah mereka) lebih ikhlas kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dalam beribadah, lebih paham terhadap Al Quran dan As Sunnah dibanding kita, dan masih banyak kelebihan yang mereka miliki.

Hadits ini bila ditinjau dari kandungannya, semakna dengan hadits khulafa’urasyidin yang disebutkan dalam kitab Sunan, yang diriwayatkan oleh Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallohu ‘anhu, ia berkata:

وعظنا رسول الله  موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون، فقلنا: كأنها موعظة مودع، فأوصنا يا رسول الله، فقال: عليكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا، وسترون بعدي اختلافا شديدا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم والأمور المحدثات فإن كل بدعة ضلالة.

“Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam memberi pelajaran kepada kami dengan sebuah pelajaran yang membuat hati bergetar dan air mata berlinang, maka kami mengatakan: ‘Seolah-olah ini adalah pelajaran orang yang akan berpisah, berilah kami wasiat ya Rosululloh,’ beliau bersabda: ‘Saya berwasiat kepada kalian untuk selalu setia mendengar dan taat, walaupun (yang memimpin kalian) seorang budak Ethopia, sesungguhnya yang hidup di antara kalian setelahku nanti akan melihat banyak perpecahan, maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunnah khulafa’rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah erat dengan gigi gerahammu, dan berhati-hatilah kalian dari hal-hal yang baru, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan’.” (Telah lalu takhrij hadits ini)

Yang menjadi dalil dari hadits ini adalah jawaban Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pertanyaan tersebut, yang mana beliau menganjurkan umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnahnya, kemudian belum cukup hingga di situ, akan tetapi beliau melanjutkan sabdanya: “dan sunnah khulafa’urasyidin yang mendapat petunjuk”, oleh karena itu, kita harus selalu mengulang-ulangi seputar prinsip penting ini, jika kita benar-benar menginginkan untuk memahami akidah, ibadah, akhlak, perilaku kita (Ahli Sunnah wal Jama’ah). Tidak ada pilihan lain, selain merujuk kepada metode salafushsholeh dalam memahami seluruh perkara yang harus dimiliki oleh setiap muslim ini, agar tercapai keinginan kita untuk menjadi golongan yang selamat.

Dari sinilah komplotan-komplotan yang terdahulu maupun sekarang, tersesat, tatkala mereka enggan mengamalkan kandungan ayat di atas dan hadits khulafa’urasyidin. Sehingga sangat wajar jika mereka menyeleweng, sebagaimana orang sebelum mereka menyeleweng dari Al Quran dan As Sunnah serta metode salafushsholeh. Di antara orang-orang yang menyeleweng adalah orang-orang khowarij, baik khowarij zaman dahulu maupun sekarang. Karena dasar pemikiran takfir (pengafiran) yang saya singgung, dan yang ada pada zaman ini, adalah ayat yang selalu mereka dengungkan, yaitu firman Alloh:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44), kita semua telah mengetahui bahwa ayat ini terulang, dan diakhiri dengan tiga lafaz:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang dzolim.” (QS. Al-Maaidah: 45)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Maaidah: 47)

Di antara kebodohan orang-orang yang berdalil dengan ayat ini pada lafaz pertama:

فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“maka mereka itu adalah orang-orang kafir”, mereka tidak mengerti (paling tidak) dengan sebagian dalil-dalil yang menggunakan kata (kufur), mereka memeganginya, dengan anggapan bahwa maknanya adalah keluar dari agama, dan tidak ada bedanya antara kekafiran orang ini, dengan kekafiran orang-orang musyrik, seperti Yahudi atau Nasrani dan penganut agama selain agama islam. Padahal lafaz kufur yang ada dalam bahasa Al Quran dan As Sunnah tidak selalu bermakna demikian, sebagaimana yang mereka dengungkan, kemudian mereka dengan dasar pemahaman mereka yang salah tersebut, menghukumi (mengafirkan) banyak orang, padahal mereka tidak demikian.

Kata kufur tidaklah hanya bermakna satu, sebagaimana halnya dengan kata zhalim dan fasik. Sebagaimana orang yang dikatakan zhalim atau fasik, tidak berarti dia telah keluar dari agama, demikian juga halnya dengan orang yang dikatakan kafir. Keanekaragaman makna satu kata tersebut, itulah yang pemahaman yang sesuai dengan bahasa Arab, dan juga syariat yang datang dengan bahasa Arab, bahasa Al Quran. Dari sinilah, wajib hukumnya atas setiap orang yang hendak memberikan fatwa terhadap kaum muslimin (baik pemerintah atau rakyat jelata) untuk menguasai ilmu Al Quran dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafushsholeh.

Al Quran dan As Sunnah (demikian juga yang berhubungan dengan keduanya) tidak mungkin untuk dipahami, melainkan dengan menguasai bahasa Arab dan sastranya, di antara yang dapat membantu untuk menguasai hal itu adalah dengan cara merujuk kepada pemahaman orang-orang sebelumnya dari kalangan ulama, khususnya tiga generasi tiga pertama, yang telah mendapatkan persaksian baik.

Kita kembali ke ayat di atas:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir”, apa yang dimaksud dengan kafir di sini? Apakah keluar dari agama atau yang lain?

Di sini diperlukan kejelian dalam memahami ayat ini, karena mungkin saja maksudnya adalah kufur amalan, yaitu melakukan beberapa amalan yang keluar dari sebagian hukum islam. Dan yang menguatkan pemahaman kita ini adalah penjelasan habrul ummah dan penerjemah Al Quran, yaitu Abdullah bin Abbas radhiallohu ‘anhu, karena dia adalah salah seorang sahabat yang diakui oleh semua kaum muslimin (kecuali komplotan sesat) bahwa beliau adalah seorang imam yang hebat dalam ilmu tafsir. Seakan-akan beliau mendengar apa yang kita dengar sekarang ini, bahwa ada sekelumit orang yang memahami ayat ini secara lahirnya saja, tanpa perincian. Beliau radhiallohu ‘anhu berkata: “Itu bukanlah kufur yang kalian pahami, itu bukan kufur yang mengeluarkan dari agama, yang dimaksud adalah kekufuran yang lebih ringan dibanding kekafiran (kufrun duna kufrin).” (Riwayat Al Hakim, 2/313, dan ia menyatakan: sanadnya sahih, dan disetujui oleh Adz Dzahaby)

Mungkin yang beliau maksud adalah orang-orang khowarij yang memberontak terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib radhiallohu ‘anhu, lalu di antara akibat dari kesalahpahaman mereka ini adalah: mereka menumpahkan darah orang-orang mukmin, mereka melakukan tindakan yang tidak mereka lakukan dengan orang-orang musyrik. Beliau berkata: “Bukanlah permasalahannya seperti yang mereka katakan, atau yang mereka duga, akan tetapi yang dimaksud adalah kekufuran yang lebih ringan dibanding kekafiran.” Jawaban ringkas dan jelas dari penerjemah Al Quran dalam menafsiri ayat ini, suatu penafsiran yang tidak mungkin kita memiliki kesimpulan dari dalil-dalil tersebut di awal pembicaraanku, kecuali penafsiran ini.

Catatan:
Syaikh Al Utsaimin ketika mengomentari penjelasan Syaikh Al Albani, berkata: Syaikh Al Albani berdalil dengan perkataan Ibnu Abbas radhiallohu ‘anhu, demikian juga halnya dengan ulama lainnya, semuanya menerima dan mendukung penjelasan Ibnu Abbas radhiallohu ‘anhu ini… karena penjelasan beliau ini sesuai dengan banyak dalil. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekafiran.”

Walaupun demikian, sesungguhnya memerangi seorang muslim tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama islam (murtad), berdasarkan firman Alloh:

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“Dan apabila ada dua golongan dari kaum mukminin berperang, maka damaikanlah antara keduanya” sampai pada firmannya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al Hujuraat: 8-9)

Akan tetapi karena kenyataan ini tidak sesuai dengan keinginan orang-orang yang telah terfitnah dengan pengafiran orang lain, mereka berkata: Penjelasan Ibnu Abbas ini tidak dapat diterima, dan tidak benar penisbatannya kepada beliau. Maka kita katakan kepada mereka: Bagaimana tidak benar, padahal para ulama yang lebih besar, lebih mulia, lebih pandai dibanding kalian tentang ilmu hadits telah menerimanya, kemudian kalian tetap tidak mau menerimanya juga? Cukup bagai kami bahwa para ulama besar, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim dan lainnya telah menerimanya, dan berbicara sesuai dengannya, menukilkannya, dengan demikian penjelasan ini sahih. Kemudian, anggaplah bahwa penjelasan ini tidak sahih, sebagaimana anggapan kalian, maka kami masih memiliki banyak dalil yang membuktikan bahwa kata “kufur/kafir” bisa saja diucapkan, akan tetapi tidak dimaksudkan darinya kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, sebagaimana halnya pada ayat di atas, dan pada sabda Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam:

اثنان في الناس هما بهم كفر: الطعن في النسب والنياحة على الميت

“Ada dua perkara amalan manusia, keduanya adalah kekufuran, yaitu: mencela nasab, dan meratapi orang mati”, jelas sekali bahwa kedua amalan ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama, akan tetapi -sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al Albani pada awal penjelasannya: Sedikitnya ilmu, kurang memahami kaidah-kaidah umum dalam syariatlah yang menjadikan mereka sesat.

Kemudian ada hal ketiga yang saya tambahkan, yaitu: Keinginan jahat, yang menjadikan mereka salah paham, karena apabila seseorang menginginkan sesuatu, menjadikan pemahamannya selalu mengarah kepada keinginannya, kemudian ia akan memutar balikkan dalil, agar mendukung keinginannya. Di antara kaidah yang terkenal sekali di kalangan para ulama’ adalah “Berdalil terlebih dahulu, kemudian menyimpulkan” bukan menyimpulkan terlebih dahulu kemudian mencari dalil, sehingga akibatnya engkau sesat. Yang paling penting, ada tiga sebab bagi kesesatan mereka:

  1. Ilmu yang dangkal.
  2. Tidak menguasai kaidah-kaidah umum dalam syariat.
  3. Kesalahpahaman yang dilandasi oleh keinginan jahat.

***Selesai Perkataan Syaikh Al Utsaimin rohimahulloh***

Sesungguhnya kata kufur disebutkan dalam banyak dalil dan tidak mungkin untuk ditafsiri dengan “keluar dari agama”, di antaranya hadits yang sudah terkenal, dalam kitab As Shohihain, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر

“Mencela orang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran.” (HR. Bukhori, pada kitab: Al Iman, Bab: “Seorang mukmin takut bila amalannya gugur, sedangkan ia tidak menyadarinya”, no: 48, dan Muslim pada kitab: Al Iman, bab: “Penjelasan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: Mencela seorang muslim adalah kefasikan” no: 64), kekafiran di sini maksudnya adalah kemaksiatan, yaitu keluar dari batas ketaatan, akan tetapi Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan satu-satunya orang yang paling fasih dalam mengucapkan huruf “dhod” membuat aneka ragam ungkapan, dengan tujuan agar lebih larangannya lebih terkesan, sehingga beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mencela orang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran.”

Dari sisi lain, apakah mungkin penggalan pertama dari hadits ini yaitu: “Mencela orang muslim adalah kefasikan” ditafsirkan dengan kefasikan yang disebut dalam ayat ketiga di atas:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka adalah orang-orang fasik”?

Jawabannya: Mungkin bisa jadi kefasikan ini sama dengan kekufuran yang berarti keluar dari agama, dan bisa jadi kefasikan itu sama dengan kekufuran yang tidak sampai keluar dari agama, yaitu yang dimaksudkan oleh penerjemah Al Quran dengan perkataannya: “kekufuran yang lebih ringan dibanding kekafiran”, dan hadits ini menguatkan bahwa kata “kufur/kafir” bisa saja bermakna demikian, kenapa?

Karena Alloh ‘azza wa jalla berfirman dalam Al Quran:

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

“Dan jika dua golongan dari kaum mukminin berperang, maka damaikanlah diantara keduanya, dan bila salah satu diantaranya berbuat aniaya terhadap yang lain, maka perangilah yang berbuat aniaya itu hingga kembali kepada perintah Alloh.” (QS Al Hujuraat: 9)

Alloh menyebutkan di sini golongan orang mukmin yang berlaku aniaya yang memerangi golongan orang mukmin yang benar, tapi Alloh ‘azza wa jalla tidak menghukuminya sebagai orang kafir (keluar dari agama) padahal hadits mengatakan “…memeranginya adalah kekafiran.”

Dengan demikian, memeranginya adalah kekufuran yang lebih ringan dibanding kekafiran, seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat tadi. Sehingga seorang muslim memerangi orang muslim lainnya adalah aniaya, pelanggaran, kefasikan dan kekafiran, akan tetapi hal ini bisa jadi yang dimaksud adalah kufur amalan dan mungkin juga bermaksud kufur keyakinan. Dari sini datanglah perincian detail, yang dijelaskan oleh Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh, dan setelah beliau oleh muridnya, yaitu Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, dua orang ini berjasa dalam mendengungkan pembagian kekufuran ini. Pembagian yang benderanya dikibarkan oleh penerjemah Al Quran dalam ungkapan yang padat dan ringkas tersebut.

Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim rohimahumallohu selalu mendengung-dengungkan pentingnya membedakan antara kufur i’tiqadi (kufur keyakinan) dan kufur amali (kufur amalan). Jika hal ini diabaikan, maka seorang muslim tanpa ia sadari akan terjerumus ke dalam kubangan menentang jamaah kaum muslimin, sebagaimana orang-orang khowarij terdahulu dan pengekornya sekarang ini telah tercebur ke dalamnya.

Dengan demikian sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam: “dan memeranginya adalah kekufuran” tidak secara mutlak berartikan keluar dari agama. Hadits-hadits semisal ini banyak sekali, seandainya ada yang mau mengumpulkannya, niscaya ia akan menghasilkan satu buku yang bermanfaat sekali, yang di dalamnya terdapat bantahan kuat terhadap orang-orang yang kolot pada pemahaman picik mereka terhadap ayat tersebut, kemudian menafsirinya dengan kufur i’tiqodi. Saat ini saya rasa cukup dengan menyebutkan hadits ini, sebagai dalil yang kuat bahwa memerangi orang muslim lain adalah kufur dengan makna kufur amali, bukan kufur i’tiqadi.

Jika kita perhatikan Jama’ah Takfir (atau sempalan mereka) dan vonis mereka terhadap pemerintah serta orang yang hidup di bawah kekuasaannya, lebih-lebih yang tunduk kepada kepemimpinan dan menerima jabatan dari mereka, maka akan kita dapatkan bahwa sudut pandang mereka adalah: mereka (pemerintah dan bawahannya) telah melakukan maksiat dan mereka telah kafir karenanya.

Di antara hal yang saya diingatkan oleh penanya tadi, bahwa saya berjumpa dengan sebagian mereka yang dahulunya bergabung dengan Jama’ah Takfir, kemudian Alloh memberinya hidayah, saya bertanya kepadanya: “Kalian dahulu mengafirkan pemerintah, akan tetapi mengapa kalian mengafirkan imam-imam masjid, para khatib, muazin, dan takmir masjid, mengapa kalian mengafirkan para guru-guru agama di sekolahan?” Mereka berkata: “Karena mereka itu ridho dengan sistim kepemimpinan pemerintah yang berhukum dengan selain hukum Alloh.”

Saya berkata: Jika ridhonya yang anda sebut adalah ridho dalam hati dengan hukum selain hukum Alloh, maka pada waktu itu juga kufur amalan berubah menjadi kufur i’tiqadi (keyakinan), pemerintah manapun yang berhukum dengan selain hukum Alloh, dan dia berpendapat bahwa hukum tersebut layak untuk dijalankan pada zaman sekarang, dan bahwa hukum syariat yang ada dalam Al Quran dan As Sunnah tidak layak lagi, maka tidak diragukan lagi bahwa pemerintah ini telah kufur i’tiqad dan bukan kufur amali, dan barang siapa yang ridho sepertinya, maka dia pun sama hukumnya. Kalian (pertama) tidak dapat untuk mengklaim bahwa setiap pemerintah yang berhukum dengan undang-undang barat atau dengan banyak sebagian besar dari undang-undang barat tersebut, bahwa seandainya dia itu ditanya, maka dia akan menjawab: bahwa berhukum dengan undang-undang ini adalah kebenaran dan yang layak untuk diterapkan pada zaman ini, dan tidak boleh berhukum dengan hukum islam? Karena seandainya mereka berkata demikian, niscaya (anpa diragukan lagi) mereka telah kafir (murtad).

Jika alihkan pandangan kita kepada rakyat mereka, sedangkan ada di antara mereka: para ulama, orang-orang shalih, …dst, maka mengapa kalian mengklaim mereka sebagai orang kafir, hanya karena mereka itu hidup di bawah sistem kepemerintahan, persis sebagaimana yang terjadi pada diri kalian? Akan tetapi kalian mengklaim bahwa mereka itu telah kafir, murtad dari agama, berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Alloh adalah wajib. Kemudian kalian mencari alasan untuk diri kalian dengan mengatakan: menyelisihi hukum syariat dengan perbuatan saja, tidak menjadikan pelakunya dihukumi murtad, keluar dari agama? Dan alasan ini juga yang dikatakan oleh selain kalian, hanya saja kalian mengklaim orang lain telah kafir dan murtad.

Di antara yang diskusi yang membuktikan kesalahan dan kesesatan mereka: Saya berkata kepada mereka: kapan seorang muslim yang mengucapkan Laa ilaha illallohu wa anna Muhammadur Rosulullahu, dia sholat, baik sedikit atau banyak, dapat dihukumi telah kafir keluar dari islam? apakah cukup dengan sekali berhukum dengan undang-undang manusia, atau ia harus menyatakan dengan perilakunya atau lisannya bahwa dia telah keluar dari agama?

Mereka nampak kebingungan, maka saya pun terpaksa mendatangkan untuk mereka contoh berikut: “Seorang jaksa yang berhukum dengan syariat, dan itulah kebiasaan dan peraturannya, akan tetapi pada satu peradilan, dia tergelincir dan memutuskan hukuman yang menyelisihi syariat, apakah ia dikatakan telah berhukum dengan selain hukum Alloh atau tidak?” Mereka menjawab: “Tidak.” Saya bertanya: “Mengapa tidak?” Mereka menjawab: “Karena hal itu terjadi hanya sekali saja.” Saya katakan: “Baik, kalau ia mengulangi keputusan tersebut dua kali, atau dia memutuskan hukum lain, tapi menyelisihi syariat juga, apakah kufur?” Saya pun mengulang-ulang tiga atau empat kali: “Kapan kalian dapat mengatakan dia itu telah kafir?” Mereka tidak akan dapat meletakkan batasan jumlah keputusan hukum yang menyelisihi syariat, sehingga mereka tidak mengafirkan orang yang belum mencapai batasan tersebut.

Padahal mereka dapat dengan mudah memberikan batasan, yaitu bila telah diketahui bahwa pada putusan hukum pertama, dia menganggap baik berhukum dengan undang-undang selain hukum Alloh, dan menganggap jelek hukum syariat, pada saat inilah klaim bahwa ia telah murtad keluar dari agama islam, benar adanya, walau hanya sekali. Kebalikan dari itu, seandainya engkau melihatnya (jaksa) berpuluh-puluh kali dan pada berbagai perkara, ia menyelisihi syariat dalam keputusannya, dan jika engkau bertanya kepadanya: “Mengapa anda berhukum dengan selain hukum Alloh?” dan dia menjawab: “Saya takut akan keselamatan diriku, atau saya disuap,” dan ini lebih jelek dari yang pertama …. Engkau tidak dapat mengatakan dia telah kafir, hingga ia mengutarakan isi hatinya, bahwa dia tidak setuju dengan hukum Alloh ‘azza wa jalla, hanya pada waktu itulah engkau bisa mengatakan bahwa dia itu kafir dan murtad.

Kesimpulannya sekarang adalah: Kita harus mengetahui bahwa kekufuran itu seperti kefasikan dan kezaliman, terbagi menjadi dua:

  1. Kekufuran, kefasikan dan kezaliman yang mengeluarkan pelakunya dari agama, semuanya itu kembali kepada penghalalan secara keyakinan.
  2. Kebalikan dari itu (penghalalan hati -pent) kembali kepada penghalalan dengan amalan, Seluruh perbuatan maksiat (terutama yang telah merajalela pada zaman ini) seperti riba, zina, minum khomer, dan selainnya, semua ini adalah kufur amalan.

Sehingga kita tidak boleh mengafirkan pelaku maksiat, hanya karena mereka melakukannya, kecuali jika kita mendapatkan sesuatu yang menunjukkan akan isi lubuk hati mereka, bahwa mereka tidak meyakini akan keharaman apa yang Alloh dan Rosul-Nya haramkan. Apabila kita telah mengetahui bahwa mereka telah jatuh ke dalam pelanggaran secara keyakinan, maka pada saat itu kita hukumi bahwa mereka itu kafir, keluar dari agama islam. Adapun jika kita tidak mengetahui yang demikian itu, maka tidak ada jalan bagi kita untuk mengklaim mereka telah kafir, karena kita takut tertimpa ancaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

أيما امرئ قال لأخيه يا كافر، فقد باء بها أحدهما إن كان كما قال، وإلا رجعت عليه

“Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya: ‘Wahai orang kafir,’ maka pengafiran itu pasti mengenai salah seorang dari mereka, jika betul apa yang ia katakan (maka habis perkara -pent) jika tidak, maka ucapan itu akan kembali kepada dirinya.” (Telah lalu takhrij hadits ini) dan hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak sekali.

Saya mengingatkan pada kesempatan ini dengan kisah seorang sahabat yang berperang melawan salah seorang musyrik, tatkala orang musyrik tersebut telah berada di bawah tebasan pedang sahabat tersebut, dia (orang musyrik itu) berkata: “Asyhadu alla ilaha illallohu” dan sahabat tersebut tidak menghiraukannya, lalu dia pun membunuhnya, ketika kejadian ini sampai kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat mengingkarinya, maka sahabat itu pun beralasan bahwa orang tersebut mengucapkan syahadat hanya karena takut dibunuh, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

هلا شققت عن قلبه؟

“Mengapa engkau tidak membelah hatinya.” (Telah lalu pula takhrij hadits ini)

Kesimpulannya kufur i’tiqod tidak berkaitan dengan amalan, ia hanya berkaitan dengan hati, dan kita tidak bisa mengetahui apa yang ada dalam hati orang fasik, penjahat, pencuri, penzina, pemakan riba dan lainnya, kecuali kalau ia mengutarakan dengan lisannya tentang isi hatinya. Adapun perbuatannya, hanya menunjukkan bahwa ia melanggar syariat, yaitu pelanggaran dalam bentuk amalan, sehingga kita hanya dapat berkata: “Anda telah melanggar, anda telah berbuat kefasikan, anda telah berbuat kejahatan, akan tetapi kita tidak dapat mengatakan: anda telah kafir atau murtad dari agamamu,” hingga nampak darinya sesuatu yang bisa kita jadikan alasan di sisi Alloh ‘azza wa jalla dari menghukuminya sebagai orang murtad. Dan setelah itu datanglah hukum yang sudah diketahui bersama dalam agama islam, yaitu yang terkandung dalam sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

من بدل دينه فاقتلوه

“Barang siapa yang mengubah agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhory, pada kitab: Memerintahkan orang yang murtad untuk bertaubat, bab: “Hukum orang murtad” no: 6922)

Kemudian saya senantiasa mengatakan kepada mereka yang selalu menggembar-nggemborkan pengafiran pemerintah, Anggap mereka itu benar-benar telah kafir, keluar dari agama islam, dan seandainya ada pemerintahan yang lebih tinggi dibanding mereka, dan telah terbukti bahwa mereka telah kafir, keluar dari agama islam, maka wajib atas pemerintah yang lebih tinggi tersebut, untuk menegakkan hukuman kepadanya. Nah sekarang secara realita, tindakan apa yang kalian lakukan, kita seandainya kita menerima bahwa semua pemerintah yang ada telah kafir dan murtad? Apa yang dapat kalian perbuat? Mereka orang-orang kafir tersebut telah menjajah negara-negara islam, dan kita di sini (sangat disayangkan) ditimpa musibah dengan adanya penjajahan orang-orang Yahudi terhadap Palestina, apa yang bisa kami dan kamu sekalian lakukan untuk menghadapi mereka? Sehingga kalian ingin menghadapi pemerintah yang kalian tuduh telah kafir secara sendirian?

Catatan:
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahulloh menimpali dengan berkata: “Ungkapan beliau ini sangat bagus sekali, maksudnya: mereka yang memvonis para pemerintah muslim telah kafir, apa yang dapat mereka petik? Apakah mereka dapat menggulingkannya? Tidak mungkin, Apabila orang-orang Yahudi telah menjajah Palestina semenjak kurang lebih 50 tahun silam, dan bersamaan dengan itu, seluruh umat islam, baik bangsa Arab atau lainnya, tidak mampu untuk mengusir mereka? Maka apa gunanya kita mengusik pemerintahan yang membawahi kita? Padahal kita sadar bahwa kita tidak mampu untuk menggulingkan mereka, dan akan terjadi pertumpahan darah, perampokan harta benda, bahkan bisa jadi kehormatan kita, dan kita tidak akan sampai kepada tujuan. Kalau demikian apa gunanya? Walaupun seandainya ada orang yang meyakini dalam hatinya, bahwa pemerintahan tersebut benar-benar telah kafir, apa gunanya kita mengumumkan, menyebarkannya, dan menyulut fitnah?

Perkataan Syaikh Al Albani ini bagus sekali. Akan tetapi saya sedikit berbeda pendapat dengan beliau dalam masalah: Bahwa tidak boleh divonis kafir orang yang menerapkan hukum selain hukum Allah, kecuali bila telah terbukti bahwa tindakannya itu halal (boleh), permasalahan ini perlu dibahas lebih lanjut. Karena kita berkata: Barang siapa yang menerapkan hukum/undang-undang hukum Allah, sedang ia meyakini bahwa undang-undang selain hukum Allah lebih bagus, maka ia telah kafir, walaupun ia menerapkan hukum Allah, dan kekafirannya adalah kekafiran secara keyakinan (ideologi). Akan tetapi yang kita bicarakan di sini adalah amalan, menurut praduga saya, bahwa tidak mungkin ada orang yang menerapkan undang-undang yang bertentangan dengan syariat Allah, ia terapkan kepada masyarakatnya, kecuali bila ia menganggap bahwa perbuatannya tersebut dibolehkan, dan meyakini bahwa undang-undang tersebut lebih baik dibanding undang-undang syariat, sehingga ia benar-benar telah kafir, dan inilah yang nampak secara lahir. Kalau tidak demikian, lantas apa yang menyebabkan ia melakukan hal itu? Mungkin saja yang menyebabkan ia melakukan hal itu, adalah rasa takut kepada orang yang lebih kuat dari dirinya, bila ia tidak melakukannya, sehingga yang terjadi di sini adalah ia telah menjilat kepada orang tersebut, dengan demikian kita katakan: Sesungguhnya orang ini sebagaimana umumnya para penjilat dalam amalan maksiat lainnya. Dan yang paling penting bagi kita dalam bab ini adalah: pengafiran yang hanya mempertimbangkan amalan, dan pemberontakan terhadap pemerintah tersebut, inilah yang menjadi masalah.

***Selesai Perkataan Syaikh Al Utsaimin rohimahulloh***

Apakah tidak lebih baik bagi kalian untuk meninggalkan saja perkara ini, (pengafiran pemerintah -pent) dan kalian mulai dengan membangun fondasi yang di atasnyalah negara islam akan berdiri, yaitu dengan mengikuti sunnah Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu beliau mendidik dan mengader sahabatnya di atas peraturan negara islam dan prinsip-prinsipnya. Metode demikian itu sering kita ungkapkan dalam berbagai kesempatan semacam ini, yaitu: Wajib atas setiap jama’ah islam untuk bersungguh-sungguh dalam upaya mengembalikan hukum islam, bukan hanya dibumi islam, bahkan diseluruh penjuru dunia, dalam rangka mengamalkan firman Alloh ta’ala:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus Rosul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya di atas semua agama walaupun orang-orang musyrik itu benci.” (QS. Ash-Shaf: 9)

Dan telah disebutkan dalam sebagian hadits shohih, bahwa ayat ini akan terealisasi pada masa yang akan datang, dan agar kaum muslimin bisa merealisasikan dalil Al Quran ini, apakah caranya dengan mengudeta pemerintah yang mereka vonis telah kafir, keluar dari agama islam?

Kemudian dengan prasangka mereka ini (dan ini adalah prasangka yang tidak benar) mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Apa solusinya? Bagaimana metodenya? tidak diragukan lagi bahwa metodenya adalah metode yang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu mendengungkan dan mengingatkan para sahabat dengannya, pada setiap khotbah, yaitu:

وخير الهدي هدي محمد 

“Dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad.” (HR. Muslim pada kitab: Al Jum’ah, bab: “Memendekkan sholat dan khotbah” no: 867)

Wajib atas seluruh kaum muslimin, terutama mereka yang memiliki semangat untuk mengembalikan kejayaan islam, agar memulai perjuangannya dari arah yang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam memulai darinya, yaitu dengan menerapkan metode yang sering saya sebut dengan dua kata singkat: “At Tashfiyah dan At Tarbiyah” (Pembersihan dan Pendidikan). Yang demikian ini, dikarenakan kita memahami suatu hal yang banyak dilalaikan (atau pura-pura lalai) oleh mereka orang-orang yang ekstremis, yang tidak memiliki ambisi, kecuali mengumandangkan pengafiran terhadap pemerintah, kemudian tidak ada hasilnya sama sekali, dan mereka akan senantiasa mengumandangkan pengafiran terhadap pemerintah, dan setelah itu tidak akan muncul dari mereka kecuali api fitnah.

Fakta yang telah kalian ketahui sendiri, pada beberapa tahun terakhir ini, dimulai dari fitnah di Masjid Haram di kota Mekkah, hingga fitnah yang terjadi di Mesir dan terbunuhnya Presiden Anwar Sadat serta ditumpahkannya darah banyak kaum muslimin yang tak berdosa, dengan sebab fitnah ini, dan yang terakhir di Suria, kemudian sekarang di Mesir dan Aljazair, sangat disayangkan semua ini disebabkan mereka menyelisihi banyak dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah, dan yang paling utama adalah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Dan sungguh ada bagi kalian pada diri Rosululloh sauri teladan yang baik bagi yang mengharapkan Alloh dan hari kemudian dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. Al-Ahzaab : 21)

Jika kita ingin menegakkan hukum Alloh di muka bumi, apakah kita memulainya dengan memerangi pemerintah, padahal kita tidak mampu untuk memerangi mereka? Apakah kita memulai dengan sesuatu yang Rosul shalallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwah dengannya? tidak diragukan lagi bahwa jawabannya adalah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Dan sungguh ada bagi kalian pada diri Rosululloh sauri teladan yang baik.”

Akan tetapi dengan apa Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam memulai? kalian telah mengetahui bahwa beliau memulai dengan mendakwahi orang-orang yang diduga siap untuk menerima kebenaran, kemudian dari mereka ada yang menerima, sebagaimana yang telah diketahui bersama dalam sejarah Nabi. Lalu terjadi penyiksaan dan masa-masa susah, yang menimpa kaum muslimin di kota Mekkah, lalu turunlah perintah untuk berhijrah yang pertama, kemudian kedua, dst. Hingga akhirnya Alloh memberikan kekuatan kepada kaum muslimin di kota Madinah, dari sinilah dimulai gerilya, dan peperangan antara kaum muslimin dan orang-orang kafir dari satu sisi, dan dengan orang-orang yahudi dari sisi lain.

Dengan demikian kita harus memulai dakwah kita dengan mengajari masyarakat agama islam, sebagaimana yang dilakukan oleh Rosul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi kita tidak cukup hanya dengan mengajari saja, karena islam telah dimasuki oleh banyak hal yang bukan darinya, dan yang tidak ada kaitan dengannya, berupa bid’ah dan hal-hal yang direkayasa oleh manusia. Semua itu di antara sebab runtuhnya istana islam. Oleh karena itu, wajib atas para da’i agar memulai dakwahnya dengan pembersihan agama islam dari setiap hal yang menyusup ke dalamnya, dan yang kedua adalah mengiringi pembersihan ini dengan mendidik generasi islam di atas ajaran islam yang telah suci.

Apabila kita mempelajari ideologi dan kiprah komplotan-komplotan islam yang ada sekarang ini, semenjak seabad yang lalu, kita dapatkan mereka tidak berhasil meraih manfaat dan juga tidak mempersembahkan sesuatu apapun yang berarti kepada agama islam, walaupun mereka itu telah berteriak dan mendengungkan ingin mendirikan negara islam. Mereka tumpahkan banyak darah orang-orang yang tak bersalah dengan dalih semu ini, tanpa menghasilkan apapun, akan tetapi hingga saat ini kita masih mendengar dari mereka keyakinan-keyakinan yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah, dan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan keduanya.

Dan pada kesempatan ini saya katakan: ada satu ucapan salah seorang da’i yang saya harapkan dari para pengikutnya agar komitmen dan merealisasikannya, yaitu: “Tegakkanlah negara islam di hatimu, niscaya negara islam akan ditegakkan di bumimu.” (Yaitu ustad Hasan Al Hudhaiby rohimahulloh, salah seorang pembina kelompok Ikhwanul Muslimin. Syaikh Muhammad bin Utsaimin rohimahulloh berkata: Ucapan ini baik, wallahul musta’an, karena seorang muslim bila telah memperbaiki akidahnya, sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, maka tidak diragukan lagi bahwa sesudah itu ibadah, akhlak, dan perilakunya dst akan baik pula, akan tetapi ucapan yang baik ini sangat disayangkan tidak diamalkan oleh mereka, dan mereka senantiasa meneriakkan pendirian negara islam tanpa hasil, mereka benar-benar seperti ucapan seorang penyair:

ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها إن السفينة لا تجري على اليبس

Keselamatan kau dambakan, tapi jalannya kau tinggalkan
Sungguh bahtera takkan berlayar di daratan

Semoga penjelasan yang saya sebutkan ini sudah cukup sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. (Fitnatut Takfir, disusun oleh Ali bin Husain Abu Lauz hal. 44).

–bersambung–

***

Disusun Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (2)

Berikut ini lanjutan fatwa para ulama tentang masalah Takfir dan Ciri-ciri khawarij. Insya Alloh pada kesempatan ini, akan kami ketengahkan keterangan dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh Alu Syaikh dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahumalloh.

***

Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh

Dalam satu majelis di Masjidil Haram, beliau menggariskan metode interaksi dengan orang-orang yang menempuh jalan hidup ekstrem ini. Beliau berkata: “Kebanyakan orang yang menganut pemikiran ini, adalah orang-orang bodoh yang diperalat, disebabkan ilmu dan pengalaman mereka masih dangkal. Mereka dijangkiti pemikiran takfir (pengafiran) ini dari sekelompok orang yang menjadikan metode ini, sebagai batu loncatan untuk merealisasikan rencana jahat mereka. Mereka mengusung pemikiran ini, guna mengelabui orang-orang yang dangkal ilmu, pemahaman dan pengalaman. Kewajiban setiap muslim yang menemui orang lain yang meyakini pemikiran ini, hendaknya mengingatkan, memaparkan kebatilan ideologi dan alur pikirannya. Bila ia sadar dan segera kembali kepada akal sehatnya, maka inilah yang diharapkan. Tapi kalau keras kepala, ngotot pada pendiriannya, maka jangan sampai orang-orang tersebut dibiarkan leluasa menodai generasi muda kita dan agamanya. Ideologi takfir merupakan satu dosa dan kesalahan, di belakangnya ada skenario perusakan umat, mereka menempuh segala macam cara untuk mewujudkan rencananya.

Saya menasihati saudara-saudaraku agar senantiasa mewaspadai propaganda yang mengafirkan komunitas muslim, mengajak kepada perlawanan terhadap pemerintah dan angkat senjata melawan kaum muslimin. Saya juga mengingatkan orang yang berfatwa kepada mereka agar takut kepada Alloh, tentang dirinya, kaum muslim serta masyarakat muslim. Dia harus mengetahui bahwa jalan yang sedang ia tempuh adalah jalan ahlul bid’ah.

Salafush Sholeh begitu jauh dan terhindar dari jalan yang salah ini. Mereka senantiasa menganjurkan masyarakat agar tetap setia dan taat serta sabar menghadapi pemerintah, meski mereka berbuat kecurangan maupun kezaliman. Mereka juga mewanti-wanti agar tidak melawan penguasa, demi memelihara darah umat, kebulatan tekad dan menyatukan barisan. Hendaknya kalian bertakwa kepada Alloh pada umat Islam, waspadailah kemurkaan Alloh dan siksa-Nya. Para mufti (tanpa dasar ilmu), yang tidak bertaubat, umat Islam harus berhati-hati dan memperingatkan umat serta menjauhi mereka. Semoga Alloh melindungi umat islam dari kejelekan dan fitnah, baik yang nampak maupun tersembunyi.” (Harian ‘Ukadl edisi: 776 tanggal 4-6-1424 H).

Perkataan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin

Sudah diketahui bahwa vonis kafir harus melalui dua tahapan penting:

Pertama:
Adanya dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut merupakan kekufuran, mengeluarkan dari agama. Sebab ada dalil-dalil yang menyebut satu perbuatan sebagai kekufuran, namun yang dimaksud bukan kekufuran yang menyeret pelakunya keluar dari agama. Maka anda harus tahu bahwa dalil ini menunjukkan bahwa amalan ini atau pelanggaran ini merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama.

Kedua:
Aplikasi dalil tersebut pada individu yang melakukan perbuatan yang menyatakan dalam dalil sebagai kekufuran. Pasalnya, tidak setiap pelaku perbuatan yang mengafirkan menjadi kafir, sebagaimana ditunjukkan dalam kandungan dalil Al Quran maupun As Sunnah. Alloh berfirman:

مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ

“Barang siapa kafir kepada Alloh sesudah beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang pedih.” (QS. An Nahl: 106)

Kalau ada seseorang dipaksa untuk berbuat atau mengatakan satu kekufuran dan terpaksa melakukannya, berdasarkan kandungan Al Quran dia tidak kafir kendati perbuatannya kufur. Misalnya: dia dipaksa untuk bersujud kepada berhala, kemudian ia melakukannya, perbuatan sujud kepada berhala adalah kufur, tidak ada perdebatan, namun dia terpaksa melakukannya, sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanan, ia tetap yakin bahwa berhala tersebut tidak berhak untuk disembah, dan bersujud kepadanya adalah perbuatan kufur, maka dia terbebas dari apapun.

Contoh lain: ada seorang yang dipaksa untuk mengucapkan perkataan kufur, sehingga ia mengatakan: Trinitas (Alloh adalah Tuhan ketiga dari tiga tuhan). Apakah orang ini kafir, sedangkan hatinya yang tetap tenang dan yakin dengan keimanannya? Jawabannya: tidak.

Adapun dalil dari As Sunah, adalah: Nabi pernah bercerita tentang kegembiraan Alloh terhadap taubat seorang hamba, satu kegembiraan yang melebihi kegembiraan seseorang yang kehilangan unta tunggangannya yang membawa perbekalan makan dan minumannya, kemudian lelaki itu berusaha mencarinya, tapi pencariannya tidak membuahkan hasil, akhirnya dia berbaring di bawah sebuah pohon, menanti ajal. Pada Saat kritis tersebut, tiba-tiba untanya berdiri di hadapannya, ia pun langsung meraih tali kendalinya, seraya berkata (karena luapan kegembiraan): “Ya Alloh Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.” Ia salah ucap, karena hanyut oleh luapan kegembiraan (HR. Muslim no: 2747 dari hadits Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu). Apakah orang ini kafir? Jawabannya: Tidak.

Demikian pula seorang banyak berbuat maksiat, namun ia merasa takut akan menerima siksaan Alloh, sehingga mengatakan kepada keluarganya: “Jika aku mati, bakarlah jasadku, kemudian tumbuk dan sebarkan (abunya) di lautan. Demi Alloh kalau Rabbku berhasil menemukan jasadku, niscaya aku akan disiksa dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada siapa pun dari kalangan makhluk.” Akhirnya keluarganya pun menjalankan wasiatnya. Kemudian Alloh menghimpun seluruh bagian jasadnya, dan bertanya kepadanya. Ia mengaku: bahwa ia melakukannya karena takut kepada Alloh, (dia mengira bahwa Alloh tidak kuasa untuk menghimpun kembali jasadnya). Alloh mengampuninya, meskipun keraguannya akan kekuasaan Alloh merupakan kekufuran, namun dia tidak ingin menyifati Alloh dengan sifat tak berdaya, tapi ia melakukannya karena merasa takut kepada-Nya. Dia mengira bahwa pelarian yang dia lakukan akan menyelamatkannya dari siksa Alloh.

Dengan demikian, wahai saudara-saudaraku, harus ada dua hal penting dalam pengkafiran:

Pertama:
Adanya dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut kufur, mengeluarkan pelakunya dari agama.

Kedua:
Hukum kekufuran tersebut telah relevan dengan pelaku tersebut. Sebab bisa jadi ada padanya penghalang dari vonis kafir, meskipun ucapan atau perbuatannya kufur. Perkara-perkara yang menghalangi penjatuhan vonis kafir telah gamblang dijelaskan oleh syariat. Alhamdulillah, jika dua syarat ini tidak terpenuhi dan ada orang mengafirkan saudaranya, maka dia sendiri yang kafir. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa orang yang memanggil orang lain dengan ucapan “wahai orang kafir” atau dengan “wahai musuh Alloh” padahal tidak demikian adanya, maka vonis ini menjadi bumerang bagi dirinya, dialah yang kafir, dialah yang musuh Alloh. Kalau ada orang yang bertanya, bagaimana mungkin dia yang menjadi kafir, padahal dia mengafirkan orang tersebut karena rasa kecemburuannya untuk Alloh?

Kita jawab: bahwa dia mengafirkan karena mendaulat dirinya sebagai pembuat syariat bersama Alloh, dengan mengklaim orang tersebut telah kafir, padahal Alloh belum mengafirkannya, ia telah menjadikan dirinya sebagai tandingan Alloh dalam pengafiran. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain: bisa jadi Alloh mengecap hatinya, sehingga akhir kehidupannya bermuara pada kekufuran kepada Alloh, dengan nyata dan jelas. Sehingga masalah ini benar-benar berbahaya, dan kita tidak berhak untuk mengafirkan orang yang belum dikafirkan oleh Alloh dan Rasul-Nya.

Sebagaimana kita juga tidak berwenang untuk mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, juga menghalalkan sesuatu yang tidak dihalalkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, juga mewajibkan hal yang tidak wajibkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Akan semakin fatal, jika pengafiran disematkan pada pemimpin umat ini (ulul amri), yang terdiri dari para ulama dan pemerintah, berdasarkan firman Alloh:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Alloh dan taatilah Rasul dan ulul amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59)

Menurut ulama tafsir, ulul amri adalah ulama dan umara. Ulama mengendalikan perkara umat dalam aspek syariat dan mendakwahkannya, sedangkan pemerintah memegang kendali umat dalam pelaksanaan syariat (eksekutor), dan memaksa rakyat untuk mematuhinya.

Bila klaim takfir menimpa mereka, maka tidak berpengaruh buruk pada pribadi mereka, sebab mereka memahami diri mereka masing-masing, lontaran tersebut tidak membuat mereka pusing. Sungguh ucapan yang lebih kotor dari sekedar pengafiran pernah dilontarkan kepada sosok yang lebih mulia dari mereka., yaitu para Nabi yang dikatakan kepada mereka, seperti yang dikisahkan dalam firman Alloh:

كَذَلِكَ مَآأَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka melainkan mereka mengatakan ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.'” (QS. Az Dzaariyaat: 52)

Pengafiran penguasa mengandung dua dampak negatif yang sama-sama besar: Dampak secara syariat (agama) dan sosial.

Pertama: Kerusakan dari sisi agama: Ulama yang telah diklaim kekafirannya, tidak akan dimanfaatkan ilmunya oleh masyarakat, minimal akan timbul keraguan atau kecurigaan terhadap mereka. Sehingga orang yang telah mengafirkan ulama, menjadi penghancur syariat Islam. Lantaran syariat islam ditimba dari mereka, para ulama. Dan mereka adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak pernah mewariskan dirham ataupun dinar, mereka hanya mewariskan ilmu, barang siapa yang mendapatkannya, maka ia telah mengantongi bagian yang melimpah dari warisan mereka.

Kedua: Adapun pengafiran pemerintah, maka menyimpan kerusakan sosial yang besar yaitu kekacauan, peperangan saudara, yang tidak ada yang mengetahui penghujungnya melainkan Alloh. Karena itu, kita harus waspada terhadap masalah ini. Orang yang mendengar lontaran vonis kafir, hendaknya menasihati pengucapnya dan menakutinya dengan Alloh subhanahu wa ta’ala. Dan mengatakan kepadanya, jika engkau melihat ada satu perbuatan kekufuran yang dilakukan seorang ulama’, maka kewajiban anda adalah menemuinya dan kemudian berdiskusi dengannya seputar masalah tersebut, hingga jelas duduk permasalahannya bagi anda. (Fitnatut Takfir hal: 65, penyusun: Ali bin Husain Abu Luz).

–bersambung–

***

Disusun oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

%d blogger menyukai ini: