Daily Archives: Juni 20, 2008

Mungkinkah Syiah dan Sunnah Bersatu?

  1. Muqaddimah
  2. Mustahil Terjadinya Pendekatan Antara Islam dan Syiah
  3. Taqiyyah Dalam Agama Syiah
  4. Celaan Syiah Terhadap Al Quran
  5. Celaan Syiah Kepada Sahabat Nabi
  6. Hari Pembunuhan Al Faruq Hari Ied Terbesar Bagi Syiah
  7. Keyakinan Nyeleneh Syiah Tentang Imam Mahdi
  8. Ideologi Ar Raj ah dan Pembantaian 3000 Kaum Quraisy
  9. Bersama Datangnya Al Mahdi, Mushaf yang Asli Akan Kembali
  10. Keyakinan Nyeleneh Syiah Tentang Abu Bakar dan Umar
  11. Dai Pendekatan Al Khalisi Mengingkari Keikutsertaan Abu Bakar dan Umar Dalam Baiat Ridwan
  12. An Nushair At Thushi dan Ibnu Al Alqami Bersama Pasukan Holako Khan dan Bangsa Mongol Para Penyembah Berhala
  13. Bagi Syiah, Dua Kalimat Syahadat Tidak Cukup Sebagai Bekal Masuk Surga
  14. Di Antara Anak Ali bin Abi Tholib Adalah Abu Bakar, Umar dan Utsman

sumber : www.manhaj.or.id (jazakallahu khairan)

Di Antara Anak Ali bin Abi Tholib Adalah Abu Bakar, Umar dan Utsman

Mungkinkah Syiah dan Sunnah Bersatu?: Di Antara Anak Ali bin Abi Tholib Adalah Abu Bakar, Umar dan Utsman (14)

Di antara bentuk kasih sayang Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib kepada saudara-saudaranya ketiga kholifah sebelumnya semoga Allah senantiasa meridhoi mereka semua beliau wujudkan dengan memberi nama anak-anak beliau setelah Al Hasan dan Al Husain dengan nama-nama mereka. Read the rest of this entry

Bagi Syiah, Dua Kalimat Syahadat Tidak Cukup Sebagai Bekal Masuk Surga

Al Khunisari berkata “Seusai menukilkan ungkapan di atas, sayyid Ni’matullah Al Musawi berkata: “Dan penjelasannya sebagai berikut: Seluruh kelompok bersepakat bahwa dua kalimat syahadat adalah sumber keselamatan (dari neraka -pent), dengan dasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang bersaksi bahwa ‘tiada sesembahan yang layak untuk disembah selain Allah’ niscaya ia akan masuk surga.”

Adapun kelompok Imamiyyah, mereka sepakat bahwa keselamatan tidak akan terwujud selain dengan sikap loyal kepada Ahlul Bait hingga imam kedua belas, dan berlepas diri dari seluruh musuh-musuh mereka (maksudnya Abu Bakar, Umar hingga manusia terakhir yang beragama Islam selain dari sekte Syi’ah, baik penguasa atau rakyat biasa), sehingga kelompok ini menyelisihi seluruh kelompok lain dalam hal ideologi ini yang merupakan sumber keselamatan.”

Sungguh At Thusi, Al Musawi dan Al Khunisari telah benar!! Dan dalam waktu yang bersamaan telah berdusta!!

Mereka benar bahwa seluruh kelompok memiliki kedekatan dalam hal prinsip dan berselisih dalam hal sekunder, oleh karena itu amat dimungkinkan untuk terjadinya solidaritas dan pendekatan antara berbagai kelompok yang dasar ideologinya saling berdekatan. Sedangkan pendekatan ini mustahil untuk terjadi bersama sekte Syi’ah Al Imamiyyah, karena mereka menyelisihi seluruh umat Islam dalam hal prinsip, dan mereka tiada pernah rela dari umat Islam hingga mereka semua mengutuk (Al Jibtu & At Thoghut) Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma serta setiap muslim selain mereka hingga hari ini. Dan hingga mereka berlepas diri dari setiap orang selain Syi’ah sampai pun putri-putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahkan dengan Dzu An Nurain Utsman bin Affan dan tokoh bani Umayyah sang pemberani nan mulia yaitu Al ‘Ash bin Ar Rabi’ yang telah disanjung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari atas mimbar Masjid An Nabawi As Syarif dan di hadapan khalayak umat Islam kala itu, yaitu tatkala sahabat Ali radhiallahu ‘anhu hendak menikahi putri Abu Jahl, dan menjadikannya sebagai madu bagi putri pamannya Fathimah radhiallahu ‘anha (Setiap wanita anak saudara ayah seseorang yang manapun disebut juga sebagai anak paman, oleh karena itu penulis menyebut bahwa Fatimah radhiallahu ‘anha adalah sepupu sahabat Ali radhiallahu ‘anhu, karena ia adalah putri saudara sepupunya) kemudian Fatimah mengadukannya kepada ayahnya. Dan juga (Syi’ah tidak akan pernah rela -ed muslim) hingga umat islam berlepas diri dari Imam Zaid bin Ali Zainal ‘Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abi Tholib, dan seluruh Ahlul Bait yang tidak sudi untuk tunduk di bawah bendera Rafidhoh (Syi’ah Imamiyyah) dalam setiap ideologi mereka yang berkelok-kelok, yang di antaranya ialah meyakini bahwa Al Quran telah diselewengkan.

Dan sungguh mereka telah meyakini ideologi ini sepanjang masa dan pada setiap generasi mereka, sebagaimana yang dinukilkan dan dicatatkan oleh cendekiawan cemerlang sekaligus tokoh pujaan mereka, yaitu Haji Mirza Husain bin Muhammad Taqi An Nuri At Thobarsi dalam bukunya “Fashlul Khithaab Fi Itsbaat Tahrif Kitaab Rabbil Arbaab”. Seorang tokoh yang telah melakukan tindak kekejian dengan menuliskan setiap baris dari buku ini di sisi kuburan seorang sahabat mulia pemimpin kota Kufah Al Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, yang dianggap oleh sekte Syi’ah sebagai kuburan sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu.

Sesungguhnya sekte Syi’ah mensyaratkan kepada kita agar terwujud toleransi dengan mereka dan agar mereka ridha dengan pendekatan kita kepada mereka: hendaknya kita ikut serta bersama mereka mengutuk para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berlepas diri dari setiap orang selain anggota sekte mereka, sampai pun putri-putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anak cucu beliau, dan sebagai baris terdepan dari mereka ialah Zaid bin Zainal ‘Abidin, dan setiap orang yang sejalan dengan beliau dalam mengingkari perilaku mungkar sekte Rafidhah (Syi’ah Imamiyyah). Inilah sisi jujur dari teks yang dinukil dari An Nushair At Thusi, dan yang disetujui oleh Sayyid Ni’matullah Al Musawi dan Mirza Muhammad Baqir Al Musawi Al Khunisari Al Ashbahani, dan tidak ada seorang syi’ah pun yang menyelisihinya, baik dari kalangan yang dengan tegas menampakkan ideologi taqiyyah atau yang menyembunyikannya.

Adapun sisi kedustaan mereka ialah pengakuan mereka bahwa sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat adalah sumber keselamatan di akhirat menurut umat Islam selain sekte Syi’ah. Seandainya mereka berakal atau memiliki pengetahuan, niscaya mereka mengetahui bahwa dua kalimat syahadat menurut Ahlusunnah adalah pertanda masuknya seseorang ke dalam Islam. Dan orang yang telah mengucapkannya -walaupun ia sebelumnya adalah kafir harbi (Kafir Harbi ialah orang kafir yang menampakkan permusuhan terhadap Islam dan umat Islam -pent)- berubah menjadi orang yang dilindungi darah dan harta bendanya di dunia. Adapun keselamatan di akhirat, maka keselamatan hanya tercapai dengan keimanan yang benar, dan bahwasanya keimanan itu -sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mukminin Umar bin Abdul ‘Aziz- memiliki berbagai kewajiban, syariat, batasan-batasan, dan sunnah-sunnah, barang siapa yang menjalankannya dengan sempurna, maka ia telah mencapai kesempurnaan iman, dan barang siapa yang tidak menjalankannya dengan sempurna, maka ia belum mencapai kesempurnaan iman. Dan mempercayai keberadaan imam mereka yang kedua belas tidak termasuk dari syariat iman, karena sebenarnya ia adalah figur rekaan yang dinisbatkan dengan dusta kepada Al Hasan Al ‘Askari yang wafat tanpa meninggalkan seorang anak pun, dan saudara kandungnya yang bernama Ja’far mewarisi seluruh harta warisannya, dengan dasar karena ia tidak meninggalkan seorang anakpun.

Marga Alawiyyin (Yang dimaksud dengan Alawiyyin ialah anak keturunan sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu -pent) memiliki daftar keturunan yang kala itu dipegang oleh seorang perwakilan dari mereka, sehingga tidaklah dilahirkan seorang bayi pun dari mereka, melainkan akan dicatat padanya, dan padanya tidak pernah terdaftar seorang anak pun bagi Al Hasan Al ‘Askari. Dan marga Alawiyyin yang semasa dengan Al Hasan Al ‘Askari tidak pernah mengetahui bahwa ia meninggalkan seorang anak laki-laki. Hakikat yang sebenarnya telah terjadi adalah: tatkala Al Hasan Al ‘Askari wafat dalam keadaan mandul, dan silsilah keimaman para pemuja mereka yaitu sekte Imamiyyah terputus, mereka menghadapi kenyataan bahwa paham mereka akan mati bersama kematiannya, dan mereka tidak lagi menjadi sekte Imamiyyah, karena tidak lagi memiliki imam. Oleh karena itu, salah seorang setan mereka yang bernama Muhammad bin Nushair, salah seorang mantan budak Bani Numair mencetuskan gagasan bahwa Al Hasan Al ‘Askari memiliki anak laki-laki yang disembunyikan di salah satu terowongan ayahnya(*), agar ia dan para sekongkolnya dengan nama Imam tersebut dapat mengumpulkan zakat dari masyarakat dan hartawan sekte Syi’ah! Dan agar mereka -walau dengan berdusta- dapat meneruskan propaganda bahwa mereka adalah pengikut para Imam.

(*) Dan terowongan ayahnya -seandainya memang benar bahwa ayahnya memiliki terowongan- maka para pengikut sekte Syi’ah tidak mungkin untuk memasuki ya, karena terowongan tersebut berada di kekuasaan Ja’far saudara kandung Al Hasan Al ‘Askari, dan ia meyakini bahwa saudara kandungnya yaitu Al Hasan tidak memiliki anak lelaki, tidak di dalam terowongan fiktif tersebut juga tidak di luarnya. Dan bila ia bersembunyi di berbagai terowongan!!! maka mana mungkin mereka dapat menemukannya…

Muhammad bin Nushair ini menginginkan agar dialah yang menjadi “Al Bab (pintu penghubung)” terowongan fiktif tersebut, sebagai penyambung lidah antara imam fiktif dengan pengikutnya, dan bertugas memungut harta zakat. Akan tetapi kawan-kawannya para setan penggagas makar ini tidak menyetujui keinginannya tersebut, dan mereka tetap bersikukuh agar yang berperan sebagai “pintu/Al Bab” ialah seorang pedagang minyak zaitun atau minyak samin. Pedagang ini memiliki toko kelontong di depan pintu rumah Al Hasan dan ayahnya, sehingga mereka dapat mengambil darinya segala kebutuhan rumah tangga mereka. Tatkala terjadi perselisihan ini, pencetus ide ini (yaitu Muhammad bin Nushair -pent) memisahkan diri dari mereka, dan mendirikan sekte An Nushairiyah yang dinisbatkan kepadanya.

Dahulu kawan-kawan Muhammad bin Nushair memikirkan supaya mereka mendapatkan cara untuk memunculkan figur “Imam Ke-12″ yang mereka rekayasa, dan kemudian ia menikah dan memiliki anak keturunan yang memegang tampuk Imamah sehingga paham Imamiyah mereka dapat berkesinambungan. Akan tetapi terbukti bagi mereka bahwa munculnya figur tersebut akan memancing pendustaan dari perwakilan marga Alawiyyin dan seluruh marga ‘Alawiyyin serta saudara-saudara sepupu mereka para khalifah dinasti Abbasiyyah dan juga para pejabat mereka. Oleh karenanya mereka akhirnya memutuskan untuk menyatakan bahwa ia tetap berada di terowongan, dan bahwasanya ia memiliki persembunyian kecil dan persembunyian besar, hingga akhir dari dongeng unik yang tidak pernah didengar ada dongeng yang lebih unik daripadanya, sampai pun dalam dongeng bangsa Yunani.

Mereka menginginkan dari seluruh umat Islam yang telah dikaruniai Allah dengan nikmat akal sehat agar mempercayai dongeng palsu ini!! Agar pendekatan antara mereka dengan sekte Syi’ah dapat dicapai?! Mana mungkin terjadi, kecuali bila dunia Islam seluruhnya telah berpindah tempat ke (rumah sakit jiwa) guna menjalani pengobatan gangguan jiwa!! Dan Alhamdulillah atas kenikmatan akal sehat, karena akal sehat merupakan tempat ditujukannya tugas-tugas agama, dan akal sehat -setelah nikmat iman yang benar- merupakan kenikmatan terbesar dan termulia.

Sesungguhnya umat Islam berloyal kepada setiap orang mukmin yang benar imannya, termasuk di dalamnya orang-orang saleh dari Ahlul Bait tanpa dibatasi dalam jumlah tertentu. Kaum mukminin terdepan yang mereka loyali ialah sepuluh sahabat yang telah diberi kabar gembira oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Seandainya sekte Syi’ah tidak melakukan perbuatan kufur selain sikap mereka yang menyelisihi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kesepuluh sahabat tersebut adalah penghuni surga, niscaya ini cukup sebagai alasan untuk memvonis mereka kafir.

Sebagaimana umat Islam juga berloyal kepada seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di atas pundak merekalah agama Islam tegak dan terbentuk dunia Islam, kebenaran dan kebaikan tumbuh subur di bumi Islam dengan tumpahan darah mereka. Merekalah orang-orang yang dengan sengaja sekte Syi’ah berdusta atas nama sahabat Ali dan anak keturunannya, sehingga mereka beranggapan bahwa mereka itu adalah musuh-musuh Ali dan anak-anaknya. Sungguh mereka telah hidup berdampingan bersama sahabat Ali dalam keadaan saling bersaudara, mencintai, bahu-membahu, dan mereka pun mati dalam keadaan saling mencintai dan bahu-membahu.

Amat tepat peyifatan tentang mereka yang Allah ta’ala sebutkan dalam surat Al Fath, dalam Kitabullah yang tiada kebatilan baik dari arah depan ataupun belakang. Allah ‘azza wa jall berfirman tentang mereka:

“Mereka amat keras terhadap orang-orang kafir dan saling mengasihi sesama mereka.” (QS. Al Fath: 29)

Dan pada firman-Nya dalam surat Al Hadid:

“Padahal Allah-lah yang memiliki langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekkah). Mereka lebih tinggi derajatnya dari pada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik.” (QS. Al Hadiid: 10)

Adakah mungkin Allah mengingkari janji-Nya?! Allah juga berfirman tentang mereka pada surat Ali Imran:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

***
Penulis: Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

An Nushair At Thushi dan Ibnu Al Alqami Bersama Pasukan Holako Khan dan Bangsa Mongol Para Penyembah Berhala

Mungkinkah Syiah dan Sunnah Bersatu?: An Nushair At Thushi dan Ibnu Al Alqami Bersama Pasukan Holako Khan dan Bangsa Mongol Para Penyembah Berhala (12)

Setelah ahli filosof sekaligus ulama Syi’ah yang bernama An Nushair At Thusi merangkaikan bait’-bait sya’ir guna menjilat kepada Khalifah Abbasiyah Al Mu’tashim, tidak berapa lama ia berbalik, pada tahun 655 H ia bersekongkol melawan sang khalifah dan menyegerakan runtuhnya kekuasaan umat Islam di kota Baghdad, dan ia berada di barisan terdepan dari iring-iringan pasukan pembunuh berdarah dingin Holako Khan!! Ia ikut serta menyaksikan pemenggalan leher-leher kaum muslimin dan muslimat, baik muda ataupun tua!! Ia juga rela dengan penenggelaman karya-karya ilmiah umat Islam di sungai Dijlah (Tigris), hingga air sungai mengalir berwarna hitam dalam beberapa siang dan malam akibat terkena tinta kitab-kitab manuskrip. Dengannya sirnalah berbagai peninggalan sejarah Islam, yang mencakup sejarah, adab, bahasa, syair, dan filsafat, terlebih-lebih ilmu-ilmu syariat dan karya-karya tulis para imam terdahulu para generasi terkemuka, yang hingga kala itu masih banyak di temukan, dan akhirnya ikut hancur bersama kehancuran peninggalan lainnya pada petaka ilmu pengetahuan yang tidak pernah terjadi sebelumnya(*).

(*) Suatu kelaziman atas kita untuk mengisyaratkan di sini, bahwa cucu Holako Khan, yaitu Sultan Gazaan, tatkala datang pada tahun 699 H untuk menguasai negeri Syam, yang menjabat sebagai perdana menterinya ialah cucu pembela kekufuran At Thusi yang bernama Ashiluddin At Thusi. Gazaan melakukan berbagai kekejaman di kota Damaskus, memerkosa, menumpahkan darah, dan mencuri kitab-kitab ilmu. Hingga akhirnya Allah ta’ala memudahkan bagi Al Imam Al Mujahid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam memimpin umat Islam melawan diktator ini, dan kemudian Allah melimpahkan kemenangan atas beliau pada peperangan Syaqhab yang telah masyhur dan yang terjadi pada tahun 701 H.

Dan ikut serta pula bersama Syaikh sekte Syi’ah Nushair At Thusi dalam pengkhianatan besar ini dua orang sahabatnya: pertama, perdana menteri Syi’ah yang bernama Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqami, dan kedua, penulis buku yang beraliran mu’tazilah yang lebih ekstrem dalam berpegang dengan paham Syi’ah, yang bernama Abdul Hamid bin Abi Al Hadid, ia adalah orang kepercayaan Ibnu Al ‘Alqami. Orang kedua ini sepanjang hidupnya memusuhi sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karenanya ia memenuhi buku karyanya yang merupakan syarah (penjabaran) dari buku “Nahjul Balaghah” dengan berbagai kedustaan yang telah mencoreng muka sejarah Islam. Dan hingga saat ini masih jua ada sebagian orang-orang yang tidak memahami hakikat masa lampau agama Islam dan berbagai sekte sempalan yang melekat kepadanya, sampai pun sebagian kaum cendekiawan dan terpelajar. (Al ‘Allaamah Abdullah bin Al Husain As Suwaidi telah menuliskan bantahan terhadap Ibnu Abi Al Hadid ini, dimana beliau menuliskan sebuah buku dengan judul: As Sharim Al Hadid Fi Ar Rad ‘Ala Ibni Abi Al Hadid ( الصارم الحديد في الرد على ابن أبي الحديد ) sebanyak 1000 halaman, sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Zahid Al Kautsari dalam sebagian makalahnya).

Sesungguhnya Ibnu Al ‘Alqami yang telah membalas kelembutan Khalifah Al Musta’shim dan, kedermawanan beliau sehingga ia dipilih menjadi perdana menterinya, dengan pengkhianatan. Ia telah dikuasai oleh tabi’at aslinya yaitu pengkhianat dan jiwa yang hina sehingga ia sampai hati membalas buruk budi baik orang lain. Hingga saat ini sekte Syi’ah tak kunjung henti menampakkan rasa gembira dan merasa girang dengan permusuhan yang berhasil mereka lancarkan terhadap umat Islam pada petaka Holako Kan yang telah menimpanya. Dan barang siapa yang hendak mengetahui hal ini, silakan membaca biografi An Nushair At Thusi yang mereka tulis dalam setiap buku-buku biografi karya mereka. Buku biografi terbaru yang mereka tulis ialah buku “Raudhaat Al Jannaat” karya Al Khunisaari. Buku ini dipenuhi dengan pujian kepada para penumpah darah dan para pengkhianat dan ungkapan kegembiraan atas apa yang menimpa umat Islam kala itu, pelampiasan dendam terhadap para korban petaka itu, baik para tokoh atau masyarakat awam. Juga dipenuhi dengan ungkapan kegembiraan dengan pembantaian yang menimpa kaum muslimin dan muslimat, sampai-sampai anak kecil dan orang-orang tua renta. Suatu sikap yang musuh paling berbahaya dan binatang paling buas pun akan merasa malu untuk menampakkan kegembiraannya atas petaka tersebut.

Sub pembahasan ini telah terlanjur panjang lebar diutarakan, padahal kami berusaha untuk meringkaskannya dengan menyebutkan beberapa nukilan singkat dari berbagai buku rujukan terpercaya sekte Syi’ah. Dan kami akan tutup sub pembahasan ini dengan menukilkan satu teks lain yang berkaitan dengan masalah pendekatan, agar setiap muslim mengetahui bahwa pendekatan dapat saja terlaksana dengan berbagai aliran dan mazhab lain, sedangkan hal itu mustahil untuk terwujud bersama sekte Syi’ah secara khusus. Hal ini merupakan pengakuan dari mereka sendiri, sebagaimana dalam teks nukilan berikut ini:

Al Khunisaari -ia adalah seorang pakar sejarah sekte Syi’ah- menukilkan dalam buku “Raudhaat Al Jannaat” hal: 579, edisi ke-2 Teheran tahun 1367 H, tatkala ia menyebutkan biografi An Nushair At Thusi dengan panjang lebar, ia menyebutkan bahwa di antara ucapannya yang benar-benar bagus dan yang muncul dari sumber kebenaran dan penelitian, ialah ucapannya ketika ia menentukan Al Firqah An Najiyyah (kelompok selamat dari neraka -pent) dari ketujuh puluh tiga golongan, adalah kelompok Al Imamiyyah, ia berkata:

“Sesungguhnya aku telah mengkaji seluruh mazhab, dan aku telah mengetahui seluruh prinsip dan perincian mereka, kemudian aku dapatkan bahwa selain kelompok Imamiyyah memiliki keserupaan tentang prinsip utama dalam keimanan, walaupun ada beberapa perbedaan yang tidak berpengaruh sedikit pun terhadap keimanan, baik mereka menetapkannya atau mengingkarinya. Kemudian aku mendapatkan bahwa kelompok Al Imamiyyah menyelisihi prinsip-prinsip seluruh kelompok. Kalaulah seandainya ada kelompok selain mereka yang dianggap sebagai kelompok selamat, niscaya seluruh kelompok tersebut adalah kelompok selamat (Al Firqoh An Najiyyah). Ini membuktikan bahwa satu-satunya kelompok selamat tiada lain adalah kelompok Al Imamiyyah.”

-bersambung insya Allah-

***
Penulis: Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

Dai Pendekatan Al Khalisi Mengingkari Keikutsertaan Abu Bakar dan Umar Dalam Baiat Ridwan

Mungkinkah Syiah dan Sunnah Bersatu?: Dai Pendekatan Al Khalisi Mengingkari Keikutsertaan Abu Bakar dan Umar Dalam Baiat Ridwan (11)

Sekedar contoh nyata akan hal di atas (kedustaan pernyataan mereka bahwa berbagai ideologi ini hanya ada pada masa silam, sedangkan sekarang ini semuanya telah berubah ?ed muslim), kita sebutkan salah seorang dari mereka yang senantiasa mendengungkan di setiap pagi dan petang bahwa ia adalah salah satu pemrakarsa persatuan dan pendekatan, yaitu Syaikh Muhammad bin Muhammad Mahdi Al Khalisi, tokoh yang memiliki banyak kolega di Mesir dan lainnya dari para penyeru “pendekatan” dan para tokoh yang siang dan malam berupaya untuk menyosialisasikannya di antara Ahlusunnah.

Tokoh penyeru terhadap persatuan dan solidaritas ini -semoga ia mendapatkan balasan setimpal dari Allah- menafikan nikmat iman sekalipun dari Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma!! Ia berkata pada bukunya “Ihya’us Syari’ah Fi Mazhabis Syi’ah” jilid 1 hal: 63-64: “Dan bila mereka berkata: Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk orang-orang yang ikut andil dalam “Bai’atur Ridhwan” yang telah ditegaskan akan keridhaan Allah atas mereka dalam Al Quran:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ إذ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sungguh Allah telah ridha terhadap kaum mukminin yang membai’atmu (berjanji setia kepadamu) di bawah pohon.” (QS. Al Fath: 18)

Maka kami jawab: Seandainya Allah berfirman:

(لقد رضي الله عن الذين يبايعونك تحت الشجرة) أو (عن الذين بايعوك)

“Sungguh Allah telah ridha terhadap orang-orang yang sedang membai’atmu (berjanji setia kepadamu) di bawah pohon” atau “telah membai’atmu” maka pada ayat ini terdapat petunjuk akan keridhaan Allah kepada setiap yang membai’at, akan tetapi karena Allah berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ إذ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sungguh Allah telah ridha terhadap kaum mukminin yang membai’atmu (berjanji setia kepadamu) di bawah pohon,” maka tidak ada petunjuk pada ayat ini kecuali keridhaan terhadap orang-orang yang telah memurnikan keimanannya”!?

Makna dari ucapannya ini: bahwasanya Abu Bakar dan Umar radhiallahu’anhuma belum memurnikan keimanannya?! Sehingga tidak dicakup oleh keridhaan Allah?! Subhanallah? tentu ini adalah kedustaan yang amat besar, semoga Allah senantiasa meridhai keduanya, dan melimpahkan kepadanya kerahmatan dan keridhaan yang melimpah ruah, amiin.

Dan telah berlalu sebelumnya perkataan An Najafi (tokoh dari kota Najef -pent) -semoga kecelakaan senantiasa menimpa kedua tangannya- penulis buku (Az Zahra’) bahwa sayyidina Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu ditimpa penyakit yang tidak dapat diobati melainkan dengan air mani kaum lelaki?! (Dan kita katakan kepada orang ini, dalam pepatah dikatakan: “ia menuduhku dengan penyakitnya sendiri, lalu ia lari bersembunyi”).

Inilah dua pemuka agama sekte Syi’ah yang hidup semasa dengan kami, dan termasuk orang-orang yang senantiasa mengaku-ngaku memiliki loyalitas tinggi terhadap agama Islam dan kaum Muslimin, dan andil besar dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi keduanya. Bila semacam ini ucapan dua orang pemuka agama sekte Syi’ah dalam tulisan-tulisannya yang telah diterbitkan dan yang menjelaskan tentang ideologi keduanya tentang orang terbaik dari kaum muslimin setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma, atau minimal termasuk orang yang terbaik dalam sejarah Islam, maka apakah yang akan kita harapkan dari upaya toleransi dan ikut andil dalam upaya pendekatan antar berbagai mazhab. Dan apakah mereka semua itu adalah murni barisan ke lima dalam tatanan masyarakat muslim?

Di saat mereka menghinakan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para pengikut mereka (Tabi’in) dan seluruh pemimpin kaum muslimin sepeninggal mereka serendah ini, padahal merekalah yang telah membangun kekuasaan Islam dan mewujudkan dunia Islam ini. Pada saat yang bersamaan, mereka -sekte Syi’ah- berkeyakinan tentang imam-imam mereka berbagai keyakinan yang para imam tersebut pasti berlepas diri dari hal-hal tersebut. Al Kulaini telah menuliskan dalam bukunya “Al Kafi” -buku ini bagi mereka bagaikan kitab “Shahih Bukhori” bagi kaum muslimin- berbagai karakteristik dan sifat kedua belas imam mereka. Karakteristik dan sifat-sifat tersebut telah mengangkat derajat mereka dari manusia biasa hingga tingkatan tuhan-tuhan bangsa Yunani kuno. Seandainya kita hendak menukilkan hal-hal semacam ini dari buku “Al Kafi” dan buku-buku terpercaya mereka lainnya, niscaya akan terkumpul satu jilid buku besar. Oleh karenanya, kami akan cukupkan dengan menukilkan beberapa judul bab secara utuh dan dengan apa adanya dari buku “Al Kafi”, di antaranya judul bab-bab tersebut ialah:

1. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Segala Ilmu Yang Turun Kepada Para Malaikat, Nabi Dan Rasul (Al Kafi jilid 1/255, kitab Al Hujjah).

2. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Kapan Mereka Akan Meninggal, Dan Bahwasanya Mereka Tidaklah Meninggal Melainkan Atas Kehendak Mereka Sendiri. (Al Kafi jilid 1/258 kitab Al Hujjah).

3. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Perihal Yang Telah Lalu Dan Perihal Yang Akan Datang, Dan Sesungguhnya Tidak Ada Yang Tersembunyi Bagi Mereka Sesuatu Apapun. (Al Kafi jilid 1/260, kitab Al Hujjah).

4. Bab: Bahwasanya Para Imam Memiliki Seluruh Kitab, Dan Mengetahuinya Dengan Segala Perbedaan Bahasanya. (Al Kafi jilid 1/227, kitab Al Hujjah).

5. Bab: Bahwasanya Tidaklah Ada Orang Yang Pernah Menyatukan Al Quran Secara Utuh Selain Para Imam, Dan Bahwasanya Mereka Mengetahui Seluruh Ilmu Yang Terkandung Dalamnya. (Al Kafi jilid 1/228, kitab Al Hujjah).

6. Bab: Apa-Apa Yang Dimiliki Oleh Para Imam Dari Mukjizat Para Nabi. (Al Kafi jilid 1/231, kitab Al Hujjah).

7. Bab: Bahwasanya Para Imam Bila Telah Berhasil Berkuasa, Mereka Akan Berhukum Dengan Hukum Nabi Daud (?!) Dan Keluarga Daud (?!)(*) Dan Mereka Tidak Akan Pernah Meminta Persaksian/Bukti. (Al Kafi, 1/397, kitab Al Hujjah).

(*) Nabi Daud ‘alaihissalam adalah salah seorang nabi-nabi Umat Yahudi. Bila Nabi Musa ‘alaihissalaam hidup sekarang ini, ia akan beragama dengan agama Islam dan berhukum dengan hukum Islam, bukan dengan hukum Taurat atau hukum nabi Daud -hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Al Baihaqy dll- mengapa para Imam sekte Syi’ah justru berhukum dengan hukum Nabi Daud?! Dan bila Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ketika turun kembali ke dunia kelak sebelum hari kiamat juga berhukum dengan hukum Al Quran, -sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat imam Bukhari dan Muslim- dan bukan dengan hukum nabi Daud, mengapa para imam sekte Syi’ah justru berhukum dengan hukum keluarga Daud?! Bukankah ini merupakan indikasi kuat bahwa sebenarnya sekte Syi’ah hendak menghidupkan agama nabi Daud ‘alaihi salam yaitu agama Yahudi di tengah-tengah masyarakat Islam??!! (pent-)

8. Bab: Bahwasanya Tidaklah Ada Sedikit pun Kebenaran Yang Ada di Masyarakat Selain Yang Pernah Diajarkan Oleh Para Imam, Dan Bahwasanya Segala Sesuatu Yang Tidak Diajarkan Oleh Mereka, Maka Itu A alah Bathil. (Al Kafi 1/399, kitab Al Hujjah).

9. Bab: Bahwasanya Bumi Seluruhnya Adalah Milik Para Imam. (Al Kafi 1/407, kitab Al Hujjah).

Di saat mereka meyakini tentang 12 imam mereka hal-hal yang tidak pernah diakui oleh para imam tersebut, berupa pengetahuan tentang yang gaib, dan bahwasanya kedudukan mereka di atas kedudukan manusia biasa (Bahkan mereka meriwayatkan dari sahabat Ali radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata, “Akulah yang telah menjadi tinggi kemudian menundukkan, dan akulah yang menghidupkan dan mematikan, akulah yang pertama dan terakhir, akulah yang nampak dan tersembunyi.” Sebagaimana disebutkan dalam buku “Al Ikhtishash” karya Syeikhul Mufid, sudah barang tentu berbagai sifat ini tidaklah dimiliki oleh selain Allah subhanahu wa Ta’ala. Dan juga seperti ucapan mereka, “Sesungguhnya para imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat yang didekatkan, tidak juga nabi yang telah diutus.”

Al Khumaini dalam bukunya: “Al Hukumah Al Islamiyyah” hal 52). Pada saat yang bersamaan sekte Syi’ah mengingkari segala hal yang telah diwahyukan Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hal-hal gaib, misalnya perihal penciptaan langit dan bumi, berbagai hal tentang surga dan neraka. Hal ini telah dinyatakan dengan tegas dalam majalah “Risalatul Islam? yang diterbitkan oleh “Lembaga Pendekatan” yang berpusatkan di Kairo. Majalah ini memuat pada edisi ke-4, tahun ke-4, hal: 368, buah karya Kepala Mahkamah Syari’at Syi’ah Tertinggi di Lebanon, -seorang figur yang mereka anggap sebagai ulama’ mereka paling memikat tutur katanya- dengan tema: “Sebagian Dari Ijtihad-ijtihad Syi’ah Imamiyyah”. Pada makalah ini, ia menukilkan dari tokoh ahli ijtihad mereka yang bernama Syaikh Muhammad Hasan Al Asytiyani, bahwasanya ia berkata dalam bukunya: “Bahrul Fawaid” jilid 1, hal: 267: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mengabarkan tentang hukum-hukum syariat, maksudnya: seperti hal-hal yang membatalkan wudhu, berbagai hukum haidh dan nifas, maka wajib untuk dipercayai dan diamalkan apa yang ia kabarkan. Dan bila ia mengabarkan tentang hal-hal gaib, misalnya tentang penciptaan langit dan bumi, bidadari dan istana di surga, maka tidak wajib untuk diimani, walaupun setelah kita tahu akan keabsahan hadits tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih-lebih bila keabsahannya masih diragukan!?

Ya Allah, amat mengherankan! Mereka berdusta dengan menisbatkan kepada para imam, bahwa mereka dapat mengetahui hal yang gaib, dan mereka beriman dengannya, padahal penisbatan hal tersebut kepada para imam tidak dapat dipastikan keabsahannya, di saat yang sama mereka menghalalkan diri untuk mengingkari berbagai berita tentang hal gaib yang telah terbukti keabsahannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta maknanya amat jelas nan tegas, misalnya ayat-ayat dan hadits-hadits shahih tentang penciptaan langit dan bumi, berbagai perihal tentang surga dan neraka. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap hadits yang terbukti shahih tersebut tidaklah berkata-kata atas dasar hawa nafsunya, hadits itu tiada lain kecuali wahyu yang telah diwahyukan kepadanya.

Setiap orang yang membandingkan antara berbagai hal yang dinisbatkan kepada para imam mereka dengan hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan tentang hal gaib, niscaya akan terbukti baginya bahwa hal-hal gaib yang terbukti benar periwayatannya dari Rasulullah, baik dalam Al Quran atau hadits mutawatir nan shahih tidaklah mencapai sebagian kecil dari hal-hal yang didakwakan oleh sekte Syi’ah tentang kedua belas imam mereka, berupa ilmu gaib setelah terputusnya wahyu Allah dari penduduk bumi. Dan seluruh perawi hal-hal gaib dari kedua belas imam tersebut telah dikenal di kalangan ulama’ ahli Al jarh wa ta’dil (salah satu disiplin ilmu hadits yang membicarakan tentang kredibilitas para periwayat hadits) dari kalangan Ahlusunnah sebagai para pendusta, akan tetapi para pengikut mereka dari kalangan sekte Syi’ah tidak menggubris akan kenyataan itu, dan tetap mempercayai segala riwayat mereka tentang hal-hal gaib yang dimiliki oleh para imam.

Pada saat yang bersamaan pula majalah “Risalatul Islam” yang diterbitkan oleh “Lembaga Pendekatan” memuat tulisan hakim Mahkamah Syari’at Tertinggi di Lebanon, sekaligus mujtahid mereka, yaitu Muhammad Hasan Al Asytiyani, yang mempropagandakan dan menyerukan anggapan tidak wajibnya mempercayai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal-hal gaib yang telah sah diriwayatkan darinya. Mereka hendak membatasi tugas kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal-hal yang membatalkan wudhu, hukum haid dan nifas serta berbagai perincian ilmu fikih yang serupa dengannya. Akan tetapi mereka mengangkat martabat imam-imam mereka dalam hal gaib melebihi martabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliaulah yang mendapatkan wahyu, sedangkan para imam mereka tidak pernah mengaku mendapatkan wahyu. Dengan demikian, kami tidak tahu, pendekatan macam apakah yang mungkin dicapai antara kita dengan mereka setelah kita mengetahui fakta ini?!

Di antara hal yang dapat kita cermati pada setiap fase sejarah sekte Syi’ah dan sikap tokoh dan masyarakat umum mereka terhadap pemerintahan Islam, bahwa pemerintahan Islam apa saja, bila dalam keadaan kuat dan kokoh, mereka senantiasa menjilat kepada mereka sebagai penerapan ideologi Taqiyyah guna mengeruk kekayaannya, serta meraih berbagai jabatan. Kemudian bila pemerintah tersebut telah melemah atau diserang oleh musuh, segera mereka berpihak kepada barisan musuh dan melawan pemerintah islam. Demikianlah yang mereka lakukan pada akhir masa dinasti Umawiyyah, tatkala Bani Abbasiyyah mengadakan pemberontakan. Bahkan revolusi Bani Abbasiyyah terjadi berkat bujuk rayu sekte Syi’ah.

Kemudian mereka juga bersikap keji semacam ini dengan Dinasti Bani Abbasiyyah, tatkala mereka terancam oleh serangan Holako Khan dan Bangsa Mongolia para penyembah berhala terhadap Khilafah Islam, ibu kota kejayaan, pusat kemajuan serta ilmu pengetahuannya.

-bersambung insya Allah-

***
Penulis: Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

Keyakinan Nyeleneh Syiah Tentang Abu Bakar dan Umar

Abu Bakar & Umar Disalib di Sebatang Pohon

Disebabkan ideologi “Ar Raj’ah” dan pengadilan para penguasa kaum Muslimin merupakan bagian dari ideologi dasar kaum Syi’ah, tidak mengherankan bila ulama mereka, yaitu Sayyid Al Murtadha, penulis buku “Amaali Al Murtadha”, yang sekaligus saudara kandung As Syarif Ar Radhi sang penyair dan sekutunya dalam pemalsuan tambahan kitab “Nahjul Balaghah”, yang mungkin saja mencapai sepertiga kitab aslinya, yaitu setiap bagian yang mengandung celaan dan kritikan kepada para sahabat. Sayyid Al Murtadha ini berkata dalam bukunya “Al Masail An Nushairiyyah” bahwasanya Abu Bakar dan Umar akan disalib di sebatang pohon pada hari tersebut, yaitu pada masa Al Mahdi (Yaitu imam mereka kedua belas, yang mereka sebut sebagai Al Qaim/penegak dari keluarga Muhammad), dan pohon tersebut sebelum penyaliban dalam keadaan hijau nan segar, dan akan menjadi kering seusai penyaliban!!?

Sepanjang masa, seluruh tokoh dan ulama sekte Syi’ah bersikap hina semacam ini terhadap kedua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus dua orang kepercayaan beliau Abu Bakar dan Umar -semoga Allah senantiasa meridhoi keduanya, menerangi kuburnya, dan menyejukkan tempat persemayamannya- dan dari seluruh tokoh, para khalifah, penguasa, pemimpin, pejuang dan penjaga agama Islam, semoga Allah senantiasa meridhai mereka, dan melimpahkan balasan yang terbaik kepada mereka atas jasanya kepada agama Islam dan umatnya.

Dan saya pernah mendengar langsung dari da’i mereka -yang kala itu menjadi pengurus “Lembaga Pendekatan” dan sebagai donaturnya- mengaku kepada sebagian orang yang tidak berkesempatan untuk mengkaji permasalahan ini bahwa berbagai ideologi ini hanya ada pada masa silam, sedangkan sekarang ini semuanya telah berubah. Pengakuan ini nyata-nyata dusta dan merupakan penipuan, karena buku-buku yang diajarkan di berbagai lembaga pendidikan mereka mengajarkan ini semua, dan menganggapnya sebagai prinsip-prinsip sekte dan pokok-pokok utama ajarannya. Buku-buku yang dipublikasikan oleh ulama’ Najef, Iran, dan Jabal Amil pada zaman ini lebih jelek dibanding buku-buku mereka pada zaman dahulu, dan lebih keras dalam meruntuhkan berbagai upaya pendekatan dan toleransi.

***
Penulis: Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

Bersama Datangnya Al Mahdi, Mushaf yang Asli Akan Kembali

Bersama Datangnya Al Mahdi, Mushaf Yang Asli Akan Kembali

Jabir Al Ju’fi meriwayatkan dari Abu Abdillah, ia berkata: Bila telah bangkit Al Qaim (sang penegak) dari keluarga Muhammad, ia akan mendirikan pertendaan guna mengajarkan Al Quran yang asli sebagaimana kala diturunkan(*) sehingga Mushaf tersebut akan terasa sulit bagi orang yang telah menghafal Al Quran (yaitu menghafal Al Qur’an yang telah disatukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, sebagaimana yang ada pada zaman Ja’far As Shodiq), karena mushaf tersebut berbeda susunannya.

Abdullah bin Ajlan meriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihi salam, ia berkata: Bila Al Qaim (sang penegak) dari keluarga Muhammad telah bangkit, ia akan menghakimi manusia dengan hukum nabi Daud?!

Dan Al Mufaddhol bin Umar meriwayatkan dari Abu Abdillah, ia berkata: Akan keluar bersama Al Qaim (sang penegak) ‘alaihi salam dari luar kota Kufah 27 laki-laki dari kaumnya Nabi Musa?! Dan tujuh orang dari Ahlul Kahfi, nabi Yusya’ bin Nun, nabi Sulaiman, Abu Dujanah Al Anshary, Al Miqdad, dan Malik Al Asytar, dan mereka akan berada di hadapannya sebagai para pembela dan para hakim!!

Teks-teks ini dinukilkan secara utuh dan dengan penuh kehati-hatian dari kitab salah seorang ulama’ terbesar mereka, yaitu Syeikhul Mufid, dan yang diriwayatkan dengan rentetan sanadnya yang tidak diragukan lagi telah dipalsukan atas nama Ahlul Bait, sehingga para pendusta tersebut yang telah menjadi pengikut mereka merupakan musibah terbesar yang menimpa ahlul Bait. Dan buku Syeikhul Mufid telah dicetak di Iran, dan salah satu edisi kunonya tersimpan dan ada bersama kami.

(*) Mengapa hal ini tidak pernah dilakukan oleh kakeknya, yaitu sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu selama ia menjabat sebagai kholifah? Apakah cucunya yang ke dua belas lebih besar pengorbanannya demi Al Quran dan agama Islam?

***
Penulis: Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : WWW.MANHAJ.OR.ID

Ideologi Ar Raj ah dan Pembantaian 3000 Kaum Quraisy

Ideologi Ar Raj’ah dan Pembantaian 3000 Kaum Quraisy

Agar Anda memahami tentang ideologi Ar Raj’ah langsung dari buku mereka yang tepercaya, saya akan sebutkan untuk Anda ucapan Syaikh sekte Syi’ah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin An Nu’man, yang lebih dikenal di kalangan mereka dengan sebutan “Syaikh Al Mufid” dalam bukunya yang berjudul: “Al Irsyad Fi Tarikh Hujajillah ‘Alal ‘Ibaad”. Buku ini dicetak di Iran dengan cetakan kuno, tidak disebutkan tahun terbitnya, dan dicetak dengan tulisan tangan Muhammad bin Ali Muhammad Hasan (Demikian disebutkan dalam buku aslinya, mungkin benarnya ialah: Muhammad Ali bin Muhammad Hasan) Al Kalbabakati:

Al Fadhl bin Syazan meriwayatkan dari Muhammad bin Ali Al Kufi dari Wahb bin Hafsh dari Abu Bashir, ia menuturkan: Abu Ja’far (yaitu Ja’far As Shodiq) berkata: Akan diseru dengan nama Al Qaim (maksudnya: Imam mereka ke-12 yang mereka yakini telah lahir lebih dari sebelas abad silam, dan ia belum mati, karena ia akan bangkit dan mengadili), akan diseru dengan namanya pada malam 23 dan ia akan bangkit pada hari ‘Asyura (tgl 10 Muharram), dan seakan-akan sekarang ini aku dapat melihat ia pada hari kesepuluh bulan Muharram sedang berdiri antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim, Malaikat Jibril berada di sebelah kanannya sambil menyeru: Berbaiatlah untuk Allah. Maka kaum Syi’ah berbondong-bondong dari segala penjuru dunia yang telah dipendekkan untuk mereka hingga akhirnya mereka semua dapat membai’atnya. Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa ia akan berjalan dari Mekkah hingga tiba di Kuffah dan ia singgah di kota Nejef kita ini, kemudian ia dari kota tersebut mengutus pasukannya ke berbagai penjuru dunia.

Al Hajjal juga meriwayatkan dari Tsa’labah dari Abu Bakar Al Hadhrami dari Abu Ja’far ‘alaihi salam (yaitu Muhammad Al Baqir) ia berkata: Seakan-akan aku menyaksikan Al Qa’im ‘alaihi salam sedang berada di Najef kota Kuffah, ia datang dari kota Mekkah dengan diiringi oleh 5000 malaikat, Malaikat Jibril di sebelah kanannya, Malaikat Mikail di sebelah kirinya, sedangkan kaum mukminin di depannya, dan beliau mengutus pasukannya ke berbagai negeri.

Abdul Karim Al Ju’fi juga menuturkan, aku pernah berkata kepada Abu Abdillah (yaitu Ja’far As Shodiq) berapa lama Al Qaim ‘alaihi salam akan menguasai dunia? Beliau menjawab: Tujuh tahun, hari-harinya akan menjadi panjang, sampai-sampai satu tahun kepemimpinannya sama halnya dengan sepuluh tahun biasa, sehingga lama kepemimpinanya sama dengan tujuh puluh tahun yang biasa kalian alami. Abu Bashir bertanya kepadanya: Semoga aku menjadi tebusanmu, bagaimana cara Allah memanjangkan tahun? Ia menjawab: Allah memerintahkan al falak agar berhenti dan tidak banyak bergerak, dengan cara inilah hari dan tahun menjadi panjang. Bila masa kebangkitannya telah tiba, umat manusia selama bulan Jumadil Akhir dan sepuluh hari dari bulan Rajab akan ditimpa hujan lebat yang tidak pernah dialami oleh manusia, kemudian Allah menumbuhkan kembali daging dan badan kaum mukminin dalam kuburan mereka, seakan-akan sekarang ini, aku sedang menyaksikan mereka membersihkan tanah dari rambut-rambut mereka.

Abdullah bin Al Mughirah juga meriwayatkan dari Abu Abdillah (yaitu Ja’far As Shodiq) ‘alaihissalaam ia menuturkan: Bila Al Qaim dari keturunan (nabi) Muhammad telah bangkit, ia akan membangkitkan 500 orang dari orang-orang Quraisy, kemudian ia akan memenggal leher mereka, kemudian ia akan membangkitkan 500 lainnya, kemudian memenggal leher mereka juga, kemudian membangkitkan 500 lainnya, hingga ia melakukan hal itu sebanyak 6 kali. Aku pun bertanya: apakah jumlah mereka mencapai sebanyak ini? (Ia merasa keheranan akan hal itu, karena Khulafa’ Ar Rasyidin, Dinasti Umawiyyah, Abbasiyah dan seluruh penguasa umat Islam hingga zaman Ja’far As Shadiq tidak sampai sebanyak itu, juga tidak sampai satu persennya) Ja’far As Shodiq menjawab: Ya, dari mereka dan juga dari pengikutnya. Dan pada riwayat lain: Sesungguhnya kekuasaan kita adalah kekuasaan terakhir, tidaklah ada satu marga pun dari mereka melainkan pernah menjadi penguasa, agar mereka tidak berkata bila telah menyaksikan perilaku kita: Bila kami berkuasa niscaya kami akan berlaku seperti perilaku mereka.

***
Penulis: Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Sumber : http://www.manhaj.or.id

Keyakinan Nyeleneh Syiah Tentang Imam Mahdi

Menanti Kedatangan Imam Mahdi Untuk Bersama-sama Membalas dan Membasmi Para Perampas Kekuasaan

Di antara prinsip dasar dalam ideologi mereka ialah: Bila suatu saat nanti Imam Mahdi telah bangkit, yaitu Imam mereka yang ke dua belas, yang menurut mereka saat ini sudah hidup dan sedang menanti saat kebangkitannya/revolusinya agar mereka ikut andil bersamanya menjalankan revolusi tersebut. Bila mereka menyebutkannya dalam buku-buku mereka, mereka senantiasa menuliskan di sebelah nama, atau julukan atau panggilannya dua huruf (عج) kependekan dari:

عجَّل الله فرجه

“Semoga Allah menyegerakan kebangkitannya.”

(Tatkala Imam Mahdi ini telah bangkit dari tidurnya yang amat panjang yang telah melebihi seribu seratus tahun) Allah akan menghidupkan kembali seluruh penguasa umat Islam yang telah lalu bersama-sama para penguasa yang ada pada masa kebangkitannya terutama yang mereka sebut dengan Al Jibtu & At Thoghut; Abu Bakar dan Umar dan para pemimpin setelah keduanya!! Kemudian Imam Mahdi ini akan menghukumi mereka atas perbuatan mereka merampas kekuasaan dari dirinya dan dari kesebelas nenek moyangnya. Karena -menurut mereka- kekuasaan itu sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hak mereka semata sebagai karunia Allah kepada mereka, dan tidak ada hak sedikit pun bagi selain mereka.

Dan setelah mengadili para thoghut tersebut, ia membalas mereka semua, sehingga ia memerintahkan untuk membunuh dan memusnahkan setiap lima ratus orang secara bersama-sama, hingga akhirnya ia genap membunuh sebanyak 3000 penguasa Islam sepanjang sejarah. Hukuman ini terjadi di dunia sebelum kebangkitan terakhir mereka, kelak di hari kiamat. Kemudian setelah mereka semua mati serta binasa, terjadilah kebangkitan terbesar, kemudian manusia masuk surga atau neraka. Surga bagi keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap orang yang berkeyakinan demikian ini tentang mereka dan neraka bagi setiap orang yang tidak termasuk kelompok Syi’ah.

Kaum Syi’ah menamakan penghidupan kembali, pengadilan dan pembalasan ini dengan sebutan “Ar Raj’ah”, dan hal ini merupakan bagian dari ideologi kaum Syi’ah yang tidak seorang Syi’ah pun yang meragukannya. Saya melihat sebagian orang yang berhati baik beranggapan bahwa ideologi semacam ini telah ditinggalkan oleh kaum Syi’ah akhir-akhir ini. Sudah barang tentu anggapan ini adalah salah besar dan menyelisihi realita, karena kaum Syi’ah sejak dinasti As Shafawiyyah hingga sekarang lebih ekstrem dalam meyakini ideologi-ideologi ini dibanding generasi sebelumnya. Mereka saat ini terbagi menjadi dua kelompok: orang-orang yang meyakini ideologi-ideologi tersebut dengan utuh dan orang-orang yang berpendidikan modern sehingga mereka menyeleweng dari berbagai khurofat ini kepada paham komunis. Penganut paham komunis di Irak dan Partai Tawaddah (Partai Kasih Sayang) di Iran, anggotanya ialah kaum Syi’ah yang telah menyadari kesalahan berbagai dongeng palsu mereka, sehingga mereka menganut paham komunis setelah sebelumnya menganut ajaran Syi’ah!!! Di masyarakat mereka tidak ada kelompok atau partai yang moderat, kecuali orang-orang yang menerapkan ajaran taqiyyah guna mencapai tujuan kelompok atau diplomasi atau partai atau pribadi, padahal ia menyembunyikan selain dari yang ia nampakkan.

***
Penulis: Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa: Ustadz Muhammad Arifin Badri

%d blogger menyukai ini: