Neo-Khawarij (2)

MENCELA PEMERINTAH SECARA TERANG-TERANGAN TERMASUK MODEL KHAWARIJ

Termasuk model-model khawarij adalah mencela penguasa (pemerintah) di depan khalayak dan ini merupakan langkah awal yang dilakukan khawarij yaitu dengan menyebarkan kesalahan-kesalahan dan aib-aib pemerintah di atas mimbar-mimbar yang ujung dari hal ini yang tidak bisa dihindarkan lagi adalah memberontak terhadap pemerintah.

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Cara seperti ini jelas menyelisihi petunjuk Nabi dalam mengoreksi penguasa. Ibnu Ashim berkata dalam kitab As-Sunnah Bab Bagaimanakah Cara Rakyat Nenasihati Penguasa, beliau membawakan sebuah riwayat dari Syuraih bin ‘Ubaid Al-Hardhromi dan lainnya yang berkata: ‘Iyadh bin Ghonam mendera penduduk Dar’ tatkala ia menaklukkannya. Hisyam bin Hakim mengecamnya dengan perkataan yang kasar sehingga ‘Iyadh pun marah. Setelah beberapa hari Hisyam bin Hakim datang kepadanya untuk meminta pengertiannya dengan menyebutkan alasannya, ia berkata kepada ‘Iyadh, tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah, “Sesungguhnya orang yang disiksa paling keras di akhirat adalah yang paling keras siksaannya kepada manusia di dunia.”

‘Iyadh bin Ghonam berkata, “Wahai Hisyam bin Hakim sungguh telah kami dengar apa yang telah kau dengar dan kami telah saksikan apa yang kau lihat, tidakkah engkau mendengar perkara Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang hendak menasihati penguasa dengan sesuatu perkara, janganlah ia nyatakan terang-terangan namun hendaknya dia mengambil tangan penguasa tersebut dan berduaan dengannya (empat mata). Jika dia menerima maka itulah yang diharapkan, dan jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya terhadap penguasa”.

Dan engkau wahai Hisyam terlalu berani, engkau berani menentang penguasa yang telah diberi kekuasaan oleh Allah, tidaklah engkau takut dibunuh oleh penguasa hingga engkau menjadi korban penguasa (yang diberi kekuasaan oleh) Allah?” (Lihat Dzilalul Jannah fii Takhrijis Sunnah karya Syaikh Albani no. 1096. Berkata Syaikh Abdul Malik: Dan diriwayatkan pula oleh Ahmad dan lafal di atas sesuai dengan riwayat Ahmad, dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim, dan hadits ini shahih lihat Madarikun Nazhar hal 273)

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Agar para pembaca tidak kaget mengapa para penyelisih metode Nabi dalam memberi nasihat kepada penguasa ini saya tuding telah mengikuti cara-cara khawarij, maka akan saya bawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan lainnya dari Ziyad bin Kusaib ia berkata, “Suatu ketika aku bersama Abu Bakroh berada tepat di bawah mimbar Ibnu ‘Amir dan dia sedang berkhotbah (di atas mimbarnya tersebut pent) dengan mengenakan pakaian tipis. Lalu Abu Bilal berseru: “Lihatlah pemimpin kita ini, ia mengenakan pakaian orang-orang fasik”. Berkata Abu Bakroh, “Diamlah engkau, saya mendengar Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menghina penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya,” (Shahih Sunan At-Tirmidzi, karya Syaikh Albani no 1812)

Berkata Adz-Dzahabi “Abu Bilal ini adalah Mirdas bin Udayyah, seorang penganut paham khawarij, dan di antara kebodohannya ia menganggap pakaian laki-laki yang tipis adalah pakaian orang-orang fasik” (As-Siyar, 14/508 dan 2/20. aku berkata (pembicara adalah Syaikh Abdul Malik), “Dan demikianlah ciri-ciri kaum khawarij, mereka memadukan antara mengingkari kemungkaran dengan cara yang buruk dan bodoh terhadap perkara mungkar itu sendiri, yaitu rusaknya ilmu dan penerapan”).

Begitu pula diriwayatkan oleh Sa’id bin Jumhan, ia berkata “Saya pergi menemui Abdullah bin Abi ‘Aufa yang tatkala itu beliau sudah buta. Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Dia berkata “Siapa engkau?”, aku menjawab “Saya Sa’id bin Jumhan”. Dia berkata, “Apa yang telah dilakukan oleh ayahmu?”, aku menjawab “Beliau telah dibunuh oleh kaum Azaariqoh”. Dia berkata, “Semoga Allah melaknat Azaariqoh, Rasulullah telah menyampaikan kepada kami bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka” aku berkata, “Hanya Azaariqoh sajakah ataukah seluruh kaum khawarij?”. Dia menjawab “Seluruh kaum khawarij”, aku berkata, “Akan tetapi itu adalah akibat penguasa menzalimi rakyat dan berbuat semena-mena terhadap mereka”. Maka beliau pun menarik tanganku dan menggenggamnya dengan sangat kuat lalu berkata “Celaka engkau ini wahai putra Jumhan, hendaklah engkau tetap mengikuti As-Sawadul A’dzom (Ahlusunnah wal Jamaah), hendaklah engkau tetap mengikuti As-Sawadul A’dzom (Ahlusunnah wal Jamaah), jikalau penguasa mau mendengar perkataanmu maka datangilah ia di rumahnya dan kabarkanlah kepadanya apa yang engkau ketahui, jika ia menerima perkataanmu (maka itu yang diharapkan), dan jika tidak maka tinggalkanlah ia, sesungguhnya engkau tidak lebih tahu ketimbang dirinya”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/382-383 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Zilalul Jannah hal 508)

FAEDAH
Abdulloh bin Ahmad meriwayatkan melalui jalur sanadnya yang shahih dari Sa’id bin Jumhan, ia berkata, “Kaum khawarij terus mengajakku bergabung dengan mereka sampai-sampai aku hampir ikut bergabung dengan mereka, maka saudara perempuan Abu Bilal melihat dalam mimpi bahwa Abu Bilal berwujud anjing hitam legam dan kedua matanya melelehkan air mata. Saudara perempuan ini berkata “Demi Allah wahai Abu Hilal, apa yang telah menimpa dirimu hingga keadaanmu seperti ini?”, ia berkata “Kami telah dijadikan anjing-anjing neraka”. Perlu diketahui Abu Bilal adalah termasuk tokoh khawarij”. (Kitabus Sunnah, no. 1509). Wal hasil, hanya sekedar memprovokasi massa untuk menentang penguasa muslim (walaupun ia adalah orang yang fasik) merupakan tindak-tanduk khawarij.

Berkata Ibnu Hajar tatkala menjelaskan beberapa sekte khawarij, “Dan (di antara sekte-sekte khawarij adalah) Al-Qo’adiah yang mereka membagus-baguskan (memprovokasi terjadinya) pemberontakan terhadap para penguasa namun mereka tidak langsung terjun dalam pemberontakan tersebut…” (Hadyus Sari, hal 459. fasal: Fii Tamyiizi Asbatit Tho’n perkataan beliau selengkapnya, “dan khawarij yang mereka mengingkari tahkim yang dilakukan Ali dan berlepas diri dari Ali, juga dari Utsman dan keturunannya dan memerangi mereka. Jika mereka (khawarij) mengafirkan mereka (Ali, Utsman, dan keturunannya) maka itulah khawarij yang sangat parah. Dan kelompok khawarij Abadlih adalah pengikut Abdullah bin Abaadl. Dan Al-Qo’adiah yang mereka membagus-baguskan (memprovokasi terjadinya) pemberontakan terhadap para penguasa namun mereka tidak langsung terjun dalam pemberontakan tersebut…”)

Ibnu Hajar juga berkata tatkala menjelaskan biografi Imron bin Haththoon (seorang tabi’i yang tersohor) “…Dan dia adalah termasuk tokoh khawarij dari sekte Al-Qo’adiah, dan mereka adalah orang-orang yang memprovokasi selain mereka untuk membangkang pada penguasa namun mereka tidak terjun langsung dalam perang…” (Al-Ishobah 3/177, terjemah no 6877. berkata Abu Faroj al-Ashabani, “Hanyalah yang menyebabkan Imron menganut sekte Al-Qo’adiah (tidak ikut memberontak tapi hanya memprovokasi) setelah ia tua dan tidak mampu lagi berperang -pen)

Berkata Abdulloh bin Muhammad Ad-Dho’if, “Kelompok Al Qo’adiah ini merupakan sekte khawarij yang paling berbahaya.” (Sanad riwayat ini shahih, lihat penjelasan panjang oleh Syaikh Abdul Malik dalam Madarikun Nazhar, pada catatan kaki hal 275)

Aku berkata (pembicara adalah Syaikh Abdul Malik), “Zaman sekarang ini siapakah para khatib yang terhindar dari praktek ini?, apalagi para khatib yang berbicara di hadapan publiknya dan tersohor di kalangan mereka, Ya Allah, selamatkanlah kami”.

Oleh sebab itu Syaikh Sholeh As-Sadlaan mengomentari mereka sebagai berikut, “Sebagian saudara-saudara kita melakukan hal itu dengan niat yang baik. Mereka beranggapan bahwa yang namanya khuruj (pembangkangan terhadap penguasa) itu hanyalah dengan senjata. Padahal khuruj itu tidak hanya dilakukan dengan senjata atau tindakan-tindakan anarkis yang sudah dikenal luas. Bahkan khuruj dengan kata-kata lebih berbahaya daripada khuruj dengan senjata. Karena khuruj (pembangkangan) dengan senjata dan kekerasan tidak bisa tumbuh kecuali dengan (dimulai) kata-kata“.

Maka kami sampaikan kepada saudara-saudara kami yang terbakar semangatnya (yang kami kira mereka memiliki kebaikan Insya Allah) agar hendaknya mereka menahan diri dan hendaknya mereka perlahan-lahan karena sikap arogan dan ekstrem kalian hanyalah membenihkan sesuatu (yang negatif) dalam hati-hati kalian yang sebenarnya masih polos yang hanya mengenal sentimen emosional. Tindakan mereka itu juga akan membuka pintu bagi oknum-oknum yang punya kepentingan pribadi untuk berkomentar, melontarkan segala unek-uneknya yang baik yang hak maupun yang batil.

Dan tidak diragukan lagi bahwasanya khuruj dengan kata-kata, tulisan, tabligh-tabligh akbar, maupun seminar-seminar yang memprovokasi massa jelas menyalahi prosedur yang disyariatkan. Saya yakin, hal ini merupakan cikal bakal timbulnya pembangkangan terhadap penguasa dengan senjata. Saya peringatkan dengan peringatan yang keras agar praktek seperti ini dijauhi, dan saya berpesan pada kalian: “Hendaknya kalian perhatikan akibat yang terjadi dan memandang pada sepak terjang orang-orang sebelum kalian yang telah bergelut dengan kancah praktek seperti ini agar kalian melihat bencana yang melanda sebagian masyarakat Islam. Apakah sebabnya? apakah langkah awal yang dilakukan hingga mengantarkan mereka pada bencana dan musibah yang melanda mereka? jika hal itu telah kita ketahui barulah kita sadar bahwasanya khuruj dengan kata-kata dan pemanfaatan media-media informasi dan komunikasi untuk provokasi dan pengobaran membenihkan fitnah di hati.” (Muroja’at fi Fiqhil Waqi’ As Sunnah-Siasi, karya DR Abdullah Ar-Rifa’i hal 88-89, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Malik dalam Madarikun Nazhar, hal 275-276, Lihat penjelasan Syaikh Abdul Malik dalam Madarikun Nazhar hal 272-276)

DEMONSTRASI
Di antara bentuk khuruj (pembangkangan) terhadap pemerintah, yaitu sikap demonstrasi yang sekarang kian merebak di kalangan para pemuda Islam dan dijadikan ladang jihad. Tidak Cuma kaum pria bahkan wanita pun turut meramaikan dengan turun ke jalan-jalan sambil berkoar-koar menuntut ditegakkannya syariat Allah. Bahkan wanita terkadang dijadikan tameng tatkala aksi berdemo. Bahkan ini dijadikan kebanggaan oleh salah seorang khatib kondang di negeri kita. Inna lillahi wainna ilahi raji’un.

Berkata Syaikh Abdul Malik membantah khatib kondang tersebut, “Wahai khatib apakah engkau bangga dengan umat yang telah sirna kejantanan para lelakinya hingga wanitanya ikut turun ke jalanan?, apakah dengan keluar rumah para wanita telah menegakkan syariat Allah? Bukankah di antara syariat Allah adalah firman-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (QS Al Ahzab: 33)

Seharusnya engkau katakan pada wanita tersebut, “Mulailah penerapan hukum Islam pada diri kalian, baru tuntutlah orang lain untuk menerapkannya melalui prosedur yang dibenarkan syariat!!”. Ataukah geliat politik tidak memberikan bagi engkau dan juga para wanita yang engkau banggakan kesempatan agar kalian bisa berpikir jernih tentang hukum-hukum Allah yang mestinya kaian lakukan?

Memang Aisyah telah keluar dalam peperangan Jamal, namun para sahabat tidak memuji tindakan beliau, bahkan beliau sendiri tidak memuji perbuatannya. Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Jarir Ath-Thobari mencantumkan riwayat dengan sanad yang shahih dari abu Yazid Al-Madini yang berkata bahwa ‘Ammar bin Yasir berkata kepada Aisyah sekembalinya dari peperangan Jamal, “Betapa jauhnya perjalanan yang telah engkau lakukan dari perjanjian (kewajiban) yang telah ditetapkan bagi kalian” beliau mengisyaratkan kepada firman Allah, “Dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian-kalian.” (QS. Al-Ahzab 33).

Maka Aisyah pun berkata, “Apakah yang berbicara ini adalah Abul Yaqson (Ammar bin Yasir)?”, Ammar menjawab, “Benar”. Aisyah berkata “Sesungguhnya sepanjang pengetahuanku engkau adalah orang yang mengatakan kebenaran”, Ammar menanggapi, “Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan sifat tersebut bagiku melalui lisanmu”. (Fathul Bari 13/58)

Aku (Syaikh Abdul Malik) berkata, “Tahukah engkau (wahai khatib) bahwasanya Aisyah menangis sejadi-jadinya atas tindakannya itu?”. Dari Qois bin Hazim mengisahkan tatkala Aisyah berangkat menuju peperangan Jamal dan ia sampai suatu malam di sebuah mata air bani ‘Amir, tiba-tiba anjing-anjing menggonggong. Aisyah bertanya: “Mata air siapakah ini?”. “Mata air Al-Hau’ab”, jawab mereka, Aisyah berkata lagi “Menurutku aku tidak punya pilihan lain kecuali harus kembali”. Orang-orang yang menyertainya berkata “Tidak engkau harus meneruskan perjalanan agar kaum muslimin dapat melihatmu, mudah-mudahan dengan usaha ini Allah mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru!”. Aisyah berkata “Sungguh pada suatu hari Rasulullah pernah berkata kepadaku: “Bagaimana nasib salah seorang dari kalian manakala anjing-anjing di mata air Al-Hau’ab menggonggong kepadanya?” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Ibnu Katsir. Berkata Ibnu hajar, “Sanadnya sesuai dengan kriteria Bukhari dalam sahihnya” (Al-Fath 13/55). Al Albani berkata, “Sanadnya shahih jiddan” (As-Sunnah-Shahihah no. 474)

Perhatikanlah ucapan di atas; “Agar kaum muslimin dapat melihatmu, mudah-mudahan dengan usaha ini Allah mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru”, tentu sangat jauh berbeda antara tujuan yang tulus ini dengan tujuan demonstrasi yang mereka lakukan yaitu agar orang-orang mukmin melihat kaum wanita sehingga bergejolaklah keberanian mereka dan agar orang-orang fasik itu kecil nyalinya. Demikianlah anggapan mereka. Selain itu juga sangat berbeda tindakan Aisyah yang menghendaki perdamaian di antara kaum mukminin dan berhentinya pertumpahan darah dengan tindakan para demonstran wanita yang telah masuk dalam kancah dunia perpolitikan.

Berkata Az-Zaila’i, “Aisyah telah menunjukkan rasa penyesalannya sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Al-Istii’aab dari Ibnu Abi ‘Atiq yaitu Abdulloh bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Bakr As-Sunnah Siddiq, ia berkata, “Aisyah berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Abu Abdirrohman, apakah yang menghalangimu untuk mencegah perjalananku ini?”, ia berkata “Saya melihat seseorang telah mendominasimu!” (yaitu Abdulloh bin Zubair). Aisyah berkata, “Demi Allah seandainya engkau melarangku niscaya aku tidak akan keluar” (Nashbur Royah 4/69-70)

Imam Adz Dzahabi berkata: “Kemudian dalam riwayat lain disebutkan bahwa keluarnya Aisyah ini mengurungkan keinginannya agar jenazahnya dimakamkan di kamarnya bersama Rasulullah”. Dari Ismail bin Abi Kholid dari Qois berkata, “Tatkala Aisyah menyampaikan keinginannya agar jenazahnya dimakamkan di kamarnya ia berkata: “Sesungguhnya aku telah melakukan kesalahan sepeninggal Rasulullah. Oleh karena itu kuburkanlah aku bersama istri-istri beliau yang lain”. Maka beliau pun dimakamkan di pekuburan Baqi’.

Berkata Adz-Dzahabi, “Kesalahan yang dimaksudkan oleh Aisyah adalah perjalanannya menuju perang Jamal, sesungguhnya ia sangat menyesal dan bertaubat dari kesalahan tersebut. Padahal ia tidak melakukan kesalahan tersebut kecuali karena salah takwil (salah tafsir) dan hanya mengharapkan kebaikan, sebagaimana halnya ijtihad Tholhah bin Abdillah dan Zubair bin Awwam dan sahabat yang lainnya, semoga Allah meridhai mereka semuanya’.(As-Siyar 2/193. Dan atsar Aisyah ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad di At Thobaqoot 8/59 dan Al-Hakim 4/6)

Dan janganlah engkau lupa bahwasanya Aisyah adalah ibu bagi kaum mukminin, jauh dibandingkan dengan wanita-wanita para demonstran itu!. Oleh karena itu Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Maryam Abdullah bin Ziad Al-Asadi, ia berkata, “Tatkala Tholhah, Az-Zubair, dan Aisyah berangkat menuju Basroh, Ali bin Abi Tholib mengutus ‘Ammar bin Yasir dan Hasan bin Ali. Maka kedua utusan itu menemui kami di Kuffah lalu keduanya menaiki mimbar. Hasan bin Ali duduk di bagian paling atas mimbar, adapun Ammar berdiri di bawah Hasan. Maka kami pun mengerumuni mereka berdua. Aku mendengar Ammar berkata “Sesungguhnya Aisyah telah berjalan menuju Bashroh, demi Allah dia adalah istri Nabi kalian di dunia dan akhirat. Namun Allah menguji kalian taat kepada-Nya ataukah kepada Aisyah?”.

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada masa yang generasinya hanya dengan masuknya para wanita dalam permasalahan politik maka langsung mengambil kesimpulan hukum dan memastikan bahwa padahal itu adalah kerusakan meskipun Ummul Mukminin terlibat di dalamnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakroh, ia berkata, “Sungguh Allah memberi kebaikan kepadaku tatkala perang Jamal karena sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah, yang hampir saja aku turut serta bersama tentara Jamal dan berperang bersama mereka. Beliau berkata, “Tatkala Rasulullah mendengar bahwa penduduk Negara Persia mengangkat putri Kisra sebagai raja, beliau bersabda, “Tidak akan beruntung suatu bangsa yang menyerahkan perkara mereka kepada wanita.” (Madarikun Nazhar hal 416-419)

Kisah Umar bin Khaththab tatkala masuk Islam juga dijadikan dalil akan bolehnya berdemonstrasi. Disebutkan dalam suatu riwayat bahwasanya tatkala Umar masuk Islam beliau keluar dalam suatu barisan dan Hamzah pun demikian keluar dalam satu barisan dan kaum muslimin yang lain berjalan beramai-ramai di belakang mereka berdua di jalan-jalan yang ada di Mekkah.

Atsar riwayat ini tidak shahih dan tertolak, sebagaimana atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitabnya Ad-Dalail demikian juga dalam kitabnya Al Hilyah dan pada sanad kisah ini ada seorang rawi yang bernama Ishaq bin Abdillah bin Abi Marwah dan dia adalah matruk menurut para ulama hadits. Dan dalam kisah Islamnya Umar disebutkan bahwa memukul saudara perempuannya hingga mengeluarkan darah kemudian Umar pergi ke darul Arqom hingga akhir kisah, dalam kisah ini sanadnya masih dipertanyakan. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Kisah ini adalah yang sangat mungkar”. Imam Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Al-Istii’aab menganggap kisah ini adalah kisah yang aneh sebagaimana bisa dilihat dalam biografi Fatimah binti Al-Khaththab.

Adapun kisah tambahan (yaitu kisah keluarnya Umar dan Hamzah di jalan-jalan) yang dijadikan dalil mereka untuk melegimitasi demonstrasi yang aneh yang bukan berasal dari ajaran Islam dan diriwayatkan dari atsar Ibnu Abbas dengan sanad yang sangat rusak (sangat lemah) maka kita bantah:

Pertama: tegakkan dalil terlebih dahulu kemudian berbuat, bukan malah sebaliknya. Mereka sesungguhnya berdemo terlebih dahulu kemudian baru mencari-cari dalil. Sebagai bukti banyak dari pemuda yang mengadakan aksi demo yang sama sekali tidak tahu kisah Umar yang keluar ke jalan-jalan (padahal kisah ini tertolak dan tidak sah). Mereka berdemo hanyalah ikut-ikutan tanpa dalil. Seharusnya mereka mencari dalil terlebih dahulu kemudian mengetahui sejauh mana keabsahan dalil tersebut baru kemudian bertindak, sebagaimana Imam Bukhari membuat Bab: Ilmu sebelum berkata dan bertindak. Dan inilah yang banyak terjadi pada pergerakan-pergerakan dakwah, mereka telah terjun pada arena politik kemudian setelah itu mereka menanyakan hukumnya kepada Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Bazz, dan ulama lainnya. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya demonstrasi termasuk khuruj (sikap pembangkangan) terhadap pemerintah yang mengantarkan kepada kerusakan dan bencana.

Kedua: Allah telah memberi kita jalan yang baik dalam menyikapi kesalahan dan kezaliman pemerintah yaitu dengan disyariatkannya nasihat sehingga kita tidak butuh pada cara-cara orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak ada kebaikannya sama sekali. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Dari bahwasanya Rasulullah bersabda, “Agama itu adalah nasihat”. Kami berkata, “Untuk siapa nasihat itu?”, Rasulullah bersabda, “untuk Allah dan kitab-Nya dan rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin secara umum”.

Maka barang siapa yang mampu dan berkesempatan untuk menemui para penguasa atau menulis surat kepada mereka maka hendaklah ia lakukan. Dan hendaknya dia menasihati dengan sebaik mungkin. Inilah yang diwajibkan Allah dan para ulama yaitu hendaknya mereka memberi nasihat yang mengarahkan pada perbaikan dan kebaikan persatuan, serta menghilangkan kemungkaran atau minimal menguranginya. Adapun jika nasihat ini mengakibatkan kemungkaran yang lebih dahsyat maka hendaknya ditinggalkan dan hendaknya kita bersabar dan berdoa kepada Allah agar menyayangi kita. Inilah manhaj (metode) Ahlusunnah dalam mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh para penguasa, dan buku-buku aqidah penuh dengan penjelasan yang sangat jelas tentang manhaj ini. Bahkan penjelasan tentang menyikapi keras orang-orang yang menyelisihi ini. Maka yang wajib bagi kaum muslimin adalah berpegang teguh dengan ajaran agama mereka dan meninggalkan metode-metode orang kafir yang sama sekali tidak mendatangkan kebaikan. (Bantahan ini disadur dari bantahan Syaikh Abul Hasan, lihat Silsislah Al-Fatawa As-Syar’iyah no. 1, bulan Robi’tsani 1418 H pertanyaan no. 14)

Adapun hadits Nabi, “Sebaik-baik jihad adalah (mengucapkan) kalimat yang adil di sisi penguasa yang zalim.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4344), At-Tirmidzi (2174) dan Ibnu Majah (4011), dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihah no. 491).

Berkata Al-Mundzir, “sesungguhnya hal ini merupakan sebaik-baik jihad karena kezaliman seorang penguasa melanda semua orang yang berada di bawah kekuasaannya sangatlah banyak. Jika dia bisa melarang sang penguasa dari kezaliman maka dia telah mendatangkan kebaikan bagi orang banyak..”. (Tuhfatul Ahwadzi 6/396).

Bukan malah sebaliknya, dengan mencela pemerintah malah menambah kezaliman sang penguasa kepada rakyat, rakyat makin tertindas dan semakin sempit kehidupan perekonomian mereka. Apakah cara seperti ini disebut jihad yang baik? ataukah sebaliknya??

Dan juga sabda beliau, “Pimpinan para syuhada adalah Hamzah dan orang yang pergi menuju penguasa yang zalim lalu ia memerintahnya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran) lalu penguasa tersebut membunuhnya” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim 3/159, dan Al-Khotib dalam tarikhnya 6/377 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihah no. 374)

Maka bukan berarti dengan membeberkan aib penguasa di mimbar-mimbar dan juga bukan dalil untuk bolehnya berdemonstrasi. Sesungguhnya Ahlul Bid’ah mereka hanya melihat sebagian dalil yang sesuai dengan hawa nafsu mereka kemudian mereka menutup mata dari dalil-dalil yang lain yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Adapun Ahlusunnah maka mereka mengambil seluruh dalil dan mengompromikan makna dari dalil-dalil yang nampaknya bertentangan (padahal tidak demikian di mata orang-orang alim) lalu mereka mengambil kesimpulan hukum.

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda
(Makalah Dauroh Diniyah II 2004, Masjid Kampus UIN Yogyakarta)

Dikutip dari : WWW.MANHAJ.OR.ID

Posted on Juni 22, 2008, in Khawarij and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: