Daily Archives: September 17, 2008

Ustadz Nurdin Al Bukhori

Download Kajian Ustadz Nurdin Al Bukhori :

  1. Amalan Terpuji Menghapus Akhlaq Tercela
  2. Beberapa Masalah Tentang Jenis Najis
  3. Beberapa Penyimpangan Terhadap Kuburan
  4. Do’a-Do’a Di Bulan Ramadhan
  5. Hukum Menolak Asma’ Wa Sifat
  6. Keutamaan Tauhid dan Menjauhi Syirik
  7. Mengutamakan Saudara
  8. Perbuatan Yang Dapat Menyebabkan Syirik Akbar
  9. Syarah Hadits Anjuran Berbuat Baik
  10. Sebab Manusia Masuk Neraka

Nikah Mut’ah Dan Pelacuran

Apakah nikah mut’ah sama dengan pelacuran? Barangkali banyak yang marah membaca judul di atas. Namun sebelum marah, hendaknya membaca dulu selengkapnya.

Kita bisa mengatakan motorku sama dengan motormu ketika kedua motor kita setype, kita bisa mengatakan rumahmu sama dengan rumahku ketika rumah kita sama-sama dicat dengan warna yang sama. Kita bisa mengatakan Hpku sama dengan Hpmu ketika HP kita setype. Antara HP kita dan HP teman kita ada faktor kesamaan sehingga bisa kita katakan sama. Sama artinya adalah ketika ada sesuatu yang ada pada dua hal yang kita perbandingkan. Semakin banyak kesamaan yang ada, semakin bisa kita katakan bahwa dua hal itu sama.

Walaupun banyak faktor kesamaan yang ada, kadang ada juga perbedaan-perbedaan yang bisa jadi penting dan bisa jadi tidak penting. Misalnya seluruh manusia adalah sama, artinya sama-sama manusia walaupun ada perbedaan yang kadang banyak, misalnya perbedaan suku, warna, ras, bahasa, perilaku, sifat dan watak, namun semua tetap disebut manusia. Sama-sama manusia walaupun beda. Namun dalam kacamata Islam, ada kriteria tertentu yang membedakan manusia, yang mana Islam mengklasifikasikan manusia melalui kriteria-kriteria itu. Kriteria itu adalah iman, artinya dalam segala kesamaan yang ada di antara seluruh manusia, ada perbedaan inti di antara mereka, yaitu iman. Meskipun ada ribuan persamaan di antara manusia, ketika ada perbedaan iman disitu manusia berbeda. Orang beriman berbeda dengan orang kafir, meskipun keduanya memiliki banyak persamaan, walaupun keduanya –misalnya- saudara kembar. Allah membedakan antara keduanya dengan iman. Dalam kasus ini -dan juga banyak kasus- satu perbedaan dapat menghapus semua kesamaan yang ada.

Ada banyak persamaan antara pernikahan dan perzinaan, yang mana perbedaan yang ada hanya pada akad nikah yang mensyaratkan adanya wali, saksi dan akad dan syarat lainnya, sementara perzinaan tidak perlu ada saksi dan wali, tinggal tawar dan bayar. Bahkan seringkali tanpa ada pembayaran, asal kedua belah pihak suka sama suka maka mereka berdua bisa langsung berzina tanpa syarat apa pun.

Meskipun ada banyak persamaan, sedikit perbedaan dapat membedakan perzinaan dan pernikahan, hal ini tidak perlu dibahas lagi panjang lebar. Dalam hal ini perbedaan yang sedikit membawa implikasi yang begitu besar.

Sebaliknya ketika perbedaan yang ada tidak membawa implikasi apa pun maka bisa dianggap tidak ada, seperti perbedaan rupa manusia tidak membawa implikasi apa pun, yang berbeda dengan implikasi perbedaan iman.

Pada aritkel lalu pembaca telah menelaah fikih nikah mut’ah, yang memberikan lebih banyak gambaran tentang “keindahan” nikah mut’ah bagi pembaca. Kali ini kita akan membandingkan “keindahan” nikah mut’ah dengan realita pelacuran yang ada di lapangan, pada akhirnya kita menemukan tidak ada perbedaan signifikan antara nikah mut’ah dan pelacuran, yang ada hanya perbedaan simbolik dengan isi dan substansi yang sama.

Kita akan melihat lagi point-point “keindahan” nikah mut’ah dan membandingkannya dengan realita pelacuran.

Nikah mut’ah adalah praktek penyewaan tubuh wanita, begitu juga pelacuran.

Kita simak lagi sabda Abu Abdillah : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan.  Al Kafi Jilid. 5 Hal. 452.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa nikah mut’ah adalah bentuk lain dari pelacuran, karena Imam Abu Abdillah terang-terangan menegaskan status wanita yang dinikah mut’ah: mereka adalah wanita sewaan.

yang penting dalam nikah mut’ah adalah waktu dan mahar

sekali lagi inilah yang ditegaskan oleh imam syi’ah yang maksum : Nikah mut’ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 455.

Begitu juga orang yang akan berzina dengan pelacur harus sepakat atas bayaran dan waktu, karena waktu yang leibh panjang menuntut bayaran lebih pula. Pelacur tidak akan mau melayani ketika tidak ada kesepakatan atas bayaran dan waktu. Sekali lagi kita menemukan persamaan antara nikah mut’ah dan pelacuran.

Batas minimal “mahar” nikah mut’ah.

Dalam nikah mut’ah ada batasan minimal mahar, yaitu segenggam makanan berupa tepung, gandum atau korma. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 457. Sedangkan dalam pelacuran tidak ada batas minimal bayaran, besarnya bayaran tergantung dari beberapa hal. Kita lihat disini perbedaan antara mut’ah dan pelacuran hanya pada minimal bayaran saja, tapi baik mut’ah maupun pelacuran tetap mensyaratkan adanya bayaran. Banyak cerita yang kurang enak mengisahkan mereka yang berzina dengan pelacur tapi mangkir membayar.

batas waktu mut’ah

tidak ada batasan bagi waktu nikah mut’ah, semua tergantung kesepakatan. Bahkan boleh mensepakati waktu mut’ah walau untuk sekali hubungan badan.

Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut’ah? Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan? Jawabnya : ya. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 460

Begitu juga tidak ada batasan waktu bagi pelacuran, dibolehkan menyewa pelacur untuk jangka waktu sekali zina, atau untuk jangka waktu seminggu, asal kuat membayar saja. Demikian juga nikah mut’ah.

Boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali.

Suami istri diberi kesempatan untuk tiga kali talak, setelah itu si istri harus menikah dengan lelaki lain. Tidak demikian dengan nikah mut’ah, orang boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali, asal tidak bosan saja. Karena wanita yang dinikah secara mut’ah pada hakekatnya sedang disewa tubuhnya oleh si laki-laki. Sama persis dengan pelacuran.

Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja’far, seorang laki-laki nikah mut’ah dengan seorang wanita dan habis masa mut’ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut’ahnya, lalu nikah mut’ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut’ahnya tiga kali dan nikah mut’ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Ja’far : ya dibolehkan menikah mut’ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut’ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya. Al Kafi jilid 5 hal 460

Begitu juga orang boleh berzina dengan seorang pelacur semaunya, tidak ada batasan.

Tidak usah bertanya menyelidiki status si wanita

Laki-laki yang akan nikah mut’ah tidak perlu menyelidiki status si wanita apakah dia sudah bersuami atau tidak. Begitu juga orang tidak perlu bertanya pada si pelacur apakah dia bersuami atau tidak ketika ingin berzina dengannya.

Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu Abdullah, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau barangkali dia adalah pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya. Al Kafi  . Jilid. 5 Hal. 462

Hubungan warisan

Nikah mut’ah tidak menyebabkan terbentuknya hubungan warisan, artinya ketika si “suami” meninggal dunia pada masa mut’ah maka si “istri” tidak berhak mendapat warisan dari hartanya

Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 :  Nikah mut’ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini. Minhajushalihin. Jilid 3 Hal. 80

Begitu juga pelacur tidak akan mendapat bagian dari harta “pasangan zina”nya yang meninggal dunia.

Nafkah

Istri mut’ah yang sedang disewa oleh suaminya tidak berhak mendapat nafkah, si istri mut’ah hanya berhak mendapat mahar yang sudah disepakati sebelumnya. Bayaran dari mut’ah sudah all in dengan nafkah, hendaknya istri mut’ah sudah mengkalkulasi biaya hidupnya baik-baik sehingga bisa menetapkan harga yang tepat untuk mahar mut’ah.

Ayatollah Ali Al Sistani mengatakan:
Masalah 256 : Laki-laki yang nikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut’ah atau akad lain yang mengikat. Minhajus shalihin. Jilid 3 hal 80.

Begitu juga laki-laki yang berzina dengan pelacur tidak wajib memberi nafkah harian pada si pelacur.

Mengapa Imam Syiah Menyembunyikan Kebenaran?

Imam syi’ah yang konon memiliki banyak mukjizat, ternyata masih harus bertaqiyah, menyembunyikan kebenaran karena takut. Apa yang ditakutkan oleh Imam Syi’ah yang konon adalah manusia paling pemberani di jamannya? Al Mufid [seorang ulama Syi’ah] mengatakan: seorang imam harus bersifat paling pemberani di antara umatnya [Al Iqtishad hal 312]

Para pemalsu riwayat dari ahlulbait membuat ajaran baru yang dapat menjaga dan memelihara kebohongan mereka. Tetapi sebenarnya ajaran ini dapat menghancurkan/mengungkap kebatilan prinsip imamah, bahkan membuat agama menjadi batil, ajaran ini adalah taqiyah, atau kebohongan yang dilakukan dengan sengaja.

Mereka yang memalsu riwayat dari para imam tidak tinggal di tempat yang sama, juga hidup pada jaman yang berbeda-beda, juga tidak sepakat atas satu pendapat, jika ada seseorang memalsukan riwayat dari imam, ada juga orang lain yang memalsu riwyat dari imam, yang mana dua riwayat tu aling bertentanga, jalan keluar sudah siap: salah satu yang berbohong melakukan taqiyyah

Taqiyyah dalam Islam

Taqiyyah dalam terminologi syi’ah bukanlah taqiyyah yang diperbolehkan oleh Allah pada saat dalam ketakutan –Allah tidak mewajibkan taqiyah-, tetapi syi’ah beranggapan bahwa taqiyah adalah wajib, yang meningaglkan taqiyah sama dengan meninggalkan agama –menurut riwayat yang ada-.
Sedangkan taqiyah yang sah dalam Islam, bisa jadi seorang muslim hidup hingga meninggal dunia sedangkan dia belum pernah melakukan taqiyah, karena hukumnya mubah, bukan sebuah kewajiban.

Allah berfirman:
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orangyang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. 16:106)

Thabari menukil riwayat dari Ibnu Abbas, dia mengatakan : Allah memberitahukan bahwa orang yang kafir setelah beriman, maka dia akan terkena murka dari Allah dan siksa yang pedih, tetapi siapa yang dipaksa dan mengucapkan kekafiran tetapi hatinya tetap beriman, agar bisa selamat dari musuh, maka hal itu tidak mengapa, karena Allah hanya menilai seorang hamba dengan apa yang diyakini oleh hati. Dari Tafsir Thabari

Allah berfirman:
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. 3:28)

Thabari juga menukil riwayat dari Ibnu Abbas: Allah berfirman () Allah melarang orang beriman untuk berlemah lembut terhadap orang kafir, atau menjadikan mereka sebagai teman dekat, bukannya orang beriman, kecuali ketika orang kafir dalam kondisi kuat, maka boleh memperlihatkan sikap lemah lembut pada mereka, dengan tetap menyelisihi agama mereka, inilah yang dimaksud dalam firman Allah : ()

Kedua ayat di atas menjelaskan hukum asal, lalu menambahkan perkecualian, maka menunjukkan hukum perbuatan itu adalah mubah, bukanlah sebuah perintah dan ajaran agama yang diwajibkan, seperti jelas dimaksud dalam ayat di atas
Inilah taqiyah dalam Islam.

Taqiyah menurut syi’ah

Menurut syi’ah, taqiyyah adalah agama itu sendiri, terdapat banyak riwayat yang konon bersumber dari ahlul bait, di antaranya:

Ja’far As Shadiq mengatakan: taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.

Ja’far juga mengatakan: tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah,

Begitu juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: Taqiyyah adalah agamaku dan agama kakek-kakekku. Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kita Al kafir, Bab Taqiyyah, jilid 2 hal 217. Tidak mungkin ahlul bait mengucapkan demikian.

Ulama syi’ah telah sepakat menekankan ajaran ini, bahkan menganggapnya sebuah rukun yang harus dikerjakan, seperti halnya shalat.

Ibnu Babawaih Al Qummi, salah seorang ulama besar syi’ah, mengatakan: kami meyakini bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti meninggalkan shalat. [Al I’tiqadat hal 114]

Begitulah, taqiyah yang berarti menipu  dijadikan sebagai ajaran agama yang dapat mendekatkan diri pada Allah, bahkan menipu ini menjadi 90% dari agama, ini artinya orang yang selalu berbohong dan menipu dalam ucapan dan perbuatannya setiap hari maka telah melakukan 90% ajaran agama.

Celakanya lagi, menipu seperti ini bukan hanya ajaran dari seorang imam saja, bahkan telah menjadi agama seluruh keluarga Nabi, termasuk di dalamnya Nabi sendiri, seperti tercantum dalam riwayat mereka, akan lain persoalannya jika para imam tidak mengaitkan ajaran itu dengan ajran Nabi, dan menganggap ajaran agama mereka bukan agama yang dibawa oleh Nabi, inilah yang kita pahami dari ucapan imam syi’ah: [dan agama kakek kakek saya].

Apakah ad orang berakal yang dapat menerima hal ini dan menganggap taqiyah atau menipu adalah ajaran Allah yang diturunkan untuk memperbaiki akhlak dan menanamkan nilai kejujuran, sikap terus terang dan memperlakukan manusia dengan jujur, dalam perilaku manusia agar kehidupan menjadi tenteram dan berkembang dalam kerangka amanat, kejujuran dan terus terang?

Anggap saja kita percaya dengan riwayat di atas, apa konsekuensinya?

Meyakini hal di atas memiliki beberapa konsekuensi :

1.    berarti agama yang diturunkan oleh Allah adalah agama taqiyah atau menipu
menipu adalah perbuatan tercela yang dibeni oleh seluruh agama dan masyarakat di dunia ini, bahkan pada jaman jahiliyah sekalipun, yang mana pada jaman jahiliyah seseorang merasa gengsi untuk menipu, apalagi menjadikan menipu dalam rangka untuk mencari pahala, apakah masuk akal Allah menurunkan ajaran agama yang mana 90% dari ajaran itu adalah menipu?

2.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama, orang yang tidak bertaqiyah tidak beragama alias kafir, juga taqiyah adalah ajaran selurhu ahlulbait, dan taqiyah adalah 9 dari 10 ajaran agama, bagaimana kita bisa percaya bahwa Nabi telah menyampaikan seluruh ajaran agama, bisa jadi Nabi menyembunyikan sebagian ajaran agama karena bertaqiyah, karnea taqiyah adalah ajaran agama Nabi, seperti tercantum dalam riwayat syi’ah, astaghfirullah, tidak mungkin Nabi dan ahlul bait meyakini seperti itu.

3.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama apa yang menjamin segala sabda Nabi bukan merupakan taqiyah? Padahal yang benar adalah berlawanan dari yang disabdakan oleh Nabi?

4.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama, siapa yang menjamin bahwa para imam tidak bertaqiyah?

5.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama, lalu apa gunanya imam? Karena tujuan dari adanya imam adalah untuk menyampaikan kebenaran kepada umat manusia, tetapi jika imam malah menyembunyikan kebenaran dan meremehkan agama untuk keselamatan pribadinya lalu apa gunanya dia menjadi imam?

6.    jika memang taqiyah adalah ajaran agama lalu bagaimana kita bisa membedakan bahwa imam melakukan suatu perbuatan dalam keadaan bertaqiyah atau tidak? Bagaimana kita bisa menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat yang timbul akibat perbuatan imam?

Sedangkan menurut syi’ah, salah satu fungsi dari keberadaan imam adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dan perselisihan, tetapi imam malah dengan sengaja menimbulkan perbedaan pendapat baru, karena mengajarkan ajaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebenaran –karena bertaqiyah- akhirnya membuat pengikutnya menjadi bingung dan bersilang selisih.

Imam memerlukan pengikutnya untuk menyelesaikan perbedaan.

Maka imam memerlukan pengikutnya agar mereka dapat meramalkan ucapan imam, mana yang taqiyah dan mana yang tidak, maka pengikut para imam menyusun kitab yang menerangkan bahwa ini adalah taqiyah dan ini adalah tidak, seperti At Thusi yang menyusun dua judul kitab; tahzzhib dan istibshar, yang disusun khusus untuk tujuan di atas.

Pengikut imam memiliki keberanian lebih daripada para imam, karena si pengikut berani berterus terang mengucapkan apa yang tidak berani diucapkan oleh para imam, dan para pengikut itulah yang dapat memberi manfaat pada umat daripada imam, karena merekalah yang menyelesaikan perbedaan pendapat, bukannya para imam.

At Thusi –yang juga dijuluki oleh syiah dengan syaikhut tha’ifah- menuliskan pada pengantar kitab Tahzibul Ahkam:
Kawan-kawan yang memiliki hak yang harus kami tunaikan pada mereka, mereka menyebutkan perbedaan dan kontradiksi yang ada pada hadits-hadits mazhab kami, sampai setiap hadits yang ada pasti ada hadits lain yang membantahnya, dan hal itu dijadikan sebagai bahan untuk menyerang mazhab kami, bahkan membuat musuh dapat menerangkan kebatilan mazhab kami, …..

Beberapa baris kemudian At Thusi menambahkan:
Dia menemui beberapa kelompok yang tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang hadis dan makna-makna lafal hadits, banyak dari mereka keluar dari mazhab yang benar ini, karnea mereka tidak dapat memecahkan keraguan yang ada akibat kontradiksi itu, saya mendengar syaikh Abu Abdullah menyebutkan bahwa Abu Husein Al Harudi Al Alawi dia memeluk mazhab kebenaran –syi’ah- dan beriman pada imamah, lalu keluar dari mazhab karena tidak bisa memecahkan keraguan yang timbul akibat kontradiksi hadits yang ada pada kami, dia meninggalkan mazhab kebenaran dan memeluk mazhab lain karena tidak bisa memecahkan kontradiksi yang ada [tahzibul ahkam jilid 1 hal 2-3]

Lihatlah bagaimana syaikh thaifah mengakui bahwa setiap riwayat pasti ada riwayat yang membantahnya, yang membuat akal sebagian syi’ah bekerja kembali lalu meninggalkan mazhab syi’ah, seperti dijelaskan di atas.

Mengapa imam yang datang kemudian tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh imam sebelumnya?

Jika seorang imam yang terdahulu mengeluarkan sebuah fatwa atau keputusan yang mengandung taqiyah mengapa imam yang datang kemudian tidak memberitahukan pada pengikut syi’ah bahwa fatwa atau ucapan ayahnya itu adalah taqiyah? Mengapa tetap ada riwayat yang kontradiktif? Padahal imam yang datang setelah imam yang terdahulu dan tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh imam sebelumnya, hingga kemudian ulama syi’ah menyimpulkan sendiri tanpa adanya bukti otentik dari para imam, hanya menggunakan perkiraan, kita tidak tahu apakah ucapan ulama ini benar atau tidak.

Dari keterangan di atas, kita bisa amenyimpulkan bahwa ulama syi’ah lah yang sebenarnya layak disebut sebagai imam, karena dialah yang menyelesaikan perselisihan yang timbul akibat fatwa imam yang kontradiktif. Bahkan ulama syi’ah bisa disebut sebagai “imam nya para imam” karena menyelesaikan kontradiksi yang timbul dari ucapan seluruh imam syi’ah.

Para imam syi’ah yang membuat orang jadi bingung, hingga sebagian pengikut syi’ah keluar dari syi’ah karena kontradiksi dari para imam, sebenarnya mereka tidak layak disebut imam.

Kami ahlussunnah meyakini bahwa para imam syi’ah terlepas dari seluruh kebohongan yang kontradiktif di atas, tetapi kami hanya mengomentari riwayat dari kitab-kitab syi’ah.

7.    mana sifat berani para imam, yang konon salah satu syarat imam adalah orang yang paling pemberani? Seperti sifat imam menurut syi’ah.

Al Mufid mengatakan: seorang imam harus bersifat paling pemberani di antara umatnya [Al Iqtishad hal 312]
Apakah imam yang menyembunyikan kebenaran bisa dianggap pemberani?

Apakah kita bisa mempercayai ucapan imam Syi’ah? Jangan-jangan dia bertaqiyah? Bagaimana cara membedakan ucapan imam yang diucapkan saat bertaqiyah dan tidak?
Taqiyah dan Ilmu Ghaib

Banyak riwayat syi’ah menyatakan bahwa para imam memiliki kekuatan untuk mengetahui hal-hal ghaib?

Imam menjawab pertanyaan dengan taqiyah karena takut fatwanya didengar oleh mata-mata, akhirnya imam berbohong dalam fatwanya untuk menipu si penanya seolah-olah dia bukanlah imam atau ulama, tapi orang jahil atau pengikut ahlussunah.

Kitab syi’ah memuat ratusan riwayat yang menegaskan bahwa para imam syiah mengetahui apa yang ghaib, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang terjadi di masa depan, jika dia ingin mengetahui sesuatu maka dapat segera mengetahui, apakah imam tidak tahu apakah orang yang datang bertanya apakah dia merupakan pengikutnya atau bukan?

Al Kulaini dalam Al kafi menjelaskan : Bab Jika para imam ingin mengetahui hal ghaib maka mereka pasti mengetahui [Al Kafi jilid 1 hal 258]

Bab para imam alaihimussalam mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, tidak ada sesuatu yang tidak mereka ketahui [Al Kafi jilid 1 hal 260]

Bab para imam jika mereka dihalangi mereka akan memberitahu tentang pribadi setiap orang, positif dan negatifnya [AL Kafi jilid 1 hal 264]

Lalu kemana ilmu yang mereka miliki, karena para imam memberi fatwa bohong pada penanya karena takut jangan-jangan si penanya adalah mata-mata.

Imam sengaja menyembunyikan kebenaran

Si penanya yang ditipu oleh imam dengan jawabannya tadi, dia beribadah pada Allah dengan kebohongan yang diyakininya sebagai kebenaran, karena jawaban itu keluar dari imam yang ditunjuk langsung oleh Allah. Lalu apa dosa si penanya, dia telah datang kepada imam dengan niat untuk bertanya tentang ajaran agamanya, dia ingin meribadah pada Allah dengan mengikuti kebenaran yang diturunkan oleh Allah, yang hanya ditanyakan kepada imam maksum yang terjaga dari kebohongan, kesalahan, baik sengaja maupun tidak –seperti diyakini syi’ah- tapi ternyata sang imam menipu si penanya dengan sengaja dan memberitahukan jawaban yang batil –karena taqiyah-.

Jika imam tidak bisa mengucapkan kebenaran lebih baik diam saja
Lalu jika memang imam tidak dapat mengucapkan kebenaran lebih baik diam saja, dan tidak mengucapkan hal yang batil. Allah berfirman:

Katakanlah:”Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (QS. 10:69)
(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. (QS. 10:70)

Katakanlah:”Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (QS. 10:69)
(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. (QS. 10:70)

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. 16:105)

Mereka yang berdusta atas nama Allah dan mengatakan bahwa ini adalah ajaran agama Allah, hanya untuk menyelamatkan jiwanya, padahal mereka diperintahkan untuk menyampaikan ajaran agama, mereka adalah orang yang berbohong atas nama Allah, hendaknya mereka bersenang-senang sebentar saja lalu mereka akan kembali kepada Allah menghadapi ancaman siksa yan gpedih. – sudah pasti ahlulbait tidaklah demikian-

Nabi Muhammad saw mensabdakan : barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir, hendaknya mengatakan yang baik atau lebih baik diam saja. Riwayat Bukhari hadits no : 55559, Riwayat Muslim, hadits no 67.

Kontradiksi dari imam maksum

Mari kita simak bersama kisah yang diriwayatkan oleh An Naubakhti –seorang ulama syi’ah- dari salah seorang imam syiah, :
Seseorang dari syi’ah bernama Umar bin Riyah pergi menghadap imamnya untuk bertanya, setelah diberi fatwa Umar kembali pada sang imam keesokan harinya dan menanyakan padanya pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan kemarin, teapi sang imam menjawabnya dengan jawaban yang berbeda, lalu Umar mengatakan pada sang imam: jawaban ini berbeda dengan jawaban engkau tahun lalu
Lalu Imam berkata: jawabanku adalah karena taqiyah, lalu Umar mulai meragukan kedudukannya sebagai imam,
Lalu dia pergi dan menemui salah seorang penganut syi’ah yang bernama Muhammad bin Qais, dan menceritakan apa yang dialaminya: Allah mengetahui bahwa saya hanya bertanya karena berniat untuk beribadah kepada Allah dengan jawaban itu, maka tidak ada alasan baginya untuk bertaqiyah kepadaku,
Muhammad bin Qais bertanya: barangkali ada orang lain yang ada bersamamu, barangkali dia bertaqiyah karena ada orang itu.
Umar menjawab: tidak ada orang lain saat aku bertanya pada imam, tetapi imam menjawab pertanyaanku dengan ngawur, dia tidak ingat jawabannya saat kutanya tahun lalu, lalu Umar tidak lagi percaya bahwa imam itu benar-benar imam, lalu mengatakan: tidak mungkin imam memfatwakan hal yang keliru.
[Firaqus Syi’ah hal 59-61]

Demi Allah, sungguh benar, tidak mungkin seorang imam mengeluarkan fatwa yang batil,apakah syi’ah menyadari hal ini dan mengingkari riwayat yang menjelek-jelekkan keluarga Nabi?

Kulaini telah meriwayatkan dari Zurarah bin A’yun; saya bertanya pada Abu Ja’far tentang sebuah masalah, lalu dia menawab pertanyaanku, lalu datang seseorang menanyakan padanya pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku, tapi Abu Ja’far memberikan jawaban berbeda dari jawabanku, lalu datang lagi seseorang dan menanyakan pertanyaan yang sama, lalu Abu Ja’far menjawabnya dengan jawaban yang berbeda dengan jawaban bagiku dan orang yang pertama, setelah dua orang itu keluar, saya bertanya: Wahai Putra Rasulullah, dua orang penduduk Irak, keduanya adalah syi’ahmu, mereka bertanya mengapa engkau jawab dengan jawaban yang berbeda?
Imam menjawab: wahai Zurarah, ini lebih baik bagi kami dan kalian, jika kalian sepakat atas sebuah perkara, maka manusia akan mengenal hakekat kami, akhirnya kami dan kalian akan cepat punah [Ushul Al Kafi, jilid 1 hal 65]

Ini adalah satu contoh dari puluhan kontradiksi dalam fatwa. Apakah benar para imam berbohong?

Tidak mungkin para imam berbohong, itu bukanlah akhlak para imam keluarga Nabi

Lalu jika orang tahu bahwa taqiyah adalah ajaran agama, maka bagaimana mereka bisa percaya pada ucapan imam mereka, bagaimana mereka bisa mengetahui apakah imam sedang bertaqiyah atau tidak saat berfatwa.
Syi’ah yang tidak mengetahui kebenaran mengamalkan yang berbeda dari ajaran ahlussunnah.

Lau mereka yang memalsu riwayat ingin memisahkan syi’ah dari umat Islam lainnya, mereka membuat riwayat palsu yang memberi jalan keluar bagi mereka yang tidak dapat bertanya pada imam, atau tidak mengetahui mana yang benar dari dua jawaban , mereka harus melihat amalan ahlussunnah, lalu mengerjakan amalan yang menyelisihi mereka.

Mereka meriwayatkan dari Ja’far As Shadiq, ada orang yang bertanya padanya: jika kami mendapati salah satu dari dua hadits yang sesuai dengan ajaran kaum awam (ahlussunnah) dan satu riwayat lagi berlawanan dengan amalan mereka, riwayat mana yang kami amalkan? Ja’far As Shadiq menjawab: yang menyelisihi kaum awam (ahlussunnah) adalah kebenaran [Ushul Al kafi jilid 1 hal 67-68, Man La Yahhuruhul Faqih jilid 3 hal 5, At Tahzhib jilid 6 hal 103, Al Ihtijaj hal 194, Wasa’ilu As Syi’ah jilid 18 hal 75-76]

Ini adalah kaedah yang aneh dari mazhab syi’ah, Allah dan keluarga Nabi terlepas dari hal ini.
Kata saya: lalu apa perlunya penanya pergi bertanya pada imam? Dia hanya perlu melihat amalan ahlussunnah, lalu mengamalkan amalan yang berbeda dari ahlussunnah.

Taqiyah membuat imam tidak diperlukan lagi

Lalu jika imam memang ditunjuk oleh Allah langsung untuk mengawal agama dan menyampaikannya pada manusia, mengapa imam perlu bertaqiyyah? Jika syi’ah menganggap imam perlu bertaqiyah agar tidak dibunuh, tidak dipenjara dan disiksa, bukankah ini adalah misi imam yang harus disampaikan kepada manusia seperti dilakukan oleh para Nabi walaupun memiliki konsekuensi berat seperti dibunuh dan disiksa karena Nabi dilarang meninggalkan perintah hanya karena takut pada manusia

(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (QS. 33:39)

Apakah disebutkan dalam Al Qur’an ada seorang Nabi yang melakukan taqiyah dan tidak menjelaskan risalah Allah pada kaumnya?

Padahal syi’ah menganggap jabatan imamah sama seperti jabatan kenabian –mestinya imam sama seperti Nabi dalam hal keberanian dan kesabaran- maka imam harus menyampakan kebenaran walaupun berakibat dia dibunuh karena agama dan ekeridhoan Allah lebih berharga dari dirinya, apa gunanya Nabi –atau imam- hidup sedangkan agama Allah tidak tersampaikan?

Jika memang imam sama seperti pengikutnya, tidak bertanggung jawab atas penyampaian agama lalu apa gunanya jadi imam?

Juga mengapa imam perlu bertaqiyah padahal imam memiliki kekuatan yang luar biasa yang tidak terbayangkan, bahkan seluruh alam adalah di bawah kekuasaannya? Seperti anggapan syi’ah.

Terakhir, silahkan telaah kitab Madinatul Ma’ajiz, karangan Sayid Hasyim Al Bahrani, anda akan terheran-heran karena dalam kitab itu disebutkan bahwa Ali memiliki lebih dari lima ratus mu’jizat. Mengapa mu’jizat itu tidak digunakan untuk memenangkan agama?

Orang-orang yang dianggap oleh syi’ah sebagai imam adalah manusia biasa, mereka hidup sebagaimana orang beriman lainnya, merka adalah orang shaleh dan ahli ibadah, merka tidak ada hubungannya dengan imamah dan tidak pernah mengaku-aku menjadi imam, hanya ada orang-orang yang menjual mereka dan padahal mereka tidak pernah mengatakan hal itu, juga mereka tidak memiliki mu’jizat, jika memang mereka memiliki mu’jizat maka keadaannya akan berbeda, sudah pasti mereka akan melawan mereka yang mengganggu dan menjual omongan mereka, kelak nanti di hari kiamat apa yang ada dalam dada akan dibongkar,mereka yang mati akan dibangkitkan, ornag yang pembohong dan pendosa akan dihukum.
Akhirnya, bagaimana sikap ulama syi’ah yang memberikan fatwa pada umat syi’ah?

Apakah mereka akan bertaqiyah seperti imam mereka? Jika mereka bertaqiyah bagaimana kita bisa percaya pada ucapan mereka? Jika mereka tidak bertqiyah mengapa mereka tidak melakukannya? Apakah mereka lebih berani daripada para imam, ataukah mereka tidak meyakini kewajiban taqiyah?

Jika mereka tidak meyakini kewajiban taqiyah, para imam melakukannya, mengapa ulama syi’ah mengaku sebagai pengikut imam ahlulbait lalu tidak bertaqiyah seperti mereka?

Kita ketahui dalam sejarah bahwa syi’ah selalu hidup dalam ketakutan, kecuali pada masa kerajaan Bani Buwaih dan dinasti Shafawi serta masa sekarang ini, selama kurang lebih tiga puluh tahun terakhir?

Padahal taqiyyah adalah ajaran agama, seperti tercantum dalam riwayat dari para imam dan pernyataan ulama syi’ah. Taqiyah akan menjatuhkan kehormatan para ulama dan membuat manusia ragu atas fatwa mereka. Jika ulam asyi’ah tidak bertaqiyah maka hal adalah pelecehan terhadap apra imam, karena ternyata pengikut para imam lebih pemberani dibanding para imam itu sendiri yang melakukan taqiyah untuk menyelamatkan jiwa mereka.

Kita memohon pada Allah agar membuat kita melihat kebenaran sebagai kebenaran serta memberi karunia pada kami agar dapat mengikutinya, dan agar membuat kita melihat kebatilan sebagai kebatilan, dan memberi karunia pada kami agar menghindarinya.

Sumber : WWW.HAKEKAT.COM

Fatwa-Fatwa Para Ulama Tentang Sayyid Quthb

Oleh : Andy Abu Thalib Al-Atsary

Penulis buku “Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugrah Allah Yang Terzalimi berkata di halam 50 paragraf 4.

“Dr. Rabi’ bin Hadi –wafaqahullah- berkata tentang Sayyid Quthb, “Menurut kami, diamnya Sayyid Quthb terhadap bid’ah dan kesesatan karena dua hal. Pertama, ia banyak terlibat di sebagian besar bid’ah itu. Kedua, ia tidak peduli dengan masalah itu asalkan dia sendiri tidak terjerumus di dalamnya”. Itulah perkataan yang dibuat-buat yang sebagiannya telah dibantah masyayikh mereka sendiri”.

Jawaban.
Saya berkata : Perkataan penulis diatas adalah dusta. Saya tidak menemukan satupun perkataan masyayikh Ahlus Sunnah yang membantah perkataan Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah. Sebaliknya yang saya temukan adalah pujian dari para ulama kepada Syaikh Rabi’ atas apa yang telah dilakukannya –yakni mengungkap kebatilan pemikiran Sayyid Quthb- dalam buku-buku beliau.

Berikut saya kutipkan fatwa-fatwa para ulama tentang Sayyid Quthub [1], yang membuktikan bahwa tidak ada satupun ulama Ahlus Sunnah yang membantah Syaikh Rabi, bahkan mereka semua –semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka semua- membenarkan apa yang telah ditulis oleh Syaikh Rabi’ dan mereka semuanya turut membuka kedok Sayyid Quthb.

Berkata Al-Muhadits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam ta’liq beliau atas khatimah dari kitab Syaikh Rabi hafzhahullah yang berjudul Al-Awashim Mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim[2].

Segala hal yang telah disampaikannya (Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali) tentang Sayyid Quthb benar dan tepat. Dan diantaranya menunjukkan pada semua pembaca tentang pengetahuan ke Islaman, bahwasanya Sayyid Quthb tidak mengetahui tentang Islam baik secara Ushul (dasar) maupun Furu’ (cabang). Maka saya berterima kasih kepada Al-Akh (Syaikh Rabi bin Hadi) atas ditegakkannya kewajiban untuk menjelaskan dan menyingkap akan kejahilan dan penyimpangan (Sayyid Quthub) dari Islam

Berkata Fadhilatusy Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam sebuah rekaman di Jeddah tertanggal 23/31421H : Pertanyaan : “Sesungguhnya kami sedikit banyak mengetahui tentang Sayyid Quthb, akan tetapi ada satu hal yang kami belum dengar tentangnya. Kami mendengar dari salah seorang thalabul ilmi yang mengatakan : Bahwasanya Sayyid Quthb berbicara tentang wihdatul wujud? Kami mengharap kesediaan Syaikh untuk menjawabnya, terima kasih”.

Berkata Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Saya sedikit menelaah kitab-kitab Sayyid Quthb dan saya tidak mengetahui tentang orang ini (Sayyid Quthb). Akan tetapi beberapa ulama telah menulis tentang koreksian atas tulisan-tulisan (Sayyid Quthb) dalam Fii Zhilalil Qur’an, dan beberapa tulisan lain tentang hal itu, seperti yang ditulis oleh Syaikh Abdullah Ad-Duwais rahimahullah dan tulisan saudara kami, Syaikh Rabi’ Al-Madkhali, tentang tafsir Sayyid Quthb dan lain-lainnya. Maka barangsiapa yang menghendaki merujunya silahkan”.

Ditanyakan kepada Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Bagaimana menurut pandangan Anda tentang orang yang menganjurkan para pemuda Sunni untuk membaca buku-buku Sayyid Quthb, diantaranya Fii Zhilalil Qur’an, Ma’alim ala Thariq, dan Limadza A’dzamuni, tanpa menerangkan kesalahan-kesalahan dan kesesatan-kesesatan yang ada di dalamnya?”

Berkata Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Saya berkata –semoga Allah memberikan barokah kepadamu- bahwasanya nasehat itu bagi Allah dan RasulNya, dan bagi saudaranya muslim. Bahwasanya saya sangat berharap kepada seluruh orang untuk membaca kitab-kitab mutaqadimin dalam masalah tafsir, dan selainnya, karena itu lebih membawa barokah, lebih bermanfaat, dan lebih dari kitab-kitab muta’akahirin. Dan bahwasanya tafsir Sayyid Quthb –semoga Allah merahmatinya- didalamnya terdapat kesalahan –dan saya mengharap Allah akan mengampuninya- : Misalnya tafsirnya tentang Istiwa, tafsir surat (Qul huwallahu ahad), dan juga pensifatannya terhadap para Nabi yang seharusnya pensifatan tersebut tidak dilakukannya” [3]

Berkata Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika ditanyakan tentang pengkafiran orang yang meninggalkan shalat oleh Imam Ahmad dan pengkafiran masyarakat oleh Sayyid Quthb, mengapa keduanya tidak diperlakukan sama ? (Ahlus Sunnah memperlakukan beda antara Imam Ahmad dan Sayyid Quthb?).

Syaikh Al-Fauzan menjawab, “Imam Ahmad adalah seorang alim, masyhur, mengetahui dalil-dalil dan jalan untuk beristidlal (berdalil), sedangkan Sayyid Quthb adalah jahil, tidak ada padanya ilmu dan pengetahuan, dan dia tidak memiliki dalil dalam perkataannya. Melakukan perbandingan antara Imam Ahmad dan Sayyid Quthb adalah kezhaliman. Bahwasanya pada Imam Ahmad banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah tentang pengkafiran bagi orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, dan pada Sayyid Quthb tidak ada dalil satupun yang mendasari pengkafiran terhadap masyarakat muslimin secara menyeluruh, bahkan yang ada ada adalah sebaliknya”.

Ketika Syaikh Al-Fauzan hafizhahullah ditanyakan apakah Sayyid Quthb termasuk dalam golongan mujtahid? Maka beliau menjawab, “Bahwasanya dia (Sayyid Quthb) adalah jahil dan diberi udzur karena kejahilannya. Lalu juga bahwasanya masalah akidah bukanlah majal (bidang)nya ijtihad, tetapi (akidah) adalah majalnya taufiqiyah (berdalil dengan nash)”.

Berkata Fadhilatush Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahullah ketika ditanyakan perihal membaca buku-buku tulisan Sayyid Quthb, beliau menjawab, “Bahwasanya Sayyid Quthb bukan termasuk ulama yang dapat diikuti perkataannya dalam masalah-masalah ilmiyah …” [4]

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr ketika ditanya tentang kitab Fii Zhilalil Qur’an, “Kitab Zhilalil Qur’an atau Fii Zhilalil Qur’an yang ditulis oleh Syaikh Sayyid Quthb –semoga Allah merahmatinya- adalah sebuah tafsir baru yang didasarkan atas ra’yu (akal semata), bukan berdasar atas naql (dalil syar’i), dan tidak juga berdasar atas Atsar. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa orang-orang rasionalis (ashabu ra’yi), yang mana mereka itu berkata-kata dengan berdasar akal saja akan menghasilkan kesalahan-kesalahan dan keburukan …” [5]

Berkata Syaikh Hammad Al-Anshary –rahimahullah- ketika ditanya tentang perkataan Sayyid Quthb yang ada di kitabnya Mu’arakah Al-Ra’samaliyah Al-Islamiyah. Syaikh berkata, “Apabila orang ini (Sayyid Quthb) masih hidup maka hendaknya ia bertaubat, maka apabila tidak, dapat dihukumi mati sebagai orang murtad. (Karena) ia telah meninggal maka dijelaskan (pada umat) bahwa perkataannya itu bathil dan kita tidak mengkafirkannya karena kita belum menegakkan hujjah atasnya” [6]

Berkata Fadhilatu Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya tentang perkataan Sayyid Quthb –semoga Allah mengampuninya- dalam Fii Zhlialil Qur’an ketika Sayyid Quthb menafsirkan ayat (Ar-Rahmanu ala arsy istawa).

Beliau (Sayyid Quthb) mengatakan, “Dalam hal istiwa di atas Arsy maka hendaknya kita mengatakan : Bahwasanya istiwa’ itu artinya penguasaan (Allah) atas makhluknya” [7]

Berkata Syaikh Bin Baz rahimahullah, “Semua perkataan di atas adalah perkataan yang fasid. Maksud dari pemaknaan ‘penguasaan’ di sini (pada hakikatnya) mengingkari istiwa’ yang maknanya sudah jelas : Tinggi di atas Arsy. Apa yang dikatakannya (Sayyid Quthb) adalah bathil dan ini menunjukkan bahwa dia miskin dalam (ilmu) tasfir” [8]

Dan masih banyak lagi fatwa yang sebenarnya bisa saya turunkan di sini, akan tetapi mengingat keterbatasan tempat, saya cukupkan pada fatwa para ulama mu’tabar.

Hal ini semua membuktikan bahwa apa yang didakwakan oleh penulis bahwa Syaikh Rabi Al-Madkhali hafizhahullah telah dibantah oleh para masyayikh tidak terbukti. Maka wajib bagi penulis untuk mendatangkan bukti yang lebih rajih dan qawwi untuk membantah ini semua.

Bahkan ada pada saya fatwa-fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhamamd Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Abdullah Al-Ghadyan, Syaikh Muhsin Al-Abbad, Syaikh Hammad Al-Anshari, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Ubiad Al-Jabiri, Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali, Syaikh Muhamamd bin Jamil Zainu dan masih banyak lagi fatwa para ulama Ahlus Sunnah yang memberikan bantahan dan juga Jahr wa Ta’dil pada buku-buku Sayyid Quthb.

[Disalin dari buku Menyingkap Syubhat Dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin Catatan Dan Bantahan Atas Buku Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugerah Allah Yang Terzalimi, Penulis Andy Abu Thalib Al-Atsary, Penerbit Darul Qalam]
_________
Foote Note
[1]. Seluruh fatwa berikut dinukil dari kumpulan fatwa : Bara’atul Ulama Al-Ummah Fii Tazkiyati Ahli Bid’ah wal Madzmummah, disusun oleh Asham bin Abdullah Al-Sanany, Maktabah Al-Furqon Riyadh 2001
[2]. Fatwa ini berdasar atas tulisan tangan yang ditulis oleh Syaikh Al-Albani di akhir hayat beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya, memuliakannya dan membalas kebiakannya.
[3]. Majalah Al-Da’wah no. 1591/9 Muharram 1418H dan juga dalam rekaman tertanggal 23/2/1421H
[4]. Rekaman tertanggal 9/6/1421H
[5]. Rekaman tertanggal 7/11/1414H
[6]. Dimuat di Al-Qawashim oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali (hlm, 24) atas rekaman tertanggal 3/1/1415H
[7]. Lihat Fii Zhilalil Qur’an IV/2328, VI/3408
[8]. Rekaman tahun 1413H

Sumber : WWW.ALMANHAJ.OR.ID

%d blogger menyukai ini: