Kerancuan-Kerancuan Buku : “Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis””

Oleh : Ustadz Abu Ahmad as Salafi hafizhahullah

Taqdim

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul ‘Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis’. Didalam muqoddimahnya penulis mengatakan hendak menelusuri akar sejarah lahirnya Ahlussunnah Wal Jama’ah dan mengkritisi kesalahan-kesalahan perpespsi tentang Ahlussunnah Wal Jama’ah. Akan tetapi, setelah kami telaah dari awal hingga akhir ternyata penulis tidaklah meluruskan sejarah Ahlussunnah Wal Jama’ah melainkan hendak mengaburkan sejarah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Demikian juga, penulis banyak menyelisihi pokok-pokok yang agung dari Ahlussunnah Wal Jama’ah dan banyak melontarkan syubhat-syubhat yang membela kebathilan.

Karena itulah, dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai nasihat buat kaum muslimin dan pembelaan atas manhaj yang haq.

Penulis dan Penerbit Buku Ini

Penulis buku ini adalah Dr.Said Aqil Siradj dan diterbitkan oleh Pustaka Cendekiamuda Jakarta cetakan pertama Februari 2008

Kedustaan Penulis Atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Penulis berkata pada hal.15 bukunya ini:

“Menurut banyak referensi (maraji’) sejarah (tarikh) Islam, kehadiran Islam sejak semula sarat dengan muatan-muatan politis. Pakar sejarah (muarrikh) banyak menuturkan kisah Afif al Kindi. Sebagai seorang pedagang, ia pernah datang ke Mekkah saat musim haji, kemudian ia menjumpai Al Abbas (paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). Pada saat itu ia menyaksikan seorang laki-laki yang sedang shalat menghadap kiblat, lalu disusul oleh seorang perempuan dan seorang pemuda yang turut shalat bersamanya. Ia bertanya kepada Al Abbas: “Agama apakah ini?” Abbas menjawab: “Ini adalah Muhammad bin Abdullah, putera saudara laki-lakiku, dia menganggap dirinya Rasulullah, berobsesi untuk menggulingkan Persia dan Romawi.

Kisah ini seringkali dianggap sebagai bukti bahwa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak pertama kali adalah bertendensi politik, yakni obsesi untuk menaklukkan imperium Persia dan Romawi (Bizanthium) sebagai adikuasa dunia saat itu. Oleh karena itu, wajalah apabila persoalan yang muncul dalam kajian faksi-faksi Islam (al firaq al Islamiyyah) bermula dari masalah politik, kemudian merembet pada persoalan keyakinan (aqidah)

Kami Katakan:

Ini adalah kelancangan yang luar biasa dari penulis atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukankah perkara aneh jika ucapan ini keluar dari mulut-mulut  orientalis. Akan tetapi, yang sangat aneh dan menyedihkan, ucapan ini terlontar dari seorang doctor lulusan Arab Saudi!

Kisah diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad didalam Musnad-nya: 1/209, al Fakihi di dalam Akhbar Makkah: 4/250, dan al Hakim di dalam Mustadrok: 3/183, dari jalan Ibnu Ishaq dari Yahya bin Abil Asy’ats dari Ismail bin Iyas bin Afif al Kindi dari bapaknya dari kakeknya.

Ismail bin Iyas dilemahkan oleh Imam al Bukhori dalam Tarikh Kabir: 1/345 dan bapaknya, Iyas bin Afif, juga dilemahkan oleh Imam al Bukhori dalam Tarikh Kabir: 1/441. Karena itu, kisah ini adalah kisah yang lemah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab dalam Fathul Bari : 3/50 dan Akrom al Umari dalam Siroh Nabawiyyah Shohihah Hal.134

Disamping itu, tidak ada satupun di dalam maroji’ kisah di atas lafazh: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berobsesi untuk menggulingkan Persia dan Romawi.” Yang tertera adalah perkataan al Abbas radhiyallahu ‘anhu:

“Dia menganggap bahwa akan dibukakan padanya pembendaharaan-pembendaharaan Kisra dan Kaisar.”

Jelaslah bahwa perkataan-perkataan penulis di atas adalah dusta dari banyak sisi:

  1. Kisahnya lemah, padahal barangsiapa yang dengan sengaja membawakan riwayat yang dusta maka dia adalah seorang pendusta.
  2. Dia menambah di dalam riwayat kisah sebuh lafadz yang dia buat sendiri, dan ini jelas kedustaan.
  3. Perkataan penulis, “Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak pertama kali adalah “bertendensi politik” adalah kelancangan yang luar biasa atas risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi ‘wasallam yang suci yang bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid sebagaimana dalam firman Allah azza wa jalla (yang artinya):

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Ibadahilah Allah (saja), dan jauhilah thogut itu”…[QS.an Nahl/16:36]

Maka semua nabi bukanlah manusia-manusia yang mencari kekuasaan. Akan tetapi, mereka berdakwah untuk memberikan hidayah kepada manusia, menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kesyirikan, mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada awal dakwahnya telah ditawari kedudukan sebagai “penguasa” di Makkah tetapi beliau menolak dan tetap melanjutkan dakwah tauhidulloh dan memerangi kesyirikan. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Siroh-Nya:1/293-294 dan memiliki syahid (penguat) dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dan Abu Ya’la. Syaikh Rabi’ berkata,”Dengan syahid ini kuatlah sanad kisah ini.” [Manhajul Anbiya’ Hal.116]

Tikaman Penulis Terhadap Para Sahabat Nabi

Dengan kacamatanya yang buram penulis memandang para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang-orang yang terjangkiti fanatisme kesukuan, haus kekuasaan, gemar menghasut dan suka memberontak:

  1. Penulis menukil perkataan Thaha Husain bahwa mayoritas Bani Umayyah (ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah) minal munafiqiin (termasuk orang-orang munafik). Mereka banyak iri kepada Umar (hal.40)
  2. Penulis mengatakan bahwa Bani Umayyah yang menghasut Abu Lu’luah al Yahudi agar membunuh Umar bin Khaththab (hal.21)
  3. Penulis mengatakan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf menunjuk Utsman bin Affan sebagai khalifah karena fanatisme kabilah karena istri Abdurrahman bin ‘Auf adalah saudara seibu Utsman bin Affan (hal.41)
  4. Penulis berkata dalam hal.23: “Pada masa pemerintahan Utsman perselisihan di kalangan kaum muslimin mulai terbuka dan transparan. Fanatisme kabilah menjadi penyekat masing-masing faksi untuk menjurus ke arah pengkultusan. Utsman di dukung oleh mayoritas Bani Umayyah, terlebih lagi setelah Marwan bin Hakam diangkat sebagai sekretaris khalifah. Sementara itu pendukung fanatik Ali mulai memperlihatkan powernya. Diantara mereka ada Khuzaifah bin Yaman, Salman al Farisi, dan Ammar  bin Yasir. Begitu pula Abi Dzar al Ghifari, Miqdad bin Aswad, Khabab bin Art, Suhaib ar Rumi dan Bilal al Habsyi.”(!)
  5. Penulis menuduh Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah menghasut para penduduk Bashrah dan Kufah agar memberontak kepada khalifah Utsman. (hal.41-42)
  6. Penulis mengatakan dalam hal.27: “Namun sifat radikal Ali menjadikannya bersikap tegas.” (!)

Kami Katakan:

Penulis dalam bukunya ini hendak memaparkan profil Ahlussunnah tetapi dia sendiri jahil terhadap pokok yang agung yang disepakati oleh Ahlus Sunnah, yaitu wajibnya loyal kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mencintai mereka tanpa berlebih-lebihan dalam mencintai seorang dari mereka, dan tidak menyebut mereka dengan selain kebaikan.

Imam al Khotib al Baghdadi rahimahullah menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat, diantaranya (yang artinya):

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [QS.at Taubah/9:100]

Kemudian beliau rahimahullah berkata: “hadits-hadits yang semakna dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash al Qur’an, yang semuanya menunjukkan pada kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi siapa pun setelah rekomendasi Allah kepada mereka, Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati mereka….ini adalah madzhab seluruh ulama dan fuqoha yang dianggap (terpercaya) perkataannya.” (al Kifayah hal.96)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Di antara pokok-pokok Ahlus Sunnah adalah selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana pensifatan Allah azza wa jalla dalam firman-Nya (yang artinya):

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa,”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman terlebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [QS.al Hasyr/59:10]

Sikap Ahlus Sunnah ini merupakan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebab beliau bersabda:

Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, seandainya seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infak seorang dari mereka dan tidak pula mencapai separuhnya.” [Muttafaqun ‘alaihi, al Bukhari:3673 dan Muslim:2540]

Maka Ahlus Sunnah menerima apa saja yang datang dalam Kitab, Sunnah, dan Ijma’ tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan mereka (para sahabat). Ahlus Sunnah berlepas diri dari cara orang-orang Rafidhoh (Syiah) yang membenci dan mencaci para sahabat dan berlepas diri dari cara orang-orang Nawashib yang menyakiti ahlul bait dengan perkataan atau perbuatan.

Ahlus Sunnah menahan diri dari apa yang terjadi di antara sahabat. Kata mereka,”Atsar-atsar yang datang tentang kejelekan-kejelekan para sahabat, di antaranya ada yang dusta dan ada yang telah ditambahi atau dikurangi. Adapun yang shohih dari (kisah-kisah tentang kejelekan para sahabat tersebut) maka para sahabat memiliki uzur karena mereka adalah mujtahid (ahli ijtihad), adakalanya menepati kebenaran dan keliru dalam ijtihadnya.”

Bersamaan dengan itu, Ahlus Sunnah tidak menyakini bahwa masing-masing sahabat terjaga dari dosa-dosa yang kecil dan besar, bahkan secara umum mereka pernah berbuat dosa. Akan tetapi, para sahabat memiiki senioritas dan keutamaan-keutamaan yang bisa menutupi kesalahan yang muncul pada mereka.

Kemudian kalaupun telah muncul kesalahan seorang dari mereka, bisa jadi dia telah bertaubat atau melakukan kebaikan yang bisa menghapusnya atau dia diampuni Allah dengan keutamaan mereka atau dengan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka, atau dia diuji di dunia dengan ujian yang bisa menghapus kesalahannya.

Barangsiapa yang menelusuri siroh (sejarah) para sahabat –dengan ilmu, bashiroh, dan apa yang Allah anugerahkan kepada mereka dari keutamaan-keutamaan- akan mengetahui dengan yakin bahwa para sahabat adalah makhluk terbaik sesudah para Nabi. Tidak ada satupun yang telah dan akan menyamai mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan dari umat ini, sedang umat ini adalah sebaik-baik umat dan yang paling mulia disisi Allah.” (Aqidah Washitiyyah hal.142-151)

Memanipulasi Sejarah Ahlus Sunnah

Penulis berkata dalam hal.6-7 bukunya ini:

“Terminologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara baku belum dijumpai dalam referensi lama (maraji’ awwaliyyah). Pada masa Al Asy’ari (w.324) yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai pendiri madzhab Ahlus Sunnah wal jama’ah, belum ditemukan istilah tersebut….Pengenalan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai suatu aliran di dalam Islam baru Nampak pada ashab al asy’ari (sering disebut Asya’irah – Sunni), seperti al Baqilani (w.403H)….Pernyataan  yang tegas tentang Aswaja baru dijumpai pada pendapat al Zabidi (w.1205H) dalam Ithaf Sadat Al Muttaqin (Syarah Ihya’ Ulumuddin). Beliau berpendapat: Idza uthliqa Ahlussunnah fa al-murad bihi al-Asya’irah wa Al-Maturidiyyah (jika disebutkan Ahlussunnah, maka yang dimaksud adalah penganut Asy’ari dan Maturidi)

Kami Katakan:

Penulis hendak mengaburkan sejarah Ahlus-Sunnah. Perkataannya di atas adalah dusta. Yang benar, bahwa istilah (terminologi) Ahlus-Sunnah bukanlah hal yang baru muncul pada kelompok Asya’iroh seperti al Baqilani (wafat 403H) atau pada zaman al Zabidi (wafat 1205H). bahkan jauh sebelum itu, penamaan istilah Ahlus Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

“Ahlus Sunnah” adalah nama yang tidak pernah lepas dari perjalanan sejarah umat Islam, sesuai dengan perintah yang tegas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar selalu berpegang teguh kepada sunnahnya dan agar selalu menjauhi segala kebid’ahan yang datang sesudahnya sebagaimana dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu.

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan waspadalah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” [Hadits shohih riwayat Ahmad dan Ashabus Sunan)

Menurut riwayat yang shohih, istilah Ahlus Sunnah muncul pada zaman sahaba sebgaimana di katakan oleh Muhammad bin Sirin rahimahullah, seorang tabi’in (wafat 110H): “Dahulu, mereka (para sahabat) tidak menanyakan sanad (kepada orang yang mengabarkan hadits). Ketika fitnah terjadi, mereka berkata: “Sebutkan para perawi kalian kepada kami.’ Kalau dilihat (perawinya itu) Ahlus Sunnah maka di ambil haditsnya. Kalau di lihat (bahwa perawinya itu) ahli bid’ah maka tidak di ambil haditsnya.” (Muqoddimah Shohih Muslim:1/34)

Yang dimaksud fitnah adalah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Demikian yang dikatakan oleh Yahya bin Sa’id al Anshori dalam Shohih al Bukhari:4/1475.

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama salah rahimahumullah di antaranya:

  1. Hasan al Bashri rahimahullah (w.110H) berkata: “Sesungguhnya Ahlus Sunnah adalah yang paling sedikit dari manusia pada zaman yang telah lewat. Mereka paling sedikit dari manusia pada zaman yang tersisa. Mereka tidak ikut-ikutan (bergaul) dengan orang yang bermewah-mewahan dan juga tidak (bergaul) dengan ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka. Mereka sabar di dalam menjalankan Sunnah hingga bertemu Rabb mereka.
  2. Ayyub as Sikhtiyani rahimahullah (w.131H) berkata: “Apabila aku dikabari tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah, seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.” [Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah kar.al Lalika’i:1/59-60]
  3. Sufyan ats Tsauri rahimahullah (w.161H) berkata: “Aku wasiati kalian untuk tetap berpegang pada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al ghuroba’ (orang-orang yang terasing). Alangkah sedikit Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah:1/71 no.50)
  4. Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah (w.187H) berkata: “Ahlus Sunnah berkata: Iman itu keyakinan, perkataan, dan perbuatan.”
  5. Abu ‘Ubaid al Qosim bin Sallam rahimahullah (157-224H) berkata –dalam muqoddimah kitabnya, al Iman: “..Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian…”
  6. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah (164-241H) berkata –dalam muqoddimah kitabnya, as Sunnah: “Inilah madzhab ahlul ilmi, ashabul atsar, dan Ahlus Sunnah yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya, semenjak zaman para sahabat rodhiyallahu ‘anhum ajma’in hingga pada masa  sekarang ini..”

Dengan penukilan di atas, jelaslah bagi kita bahwa lafadz “Ahlus Sunnah” sudah dikenal di kalangan salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah “Ahlus Sunnah” dipakai sebagai lawan “ahlul bid’ah”. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan ahlul bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al Barbahari, Imam ath Thohawi dan yang lainnya.

Perbedaan Adalah Rahmat?

Penulis berkata pada hal.88:

“Disamping Aswaja, dalam kalangan Islam banyak dikenal faksi-faksi yang lain yang pemunculannya disebabkan oleh gejolak yang terjadi dalam tubuh umat Islam sendiri. Faksi-faksi tersebut di antaranya adalah: Syiah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah Ula, Murji’ah. dan lain sebagainya. Dengan banyaknya faksi sebagaimana tersebut di atas, diharapkan tidak menimbulkan perpecahan di antara umat Islam yang justru merugikan diri sendiri. Tetapi mudah-mudahan perbedaan tersebut akan menimbulkan rahmat sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Ikhtilafu Ummati Rahmah”

Kami katakan:

Ikhtilaf adalah perkataan yang dibenci. Sebab itu, Allah azza wa jalla menyebutkan bahwa orang yang selamat dari ikhtilaf adalah orang yang Dia rahmati, Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya):

…Dan mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi Rahmat oleh Rabbmu…” [QS.Hud/11:118-119]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat tegas memperingatkan umatnya dari perselisihan, beliau bersabda: “Janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian berselisih.” [Hadits sohih riwayat Abu Dawud dan yang lainnya]

Adapun hadits :

“Perselisihan umatku adalah rahmat”

Adalah hadits yang LEMAH bahkan PALSU dengan kesepakatan para ahli hadits (lihat silsilah Dho’ifah:4/447 dan Dho’iful Jami’ 20). Hadits ini juga mungkar karena menyelisihi nash-nash yang shohih tentang tercelanya perselisihan. Demikian pula para sahabat sangat membenci perselisihan:

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya aku membenci perselisihan.” [Shohih al Bukhori: 3707]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Perselisihan adalah kejelekan.” [Sunan Abu Dawud: 2628]

Para ulama menyebutkan bahwa ikhtilaf di kalangan sahabat –yang merupakan generasi terbaik- sangat sedikit bila dibandingkan dengan ikhtilaf yang terjadi pada masa-masa berikutnya. Makin banyak dosa yang dilakukan oleh kaum muslimin maka makin banyak perselisihan di antara mereka disebabkan makin berkurangnya rahmat Allah azza wa jalla kepada mereka.

Jika ikhtilaf dilarang dan dicela oleh Allah azza wa jalla, maka sangatlah tidak layak apabila ada seseorang berargumentasi dengan adanya ikhtilaf ketika ia keliru. Akan tetapi, hendaklah mengembalikan setiap perselisihan kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

…Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian…” [QS.an Nisa’/4:59]

Maka kewajiban seorang muslim di dalam setiap ikhtilaf adalah berusaha mengikuti al haq dengan dalilnya dan tidak tergantung kepada adanya ikhtilaf untuk melegalkan kekeliruannya.

Penutup

Itulah  di antara hal-hal yang bisa kami paparkan berupa penjelasan terhadap beberapa syubhat yang dilontarkan penulis buku tersebut. Sebetulnya masih banyak hal lain yang belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat. Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut dan semoga Allah selalu menunjukkan kita ke jalan-Nya yang lurus dan menjauhkan kita dari semua jalan kesesatan.Aamiin.Wallahu A’lam bish showab

Sumber : Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 06, Tahun Kedelapan, Muharram 1430 / Jan 2009, Hal.40-44

Dipublikasikan kembali oleh : Al Qiyamah – Moslem Weblog

Iklan

Posted on November 12, 2009, in Kitab and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: