Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi? Bolehkah Kita Merayakannya? Download Kajiannya “Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi – Ustadz Aris Munandar”

http://happynature.files.wordpress.com/2011/01/tahun-baru-2011.jpg1. Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi

Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru?

Bolehkah Merayakannya?

Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: “Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Allah di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Allah, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.

Keburukan yang Ditimbulkan

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:

  1. Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
  2. Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
  3. Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
  4. Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Allah. Wallahu a’lam…

***

Penulis: A. Akadhinta
Artikel www.muslimah.or.id

2. Download Audio Kajian: “Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi”

Judul Kajian
“Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi”

Tema
Penjelasan tentang larangan ikut merayakan tahun baru Masehi, sebab dan akibat yang ditimbulkannya

Waktu dan Tempat
Radio Taruna Al Qur’an, 2003

Pemateri
Ustadz Aris Munandar, Ss. hafidzahulloh (silahkan antum kunjungi web beliau di http://ustadzaris.com)
(Pengajar Al Madinah International University dan Pengajar Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Pada rekaman kajian yang lalu di Radio Muslim telah dibahas bahwa umat Islam mulia dengan penanggalan Hijriyah dan penanggalan Masehi dan perayaannya adalah bagian dari kebudayaan non-muslim, sehingga seorang muslim yang benar imannya tidak akan mengikuti perayaan-perayaan tersebut bahkan melewatinya dengan penuh kemuliaan sebagai seorang muslim.

Namun ketahuilah bahwa selain merupakan kebudayaan non-muslim, terlarangnya mengikuti perayaan tahun baru masehi juga disebabkan oleh beberapa pelanggaran syariat di dalamnya. Diantaranya yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang bergadang tanpa ada keperluan yang penting dan bermanfaat. Apalagi jika bergadang tersebut samapi membuat lalai dari shalat shubuh berjama’ah. Allah dan Rasul-Nya juga melarang perbuatan tabdzir, yaitu membuang-buang harta pada hal yang tidak bermanfaat seperti perayaan tahun baru yang biasanya diadakan acara meriah yang menghabiskan uang yang tidak sedikit. Dan pelanggaran yang lainnya.

Lebih lengkapnya simak pembahasannya pada kajian berikut ini…

[Kajian ini adalah rekaman siaran Radio Taruna Al Qur’an Yogyakarta. Radio Taruna Al Qur’an sendiri saat ini sudah tidak mengudara lagi]

Download File:

  1. Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi.mp3

File ini & yang lainnya juga disimpan di halaman Ustadz Aris Munandar

sumber: http://radiomuslim.com & http://kajian.net

Posted on Desember 17, 2009, in Audio Kajian and tagged , , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Ya Allah Ampuni hamba yang selalu menyelelisihi,,,,,,perintah-Mu….Berilah rahmat dan HidayahMu…&Berilah keistiqomahan dijalanMu

  2. saya sangat tidak setuju dengan isi sub dari keburukan yang ditimbulkan ketika ikut-ikutan merayakan tahun baru poin no 2, mengapa ketika melakukan amal ketaatan seperti melakukan dzikir, dan membaca al-Quran yang semua itu dikhususkan menyambut tahun baru dikatakan sebagai bid’ah yang menyesatkan?
    kalau memang alurnya untuk menyambut tahun baru, tapi bagaimana ketika niat menyambut tahun baru itu yang diaplikasikan dengan membaca al-quran dan dzikir, dinisbatkan kepada perenungan diri, dan menyadarkan diri. misalkan untuk merenung memikirkan seberapa banyak dosa yang telah dikerjakan selama tahun terakhir in? apa itu salah? tolong diperjelas lagi?

    • MOH. DZULFIKAR DJAMAD

      Assalamau’alaikum..

      Maaf sebelumnya kalo sya mengomentari keberatan bapak..
      Mungkin yg dimaksud oleh bapak Tuasikal adalah menghususkan berzikir dan membaca Al-Quran disaat perayaan tahun baru masehi dengan sengaja mengalokasikan waktu.. Sedangkan sebagai mana dalam ajaran Islam Dzikir itu kapan saja, hendaknya hati kita tidak terlepas dari berdzikir kepada Allah.
      “Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.”
      Wallahuwa’lam Bissawaf..

    • pernahkah terbesit dalam hati kita amalan2 peribadatan yg sudah kita atau anda lakukan,pernh dilaksanakan oleh para pendahulu kita yg lebih berilmu? yakni para sahabat,dan generasi sesudahnya yg NB:Adalah generasi terbaik.kalau tidak pernah mereka melaksanakannya(dalam hal peribadatan)…kita jangan merasa angkuh kpda mereka dgn membuat kaidah2 yg baru..sealim apakah kita,sefakih apakh kita??

  3. ijin download jazakillah khoir.

  4. buat pak Mooh. Rifki Rahman maaf jika saya menambahkan : jika kita menyambut natal atau hari paskah dengan mengadakan dzikir bersama kira2 boleh apa tidak? Karena hukum merayakan tahun baru ini sama persis hukumnya dg merayakan natal, paskah, dlll hari raya org kafir. Thn br masehi ini bkn hari raya/ hari besar Islam tapi hr rynya kaum kafir. Yg menjadi kerancuan dlm mslh ini adl negara kita menggnkn penanggalan masehi, jd seakan2 jika kita merayakan thn br ini spt merayakan hr besar nasional. Pdhl sejatinya kita merayakan hari rayanya org kafir. ……..

    • jika seandainya thn baru masehi ini anggaplah hr besar nasional, kira2 apakah lazim jika kita juga mengadakan acara dzikir berjamaah pd hari2 besar nasional yg lain misalnya DZIKIR BERJAMAAH MENYAMBUT 17 AGUSTUS, MENYAMBUT HARI IBU, HARI PENDIDIKAN, HARI KESEHATAN, DLLL?

  5. kita kembalikan kpda sandaran hujjah dlm hal peribadatan….apakah generasi islam terbaik,yaitu para sahabat,sesudahnya dan sesudahnya tlah melaksanakan hal2 seperti itu? kalau tidak…janganlah kita membusungkan dada kpda mereka,krna mereka yg lebih tahu tntang sunnah,dan hukum2 syar’i yg lainnya.

  6. Moh. Rifqi Rahman

    saya setuju dengan pendapat bapak moh. dzulfikar… yang tidak boleh adalah kalau kita sengaja mengalokasikan waktu pas pada saat perayaannya itu…

    hanya saya minta poin nomor dua itu diperjelas saja… apa yang sebenarnya dilarang. Tolong jelaskan. Ditakutkan nantinya, ada seseorang yang hanya sekilas membaca tampa ada pemahaman, bisa-bisa nantinya akan berpendapat bahwa ngaji-dzikir-bahkan sholat pun di malam perayaan orang non islam adalah hal yang bid’ah….

    padahal sebenarnya adalah tergantung pada niatnya… kalau diniatkan untuk penghususan menyambut hari orang kafir ya tidak boleh… tapi kalau untuk merenung, memikirkan betapa kuasanya Tuhan, meski itu terjadi pada malam natal misalkan,.. itu tidak masalah…. kadang bagi orang-orang tertentu, ramainya malam natal malah menjadi inspirasi dan sebab untuk merenung tentang kondisi lingkungan sekitar….

  1. Ping-balik: Warta Warga » Blog Archive » Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi? Bolehkah Kita Merayakannya?

  2. Ping-balik: Yudhistira it`s me » Post Topic » Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi? Bolehkah Kita Merayakannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: