Salafush Shalih Menilai Seseorang dengan Melihat Teman Dekatnya

1.Abu Qilabah berkata :

“Qaatalallahu ! Semoga Allah binasakan penyair yang mengucapkan syair :

“Janganlah bertanya siapa dia tapi tanyakan siapa temannya
karena setiap orang akan meniru temannya

Saya (Jamal bin Furaihan, penyusun kitab Lammud Durril Mantsur, red) katakan :”Ucapan Abu Qilabah (qatalallahu) ini adalah ungkapan yang menunjukkan kekagumannya dengan ba’it syair tersebut, dan ini adalah syairnya ‘Ady bin Zaid Al-‘Abadiy.Al-Ashma’iy berkata :”Saya belum pernah menemukan satu bait syair yang paling menyerupai As-Sunnah selain ucapan ‘Ady ini.

2.Abu Hurairah berkata:

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“(agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya, maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As-Shahihah 927)

3.Ibnu Mas’ud berkata:

“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman, karena seorang muslim akan mengikuti muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir lainnya.” (Al-Ibanah 2/477 no 502, syarhussunnah Al-Baghawi 13/70)

4.Dan ia berkata:

“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al-Ibanah 2/476 no 499).

5.Beliau melanjutkan:

“Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang itu tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (kerena seperti dia).”(Al-ibanah 2/477 no 501).

6.Abu Darda mengatakan:

“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya”. (Al-Ibanah 2/464 no 459-460).

7.Yahya bin Abi Katsir mengatakan:

“Jangan kamu menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al-Ibanah 2/480 no 514).

8.Musa bin ‘Uqbah Ash-Shury tiba di Baghdad dan hal ini disampaikan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, lalu beliau berkata:

“Perhatikan di mana ia singgah dan kepada siapa ia berkunjung.” (Al-Ibanah 2/480 no 511).

9.Qatadah berkata:

“sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia, maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.”(Al-Ibanah 2/477 no 511).

10.Syu’bah berkata:

“Aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan): bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai.” (Al-Ibanah 2/477 no 500).

11.Al-Auza’iy berkata:

“Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita tidak akan dapat menyembunyikan persahabatannya.” (Al-Ibanah 2/476 no 498).

12.Al-A’masy mengatakan:

“Biasanya salafus shalih tidak menanyakan (keadaaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya dan teman-temannya”.(Al-Ibanah 2/476 no 498).

13.Ayyub As-Sikhtiyani diundang untuk memandikan jenasah kemudian beliau berangkat bersama beberapa orang. Ketika penutup wajah jenazah itu disingkapkan beliau segera mengenalinya dan berkata :

“kemarilah -kepada- temanmu ini, saya tidak akan memandikannya karena saya pernah melihatnya berjalan dengan seorang ahli bid’ah.”(Al-ibanah 2/478 no 503).

14.Abdullah bin Mas’ud berkata:

“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al-Ibanah 2/479 no 509-510)

15.Muhammad bin Abdullah Al-Ghalabiy mengatakan:

“Ahli bid’ah itu menyembunyikan segala sesuatu kecuali persatuan dan persahabatan (di antara mereka)”.(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).

16.Mu’adz bin Mu’adz berkata kepada Yahya bin Sa’id:

“Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan pemikirannya tidak akan tersembunyi hal itu pada anaknya, tidak pula pada teman-temannya atau teman duduknya.”

17.’Amru bin Qais Al-Mula-iy berkata:

“Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama’ah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid’ah berputus asalah kamu dari (mengharap kebaikannya). Karena pemuda itu bergantung diatas apa pertama kali ia tumbuh dan dibentuk”.(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).

18.‘Amru bin Qais Al-Mula-iy juga mengatakan:

“Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang, maka jika ia lebih mementingkan duduk dengan ahli ilmu ia akan selamat, dan jika ia condong kepada yang lain ia akan celaka.”

19.Ibnu ‘Aun mengatakan :

“Siapa pun yang duduk dengan Ahli Bid’ah ia lebih berbahaya bagi kami dibanding ahli bid’ah itu sendiri.”(Al-ibanah 2/453 no 421).

20.Ketika Sufyan Ats-Tsauri datang ke Basrah melihat keadaan Ar-Rabi bin Shabiih dan kedudukannya di tengah umat, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan berkata :

“Ia bertanya apa madzhabnya?” Mereka menjawab bahwa madzhabnya tidak lain adalah As-Sunnah, Ia berkata lagi :”Siapa teman baiknya ?” mereka menjawab :”Qadary.” Beliau berkata :”berarti ia seorang Qodary”.(Al-Ibanah 2/453 no 421).

Ibnu Baththah berkata, “semoga Allah merahmati Sufyan Ats-Tsauri, ia sungguh berbicara dengan al-hikmah maka alangkah tepat ucapannya itu dan ia juga telah berkata ilmu yang sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah serta apa-apa yang sesuai dengan himah, realita dan pemahaman ahli bashirah, Allah berfirman (yang artinya):”Ahai orang-orang yang beriman jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang bukan golonganmu, (sebab) mereka senantiasa menimbulkan bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang menyusahkanmu.”(Ali Imran 118)

21.Imam Abu Daud As-Sijistaniy berkata:

“Saya berkata kepada Imam Abdullah Ahmad bin Hanbal (jika) saya melihat seorang sunniy bersama ahli bid’ah, apakah saya tinggalkan ucapannya ?” Beliau menjawab : “Tidak, sebelum kamu terangkan kepadanya bahwa orang yang kamu lihat bersamanya itu adalah ahlu bid’ah. Maka jika ia menjauhinya, tetaplah bicara dengannya dan jika tidak mau gabungkan saja dengannya (anggap saja ahlu bid’ah). Ibnu mas’ud pernah berkata : ‘Seseorang itu (dinilai) siapa teman dekatnya'”. (Thabaqat Hanabilah 1/160 no 216).

22.Ibnu Taymiyah mengatakan :

“Dan siapa yang selalu berprasangka baik terhadap mereka (ahli bid’ah) -dan mengaku belum mengetahui keadaan mereka – kenalkanlah ahli bi’dah itu padanya maka jika ia telah mengenalnya namun tidak menampakkan penolakan terhadap mereka, gabungkanlah ia bersama mereka dan anggaplah ia dari kalangan mereka juga.”(Al-Majmu’ 2/133).

23.‘Utbah Al-Ghulam berkata :

“Barangsiapa yang tidak bersama kami maka dia adalah lawan kami” (Al-Ibanah 2/437 no 487).

24. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam bersabda :

“Ruh-ruh itu adalah juga sepasukan tentara yang akan saling mengenal akan bergabung dan yang tidak mengenal akan berselisih.”(HSR. Bukhary 3158 dan Muslim 2638).

Al-Fudhail bin Iyyadl mengomentari hadits ini dengan berkata :

“Tidak mungkin seorang sunniy akan berbasa-basi kepada ahli bid’ah kecuali jika ia dari kalangan munafiq”.(lihat Ar Rad’alal Mubtadi’ah li Ibni Al-Banna).

25.Ibnu Mas’ud berkata :

“Jika seorang mu’min memasuki mesjid yang di dalamnya berkumpul 100 orang dan yang muslim hanya satu ia akan masuk ke dalamnya lalu duduk didekatnya, dan jika seorang munafiq memasuki mesjid yang didalamnya berkumpul 100 orang dan hanya terdapat satu orang munafiq juga, ia akan tetap masuk dan duduk di dekatnya”.

26.Hammad bin Zaid mengatakan :

“Yunus berkata kepadaku :”Hai Hammad, sesungguhnya jika saya melihat seorang pemuda berada di atas perkara yang mungkar saya tetap tidak akan berputus asa mengharapkan kebaikannnya, kecuali bila saya melihatnya duduk bersama ahli bid’ah maka ketika itu saya tahu kalau dia binasa”.(Al-Kifayah 91, Syarh ‘Ilal At-Tirmidzi).

27.Ahmad bin Hanbal berkata :

“Jika kamu melihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama’ah maka harapkanlah (kebaikannya) dan jika kamu lihat dia tumbuh bersama ahli bid’ah maka berputusasalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena sesungguhnya pemuda itu tergantung di atas apa ia pertama kali tumbuh”.(Al-Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/77).

28.Dlamrah bin Rabi’ah berkata (saya mendengar) dari Ibnu Syaudzab Al-Khurasaniy berkata :

“Sesungguhnya diantara kenikmatan yang Allah berikan kepada pemuda ialah ketika ia beribadah dan bersaudara dengan seorang ahli sunnah. Dan ia akan bergabung bersamanya di atas As-Sunnah”.(Al-Ibanah 1/205 no 43, dan Ash-Shugra 133 no 91, dan Al-Lalikai 1/60 no 31).

29.Dari Abdullah bin Syaudzab dari Ayyub ia berkata:

“Termasuk kenikmatan bagi seorang pemuda dan orang-orang non ‘Arab ialah jika Allah menurunkan taufiq kepada mereka untuk mengikuti orang yang berlimu di kalangan Ahlus Sunnah.”(Al-Lalikai no 30).

Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah BAB 17, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits. Diambil dari http://www.assunnah.cjb.net.

Untuk lebih lengkapnya  silahkan antum download filenya di:

  1. Download Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasehat Salaful Ummah.pdf
Iklan

Posted on Januari 1, 2010, in Aqidah & Manhaj and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Lantas… apakah kita harus menjauh bila ada orang yang menurut penilaian sebagian orang lainnya bahwa orang tsb adalah ahli bid’ah, mendekat dan ingin berteman dengan kita? Apakah Rosululloh Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam juga bersikap seperti itu?

  2. Afwan, akhi… Saya kurang paham : “Qaatalallahu ! Semoga Allah binasakan penyair yang mengucapkan syair :….” Tapi kok diartikan kekaguman oleh Jamal bin Furaihan ? Mohon penjelasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: