Keutamaan Dan Adab Mencari Ilmu 02

Oleh: Ustadz Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag. Hafizhahullah

1. Malik Ibn Anas rahimahullah berkata:
“Tidak seyogyanya orang yang memiliki ilmu meninggalkan ta’allum (belajar)”
Imam Malik berkata: “Saya tinggal selama 15 tahun, setiap pagi aku berangkat kerumah Ibn Hurmuz. Aku tinggal di sana hingga shalat Zhuhur.”

Sementara al-Dzahabi meriwayatkan ucapan Imam Malik: “Aku duduk mulazamah pada Ibn Hurmuz selama 13 tahun. Di Musim hujan aku menyiapkan celana-celana yang diisi (sesuatu sebagai penghangat). Kami duduk bersamanya di musim hujan di ruang tengah.

Dengan ketekunan Imam Malik dalam bermulazamah kepada Syaikh Ibn Hurmuz dan juga pada Syaikh yang lain maka Imam Malik mengungguli orang-orang sezamannya dan ia bergelar Imam Daril Hijrah.

Imam Malik berkata: “ilmu ini tidak didapat hingga dirasakan rasa kemelaratan dalam pencariannya.”
Yang dimaksud dengan kemelaratan dalam ucapan  Imam Malik adalah hidup tirakat, makan seadanya, pakaian sederhana, banyak menulis, mencatat dan menghafal.

Beliau menyebutkan kemelaratan yang dirasakan oleh Rabi’ah hingga ia menjual kayu atap rumahnya untuk biaya mencari ilmu. Yang dimaksud dengan Rabi’ah adalah imam agug dari generasi Tabi’in yang bernama Rabi’ah Ibn Abi Abdirrahman al-Quraisyi maula Ali al-Munkadir yang dikenal denganRabi’ah ar-Ra’yi. Beliau termasuk ahli fikih dan mufti kenamaan di Madinah yang wafat tahun 136 H. (Qadhi Iyadh, Tartibul Madarik: 1/54; 100)

Al-Qasim berkata: “Mencari ilmu juga menyebabkan Imam Malik membongkar atap rumahnya dan menjual kayunya. Kemudian setelah itu dunia berdatangan kepadanya.”

Di antara ulama yang terkenal menjual atap rumahnya adalah Imam Abu Abdirrahman al-Qurasyi al-Bashri yang dikenal dengan ibn Aisyah. Al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya (10/316) meriwayatkan bahwa ibn Aisyah membelanjakan harta untuk saudara-saudaranya sebanyak empat ratus dinar, hingga ia menjual atap rumahnya.” [1]

2. Mis’ar Ibn Kidam rahimahullah berkata:
“Ilmu itu adalah kemuliaan orang-orang terhormat, ia mengangkat, ia mengangkat orang yang rendah dalam nasabnya. Barangsiapa rendah nilainya maka akan dibangkitkan oleh adabnya.” [al-Hilyah: 7/214]

3. Atha’ ibn Abi Rabah rahimahullah pernah ditanya: “Apa pemberian Allah kepada hambanya yang paling utama? Imam Atha’ menjawab: “Yaitu mencerna (dengan akal) dari Allah, yaitu memahami agama ini.”

Menurut Ibnu Khaldun, akal adalah nikmat dari Allah. Dengan nikmat itu manusia diistimewakan dari seluruh makhluk. Dengan akal itu manusia bisa memahami dan menggali sunnatullah dalam makhluk-Nya. Ibnu Khaldun memandang bahwa akal adalah timbangan yang benar; hukum-hukumnya bersifat yakin, tidak ada kedustaan di dalamnya, akan tetapi ia tidak bisa melihat perkara-perkara tauhiud, akhirat, hakikat kenabian dan hakikat sifat-sifat ketuhanan…sesungguhnya yang demikian itu adalah tamak dalam hal yang muhal.” [2]

4. Al Hakan ibn Utaibah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya seseorang mencari satu bab dari ilmu lalu ia amalkan maka baginya pahala lebih baik daripada dunia, seandainya dunia menjadi miliknya dan ia belanjakan semua untuk akhirat.” [Al-Amali, 1/63]

5. Abu Siwwar al Adawi rahimahullah
Ibn Syaudzab berkata: “Adalah Abu Siwwar berada di halawoh ilmu. Bersama mereka ada seorang pemuda, lalu anak muda itu berkata: “Ucapkanlah oleh kalian Subhanallah wal hamdulillah. Maka Abus Siwwar marah dan berkata: “Celaka kamu, memang kita sedang apa (kalau bukan berdzikir)?” [Al-Zuhd, karya Ahmad, 384]

6. Yahya ibn Abi Katsir rahimahullah
“Mempelajari fikih adalah shalat dan mengkaji al-Qur’an adalah shalat.” [al-Hilyah, 3/67]

7. Muammar (Ma’mar) rahimahullah
“Sesungguhnya seseorang mencari ilmu selain Allah, maka ilmu itu menolak hingga ia ada untuk Allah.” [Jami’ Bayanil Ilm, 1/749]

Sufyan Tsauri berkata: “Kami dulu mencari ilmu untuk dunia lalu ilmu itu menarik kita ke akhirat.”
Makna dari ucapan salaf ini adalah, manusia di awal pencariannya terhadap ilmu ada semacam ghurur dalam dirinya atau karena cita-cita dunia. Ini sesuatu yang lumrah dan biasa. Jika ilmu sudah menancap di hatinya, maka ia melunakkannya karena takut kepada Allah. Oleh karena itu mereka mengetahui keberadaan ilmu ini mendekatkan diri pada Allah atau menjauhkannya dari Allah dari kadar tambahnya kekhusyuan di hati. Jika mereka mendapatkan ilmu ini menambah rasa takut dan khusyu’ maka mereka mengetahui bahwa ilmu ini untuk Allah, dan menambah kedekatan hamba kepada Allah.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad: “Pangkal ilmu adalah khasyyah kepada Allah.” [3]

8. Ibnul Mubarok rahimahullah
Ketika Ibnul Mubarok ditanya: Sampai kapan anda mencari ilmu? Maka ia menjawab: “Sampai mati.” [Jami’ Bayanil Ilm, 1/406]

9. Syu’bah rahimahullah
“Barangsiapa bersikukuh mencari ilmu hadits maka ia menyebabkan kefakiran (kurangnya harta)

10. Ibn Abi Ghassan rahimahullah
“Engkau akan tetap alim selama engkau mau belajar. Jika kamu merasa cukup maka engkau menjadi orang bodoh.” [Jami’ Bayanil Ilm, 1/409]

11. Ali ibn al Husain rahimahullah
Nafi’ ibn Jubair berkata kepada Ali ibn al-Husain: “Semoga Allah mengampuni anda, mengapa anda sebagai penghulu manusia dan yang paling mulia pergi mendatangi hamba itu lalu duduk bersamanya? (maksudnya adalah Zaid ibn Aslam). Maka Ali ibn al-Husain berkata: “Ilmu itu harus diikuti di manapun berada.” [al-Hilyah, 3/137]

12. Abu Bakar ibn al Mithwa’i rahimahullah
Abu Bakar ibn al Mithwa’i berkata: “Aku mondar mandir mendatangi Abu Abdillah (Imam Ahmad) selama 12 tahun, sementara beliau membaca al Musnad atas anak-anaknya. Maka aku tidak menulis dari beliau satu hadits pun, akan tetapi aku melihat kepada petunjuknya dan akhlaknya.” [as-Siyar 11/316]

Imam Dzahabi menyebutkan bahwa yang hadir di majelis Imam Ahmad berjumlah 5 ribu lebih, lima ratus diantaranya menulis (mencatat), sementara sisanya belajar adab yang mulia dari beliau. [as-Siyar, 11/316]

13. Baihaqi rahimahullah
Imam Baihaqi dulu tidak mendapatkan naskah kitab sunan Ibn Majah dan Sunan Turmudzi, namun hal itu tidak menyurutkannya dari mencari ilmu, dengan ikhlas dan mati-matian dalam usaha mencari ilmu akhirnya beliau dapat menulis kitab tentang hukum terbesar dengan sanad “Assunan al-Kubra

Sampai Imam Haramain berkata: “Tidak ada seorang ulama syafi’iyyah melainkan ia berhutang pada Imam Syafi’i kecuali Abu Bakar al Baihaqi, sesungguhnya ia berjasa pada Imam Syafi’i karena karya-karyanya menolong madzhabnya.” [Tadzkiratul Huffazh, 3/1133]

Semoga Bermanfaat.

Note:

Artikel ini terilhami oleh sebuah kitab yang ditulis oleh Syekh Zakaria Ibnu Ghulam Qadir al-Bakistani dengan judul Min Akhbar as-Salaf yang dihadiahkan kepada saya (Ustadz Agus Hasan Bashori) oleh penulisnya, saat kami berkunjung di kediamannya di Makkah al-Mukarramah pada tanggal 22 Syawal 1426 H.

Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan gambaran konkrit bagi ketinggian akhlak Islam yang telah diperankan oleh generasi Salafus Shaluh yang dengan setia dan teguh mengikuti teladan mereka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kita ingin mengikuti jejak langkah kebaikan kaum salaf, maka membaca dan mempelajari adab, akhlak, hikmah dan sejarah mereka adalah penting.

Semoga Allah azza wa jalla membalas Syekh Zakaria dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga artikel ini dapat menjadi cermin bagi orang-orang yang ingin mengikuti manhaj salaf.

Sumber : Diketik ulang  (Afwan, dgn segala kekurangannya karena tidak adanya teks (dalam bahasa arab) dari Majalah Qiblati Edisi 3, Tahun V, 12-1430/12-2009, Hal.92-95.

Dipublikasikan kembali oleh : Al Qiyamah – Moslem Weblog

Download File: Keutamaan Dan Adab Mencari Ilmu 02.doc

Iklan

Posted on Januari 23, 2010, in al-Ilmu and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: