Bermula Dari Pengkafiran Berujung Dengan Pengeboman

Kehormatan seorang muslim sangat mulia di sisi Allah (عز و جل). Oleh karena itu, tidak boleh merusak kehormatan seorang muslim dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syari’at, seperti menuduh dan menghukumi kafir terhadap seseorang yang zhahirnya Muslim tanpa kaedah-kaedah yang benar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (رحمه الله) berkata : “tidak seorang pun berhak mengkafirkan kaum Muslimin, meskipun dia telah melakukan kekeliruan atau kesalahan, sampai ditegakkan hujjah (argumen) kepadanya dan dijelaskan jalan yang benar. Karena orang yang keislamannya telah diketahui secara yakin, maka keislamannya itu tidak akan hilang darinya hanya dengan keraguan. Bahkan keislamannya itu tetap ada sampai ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (kesamaran)”.[1]

BAHAYA PENGKAFIRAN DENGAN TANPA KAIDAH YANG BENAR

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (رحمه الله) menjelaskan bahayanya mengkafirkan seorang Muslim dengan tanpa kaidah yang benar, dengan mengatakan,”Tidak boleh bersikap meremehkan (sembrono) dalam menghukumi kafir atau fasiq terhadap seorang Muslim, karena dalam perkara itu terdapat dua bahaya besar :

Pertama : Membuat kedustaan terhadap Allah (عز و جل) dalam penetapan hukum, dan terhadap orang yang dihukumi (kafir) melalui predikat yang dilontarkan kepadanya.”
Larangan tentang hal ini banyak sekali, diantaranya firman Allah (عز و جل) :

Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Dan ayat-ayat lain yang melarang berbicara atas nama Allah (عز و جل) tanpa ilmu.
Kemudian Syaikh al-‘Utsaimin (رحمه الله) mengatakan,

Kedua : Terjatuh kedalam perkata yang dia tuduhkan kepada saudaranya tersebut, Jika saudaranya tidak seperti apa yang dia tuduhkan.

Dalam Shahih Muslim,’Abdullah bin Umar (رضي الله عتهما) meriwayatkan bahwa Nabi (صلى الله عليه و سلم) bersabda :

“Jika seseorang mengkafirkan saudaranya (se-iman), maka sesungguhnya mengenai salah satu dari keduanya”. (HR.Muslim)

Dalam riwayat lain:

“Jika memang seperti apa yang dikatakan. Jika tidak, perkataan itu kembali kepada orang yang berkata.” (HR.Muslim)

Juga sabda Nabi (صلى الله عليه و سلم) dari Abu Dzarr (رضي الله عته) ,beliau bersabda :

“Barangsiapa memanggil orang lain dengan kekafiran atau dia berkata “Hai musuh Allah”, padahal tidak benar, maka hal itu kembali padanya”.[2]

SEJARAH PENGKAFIRAN DI ZAMAN INI

Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi (حفظه الله) berkata, “Kita meyakini bahwa permasalahan pengkafiran’ -pada fase-fasenya yang akhir- di zaman kita ini, awal muncul keburukannya mulai dari dalam penjara-penjara Mesir pada tahun enam puluhan Masehi -sekitar empat puluh tahun yang lalu- dari sebagian para pemikir harakah-harakah (para sastrawan) yang mengkafirkan masyarakat secara umum dan menghukumi mereka murtad.

Sehingga diriwayatkan dari sebagian mereka itu mengatakan, ‘Aku tidak mengetahui seorang Muslim-pun di atas bumi ini selain diriku, dan seorang yang lain di India Selatan!!!’..

Kemudian pada pertengahan tahun tujuh puluhan Masehi, sikap ekstrem pelakunya semakin bertambah menyimpang dan semakin tajam. Selanjutnya kami telah melihat orang yang mengkafirkan semua manusia seluruhnya. Dia tidak mengecualikan selain orang yang berbai’at kepada syaikh (gurunya) dan imam jama’ahnya (organisasinya)!!

Mereka itu sendiri berpecah belah menjadi banyak jama’ah dan bai’at!!

Pada tahun delapan puluhan Masehi, fitnah (baca:musibah) mereka mengendor sedikit. Selanjutnya kami melihat orang yang membatasi pengkafiran hanya kepada pemerintah-pemerintah dan sistem-sistem, mulai dari pemimpin negara, lalu wakilnya, menteri-menterinya…sampai pasukannya dan tentaranya!!

Kelompok yang terakhir ini juga (di dalamnya) terdapat beberapa tingkatan :

• Sebagian mereka mengkafirkan pemimpin negara dan wakilnya saja!
• Sebagian mereka ada yang menggabungkan -selain di atas- menteri-menterinya juga!
• Sebagian mereka ada yang menambahkan anggota parlemen!
• Dan seterusnya..

Mereka saling berselisih dan pendapat mereka saling kontradiksi; bahkan kami telah melihat sebagian mereka memvonis sesat kepada sebagian yang lainnya dan menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan yang sangat keji.

Bahkan, banyak diantara mereka yang mengkafirkan dan menghukumi murtad kelompok jama’ah yang menyelisihi mereka.

Seandainya kita memperhatikan secara mendalam, niscaya kita akan melihat bahwa akar masalah perselisihan mereka adalah ‘berhukum dengan selain hukum yang Allah turunkan’

Maka, bagaimana jika keadaan itu sampai kepada kenyataan berupa keburukan dan kezhaliman. Dari mulai takfir (pengkafiran) menjadi revolusi, kemudian pemberontakan dan pengeboman, sehingga menjerumuskan umat ini ke dalam ujian yang sangat berat dan cobaan yang sangat buruk.

Para Ulama kita (Haiah Kibaril ‘Ulamaa) yang dipimpin oleh yang mulia Ustadz kita al-‘Allamah al-Imam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (رحمه الله) -semoga Allah menjaga mereka yang masih hidup untuk kebaikan umat ini dan merahmati mereka yang sudah wafat- telah menyadari bahaya yang sedang menyelimuti dan terjadi ini, bahaya yang menjalar dan menyusup, mulai dari pengkafiran sampai pengeboman. Para Ulama mereka menulis penjelasan yang sangat agung untuk memperingatkan umat dari bencana ini dan menjauhkan orang dari pelakunya, yaitu orang-orang yang tidak lurus.

Penjelasan tersebut dijelaskan di Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, no.56, bulan Shafar, th.1420 H, namun tertahan, tidak menyebar (di tengah masyarakat).”[3]

PENGKAFIRAN LALU PENGEBOMAN

Pengkafiran terhadap seorang Muslim mengakibatkan perkara-perkara yang berbahaya seperti menghalalkan darah dan harta, mencegah warisan, batalnya pernikahan, dan lainnya dari akibat-akibat kemurtadan. Untuk itu, seorang Mukmin tidak boleh menghukumi kafir kepada seorang Muslim lainnya hanya karena sedikit syubhat (kesamaran). Jika pengkafiran yang ditujukan kepada individu-individu mengandung bahaya yang besar, lantas bagaimana jika ditujukan kepada pemerintah-pemerintah Muslim? Tentu bahayanya jauh lebih besar! karena pengkafiran seperti ini akan membuahkan sikap membangkakng kepada ulil amri, pemberontakan senjata, menyebarkan kekacauan, menumpahkan darah, dan kerusakan manusia dan negara.

Oleh karena itu, Hai’ah Kibaril Ulamaa (Komisi Ulama Besar) di Kerajaan Saudi Arabia mengisyaratkan adanya hubungan erat antara fenomena pengeboman yang terjadi di beberapa negara Islam dengan pengkafiran. Hai’ah Kibaril Ulamaa menjelaskan, “Sesungguhnya Majlis di kota Thaif, mulai tanggal 2/4/1419 H, telah mengkaji apa yang terjadi di banyak negara Islam -dan lainnya- yang berupa takfir (fenomena pengkafiran) dan tafjir (pengeboman), dan akibat buruknya yang berupa penumpahan darah dan penghancuran bangunan-bangunan”. [4]

Point-point penjelasan Hai’ah Kibaril Ulamaa ini adalah sebagai berikut :

  1. Takfir (menghukumi kafir) adalah hukum syari’at, tempat kembalinya adalah kepada Allah (عز و جل) dan Rasul-Nya (صلى الله عليه و سلم). Sebagaimana tahlil (menghalalkan), tahrim (mengharamkan), dan ijab (mewajibkan), dikembalikan kepada Allah (عز و جل) dan Rasul-Nya (صلى الله عليه و سلم). Demikian pula takfir
  2. Apa yang muncul dari keyakinan yang salah ini (yaitu tergesa-gesa menjatuhkan vonis kafir), yang berupa penghalalan darah, pelanggaran kehormatan, perampasan harta khusus dan umum, pengeboman rumah-rumah dan kendaraan-kendaraan, serta pengrusakan bangunan-bangunan; semua perbuatan ini dan yang semacamnya diharamkan secara syari’at berdasarkan Ijma’ kaum muslimin.
  3. Ketika Majlis Hai’ah Kibaril Ulamaa menjelaskan hukum takfir kepada manusia dengan tanpa bukti dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya (صلى الله عليه و سلم), serta menjelaskan bahwa melontarkan tuduhan kekafiran termasuk perbuatan dosa dan menyebabkan berbagai keburukan, maka sesungguhnya Majlis menegaskan bahwa agama Islam berlepas diri dari keyakinan yang salah ini. Dan apa yang terjadi di sebagian negara berupa penumpahan darah orang tidak bersalah, pengeboman rumah-rumah, kendaraan-kendaraan, serta fasilitas-fasilitas umum dan khusus, serta pengrusakan bangunan-bangunan, itu adalah kejahatan, dan agama berlepas diri darinya.

Demikian pula semua Muslim yang beriman kepada Allah (عز و جل) dan hari Akhir, mereka berlepas diri darinya. Itu hanyalah tindakan orang yang memiliki pemikiran menyimpang dan akidah yang sesat, dan merekalah yang akan menanggung dosa dan kejahatannya. Perbuatan mereka tidak boleh dikaitkan dengan Islam dan kaum muslimin yang mengikuti petunjuk Islam, berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, serta berpegang dengan Tali Allah yang kokoh. Namun, itu hanyalah semata-mata perbuatan merusak dan kejahatan yang ditolak syari’at dan fitrah. Oleh karena itu telah datang nash-nash syari’at yang mengharamkannya dan memperingatkan berkawan dengan pelakunya. [5]

Pebuatan sebagian orang yang melakukan bom bunuh diri dengan anggapan jihad fii sabilillah merupakan anggapan yang rusak.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (رحمه الله) berkata, “…yang aku maksudkan adalah orang-orang yang meledakkan bom ditengah-tengah manusia, dengan anggapan mereka bahwa itu termasuk jihad fii sabilillah!

Padahal hakekatnya, keburukan yang mereka timpakan kepada kaum Muslimin jauh lebih besar daripada kebaikan yang mereka perbuat. Akibat perbuatan mereka citra Islam menjadi buruk di mata orang-orang Barat dan lainnya! Apa yang telah mereka hasilkan? Apakah orang-orang kafir mendekat kepada Islam, atau mereka semakin menjauh darinya? Sedangkan bagi umat Islam sendiri, hampir saja setiap Muslim menutupi wajahnya agar tidak dinisbatkan kepada kelompok yang membuat kegemparan dan ketakutan ini. Dan agama Islam berlepas diri darinya.

Walaupun jihad sudah diwajibkan, akan tetapi para Sahabat tidak pernah pergi ke masyarakat kafir untuk membunuh mereka; kecuali jihad yang memiliki bendera dari penguasa yang mampu melakukan jihad. Adapun teror ini -demi Allah- merupakan cacat bagi umat islam. Aku bersumpah dengan nama Allah ;bahwa kita tidak mendapatkan hasil sama sekali, bahkan sebaliknya, sesungguhnya hal itu memperburuk citra Islam (Islam dan umat Islam). Seandainya kita meniti jalan hikmah, yaitu

Pertama : bertaqwa kepada Allah (عز و جل) dan kita memperbaiki diri kita,
Kedua : berusaha memperbaiki orang-orang lain dengan metode-metode syari’at, sungguh hasilnya adalah hasil yang baik”. [6]

Maka, bukankah kita menginginkan perbaikan? Hanya Allah (عز و جل)-lah tempat memohon pertolongan.

@1431 ©Copyright Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn.XIII/Muharram 1431

——————————————-
1. Majmu’ Fatawa 12/466
2. Lihat: Al-Qawaidul Mustla, hal: 148-149, Karya Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin رحمه الله , takhrij: Abu Muhammad Asyraf bin ‘Abdul Maqshud
3. At-Tabshir bi Qawaidit Takfir, hlm.94-98, Karya Syaikh Ali Hasan al-Halabi حفظه الله
4. At-Tabshir bi Qawaidit Takfir, hlm.100-101, Karya Syaikh Ali Hasan al-Halabi حفظه الله
5. Fatwa ini secara lengkap dimuat didalam kitab At-Tabshir bi Qawaidit Takfir, hlm.100-113, Karya Syaikh Ali Hasan al-Halabi حفظه الله
6. Dari kaset awal dari Syarh Ushulut Tafsir, side A, tanggal 2-Rabi’ul Awwal 1419 H. Dinukil dari kalimat Tadzkirah,hlm.55-56

Iklan

Posted on Januari 27, 2010, in al-Irhab - Terorisme and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: