Sebuah Kaidah Dalam Melangkah..

Oleh: Abu Ashim Muhtar Arifin – hafizhahullah

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullah pernah bercerita:

“Disebutkan dari seorang ulama (universitas) al-Azhar bahwa ia pernah berada di Eropa. Ketika sedang berada di sebuah restoran, di sisinya terdapat orang Nasrani. Lalu orang Nasrani itu bertanya:

“Sesungguhnya al-Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu, manakah penjelasan tentang tata-cara pembuatan aneka ragam makanan seperti sambosa, daging, mafrum dan makanan-makanan sejenisnya? Dimanakah penjelasannya?”

Aku -Syaikh al-Utsaimin- bertanya kepada kalian, wahai penuntut ilmu (Syaikh mengarahkan pertanyaannya kepada para hadirin -pen): Apakah pengajaran tentang ini ada dalam al Qur’an? Jawabannya: “Tidak.”

Lelaki al-Azhar itu menjawab: “Ini ada dalam al Qur’an!”

Orang Nasrani itu menyanggah: “Tidak ada!”

Lalu orang al-Azhar itu memanggil pemilik restoran itu dan mengajukan pertanyaan kepadanya. Ia bertanya: “Bagaimana engkau membuat ini semua?”

Pemilik restoran itu menjawab: “Aku membuatnya dengan cara demikian dan demikian…” Lalu diapun menjelaskan tata-cara pembuatannya.

Lelaki al-Azhar itu mengatakan: “Demikianlah keterangan yang ada dalam al Qur’an! Allah Ta’ala berfirman:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS.an-Nahl:43]

Ini adalah sebuah kaidah yang hendaknya kita berjalan di atasnya. Hendaknya kita menanyakan segala hal yang tidak kita ketahui kepada ahlinya.

Apabila aku mendapatkan suatu kesulitan dalam pelajaran nahwu misalnya, apakah aku pergi kepada ahli hadits agar dia mengajariku nahwu? Jawabannya, “Tidak”, akan tetapi aku pergi kepada orang yang ahli nahwu. Apabila aku mendapatkan kesulitan dalam masalah hadits, maka aku pergi kepada ahli hadits. Hal ini ada dalam al Qur’an, yaitu bimbingan agar bertanya kepada orang yang memiliki ilmu.”

[Washaya wa Taujihat Lithullah al-‘Ilm, dikumpulkan dan ditakhrij oleh Dr.Sulaiman bin Abdullah Aba al-Khail, Jilid 1, Hal.150-153, cet.1, 1425/2004. Ceramah ini disampaikan oleh Syaikh al-Utsaimin di Asrama Mahasiswa Univ. Imam Ibn Su’ud, Cabang Qashim, Tanggal 25 Jumadil Ula 1417H]

Sumber: Disalin ulang dari Majalah adz Dzakiirah Vol.8 No.7 Edisi.61 Th.1431/2010

Dipublikasikan kembali oleh: Al Qiyamah – Moslem Weblog

Iklan

Posted on April 29, 2010, in Nasehat ; Tazkiyatun Nafs and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: