Taqlid Yang Tidak Terlarang

Setiap orang diperintahkan Allah untuk mengikuti wahyu yang telah diturunkan lewat Rasul-Nya. Mengikuti wahyu disebut ittiba’. Demikian juga mengikuti seorang ‘alim karena dalil yang dia bawakan dalam suatu permasalahan disebut ittiba’. Sedangkan mengikuti pendapat orang lain atau meniru perbuatan orang lain tanpa berdasarkan dalil maka bukanlah ittiba’ namun taqlid. Lalu bagaimana hukum taqlid? Pada artikel yang lalu kita sudah membahas taqlid yang diharamkan. Pada artikel kali ini kita akan membahas lawannya yaitu taqlid yang diwajibkan. 

Apakah Orang Awam Boleh Taqlid?

Pada dasarnya manusia diperintahkan untuk ittiba’, bukan taqlid. Namun bagaimana dengan orang-orang awam yang mereka tidak mampu memahami dalil? Ada beberapa pendapat tentang taqlid yang dilakukan orang awam:

  1. Jumhur ulama berpendapat, orang awam atau yang semisalnya wajib (boleh) taqlid kepada orang ‘alim.
  2. Pendapat kedua, taqlid bagi orang awam hukumnya haram. Pendapat ini, mengharuskan setiap orang berakal memeriksa dalil dan berijtihad secara mutlak, baik dalam masalah ushul (pokok) maupun furu’ (cabang-cabang). Pendapat ini adalah pendapat sebagian Qadariyah (Mu’tazilah) dan Ibnu Hazm.
  3. Orang awam wajib taqlid kepada imam yang ma’shum (yang terbebas dari kesalahan dan dosa, red.) Ini adalah pendapat Syiah Imamiyah.

Pendapat yang rajah (kuat) adalah pendapat pertama, berdasarkan dalil-dalil yang akan kami sampaikan nanti, insya Allah. Sedangkan pendapat kedua dan ketiga, itu adalah pendapat yang bertentangan dengan dalil-dalil yang membolehkan taqlid bagi orang awam kepada orang ‘alim tertentu. Walaupun orang ‘alim itu tidak ma’shum, karena menurut Ahlus Sunnah, tidak ada yang ma’shum dari umat ini kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penjelasan Ulama

Berikut ini adalah perkataan sejumlah ulama yang memandang orang awam boleh bertaqlid kepada orang ‘alim:

A. Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan: “Para Ulama tidak berselisih pendapat tentang keharusan orang-orang awam bertaqlid kepada ulama mereka. Mereka inilah yang dimaksud dalam firman Allah azza wa jalla:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui.” [QS.an-Nahl/16: 43]

Para Ulama juga sepakat, orang buta yang kesusahan mengetahui kiblat harus taqlid (ikut) orang lain yang dia yakini mengetahui kiblat. Demikian juga orang yang tidak memiliki ilmu dan wawasan tentang agama, dia harus taqlid kepada ulama’nya. [Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlihi, 2/140]

B. Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah mengatakan dalam kita al-Mustash-fa 2/124, “Orang awam wajib meminta fatwa dan mengikuti ulama’.”

C. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Raudhatun Nazhir hal.206, “Taqlid dalam masalah furu’ (cabang) itu boleh berdasarkan ijma’.”

D. Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan dalam kitab al-I’thisham 2/343, “Kedua: orang itu muqallid murni, dia sama sekali tidak memiliki ilmu untuk memutuskan. Orang ini harus memiliki orang yang akan menuntunnya, hakim yang akan menghukuminya, serta seorang ‘alim yang dia teladani.”

E. Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan dalam Talbis Iblis hal.79, “Sedangkan dalam masalah-masalah furu’ (fikih), karena kejadiannya banyak, bagi orang susah untuk memahaminya serta dalam masalah ini orang awam dekat kepada kesalahan, maka yang terbaik bagi mereka adalah taqlid dalam masalah ini kepada orang yang telah meneliti dan mengkaji.”

F. Al-Amidi rahimahullah berkata, “Menurut para ahli ushul fiqih yang sudah melakukan penelitian, orang awam dan orang yang tidak memiliki kemampuan berijtihad, walaupun memiliki sebagian ilmu yang diakui dalam ijtihad, ia wajib mengikuti perkataan ulama mujtahidin dan memegangi fatwanya.” [al-Ihkam 4/228]

G. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Orang yang tidak mampu mencari dalil boleh bertaqlid kepada orang ‘alim.” [Majmu’ Fatawa, 19/262]

H. Syaikh Hamd bin Mashir bin Mu’ammar dalam risalah al-Ijtihad wat Taqlid mengatakan, “Orang-orang awam yang tidak memilik ilmu fiqih dan hadits serta tidak mengkaji perkataan ulama, maka mereka ini harus bertaqlid, dengan tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama, bahkan beberapa ulama menyebutkan adanya ijma’ dalam hal itu.” [Majmu’atur Rasail wal Masail an-Najdiyah. Lihat, Risalah al-Ijtihad wat Taqlid, 2/6, 7, 21]

Diantara dalil-dalil yang menjadi landasan pendapat di atas adalah sebagai berikut:

1. Perintah Allah azza wa jalla untuk bertanya kepada ahli ilmu. Allah azza wa jalla berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus sebelummu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS.an-Nahl/16: 43]

Sisi pengambilan dalil dari ayat ini yaitu Allah jalla wa ‘ala memerintahkan orang yang tidak berilmu agar bertanya kepada orang yang berilmu. Ini berarti boleh mengamalkan pendapat orang yang ditanya. Walaupun rangkaian ayat ini berkaitan dengan perintah  bertanya kepada orang ‘alim Ahli Kitab, tetapi ayat ini dapat digunakan dalam keumuman maknanya, sebagaimana kaidah dalam ilmu tafsir. Dan pertanyaan dalam ayat itu meliputi pertanyaan tentang masalah yang ada nashnya, maka yang ditanya harus menjawab dengan nash; Dan mencakup juga masalah yang tidak ada nashnya, sehingga dia menjawab dengan ijtihad. Mengikuti ijtihad orang ‘alim ini adalah taqlid. Ini menunjukkan taqlid itu boleh. Adapun berpegang dengan pendapat orang ‘alim yang menyelisihi nash, maka ini merupakan ta’asshub (fanatisme) terhadap sebagian ahli fikih. Ini termasuk taqlid yang haram.

2. Firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.” [QS.an-Nisa’/4 59]

Dalam ayat ini Allah Jalla wa ‘Ala memerintahkan agar mentaati ulil amri. Ulil amri adalah umara’ (penguasa) dan ulama’. Berdasarkan perintah Allah ini, maka mentaati mereka adalah wajib, baik dalah perkara yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya atau dalam perkara yang mubah. Ini berarti taqlid kepada ulama’ dalam perkara yang bukan maksiat, hukumnya boleh.

3. Ijma’ Sahabat tentang keberadaan orang yang bertanya dan orang yang ditanya. Sejak dulu, orang-orang awam meminta fatwa ulama’ dan ulama memberi fatwa dengan tanpa menyebutkan dalil dan tidak menyuruh  orang awam untuk meraih derajat ijtihad. Kondisi seperti ini tidak ada yang mengingkari. Ini telah diketahui pasti dan telah mutawatir, bahwa para ulama’ dahulu berfatwa sedangkan orang-orang awam bertanya kepada ulama’. [1/22]

4. Dalil secara akal, yaitu ulama’ yang berijtihad dalam masalah furu’ terkadang benar sehingga mendapatkan dua pahala dan terkadang salah sehingga mendapatkan satu pahala. Jadi seorang mujtahid tetap mendapatkan pahala, ketika ijtihadnya salah dan benar. Maka, orang awam boleh taqlid pada masalah itu, bahkan wajib -menurut sebagian ulama-.

5. Seandainya  orang awam tidak boleh bertaqlid dan mereka diharuskan ijtihad, maka urusan-urusan dunia akan terbengkalai tidak ada yang mengurusi pertanian, perkebunan dan peternakan, pekerjaan menjadi terlantar sehingga mengakibatkan kekacauan. Karena untuk memiliki keahlian yang bagus dalam memahami dalil agar bisa mengetahui hukum-hukum agama berdasarkan dalilnya membutuhkan sarana-sarana yang akan menghabiskan  waktu seseorang. Jadi mewajibkan pada semua orang untuk berijtihad, termasuk orang awam, merupakan kesusahan besar yang tidak mungkin dibawa oleh syariat.

Inilah sedikit pembahasan tentang orang awam boleh bertaqlid kepada ulama’. Semoga bermanfaat bagi kita. Amiin.

Sumber: disalin ulang dari Majalah as-Sunnah Edisi 01/Thn.XIV/Rabi’ul Tsani 1431H/April 2010M Hal.36-38

Dipublikasikan kembali oleh: https://alqiyamah.wordpress.com

Iklan

Posted on Mei 28, 2010, in Aqidah & Manhaj and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ingat…… tidak dilarang bukan berarti wajib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: