Tanggapan Terhadap SMS: “Ternyata Kita Dengan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- Hanya Beda Sedikit? – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat”

Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar bait-bait kalimat yang kira-kira berbunyi seperti ini:

Ternyata, kita dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam hanya beda sedikit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sedikit tidur, kita sedikit-sedikit tidur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sedikit tertawa, kita sedikit-sedikit tertawa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sedikit bercanda, kita sedikit-sedikit bercanda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sedikit makan, kita sedikit-sedikit makan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sedikit-sedikit menangis, kita sedikit menangis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sedikit-sedikit beramal, kita sedikit beramal.

Semoga kita bisa mengejar perbedaan yang sedikit itu. Amin.

Beberapa bait kalimat ini pernah saya jumpai beberapa kali dalam beberapa media. Diantaranya di facebook. Dan mungkin juga beredar di sms-sms kaum muslimin.

Berikut ini saya tulis ulang sebuah tulisan dari Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah berkenaan tentang bait-bait kalimat di atas. Tulisan beliau ini adalah tanggapan atas termuatnya sebuah sms dalam rubrik Risalatikum majalah As-Sunnah. Tepatnya, tulisan beliau ini dimuat dalam majalah As-Sunnah edisi 06/Thn. XIV/Dzulqa’dah 1431H/Oktober 2010. Dan sms yang dimuat tepatnya ada dalam edisi 02/Thn. XIV.

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah menuliskan:

Kaget dan terhentak. Itulah respon fisik yang pertama kali saat membaca untaian kalimat yang berasal dari seseorang yang kemudian dimuat di majalah As-Sunnah. Betapa tidak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam yang merupakan Rasul dan makhluk termulia dikatakan hanya beda sedikit dengan manusia saat ini. Tanpa disadari, sungguh (untaian kalimat) ini merupakan sebuah penghinaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam. Hendaklah yang menyusun untaian kalimat ini dan yang menyebarkannya bertaubat kepada Allah ta’ala. Mungkin, maksud dan tujuannya baik, yaitu (untuk) memberikan motivasi agar giat beramal. Tapi bukan begitu caranya.

Perbedaan (antara) kita dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bukanlah sedikit. Kalau dirinci, maka kita akan mendapati betapa banyak perbedaan (antara) kita dengan beliau. Perbedaan yang diakui dan tidak dipungkiri oleh semua insan yang beriman, yaitu kedudukan beliau sebagai seorang Rasulullah (Rasul Allah). Ini (merupakan) sebuah kedudukan yang tidak akan bisa diraih dengan usaha manusia. Masihkah kita berani mengatakan bahwa perbedaan (antara) kita (dengan beliau adalah) sedikit?

Perbedaan lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah memilih Bani Kinanah dari anak keturunan Nabi Ismail dan memilih suku Quraisy dari Bani Kinanah. Dan Allah memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy. Dan Allah memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim)

Poin lain yang membedakan (antara) kita dengan beliau yaitu ucapan-ucapan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu beliau. Sementara kita? Simaklah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm (53): 3-4).

Dan masih banyak lagi kelebihan yang tidak mungkin kita gapai. Bagaimana mungkin perbedaan yang sedemikian banyak dan jauh ini dikatakan sedikit? Jangankan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, dengan para shahabat saja kita tidak bisa menyamai mereka. Simaklah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam berikut ini, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang artinya, “Janganlah kalian mencela para shahabatku. Seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka dia tidak akan bisa mencapai satu mud dari salah seorang shahabat atau (sekedar hanya) setengahnya.” (HR. Al-Bukhari).

Al-Baidhawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadits ini (adalah), dengan menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, kalian tidak akan bisa meraih seperti pahala yang diraih oleh para shahabat yang menginfakkan satu mud (dua telapak tangan) makanan atau (hanya sebanyak) setengah mud.”

Jadi, dari sisi kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, janganlah kita sekali-kali mengatakan, apalagi meyakini bahwa perbedaan kita dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sedikit. Sedangkan dari sisi kehormatan kaum muslimin, untaian kalimat di atas juga kurang pas. Siapakah yang dimaksudkan oleh penulis (untaian kalimat tersebut)? Diri penuliskah atau siapa? Karena tidak semua kaum muslimin yang hidup di zaman ini seperti itu.

Inilah sebagian kecil dari berbagai permasalahan yang berkaitan dengan SMS di atas. Kiranya ini sudah cukup sebagai peringatan bagi yang merangkai kalimat tersebut, juga bagi yang terkadang menjadikannya sebagai pesan berantai. Terkhusus kepada tim majalah As-Sunnah supaya lebih selektif dan lebih hati-hati dalam memuat SMS yang masuk. Tidak semua SMS yang masuk lalu (bisa) dimuat dalam majalah ilmiyah yang kita cintai ini.

Terakhir, kepada Allah ta’ala kita memohon agar senantiasa kita diberikan rahmat dan senantiasa diberi taufiq untuk melakukan amalan-amalan yang disukai dan dicintai oleh Allah ta’ala.

Oleh USTADZ ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT hafizhahullah.

REDAKSI:

Alhamdulillah, hanya kepada Allah ta’ala kami bersyukur atas kehadiran peringatan ini kepada kami. Dan kami redaksi juga mengucapkan terima kasih kepada ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah yang telah berkenan memberikan nasehat dan peringatan terkait SMS yang kami muat pada rubrik Risalatikum, edisi 02/Thn. XIV. Tidak pernah terbetik dalam hati kami dan na’udzubillah dari menghina baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dengan memuat SMS tersebut. Maksud kami hanyalah memberikan motivasi, sehingga SMS tersebut kami muat. Namun, niat baik ini tidak bisa melegalkan kesalahan. Kami memohon ampun kepada Allah ta’ala atas kesalahan ini.

Diketik ulang dari Majalah As-Sunnah edisi 06/Thn. XIV/Dzulqa’dah 1431H/Oktober 2010 dengan penambahan (dalam kalimat pembuka dan yang ada dalam kurung) oleh Abu Shofiyah Aqil Azizi –hafizhahullah

Sumber: Facebook Aqil Azizi

Posted on Januari 18, 2011, in Bantahan and tagged . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Dasar wahabi! itu kan namanya gaya bahasa, majaz, metafora! Orang di Al-qur’an saja banyak kiasan, metafora, parabel, simili dsb. Pantas saja wahabi gampang menuduh orang semaunya, pandangan mereka saklek, kering dan anti logika.

    • Barangkali mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

      وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّم

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka.” (HR. Al Bukhari 6478)

      Al Hafidz Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan. Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:

      وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم

      “Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.” (QS. An-Nur: 15)

    • @ aBU wAHaBI N yANG seMiSALnYa

      Barangkali ANTUM lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

      وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّم

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka.” (HR. Al Bukhari 6478)

      Al Hafidz Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan. Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:

      وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم

      “Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.” (QS. An-Nur: 15)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: