Akankah Kita Mati Tersenyum Esok Pagi? – Ustadz Abu Umar Basyir

Kisah Pemuda Arab Bernama Khalid

Ia bernama Khalid. Ia tinggal di Riyadh, ibu kota Saudi Arabia.

Sesudah menamatkan pendidikan SMU nya, Khalid tentu saja memiliki cita-cita sebagaimana yang diimpikan oleh kalangan remaja modern di tanah Arab bahkan dunia Islam pada umumnya sekarang ini, untuk pergi ke luar negeri dan melanjutkan studi di negeri-negeri barat, jauh dari penglihatan dan kontrol keluarga maupun masyarakatnya. Sementara antara kedua dunia itu –barat dan masyarakat Islam- ada jurang perbedaan yang begitu mencolok.

Orang tua Khalid, bahkan sangat mendukungnya dan mau bersusah payah untuk menyiapkan berbagai hal yang akan dia perlukan, saat belajar di luar nanti. Bagi mereka belajar di luar negeri adalah kebanggaan tersendiri. Betapapun untuk itu, mereka harus merelakan anak mereka tinggal berjauhan dengan mereka, hidup di negeri asing, dan harus berjuang mengatasi segala perbedaan yang ada.

Waktu berangkat pun tiba. Sang ibu melepas putra kesayangannya itu, menciumnya dengan sedih dan perih. Si ibu mengingatkan, agar dia menghindari segala kebiasaan buruk kaum remaja di negeri orang nanti. “Jangan coba-coba melakukan hal yang dapat mencoreng kehormatan keluarga kita,” pesan ibunya. Khalid menyanggupinya.

Khalid pun menghitung menit demi menit, jam demi jam karena saking rindunya ia terhadap negeri yang banyak ia dengar dari banyak orang yang telah pergi kesana. Kerinduan mengalahkan segalanya. Bayangan tentang keindahan, kemodernan negeri itu yang selama ini hanya ia dengar dan ia amati dari cerita banyak orang, sebentar lagi akan segera berubah menjadi kenyataan yang akan dialami sendiri. Betapa berbahagianya dia nanti. Negeri itu adalah segala-galanya bagi Khalid saat itu.

Dan, memang begitulah adanya. Negeri itu segala-galanya bagi Khalid. Sekejap saja kakinya berpijak di negeri tersebut, segala pesan ibunya yang ia simak saat berangkat secara begitu mengharukan, kontan menguap begitu saja. Nyaris tidak tersisa sejumputpun. Ia sudah lupa diri. Tak hanya lupa diri, bahkan berangsur-angsur ia mulai melupakan Allah, Rabb yang selalu mendengar dan melihat, dimanapun manusia berada.

Ia pun mulai tenggelam dalam berbagai maksiat dan dosa-dosa. Bahkan ia juga tak lagi memedulikan nasib studinya. Studi yang justru seharusnya menjadi tujuan dari perantauannya itu. Baginya, segala kenikmatan hidup, kenikmatan dosa dan maksiat itu, melebihi segala-galanya dibandingkan kebanggaan atas keberhasilannya belajar di negeri tersebut.

Beberapa tahun pun berlalu. Lama sudah waktu berlalu di negeri asing yang dia habiskan untuk berhura-hura dan berbuat nista. Belajar, hanya menjadi pelengkap penderita di perantauannya itu. Akhirnya, ia pun kembali ke negerinya. Kembali, dengan isi otak yang telah berubah, dengan kondisi hati yang sudah menjadi gelap gulita, bahkan sudah terkoyak-koyak terhembus angin syahwat dan nafsu hewani.

Sebagai akibatnya, lahirlah berbagai penyakit hati seperti keragu-raguan dan syubhat atau kerancuan terhadap kebenaran. Karena hatinya sebelumnya memang sudah kosong melompong. Tak terisi oleh indahnya penghambaan diri kepada Allah. Maka, begitu mudah segala penyakit itu beronggok di dalam jiwanya.

Selama ini, sang ibu telah menanti kedatangannya. Yakni, semenjak bertahun-tahun ia meninggalkan tanah Arab. Sang ibu menantinya dengan penuh kesabaran. Ia hanya dapat menghitung menit demi menit, jam demi jam. Begitu rindunya ia untuk berjumpa dengan putra kesayangannya itu. Air matanya mengalir setiap waktu, karena ia mengkhawatirkan keselamatan sang anak. Meski si anak sendiri, justru tidak pernah membayangkan ibunya sama sekali. Bahkan tidak pernah sekalipun bertanya tentang kondisi ibunya. Yah, sekadang bertanya, apalagi untuk benar-benar ingin tahu kondisi ibu dan keluarganya. Kalaupun ia teringat, hanya sesekali saja. Tak ada kesan sama sekali.

Tibalah waktu perjumpaan itu. Si ibu pergi bersama saudara perempuannya Khalid menuju bandara untuk menyambut kedatangannya. Hatinya nyaris terbang saking suka citanya.

Di ruang tunggu pesawat, si ibu berdiri termangu menanti-nanti kedatangan sang anak. Ia meneliti muka setiap orang yang turun dari pesawat untuk mencari tahu wajah anaknya yang tercinta. Nah, itu si Khalid datang!! “Tapi, benarkah itu Khalid?” Bisik sang ibu kepada putrinya. Saat itu ia begitu terperanjat, sehingga nyaris tak mampu berkata-kata.

Si Khalid datang dengan menggunakan kaca mata hitam, dengan rambut cepak dan jenggot terpangkas habis. Mode terbaru yang digemari orang-orang barat. Modis sekali.

Setelah dekat, barulah si ibu mengenalinya. Karena ada banyak ciri diwajah dan tubuh Khalid yang tak mungkin disembunyikan. “Khalid, Khalid!” si ibu berteriak memanggilnya.

Khalid menoleh ke arah ibunya. Si ibu menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Khalid. “Aku ini ibumu, Khalid.” Ujar sang ibu antusias. “Dan itu saudarimu.” Lanjutnya.

Si ibu yang sudah begitu lama menanti-nanti si anak, secara spontan memelik dan mencium kening putranya itu. Ia membayangkan, anaknya itupun akan menangis, saking gembiranya berjumpa dengan ibunya. Namun, semua tak seperti yang ia duga. Dengan dingin, Khalid hanya menjulurkan tangannya. Terlihat kesan angkuh pada sikapnya. “Apakah kalian masih juga menutupi wajah kalian dan mengenakan pakaian hitam-hitam seperti ini?” [1]

Sang ibu terperangah mendengar ucapan anaknya tersebut. Air mata kegembiraan yang mengucur deras karena berjumpa dengan anaknya, seketika bertukar menjadi air matakesedihan. Air mata sesal dan kecewa atas sikap sang anak tersebut.

Ia bukan kecewa hanya karena penampilan anaknya yang berubah total, tak lagi mencerminkan sosok Khalid yang tawadhu’, alim dan bersahaja. Bukan, bukan karena itu. Tapi ia kecewa, karena ucapan pertama yang meluncur dari mulut anaknya itu menunjukkan sinisme yang begitu kuat terhadap syariat Islam.

Hijab adalah syariat Islam bagi setiap wanita muslimah. Kalimat pertanyaan yang keluar dari mulut Khalid, menandakan kondisi hatinya yang tak lagi nyaman terhadap syariat hijab bagi wanita muslimah. Itu sangat mengecewakan hatinya.

Namun, sebagai ibu yang baik, ia berupaya menyembunyikan bias kekecewaan itu dibalik hijabnya yang suci. Di balik nafasnya yang membawa karena amarah. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut sang ibu, berulang-ulang.

Hari-hari pun berlalu. Khalid masih tetap tenggelam dalam pola pikir dan juga kebiasaannya yang sesat dan menyimpang. Ia selalu mencari kesempatan lagi untuk sekadar bepergian ke negeri-negeri barat tersebut, kemudian kembali lagi. Jiwanya sudah kecanduan dengan gemerlap hidup dan gaya hidup di negeri-negeri kafir itu. Sebaliknya, kebenciannya terhadap agamanya sendiri kian hari kian menjadi-jadi.

Sang ibu sendiri, sama sekali sudah tidak menghargainya lagi sebagai putra yang selama ini amat dikasihi dan sayangi. Bahkan ia mulai tidak memrdulikannya sama sekali. Ia sudah berubah mulai membenci si anak karena Allah. Bukan hatinya  secara utuh membenci sosok sang anak. Ibu mana yang membenci anaknya? Tapi ia membenci sikap buruk dan kegelapan hidup yang mengendap dalam diri anaknya. Dan memang demikianlah konsekuensi dari kalimat Laa ilaaha illallah:

“Kamu (hai Muhammad) tidak akan mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, lalu berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” [QS.al-Mujadilah:22]

Begitu benci sang ibu, namun ia tak ingin anaknya celaka. Sang ibu mulai mendoakan agar anaknya kembali menjadi anak shalih dan mendapatkan petunjuk. Ia ingin tetap berdoa agar anaknya terhidayahi. Ia khawatir, bila kebencian dalam hatinya, suatu saat mendorong dirinya untuk mendoakan keburukan bagi anaknya. Ia tak ingin hal itu terjadi.

Namun, hari kelabu itu pun tiba.

Malam itu adalah malam pengantin bagi si Khalid. Ia sukses menikahi gadis pilihannya sendiri. Gadis cantik, modern dan mendewakan kehidupan bebas ala barat, seperti yang digandrungi Khalid. Malan ini akan menjadi malam terindah bagi Khalid. Tapi….

Sang ajal tidak memberinya kesempatan itu bermalam pertama!

Ketika ia sedang keluar mengendarai mobil kecilnya di hari pernikahan, sebelum tiba saat bermalam bersama istrinya itu, tiba-tiba ditengah jalan mobil yang ia kendarai bertubrukan dengan sebuah truk besar. Tak ada jalan lain kecuali menerobos masuk ke bawah truk besar tersebut, sehingga tubuhnya dan juga mobilnya berubah menjadi tumpukan sampah dari besi-besian…bercamput daging dan darah.

Sesaat kemudian, polisi lalu lintas sudah berdiri di situ dengan menggotong sekaruan penuh berisi daging dan tulang belulang. Tidak ada yang tersisa lagi dari diri Khalid. Ia menjemput ajalnya yang naas. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih cepat mendatangkan siksa bagi pelakunya di dunia sebelum siksa Akhirat, selain daripada kedurhakaan dan memutur silaturrahmi.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya.[2]

Akankah kita mati tersenyum esok pagi?

Note:

[1] Di Saudi Arabia, kebanyakan wanita masih menjaga tradisi Islam mengenakan pakaian yang menutup seluruh auratnya. Bahkan kebanyakan ulama disana berpendapat bahwa mengenakan cadar itu wajib, meski dalam fiqih Islam dunia ada kontroversi soal hukum cadar. Sebagian menyakini wajib, dan sebagian memandangnya sunnah. Masing-masing memiliki dalilnya, warna pakaian yang biasa dipilih oleh mastarakat Saudi Arabia adalah hitam. Mengacu pada beberapa riwayat yang menceritakan  bagaimana di awal turunnya syariat hijab, banyak wanita mengenakan pakaian menutup aurat berwarna hita, menyerupai burung gagak. Tapi sesungguhnya, Islam tak memberi batasan pada warna pakaian, asalkan tetap menutup aurat secara baik, dan tidak berlebihan. Wallahu a’lam.

[2] Disaripatikan dari kisah yang sama dalam buku az-Zamanul Qaadim karya Abdul Malik Qaasim.

Sumber: Disalin ulang dari buku “Mati Tersenyum Esok Pagi”, Ustadz Abu Umar Basyir, Penerbit Shafa Publika, Cet.1, Hal.44-52.

Posted on April 4, 2011, in Kisah Nyata and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. cerita yang menyentuh

  2. subhanallah,kshn sekali mati dlm keadaan menggenaskn

  3. Astaghfirulloh, pelajaran yg sangat bagus, Ya Alloh matikan hamba dalam keadaan husnul khotimah.

  1. Ping-balik: Kisah Pemuda Arab Bernama Khalid | Blog Rumaisha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: