Menyambut Ramadhan Dengan Saling Memaafkan [Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi]

http://2.bp.blogspot.com/_QORmGJNINOA/TIosba_89PI/AAAAAAAAAMY/5uwT4H3K4dM/s1600/maaf+(1).jpgPertanyaan:

Assalamu’alaykum. Sudah menjadi tradisi di Indonesia, sebelum masuk bulan Romadhon banyak masyarakat yang bermaaf-maafan dengan dilandasi suatu riwayat yang dianggap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pernah suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar seraya mengucapkan “Amin” tiga kali. Setelah selesai khutbah para sahabat menanyakan tentang apa yang beliau aminkan tiga kali itu. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Telah datang kepadaku Jibril seraya berdoa, ‘Ya Allah ‘Azza wa Jalla jangan Engkau terima puasa orang yang tidak minta maaf kepada kedua orang tuanya, Ya Allah ‘Azza wa Jalla, jangan Engkau terima puasa seorang istri yang tidak minta maaf kepada suaminya begitu juga sebaliknya, dan ya Allah ‘Azza wa Jalla janganlah Engkau terima puasa orang yang tidak minta maaf kepada saudaranya sesama muslim yang dia kenal.'” Maka do’a Jibril itulah yang diaminkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar riwayat seperti itu adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah haditsnya shohih? (Abu Hasan Indra-Sumbar)

Jawaban:

Wa’alaykumussalam. Kami sering mendapatkan pertanyaan ini. Terus terang, kami belum mendapati hadits ini dalam kitab-kitab hadits. Namun, Kami pernah menanyakannya kepada Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, beliau menjawab bahwa hadits di atas tidak shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun tradisi maaf-maafan sebelum Ramadhan, kalau memang itu bukan dijadikan sebagai kelaziman dan karena memang sedang bermusuhan maka tidak masalah; bukan berdasarkan hadits ini, melainkan berdasarkan hadits:

Allah Tabaraka wa Ta’ala turun kepada makhluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan. [1] Wallahu A’lam.

Foot Note:

[1] Hadits shohih. Lihat takhrijnya secara lengkap dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah 3/135139/no.1144 oleh al-Albani dan Husnul Bayan oleh Masyhur Hasan.

Sumber: Disalin dari Majalah al Furqon Edisi 1, Tahun Kesebelas, Sya’ban-Romadhon 1432, Rubrik Soal Jawab, Hal.5.

Posted on Juli 24, 2011, in Puasa and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. NOTE DIATAS:
    ‘Ya Allah ‘Azza wa Jalla jangan Engkau terima puasa orang yang tidak minta maaf kepada kedua orang tuanya, Ya Allah ‘Azza wa Jalla, jangan Engkau terima puasa seorang istri yang tidak minta maaf kepada suaminya begitu juga sebaliknya, dan ya Allah ‘Azza wa Jalla janganlah Engkau terima puasa orang yang tidak minta maaf kepada saudaranya sesama muslim yang dia kenal.’

    Kalimat tersebut di atas adalah kalimat PERINTAH.
    Apakah layak malaikat memerintah Allah ???
    Al Qur’an mengajarkan kita untuk menggunakan AKAL dalam menemukan masalah.
    http://on.fb.me/llsBvV

  2. Bismillah. Assalamu’alaikum ustadz. ‘afwan,ada yg sangsi dg hadits diatas. Ana pnh baca dr rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/3487-amalan-keliru-di-bulan-syaban.html#comment-246638157, mengenai hadits diatas ditulis sanadnya shohih. Namun ana baca diweb yg td ana tls,sanad-ny dhoif. Apakah ada kesalahan,ato ustadz sengaja menulis hadits dhoif krn dpt diambil faidah darinya atau mmg ada suatu kesalan. ‘afwan ustadz,hny ingin menjelaska. Jazaakallah khoyr wa barakallah fiik.

    Dlm web rumaysho tertulis:
    “Contoh hadits dho’if yang
    membicarakan keutamaan
    malam Nishfu Sya’ban, yaitu
    hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia
    berkata, Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa sallam bersabda,
    ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻴَﻄَّﻠِﻊُ ﻓِﻰ ﻟَﻴْﻠَﺔِ
    ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻓَﻴَﻐْﻔِﺮُ
    ﻟِﺠَﻤِﻴﻊِ ﺧَﻠْﻘِﻪِ ﺇِﻻَّ ﻟِﻤُﺸْﺮِﻙٍ
    ﺃَﻭْ ﻣُﺸَﺎﺣِﻦٍ
    “Sesungguhnya Allah akan
    menampakkan (turun) di malam
    Nishfu Sya’ban kemudian
    mengampuni semua makhluk-
    Nya kecuali orang musyrik atau
    orang yang bermusuhan dengan
    saudaranya.” (HR. Ibnu Majah
    no. 1390). Penulis Tuhfatul
    Ahwadzi berkata, “Hadits ini
    munqothi’ (terputus sanadnya)
    .” [Berarti hadits tersebut dho’if/
    lemah].”

  1. Ping-balik: Menyambut Ramadhan Dengan Saling Memaafkan « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: