Khadijah binti Khuwailid -radhiyallahu ‘anha- : Sayyidah Quraisy ath-Thahirah [Bag.Kedua]
Adapun Khadijah adalah seoarang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.[4] Beliau adalah seorang istri yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi suami yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya, serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman,sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya. Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali kerumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau. Dan ayat-ayat al Quran juga meneguhkan Rasulullah. Firman-Nya:
“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!” [QS.al-Muddatssir: 1-7]
Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang telah habis. Khadijah turut mendakwahkan Islam di samping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau-. Di antara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya -semoga Allah meridhai mereka seluruhnya-.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya, akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan firman Allah Ta’ala:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” [QS. Al-Ankabut:1-2]
Allah memilih kedua putranya yang bernama Abdullah dan Al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang Pencipta dengan penuh kemuliaan.
Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan karena putrinya hijrah ke negeri Habasyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan, akan tetapi tidak ada istilah putus asa bagi seorang mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan oleh Allah Tabaraka wa ta’ala yang artinya:
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak menyakiti hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” [QS. Ali-Imran: 186].
Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya Al-Amin Ash-Shadiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesenangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam menetapi kebenaran yang belum pernah di kenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda:
“Demi Allah wahai paman, seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenanya.”[5]
Begitulah sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhannya di atas iman. Oleh karena itu kita mendapatkan, tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka kepada kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi, dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka’bah,[6] Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaumnya Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halaman tercinta untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan, dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi denga iman, tulus, dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di saat berumur 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul pula seorang mujahidah yang sabar semoga Allah meridhoi beliau, yakni tiga tahun sebelum hijrah.[7]
Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatllah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rosulullah, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.[8]
Begitulah nafsul muthmainnah telah pergi menghadap Rabb-nya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad di jalan-Nya. Dalam hubungannya beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya, dan mencurahkan segala kemampuannya untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapatkan salam dari Rabb-nya, dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan di dalamnya [9] dan tidak ada pula keributan di dalamnya. Karena Rasulullah bersabda yang artinya :
“Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid.”[10]
Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, as-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimiliknya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.
Foot Note:
[4] as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam [1/257]
[5] as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam [1/385]
[6] as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam [1/375] dan tarikh ath-Thabari [II/228]
[7] al-Ishabah [VIII/62] dan Siyaru A’lam an-Nubala’ [II/117]
[8] as-Sirah [II/57] dan Tarikh ath-Thabari [II/229]
[9] Lihatlah teks hadits tersebut dalam Shahih al-Bukhari tentang keutamaan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab: Pernikahan Nabi dengan Khadijah dan keutamaannya [IV/231]. Dan Muslim tentang “Keutamaan Sahabat” pada bab: Keutamaan Khadijah Ummul Mukminin no.2432.
[10] HR.al-Bukhari tentang Keutamaan Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab: Pernikahan Nabi dengan Khadijah dan keutamaannya [IV/230]. Dan Muslim tentang “Keutamaan Sahabat” pada bab: Keutamaan Khadijah Ummul Mukminin no.2430
Sumber: Disalin ulang dari buku “Mereka Adalah Para Shahabiyat [Nisaa’ Haular Rasul], Mahmud Mahdi al Istambuli & Musthafa Abu An Nashir Asy Syalabi, Penerbit at-Tibyan, Hal.41-49.
Posted on Agustus 1, 2011, in Istri-Istri Nabi and tagged Biografi Khadijah, Istri Nabi, Istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, Khadijah RA, Khadijah radhiyallahu 'anha, Sayyidah Quraisy ath-Thahirah. Bookmark the permalink. 2 Komentar.
Afwan akhi, koreksi untuk hadits : “Demi Allah wahai paman, seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenanya.”
Hadits tersebut adalah dhaif lagi mu’dhal. Berikut keterangannya di silsilah hadits dha’if no. 909 : Hadits dha’if. Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dalam al-Maghaazii (I/284-285 tentang “Sirah Ibnu Hisyam”) dengan sanad dari Ya’qub bin Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas, ia mengisahkan, “Ketika kaum Qurfaisy mendatangi Abu Thalib untuk memprotes semua ekgiatan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, maka Abu Thalib menegur Rasulullah sebagai berikut, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang Quraisy datang kepadaku lalu memprotes begini dan begitu, karena itu tetaplah denagnku dan jagalah dirimu, serta janaganlah engkau bebani aku sesuatu yang aku tidak mampu untuk mengembannya,” Kemudian rasulullah bersabda…..”
Sanad riwayat ini dha’if lagi mu’dhal sebab ya’qub bin Utbah adalah seorang tabi’ut tabi’in tsiqah lagi masyhur dan wafat pada 128 Hijriyah.
Selain itu, saya dapatkan riwayat senada dengan sanad yang hasan dan lebih baik dari ini. Kaarenanya riwayat tersebut saya utarakan dalam kitab Silisilah Hadits-hadits sahih dengan nomor hadits 92. Wallahu a’lam
Adapun kutipan ahdits yang shahih di silsilah hadits shahih no. 92 :
۹٢ – مَا اَنَابِاَقْدَرَ عَلٰى اَنْ اَدَعَ لَكُمْ ذٰلِكَ ، عَلٰى اَنْ تَشْعَلُوْا لِىْ مِنَهَا شَعْلَةً : يَعْنِى الشَّمْسَ .
“Aku tak kuasa meninggalkan hal itu, meskipun karenanya kalian akan meletakkan matahari di atasku.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ja’far Al-Bakhtari di dalam Hadits Abil Fahdal Ahmad bin Mala’ib (47/1-2), Ibnu Asakit (11/363/1, 19/44/201) melalui Abu Ya’la dan yang lain, keduanya dari Yunus bin Bukair yang berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami Thalhah bin Yahya dari Musa bin Thalha, ia berkata, “Ukail bin Abi Thalib meriwayatkan hadits kepadaku, ia mengisahkan:
“Orang-orang Quraisy datang kepada Abu Thalib, lalu mereka melaporkan: “Apakah Engkau melihat Ahmad? Ia benar-benar mengganggu dengan adzan dalam menyeru kepada kami di masjid kami. Tolong hentikan perbuatannya itu.” Kemudian Abu Thalib berkata: “Wahai Uqail, tolong panggilkan Ahmad IMuhammad) ke sini.” Perawi melanjutnya kisahnya: “Setelah itu aku mencarinya dan membawanya menghadap ayah. Setibanya di hadapan ayah, beliau memberi tahu: “Wahai keponkakanku, kaum Quraisy melaporkan bahwa engaku telah mengganggu mereka. JIka benar maka hentikanlah.” Perawi masih menuturkan: “Lalu Rasulullah melirik pamannya itu (riwayat lain menyebutkan: Rasulullah r mengernyinkan matanya) kemudian menengadah dan bersabda: (Perawi kemudian menyebutkan sabda Nabi r di atas). Perawi mengakhiri kisahnya: “Kemudian Abu Thalib berseru, “Keponakanku ini tidak berbohong, karena itu, pulanglah kalian.”
Saya berpendapat: Sanad hadits ini hasan, dan semua perawinya tsiqah disamping termasuk perawi-perawi yang dipakai oleh Imam Muslim. Mengenai Yunus bin Bukhair dan Yahya bin Yahya memang ada kritik yang dilontarkan kepada keduanya, tetapi kritik itu tidak berpengaruh.
Sedangkan hadits yang redaksinya: “Wahai paman, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku mau meninggalkan dakwahku itu, maka aku tetap tidak akan meninggalkannya, sebelum Allah memberikan kemenangan kepadaku, atau aku sendiri yang hancur.”
Sanad hadits terakhir ini tidak kuat. Oleh karena itu saya memasukkannya ke dalam Al-hadits Adh-Dha;ifah (lihat hadis no. 909).
jazakallahu khair tambahannay akhi