Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Adalah Musibah Terbesar

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dan Sabith al-Jumahi radhiyallahu ‘anhu mereka berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian ditimpa musibah, maka hendaknya ia mengingat musibah yang ia alami dengan (wafatnya) diriku. Karena sesungguhnya wafatku adalah musibah yang paling besar.” [1]

Melalui hadits di atas, jelaslah bagi kita bahwa wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah musibah terbesaryang telah terjadi dan akan terus dialami oleh seluruh ummat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kita untuk mengingat kembali atas wafat dan kepergian beliau pada saat kita mengalami musibah, karena dengan cara demikianlah segala musibah yang kita alami akan terasa ringan.

Tidak seorang pun kekasih, orang yang kita cintai, kerabat, atau sahabat pergi meninggalkan kita, melainkan hati kita akan merasakan sakit dan pilu karena berpisah dengannya. Namun, pernahkah kita merasakan hal tersebut pada saat kita merasakan kepergian dan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Bagaimana seandainya seseorang kehilangan seluruh anggota keluarganya? Saat itu hatinya terasa terbakar dan pilu, dan air matanya melahirkan kesedihan. Lalu, tidak lama kemudian ia menikah lagi, dan beberapa tahun setelah itu salah seorang anaknya (dari istri kedua) meninggal kedua. Bagaimana kiranya kesedihan dan kepiluan hatinya jika dibandingkan dengan musibah pertamanya? Bukankah kesedihan tersebut terasa lebih ringan dan musibah yang ia hadapi terlihat lebih kecil?

Demikianlah seharusnya kita menghibur diri kita tiap kali diuji dengan musibah, yaitu dengan mengingat musibah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan kepada kita dengan sabdanya:

“Wahai sekalian manusia, barang siapa di antara kalian- atau di antara orang-orang yang beriman- ditimpa musibah, maka hendaklah ia menghibur dirinya dengan mengingat musibah wafatku, dibandingkan dengan musibah lain yang menimpa dirinya. Karena sesungguhnya seseorang dari umatku tidak akan ditimpa musibah yang lebih besar dari pada musibah atas wafatnya diriku.”  [2]

Seandainya kita merenungi kalimat “hendaknya dia menghibur diri”, niscaya kita akan menemukan obat dan penyembuhan padanya, dan sesungguhnya kalimat tersebut adalah rangkaian huruf-huruf yang dapat mengobati jiwa yang sedang duka. Bagaimana seandainya seseorang kehilangan kedua orang tua tercintanya dalam sebuah kecelakaan mobil, misalnya? Bukankah dampak dari musibah tersebut akan terus ada dalam hatinya sepanjang masa? Bagaimana seandainya ia kehilangan ibunya atau istrinya atau anaknya? Lalu, bagaimana dengan diri kita yang telah ditimpa musibah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun kita tidak merasakannya?

Sesungguhnya musibah ini harus dianggap sebagai musibah yang besar, terlebih setelah kita mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapaknya dan manusianya.” [3]

Seolah-olah makna yang nampak dari redaksi di atas adalah: “Tidaklah sempurna keimanan seseorang di antara kalian hingga musibah wafatnya diriku menjadi lebih besar baginya daripada musibah yang menimpa dirinya karena kehilangan anaknya, kedua orang tuanya atau manusia seluruhnnya”.

Di manakah rasa sedih itu kini berada? Dan di manakah -Demi Rabb kalian- kedukaan itu kini bersemayam? Begitulah seharusnya perasaan seorang Mukmin sejati. Sesungguhnya penulis melihat bahwa kepergian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu musibah dalam agama. Siapa pun yang pergi meninggalkan Anda, sesungguhnya semua itu lebih ringan bila dibandingkan dengan kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

bersabarlah atas setiap musibah, dan tegarlah…
ketahuilah sesungguhnya tiap jiwa tidak akan abadi…
jika engkau ingin menghibur dirimu dengan sebuah musibah…
maka ingatlah musibahmu atas wafatnya Nabi…

Pernahkan engkau kehilangan ibu? Apakah engkau selalu ingat saat ia wafat –yaitu ketika engkau meratapinya- bahwa ia telah mengeluarkanmu dari gelapnya alam rahim kepada terangnya dunia, dan ia telah memelihara sertya merawat dirimu?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan dirimu –melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari gelapnya kesesatan menuju cahaya petunjuk/hidayah dan tauhid. Dan hal ini –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala- merupakan pertolongan begimu agar selamat dari kehidupan yang kekal di Neraka. Apakah dengan air susu ibumu, kasih saying juga kelembutannya engkau dapat terselamatkan dari kehidupan yang kekal di Neraka?

Demi Allah, seandainya saya (penulis) mempunyai seribu orang ibu yang menyayangi dan mengasihi seperti halnya ibu kandung saya sendiri, kemudian mereka semua meninggal dunia dalam satu hari yang sama, niscaya kesedihanku atas kepergian mereka tidak akan melebihi kesedihanku atas wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apakah engkau pernah kehilangan seorang anak? Apakah tangisanmu atas kepergiannya semakin menjadi-jadi ketika engkau teringat kepada bantuan dan pertolonganya, serta kasih saying dan baktinya? Sebesar apapun semua itu, namun ia tidak akan dapat mencapai apa yang telah dipersembahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala- membuat kita dapat masuk Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dan di dalamnya kita akan hidup abadi serta memperoleh segala kenikmatan.

Kita memperoleh kebahagiaan dengan adanya bantuan anak-anak kita dan kasih sayang mereka pada tahun-tahun yang lalu. Akan tetapi, kenikmatan Surga itu tidak ada batas dan akhirnya. Lalu tidakkah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak membuat kita sedih dibandingkan dengan kematian orang selain beliau? Bukankah hal itu lebih pantas untuk kita ingat dari pada mengenang mereka yang telah meninggalkan kita, baik anak-anak, keturunan, maupun orang-orang yang kita cintai?

Foot Note:

[1] HR.Ibnu Sa’ad, ad-Darimi dan lainnya. Hadits tersebut shahih dengan dukungan hadits-hadits yang lainnya sebagaimana disebutkan dalam ash-Shahiihah (no.1106).

[2] HR. Ibnu Majah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Shahiih Sunan Ibni Majah (no.1300).

[3] HR.al-Bukhari (no.15) dan Muslim (no. 44).

Sumber : Musibah Terbesar Ummat Islam, Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awisyah, Pustaka Imam Syafi’i, Cet.I, Hal.9-17.

Artikel: https://alqiyamah.wordpress.com

Posted on Januari 17, 2012, in Nasehat ; Tazkiyatun Nafs and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. bertambah ilmu

  2. Barakallahu fiik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: