Syubhat Seputar Sahabat : Benarkah Allah Ta’ala Tidak Memuji Seluruh Sahabat?

Mereka berdalil dengan firman Allah:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَـهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِى الإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan  hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang- orang Mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dari mereka, ampunan dan pahala yang besar. ” (QS. Al-Fat-h: 29)

Padahal secara lahiriah, ayat ini mengandung pujian terhadap para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Bahkan, pada ayat yang kami sebutkan sebelumnya Allah  berfirman:

هُوَ الَّذِى أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَـبَ مِنْهُ آيَـتٌ مُّحْكَمَـتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَـبِ وَأُخَرُ مُتَشَـبِهَـتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـبَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَالرَسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَـبِ – رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ – رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لاَّ رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Dialah yang menurunkan Kitab (al-Qur-an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (al-Qur-an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari- cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata: ‘Kami beriman kepadanya (al-Qur-an), semuanya dari sisi Rabb kami.’ Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal. ” (QS. Ali ‘Imran: 7)

Orang-orang yang mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil penggalan terakhir dari ayat ke-29 surat Al-Fath tadi, yaitu:

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dari mereka.

Mereka memaknai min pada firman-Nya: مِنْهُم dengan arti tab`idh (sebagian), sehingga janji ampunan dan pahala yang besar itu hanya ditujukan kepada sebagian orang yang beriman dan beramal shalih. Jadi, sebagian dari mereka dijanjikan dan sebagiannya lagi tidak dijanjikan.

Pemahaman demikian termasuk pengaburan makna hakiki dan kebohongan ilmiah. Sebagian bahkan sangat ekstrim dengan mengklaim adanya ijma’ (kesepakatan) para ahli tafsir bahwa min di sini menunjukkan tab’iidhiyyah.[1] Kebohongan ini dapat diluruskan dengan penjelasan berikut:

Pertama, min pada firman-Nya itu, berdasarkan perkataan para ulama tafsir, bukan bermakna tab`iidh (menunjukkan arti sebagian). Yang benar, lafazh: مِنْهُم dalam ayat tersebut memiliki dua makna:

1. Min yang artinya min jinsihim wa amtsaalihim (menunjukkan dari jenis mereka dan yang seperti mereka), sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Ala:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَـتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الاٌّنْعَـمُ إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُواْ الرِّجْسَ مِنَ الاٌّوْثَـنِ وَاجْتَنِبُواْ قَوْلَ الزُّورِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (hurumat) maka itu lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan dihalalkan bagi kamu semua hewan ternak, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya), maka jauhilah olehmu (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta. ” (QS. Al-Hajj: 30)

Dalam ayat ini, Allah tidak bermaksud menyuruh kita agar menjauhi sebagian berhala dan tidak menjauhi sebagian lainnya meskipun diungkapkan dengan huruf min. Tetapi, kita dituntut untuk menjauhi seluruhnya.

Maka, maksud ayat ini adalah jauhilah yang najis dari berhala apa pun seperti berhala tersebut.

2. Min yang bermakna muakkidah (penekanan), sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّـلِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari al-Qur-an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (al-Qur-an itu) hanya akan menambah kerugian. ” (QS. Al-Israa’: 82)

Makna min dalam ayat ini bukanlah hanya sebagian al Qur’an yang dapat dijadikan obat dan rahmat. Maknanya sama sekali tidak demikian. Akan tetapi, seluruh al-Qur’an adalah obat dan rahmat bagi manusia. Maka, min di sini menunjukkan penekanan makna, yaitu bahwa semua al-Qur-an dapat menjadi obat dan rahmat. Sama halnya dengan ayat ke-29 surat Al-Fath di atas.

Dengan demikian, makna: مِنْهُم  dalam ayat ke-29 surat Al-Fath adalah “dari semisal mereka”; atau sebagai penekanan bahwa semua Sahabat pasti mendapatkan janji Allah ‘azza wa jalla.

Kedua, mari kita lihat konteks pembicaraan dalam ayat ini (QS. Al-Fat-h: 29). Semuanya berisi tentang pujian, tidak ada satu bagian pun yang menunjukkan celaan kepada mereka.

Misalnya:  أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً

Bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud..

Allah memuji lahiriah mereka yang senantiasa bersujud, ruku’, dan tunduk kepada perintah-Nya. Allah ‘azza wa jalla juga memuji batiniah mereka  dalam firman-Nya:

يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً

“..mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya“.

Ungkapan tersebut tidak seperti firman-Nya tentang orang-orang munafik:

إِنَّ الْمُنَـفِقِينَ يُخَـدِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلَوةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. ” (QS. An-Nisaa’: 142)

Lihatlah bagaimana Allah menyebutkan karakter orang-orang munafik. Dia tidak memuji batiniah mereka, tetapi mendustakannya. Padahal, secara lahiriah mereka mengerjakan shalat bersama kaum Mukminin. Sementara ketika menyebutkan karakter para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

  يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً

“..mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya“.

Pendapat yang memaknai kata min di sini dengan dari semisal mereka atau untuk penekanan keadaan mereka dikemukakan oleh mayoritas ahli tafsir. Bahkan, seluruh ahli tafsir dari kalangan Ahlus Sunnah berpendapat demikian. Sepanjang pengetahuan saya, para ahli tafsir seperti an-Nasafi, Ibnul jauzi, Ibnul Anbari, az-Zamakhsyari, az-Zajjaj, al`Ukbari, an-Naisaburi, Ibnu Katsir, dan ath-Thabari —ketika membahas tentang tafsir ayat ini— mereka menjelaskan: “Kata min dalam ayat ini berfungsi untuk penekanan atau pemisalan, bukan untuk menunjukkan makna tab`iidhiyyah (makna sebagian) sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. ” [2]

Foot Note:

[1] Tsummah Tadaitu karya seorang Syi`ah, yaitu at-Tijani.

[2] ‘ I’raabul Qur-aan wa Sharfuhu wa Bayaanuhu karya Mahmud Shafi (XXV, XXVI/272).

Sumber: Inilah Faktanya, Dr.Utsman bin Muhammad al Khamis, Pustaka Imam Syafi’i

Artikel: www.alqiyamah.wordpress.com

Posted on Februari 8, 2013, in Bantahan and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: