Arsip Blog

Maulid Nabi, Padahal Ulama Pun Telah Berselisih Tentang Tanggal Kelahirannya..

Judul Asli: Mengkritisi Sejarah Perayaan Maulid Nabi
Penulis: Ustadz Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi -hafizhahullah

Sesungguhnya kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke dunia ini merupakan nikmat yang sangat agung. Bagaimana tidak, dengan kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berarti lahirlah seorang nabi yang penuh kasih dan berjasa besar dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan masa jahiliah menuju Islam yang keindahan cahayanya dapat kita rasakan hingga detik ini. Read the rest of this entry

Benarkah Sholahuddin al-Ayyubi Pencetus Perayaan Maulid Nabi?

Oleh : Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf hafidzahullah

Alkisah

Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi. Read the rest of this entry

Menjawab Syubhat-Syubhat Perayaan Maulid Nabi dan Benarkah Ibnu Taimiyyah Rahimahullah Mendukung Maulid Nabi?

Judul Asli: Menjawab Syubhat-Syubhat Perayaan Maulid Nabi
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa ahlul bid’ah senantiasa ‘berjuang’ dengan penuh kegigihan membela dan mengibarkan bendera bid’ah, sehingga bid’ah menyebar di mana-mana. Jangan heran bila mereka begitu berani memaksakan dalil demi hawa nafsunya atau menasabkan hadits yang tidak ada asalnya.

Bagaimana sikap kita dalam menghadapi syubhat mereka?!

Read the rest of this entry

Bid’ah Lebih Berbahaya Dari Pada Maksiat

Mana yang lebih keras siksanya, pelaku maksiat atau ahli bid’ah?

Jawab:

Ahli bid’ah lebih keras siksanya, karena perbuatan bid’ah lebih besar dari sekedar maksiat. Bid’ah lebih disenangi oleh syaithan daripada maksiat karena pelaku maksiat mudah untuk bertaubat.[14] Adapun ahli bid’ah maka jarang sekali yang bertaubat karena ia menyangka berada di atas kebenaran berbeda dengan pelaku maksiat, ia mengetahui bahwa ia seorang yang bermaksiat Adapun ahli bid’ah maka ia meyakini sebagai seorang yang taat dan sedang melakukan ketaatan. Maka dari itu perbuatan bid’ah –wal’iyadzubillah-lebih jelek dari maksiat. Oleh karenanya ulama salaf selalu memperingatkan (agar menjauh) dari bermajlis bersama ahli bid’ah,[15] karena mereka akan mempengaruhi orang yang duduk bersamanya, sementara bahaya mereka sangatlah besar.

Read the rest of this entry

Bid`ah Hasanah….? Itulah Bid`ah

Telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa:

“Berhati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.(HR. Tirmidji dan Ibnu Majah).

“Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkaraku(agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak.”(HR. Bukhari Muslim).

“Barangsiapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya, maka dia tertolak.”(HR. Muslim).

Bid’ah adalah setiap hal yang tidak mempunyai dasar dalam agama yang dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah azza wa jalla, seperti:

1. Upacara maulid Nabi, isra mi’raj, malam nisfu sya’ban dan sebagainya.
2. Berdzikir dengan tarian, tepuk tangan dan pukulan terbang begitu juga meninggikan suara dan mengganti nama-nama Allah seperti dengan ah, ih, aah, hua, hia.
3. Mengadakan acara selamatan dan mengundang para kyai untuk membaca Al-Quran setelah wafatnya seseorang dan lain sebagainya.

Hal ini merupakan kebid’ahan dalam hal agama yang ditolak oleh Islam dan hukumnya sesat. Adapun bid’ah duniawi ada dua macam yaitu bid’ah negatif seperti bioskop, TV, video dan sejenisnya yang dapat merusak akhlak dan membahayakan masyarakat karena film-film yang ditampilkan tidak sesuai dengan syari’at Islam sehingga berbahaya terhadap akidah dan akhlak kita. Sedangkan yang positif diantaranya adalah kapal terbang, mobil, telepon dan yang lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempermudah urusannya.
Read the rest of this entry

Apakah Hasan Al Banna Seorang Mubtadi’ (Ahli Bid’ah)?

Syaikh Ali Hasan ditanya:
Apakah Hasan Al-Banna adalah mubtadi'(ahli bid’ah)?

Jawaban:
Hasan Al-Banna rahimahullah telah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mudzakkarat bahwa dia menganut tasawwuf di atas aliran Hashafiyyah dan menyebutkan juga dalam buku yang sama bahwa dia menerima aqidah Asy-‘Ariyyah.

Dan dalam Majmu’ur Rasail dalam risalah Al-Aqaid diterangkan bahwa aqidahnya adalah aqidah tafwidl. Yang aqidah ini telah diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa aqidah tafwidl lebih jelek daripada aqidah ta’wil.

Dan dalam risalah Aqaid juga dia menukil dari Abu Hamid Al-Ghazali, Ibnul Jauzi dalam menolak (…ada beberapa kata yang tidak jelas bagi kami-red) dan dari Fakhrurrazi. Tidak ada dalam kitab tersebut nukilan dari Imam Ahmad, Sufyan bin ‘Uyainah, Hammad bin Salamah dan Ibnu Taimiyyah serta Ibnul Qayyim, dan seorangpun dari mereka.

Dan Hasan Al-Banna menyebutkan bahwa jalan dakwahnya adalah tariqah sunniyah, hakikat sufiyyah, gerakan politik, persatuan olah raga dan dakwah Salafiyyah. Maka barang siapa yang begini keadaannya, apa yang lebih pantas untuknya? Dan apa yang mesti diucapkan untuk menghukuminya?

(Tanya Jawab dengan Syaikh Ali Hasan hafidhahullah di Yogyakarta Buletin Al-Manhaj Edisi 7/1419 H/1999M, terbitan Lajnah Khidmatus Sunnah wa Muhaarabatul Bid’ah, Ponpes Ihyaus Sunnah-Degolan-Yogyakarta)

%d blogger menyukai ini: