Arsip Blog

Mari Kita Mengenal Para Imam Masjidil Haram

Perhatian setiap muslim tertuju kepada dua tanah haram (suci) Makkah dan Madinah, tidak ketinggalan juga terhadap para imamnya. Mereka memiliki popularitas dan kedudukan yang mulia di hati kaum muslimin. Karena banyaknya pembaca yang bertanya tentang mereka, maka dengan senang hati kami suguhkan biodata ringkas tentang imam-imam tersebut.

1. Syaikh DR. Su’ud bin Ibrahim as-Syuraim
Lahir pada tahun 1386 H, di Saqra’ Riyadh.
Beliau kuliah pada fakultas Ushuluddin di Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah. Lulus pada tahun 1409 H, kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya di Ma’had ‘Ali untuk para hakim, hingga beliau mendapatkan gelar Magister pada tahun 1413 H.
Pekerjaan beliau, mantan hakim, pengajar di Masjidil Haram, Dekan fakultas Syari’ah di Jami’ah Ummul Qura’ Makkah.
Tahun penentuan beliau sebagai Imam di Masjidil Haram adalah tahun 1414 H.
Beliau memiliki sejumlah besar onta, yang beliau habiskan sebagian waktu dengannya.
Beliau memberikan perhatian besar dalam mensyarah kitab Tauhid di Masjidil Haram.
Beliau terkenal dengan syair dan kalimat-kalimat yang lembut yang menyentuh.
Diantara karya tulis beliau adalah al-Syamil fil Khathib wal-Khuthbah, sudah diterjemah ke dalam bahasa Indonesia dan diedit oleh Ustadz Agus Hasan Bashori (pimred Qiblati) dengan judul Ensiklopedi Khuthbah atau panduan khathib, atas izin beliau oleh penerbit Darus sunnah Jakarta.
2. Syaikh DR. Shalih bin Abdillah Alu Humaid Read the rest of this entry

Biografi: Ustadz Armen Halim Naro رحمه الله

untuk mu yang berjiwa hanifBeliau bernama Armen Halim bin Jasman Naro bin Nazim bin Durin رحمه الله. Lahir di Pekanbaru 20 Oktober 1975. Hari Senin sekitar pukul 09.00. Ayahnya bernama Jasman Naro dan Ibunya bernama Suarti.

Beliau masuk sekolah dasar tahun 1981. Lalu tamat sekolah dasar tahun1987. Kemudian Masuk Pesantren Al-Furqan di jalan Bintan, Pekanbaru. Dibawah pimpinan Buya Jufri Effendi Wahab MA. Yang didirikan pada tahun 1987.

Pada tahun 1988 Pondok Pesantren Al-Furqan pindah ke jalan Duyung, Pekanbaru. Selama di Pondok Pesantren Al-Furqan Ia belajar lebih kurang 3 tahun. Sehubungan dengan kurangnya guru di pondok pesantren waktu itu, disamping beliau rajin dan tekun belajar, maka guru-gurunya merasa minder untuk mengajarnya. Oleh sebab itu, beliau meminta pada Buya Jufri untuk pindah ke Pondok Pesantren An-Nur (Bantul, Jogjakarta) untuk mempelajari Tahfidz Al-Qur’an (Hafalan Al-Qur’an), maka Buya melepas dan memberi izin untuk ke Jogjakarta mempelajari Al-Qur’an, agar setamatnya nanti dapat mengajarkannya di Pondok Al-Furqan.

Read the rest of this entry

Biografi: Musa bin Nushair -radhiyallahu’anhu-

Musa bin Nushair -radhiyallahu’anhu- (Penakluk Maghrib & Andalusia)

Penulis: Abu Hudzaifah Al-Atsary As-Salafy, Lc.

Dialah Musa bin Nushair yang lahir tahun 19 Hijriyah seorang panglima yang disegani, ahli siasat dan lelaki yang bertekad bulat. Beliaulah yang memimpin armada laut kaum muslimin di zaman Mu’awiyah tahun 27 hijriyah untuk menaklukkan Cyprus, dan setelah berhasil menguasainya, beliau membangun berbagai benteng pertahanan di dalamnya.

Al Baghawi menceritakan bahwa Musa menjabat sebagai wali (gubernur) wilayah Afrika pada tahun 79 H, dan berhasil menaklukkan kota-kota dan daerah yang sangat banyak di sana. Beliau juga lah yang berhasil menaklukkan negeri Andalusia, sebuah negeri di wilayah Spanyol yang memiliki banyak kota, desa dan perkebunan. Seiring dengan masuknya Andalusia ke pangkuan Islam, beliau menawan sejumlah besar musuh, dan mendapat ghanimah yang tak terhitung banyaknya, dari emas dan permata yang tak ternilai. Read the rest of this entry

Biografi: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

A. Nama dan kelahiran

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Yusuf bin Mukhtar bin Munthohir As-Sidawi. Nama kunyah beliau adalah Abu Ubaidah. Beliau dilahirkan di desa Srowo, kecamatan Sidayu, kabupaten Gresik, Jawa Timur pada tanggal 17 Mei 1983. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga yang sederhana.

B. Pertumbuhan beliau

Ketika Ustadz Abu Ubaidah berusia tujuh tahun, di saat beliau duduk di kelas dua MI (Madrasah Ibtidaiyyah), ayah beliau meninggal dunia secara mendadak karena sakit yang beliau derita –semoga Allah merahmatinya-. Setelah itu, Ustadz Abu Ubaidah diasuh oleh ibu dan saudara-saudari beliau. Read the rest of this entry

Biografi: Syaikh Abdur Rozzaq al-Abbad al-Badr

Biografi singkat beliau:

Nama : Abdur Rozzaq bin Abdil Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr
Asal Negara : Saudi Arabia
Tanggal Lahir : 22/11/1382 H (16 April 1963 M)
Tempat Lahir : az-Zulfi
Kewarganegaraan : Saudi Arabia
Tempat Tinggal : Madinah an-Nabawiyyah [Peta Rumah beliau – wikimapia]
Pendidikan : Doktor dalam bidang Aqidah
Aktifitas Beliau : Staff Pengajar di al-Jami’ah al-Islamiyyah (Universitas Islam Madinah) sebagai Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana di Fakultas Aqidah & Ushuluddin dan juga sebagai Pengajar di Masjid Nabawi
Situs Resmi : http://www.al-badr.net/web/

Guru-guru beliau : Read the rest of this entry

Imam an Nawawi Rahimahullah

B eliau adalah Al-Imam, Al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin, Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam An-Nawawi . Beliau disebut juga sebagai Abu Zakariya, padahal ia tidak mempunyai anak yang bernama Zakariya. Sebab, ia belum sempat menikah. Ia termasuk salah seorang ulama yang membujang hingga akhir hayatnya. Dan mendapatkan gelar “Muhyiddin” (orang yang menghidupkan agama), padahal ia tidak menyukai gelar ini. Dan ia memang pernah mengemukakan: “Aku tidak perbolehkan orang memberikan gelar “Muhyiddin” kepadaku.” Beliau lahir pada pertengahan bulan Muharram, atau pada sepuluh pertama bulan Muharram (ada yang berpendapat demikian) pada tahun 631 H. di kota Nawa, sebuah daerah di bumi Hauran, Damaskus.

Pertumbuhan dan Proses Belajarnya
Beliau diasuh dan dididik atau dibina oleh ayahnya dengan gigih, sang ayah menyuruhnya untuk menuntut ilmu sejak kecil. Hingga ia telah berhasil menghafal al-Qur-an ketika mendekati usia baligh. Beliau menghafalkan Al-Qur’an tersebut di kotanya (Nawa) yang lingkungannya tidak kondusif untuk belajar.
Setelah melihat lingkungan di Nawa yang tidak kondusif tersebut, ayahnya membawa ia pergi ke Damaskus pada tahun 649 H. Pada saat itu, usianya telah menginjak sembilan belas tahun. Dan akhirnya ia tinggal di sebuah Lembaga Pendidikan Rawahiyah. Di sana ia memulai perjalanannya menuntut ilmu. Ia tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Ia rajin dan memberikan seluruh waktunya untuk menuntut ilmu sehingga ilmupun memberikan kepadanya sebagian darinya. Read the rest of this entry

Sa’d bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu – Mulia Sebelum dan Setelah Masuk Islam

Namanya adalah Sa’d bin Muadz bin an Nu’man bin Imri’ al Qais al Asyhali al Anshari radhiyallahu ‘anhu, seorang Sahabat yang memiliki kedudukan yang agung. Dia masuk Islam sebelum Hijrah melalui Ibnu Umair radhiyallahu ‘anhu. Ia pernah berkata kepada kaumnya, “Ucapan laki-laki dan perempuan kalian haram bagiku hingga kalian masuk Islam. Masuk Islamlah kalian! Sa’d bin Muadz radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling agung berkahnya bagi agama Islam.

Sa’d bin Muadz radhiyallahu ‘anhu ikut andil dalam perang Badar. Beliau terkena lemparan anak panah pada perang Khandaq dan ia hidup sebulan. Kemudian, setelah memberikan keputusan hukum bagi bani  Quraidzah, lukanya semakin membengkak dan wafat pada tahun kelima Hijrah.

Keberadaan di sisi Rasulullah juga memberikan kekuatan bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam sebuah syair disebutkan: Read the rest of this entry

Keberanian Zubeir bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhu

Namanya adalah Zubeir bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai radhiyallahu ‘anhu. Nasabnya bersambung dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada Qushai. Sedangkan ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anha, bibi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dia memiliki kunyah (nama panggilan) Abu ‘Abdillah. Zubeir bin Awwam masuk Islam ketika berumur delapan tahun. [1]

Zubeir bin Awwam radhiyallahu ‘anhu adalah Sahabat yang pemberani. Dia termasuk salah satu Sahabat yang mendapat janji masuk surga. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Abu Bakar berada di surga, Umar berada di Surga, Utsman berada di Surga, Ali berada di Surga, Thalhah berada di Surga, Zubeir berada di Surga..” [HR.at Tirmidzi 3680; Ibnu Majah 130;Ahmad]

Dia juga termasuk salah satu dari enam Sahabat ahli syura’ dalam pemilihan khalifah setelah Umar radhiyallahu anhu.
Read the rest of this entry

Imam al Baihaqi Rahimahullah

Beliau adalah al-Imam al-Hafidz Abu Bakar Muhammad bin al-Husain bin Ali bin Musa al-Khusrujardi al-Baihaqi. Lahir pada tahun 384H di bulan Sya’ban di Khusrujard. Beliau seorang imam di zamannya, pemilik karangan kitab yang bermutu.

Beliau mengambil ilmu dari dari banyak para ulama yang berbeda-beda antaranya al-Imam Abul Hasan bin Muhammad al-Husain al-Alawiy yang dikira sebagai sebagai guru beliau yang terbesar. Kemudian, Abu Thahir az-Zayady, Abu Abdillah al-Hakim pengarang kitab al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Abu Abdurrahman as-Sulamy, Abu Bakar bin Furak, Abu Ali ar-Rudzabari di Khurasan, Hilal bin Muhammad al-Haffar, Ibnu Bisyran dan sekelompok ulama Baghdad. Beliau juga pernah menduduki halaqah ulama yang lain dari ulama-ulama antaranya Makkah, Kuffah dan dianggarkan lebih seramai seratus Syaikh.

As-Subki berkata, “Adalah Imam Baihaqi merupakan salah satu dari imam-imam orang-orang muslim, para guru orang-orang yang beriman, para dai yang mengajak pada tali Allah yang kukuh, beliau merupakan ahli fiqh yang agung, seorang hafidz yang besar, seorang ahli ushul yang berkemampuan, seorang tokoh yang zuhud dan wara’, penuh taat kepada Allah, seorang yang menjadi tokoh penyebar mazhab dalam ushul dan dan furu’, gunung dari gunung-gunung ilmu.

Imam al-Haramain Abul Ma’aly berkata, “Tidak ada dari pengikut Imam Syafie kecuali Imam Syafi’i memiliki anugerah kecuali Abu Bakar al-Baihaqi, sesungguhnya beliau memiliki anugerah di atas Syafi’i karena karangan-karangannya dalam menyebarkan madzhabnya”.

Berkata Abdul Gaffar al-Farisiy an-Naisabury dalam ‘Dzail traikh Naisabury’, “Abu Bakar al-Baihaqi al-Hafidz al-Ushuli seorang yang tekun beragama dan wara’, terunggul di zamannya dalam hafalan, orang yang sangat teliti dan cermat di antara teman-temannya, sahabat terbesar dari al-Hakim yang mengunggulinya dengan berbagai-macam ilmu, beliau menulis hadits dan menghafalnya dari mulai kanak-kanak, alim dalam ilmu fiqh dan melampaui yang lainnya serta menguasai ilmu ushul.

Beliau pergi ke Iraq, Hijaz kemudian mengarang kitab yang karangannya mencapai ribuan juz yang belum pernah ada sebelumnya mencapai jumlah tersebut, mengumpulkan antara ilmu hadits dan fiqh, menjelaskan kelemahan-kelemahan hadits. Para ulama meminta beliau berpindah dari Nahiyah ke Naisabur untuk mendengarkan kitabnya. Kemudian beliau mendatangi mereka pada tahun 441H dan mereka mendirikan majlis ta’lim untuk mendengarkan pengajian kitan al-Ma’rifah di mana majlis ini dihadiri oleh para ulama. Beliau juga karakter yang berjalan di atas sirah para ulama yang selalu menekankan kemudahan, dan selalu memperindah perilaku zuhud dan kewaraannya. (al-Muntakhab min Kitabis Siyaq Litarikh Naisabur biografi no. 231 –Syamilah-)

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Jikalau Imam baihaqi membuat mazhabnya tersendiri baginya, maka dia mampu melakukannya kerana keluasan ilmu yang dimilikiya dan pengetahuannya terhadap masalah ikhtilaf.”

Beliau juga berkata, “Pada hari-hai terakhir hidupnya beliau berpindah dari Baihaq ke Naisabur untuk mengadakan pengajian tentang kitab-kitab karangannya kemudian ajal mendatangi beliau pada 10 Jumadil Ula tahun 458H kemudian beliau dipindahkan dengan Tabut (keranda) ke negerinya dan dimakamkan di sana, semoga Allah merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas, menenangkannya dan membersihkan jenazahnya.”

Beliau telah meninggalkan ribuan kitab, diantaranya ada yang besar dan berjilid-jilid dan ada pula yang kecil dalam satu jilid atau berbentuk risalah.

Karangan beliau yang terkenal adalah, as-Sunan al-Kubra, Syu’abul Iman, Dalailun Nubuwah, al-Asma wa Sifat, al-Mabsuth, ad-Daawat al-Kabiir, ad-Da’wat as-Shaghir, al-Ba’ats wan Nusyur, az-Zuhdu al-Kabiir, al-Arba’un al-Kubra, al-Arba’un as-Shugra, al-Adab, al-I’tiqad Fadhailus Shahabah, Manaqibul Imam Ahmad bin Hanbal, dan Manaqib asy-Syafi’i.

(Dinukil dari 77 Cabang Keimaman, Tahqiq Syaikh Abdul Qadir al-Arnauth)

Sumber: Facebook Biografi Ulama

Dipublikasikan kembali oleh : https://alqiyamah.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: