Mengamalkan Ilmu 01

Oleh: Ustadz Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag. Hafizhahullah

Artikel ini terilhami oleh sebuah kitab yang ditulis oleh Syekh Zakaria Ibnu Ghulam Qadir al-Bakistani dengan judul Min Akhbar as-Salaf yang dihadiahkan kepada saya (Ustadz Agus Hasan Bashori) oleh penulisnya, saat kami berkunjung di kediamannya di Makkah al-Mukarramah pada tanggal 22 Syawal 1426 H.

Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan gambaran konkrit bagi ketinggian akhlak Islam yang telah diperankan oleh generasi Salafus Shalih yang dengan setia dan teguh mengikuti teladan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena kita ingin mengikuti jejak langkah kebaikan kaum salaf, maka membaca dan mempelajari adab, akhlak, hikmah dan sejarah mereka adalah penting.

Semoga Allah azza wa jalla membalas Syekh Zakaria dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga artikel ini dapat menjadi cermin bagi orang-orang yang ingin mengikuti manhaj salaf.

1. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu
Sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan adalah apabila aku berdiri untuk hisab aku ditanya: “Kamu sudah mengetahui maka apa yang kamu lakukan tentang apa yang kamu ketahui?” [Jami’ Bayanil Ilm, 1/680]

Ad-Darimi meriwayatkan dan dishahihkan oleh al-Albani dengan redaksi: “Sesungguhnya aku takut Tuhanku di hari kiamat memanggilku di hadapan para makhluk lalu berkata kepadaku: “Wahai Uwaimir,” lalu aku jawab: “Labbaika Rabbi,” lalu Dia bertanya: “Apa yang kamu lakukan tentang ilmumu?”

Yang demikian itu karana dari 4 perkara yang akan ditanyakan oleh Allah di hari kiamat adalah ilmu seseorang, untuk apa ia pergunakan, dia amalkan atau tidak. Kemudian Abu Darda’ juga berkata:
“Kamu tidak akan menjadi orang yang bertakwa hingga kamu alim, kamu tidak akan menjadi indah dengan ilmumu hingga kamu mengamalkannya.” [Ibid 1/698; ad-Darimi 1/88, al-Khatib dalam Iqtida’ al-Ilmi al-Amal, no.17]

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Celaka bagi orang yang tidak berilmu[1], tetapi celaka tujuh kali bagi yang berilmu tetapi tidak beramal.” [al-Khatib dalam  Iqtida’ al-Ilmi al-Amal]

2. Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
Sahabat ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sesungguhnya manusia semua pandai bicara, maka barangsiapa ucapannya sesuai dengan perbuatannya, itulah orang yang mendapatkan bagiannya, dan barangsiapa perbuatannya menyalahi ucapannya maka sesungguhnya ia sedang mencaci dirinya.” [Ibid 1/696] Diantara celaan itu adalah sebagaimana teguran Allah azza wa jalla (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [QS.as-Shaf: 2-3]

Maka ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menasehatkan:
“Belajarlah ilmu, jika kamu sudah tahu maka amalkan.” [Ibn Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil Ilm, 1/705; dan al-Khatib, dihasankan oleh al-Albani]

Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ucapkanlah yang baik maka kamu akan dikenali dengannya, dan amalkanlah maka kamu akan menjadi ahlinya. Janganlah kalian menjadi orang yang tergesa-gesa (bicara tanpa dipikir terlebih dulu), menjadi penyiar keburukan (atau tidak bisa menyimpan rahasia), penebar fitnah (pengadu domba, atau banyak bicara).” [HR.Ahmad dalam az-Zuhd hal.201, Ibnul Mubarok dalam al-Zuhd no.1438/503, Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf 13/292]

3. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu
Salim al-Amiri berkata: Saya mendengar Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Cukuplah ilmu seseorang bila ia bertakwa kepada Allah, dan cukuplah kebodohan seseorang jika dia takjub dengan ilmu.” [al-Mushannaf, 7/139; Kitabul Ilmi karya Abu Khaitsamah, no.14] [2]

Lafazh Abu Khaitsamah:
“Cukuplah ilmu seseorang bila ia bertakwa kepada Allah, dan cukuplah dusta seseorang jika dia berkata: “Aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertaubat kepadanya, kemudian ia kembali mengulangi.”

Syaikh Abdul Karim ibn Abdillah al-Khudair dalam syarahnya terhadap Kitabul  Ilmi ini mengatakan: “..Ilmu yang mewariskan khasyyah adalah ilmu syar’i yang diperintah dalam banyak nash. Terkadang ada orang yang menggeluti ilmu-ilmu alam -misalnya- atau ilmu praktis, ada di antara dokter yang khasyyah kepada Allah karena ilmunya. Ini ada, dari sela-sela ilmunya ia menjadi orang yang ahli memberi mauizhah, padahal modal ilmu syar’inya sedikit, akan tetapi ia mengambil ilmu syar’i yang menopang kebenaran yang berasal dari ilmu eksaknya dan dari sela-sela kesaksian dan pengalamannya. Jika tidak, maka aslinya ia tidak memiliki apa-apa. Ia menjadi sangat piawai, mengapa? Karena ia merenungkan makhluk manusia ini sesuatu yang menarik perhatiannya. Ini adalah pintu yang agung, sedangkan kedokteran yang membangkitkan  khasyyah masuk kedalam firman Allah:
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [QS.al-Dzariyat: 21]

Ibnul Qoyyim rahimahullah ketika berbicara tentang ayat ini ia mendatangkan fakta-fakta yang menakjubkan. Para tenaga medis dalam pengalaman praktek menjumpai banyak hal yang mencengangkan. Ada hal-hal yang di alami oleh para tenaga medis atau orang yang menjenguk orang sakit, tidak harus dokter, akan melihat keajaiban-keajaiban. Ia akan menjumpai orang yang mati rasa, tidak merasakan apapun, dlaam keadaan pingsan, tidak sadar, begitu tiba waktu adzan ia terbangun dan adzan. Ada orang yang mengalami kecelakaan dengan luka yang membuatnya kehilangan dunia secara total, tetapi terdengar  dari lisannya bacaan al Qur’an. Ada juga orang dalam UGD atau ruang perawatan intensif dalam keadaan tidak sadar, apabila tiba waktu shalat ia menghadap kiblat dan bertakbir, karena ia penjaga shalat. Begitu seterusnya, jadi ilmu hakiki adalah ilmu yang mewariskan rasa takut kepada Allah. Adapun ilmu yang tidak mewariskan khasyyah maka bukanlah ilmu.”

Syaikh Abdul Karim kemudian berkata: “Dan cukuplah kedustaan seseorang jika dia berkata: “Aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertaubat kepadanya,” kemudian dia kembali mengulangi. Maksudnya, ini disebut dusta karena menyalahi kenyataan. Akan tetapi manusai memang sangat mungkin melakukan ini sebab tidak ma’sum, ia melakukan kesalahan, melakukan tergelinciran, dan dia diperintah untuk beristighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja (yang ma’sum) beristighfar dalam sehari lebih dari 100 kali, terkadang dalam satu majelis beristighfar 70 kali. Jadi istighfar itu diperintah. Dalam hadits yang diperdebatkan:
“Barangsiapa senantiasa beristighfar maka Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dari setiap kesempitan dan jalan keluar dari setiap kesulitan.”

Dalam bab ini ada firman Allah azza wa jalla:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [QS.Al-Anfal: 33]

Jadi istighfar, dengannya Allah menolak balak dan keburukan, dengannya Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa-dosa.

Sampai akhirnya berkata: “Yang dimaksud dari ucapan Hudzaifah adalah orang meminta ampun tetapi tetap bersikukuh  melakukan maksiat maka tidak diragukan ia dusta karena menyalahi kenyataan. Akan tetapi orang yang beristighfar dari umumnya dosa yang ia lakukan sengaja atau tidak maka ia diganjar atas istighfarnya ini.” [www.khudheir.com/uploads/f2483.doc]

4. Khabbab radhiyallahu ‘anhu
Qais ibn Hazim berkata: “Saya memasuki Khabbab, sementara dia telah melakukan kay (berobat dengan cos besi panas) 7 kali, lalu dia berkata: “Wahai Qais, kalau bukan karena aku mendengar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melarang meminta mati tentu aku sudah memintanya.” [al-Hilyah, 1/146]

5. Abu Ja’far ibn Hamdan rahimahullah
Abu Usman al-Hairi ia dulu mendengar dari Abu Ja’far ibn Hamdan, maka apabila ia mencapai enam belum mengamalkannya maka ia berhenti di situ hingga ia mengerjakannya.” [as-Siyar, 14/63]

6. Sufyan Tsauri rahimahullah
Sufyan berkata: “Tidak ada satu hadits pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan aku mengamalkannya, meskipun hanya sekali.” [as-Siyar, 77/242]

Sufyan berkata: “Dahulu dikatakan: ulama itu ada tiga: 1)Orang yang mengerti tentang Allah, ia takut kepada Allah, tetapi tidak berilmu tentang syariat Allah. 2)Orang yang mengerti tentang Allah, mengerti tentang syariat Allah, ia takut kepada Allah, maka ini adalah alim yang sempurna. 3)Orang yang mengerti tentang syariat Allah, tetapi tidak mengerti tentang Allah, tidak takut kepada Allah maka itu adalah alim yang fajir.” [Sunan Darimi, no.367/119]

7. Ahmad ibn Hanbal rahimahullah
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah menulis sebuah hadits melainkan aku mengamalkannya, hingga lewat padaku hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hijamah (bekam) dan memberi Abu Thaiybah satu dinar, maka aku berbekam dan aku berikan satu dinar untuk si tukang bekam.” [as-Siyar 11/296]

Abu Ishmah Ashim ibn Isham al-Baihaqi berkata: “Saya menginap di rumah imam Ahmad ibn Hanbal, lalu beliau datang membawakan air lalu diletakkan. Ketika pagi hari beliau melihat air utuh seperti semula (tidak digunakan untuk berwudhu) maka beliau berkata: “Maha suci Allah! Seseorang yang mencari ilmu tidak memiliki wirid di malam hari?!”

Imam Ahmad rahimahullah juga berkata: “Orang ahli hadits bagi kita adalah orang yang mengamalkan hadits.”

8. Ibrahim ibn Ishaq al-Harbi rahimahullah
Ibrahim al-Harbi rahimahullah berkata: “Seharusnya seseorang itu apabila mendengar sesuatu dari adab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpegang teguh dengannya.” [as-Siyar 13/358]

9. Amr ibn Qais al-Malai rahimahullah
Amr ibn Qais berkata: “Jika engkau mendengar sesuatu dari kebajikan maka amalkan maka engkau pasti akan menjadi ahlinya, meskipun hanya satu kali.” [Ahmad, az-Zuhd, 326]

Semoga Allah azza wa jalla memudahkan kita untuk beramal.Amiin.

Bersambung insya Allah..

Sumber: diketik ulang dari Majalah Qiblati Edisi 04, Tahun V, 01-1431 H/01-2010 M, Hal.90-94

Dipublikasikan kembali oleh : Al Qiyamah – Moslem Weblog

Iklan

Posted on Januari 24, 2010, in al-Ilmu and tagged . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: